
“BEGITULAH ceritanya Mi…Kata pak Suherman. Setelah terjadi
peristiwa itu, seluruh keluarganya pindah
ke Medan. Tapi aset-asetnya disini seperti rumah, perusahaan. Dan satu unit
rumah yang ada di Bandung, masih tetap ada katanya”
Dari tempat duduknya Mia bangkit. Plak…! Galang yang sudah bertutur bahwa selama ini
sebenarnya ia sedang menjalankan misi pak Suherman yang ingin balas dendam
kepada musuh bebuyutannya, tiba-tiba di tampar.
“Mas Galang benar-benar keterlaluan ! Kenapa selama ini mas
Galang tega melakukan semua itu kepada aku…! Kalau rencana Pak Suherman dulu tidak
dibantu mas Galang, pasti semua ini tidak akan terjadi…!”
Kali ini Mia kembali duduk. Sambil terus menangis, memelas.
“Kenapa mas…? Padahal selama ini aku sudah menganggap mas Galang itu kakak
sendiri… Selama ini kita juga sering pergi berdua dengan hatiku yang tulus… Aku
bahkan sampai tidak bisa melupakannya ketika suatu hari kita pergi ke bukit.
Mas Galang disana waktu itu mengambil foto yang banyak…Ketika kembali kerumah,
kita lihat foto itu bersama-sama… Ketika ada yang lucu, aku tertawa. Mas Galang
juga tertawa…Tapi dibalik itu ternyata ada satu kebusukan didalam hati mas
Galang…Itulah yang membuat aku kecewa. Kenapa kita harus bertemu kalau akhirnya
menyakitkan…?”
Mendengar Mia di selak tangisnya mengeluarkan kata-kata yang
menyebabkan rasa bersalahnya tambah besar, Galang melutut di hadapan Mia. Meskipun
laki-laki, air matanya berjatuhan.
“Saat itu pikiran aku benar-benar sedang kalut Mi…Karena setelah
ayahku sakit-sakitan, orangtuaku jadi tidak bisa membiayayai kuliahku lagi…Disaat aku sedang kesusahan karena
uang semester belum didayar, tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan pekerjaan dengan
bayaranan tinggi… Meskipun beresiko, pekerjaan itu akhirnya kuterima…Seandainya
waktu bisa diputar, aku pasti akan memilih lebih baik kuliahku putus di tengah
jalan…Karena akibat aku menyanggupi tawaran itu, ternyata yang menjadi
korbannya adalah kamu…? Orang yang sangat baik hati dan selama ini cer sama aku…?”
__ADS_1
“Sekarang pergi ! Karena mulai sekarang aku tidak mau
melihat wajah mas Galang lagi !”
“Tapi Mi…?”
“Jangan coba merayu supaya aku belas kasihan ! Tahu nggak…?!
Perbuatan mas Galang itu sudah membuat semua mimpi-mimpiku jadi hilang… !” Setelah melemah karena lelah, pita suara
Mia tiba-tiba kembali meninggi. Dan itu karena saking segala rasa ber campur
aduk.
“Baiklah kalau itu maumu Mi…” Dengan berat akhirnya Galang pun bangkit.
Tapi sebelum pergi, angan-angannya sendiri di ungkapkan dulu.
“Meskipun kita berpisah dan tidak akan bisa bertemu lagi
selamanya...? Jujur..,aku pasti tidak akan bisa melupakan pertemanan kita yang
singkat itu sampai kapanpun…Sosok kamu pasti akan selalu ada di depan mata
aku…Dan kalau aku rindu..,mungkin aku akan berhayal saja yang lama…? Sampai
kamu hadir, lalu kita bercanda gurau seperti yang biasa kita lakukan selama
ini…?”
kekasih, tapi kehadiran mas Galang selama ini sudah membuat hari-hariku jadi
tidak kesepian…Mas Galang juga sering membantu menyelesaikan mata kuliah aku
kalau ada yang tidak kumengeri…Sekarang aku sudah jadi perawat seperti yang
menjadi cita-citaku…Harusnya aku balas budi kepada mas Galang…Karena support
mas Galang selama jadi teman, sudah membuatku semangat dalam mengejar cita-cita
itu…” gumam dalam hati Mia selama
menatap Galang yang pergi. Tapi ketika yang sedang di tatapnya menoleh ke
belakang, gadis ini berapi-api membaling. Galang pun akhirnya kembali
melanjutkan perjanannya.
“Ternyata kamu benar-benar benci sama aku Mi, sampai-sampai
tidak mau melihat aku yang pergi…? Padahal meskipun sekarang aku
meninggalkanmu, bukan berarti tidak ada perasaan apapun…Setelah usia puber,
baru kali ini aku menemukan gadis yang memberi kemistri ke lubuk hatiku yang
paling dalam…Tapi aku tahu, dirimu adalah mlik orang lain…Sehingga aku hanya
__ADS_1
bisa mengingat semua kenangan saat sedang bersamamu saja…”
Setelah perjalanannnya yang dibarengi curahan hati sampai di
jalan raya, Galang berhenti dan menurunkan ranselnya dari gendongan. Selama
menunggu bus yang menuju Jakarta, Galang kembali menoleh kebelakang. Ternyata
kali ini Mia tidak menghindar. Ketika mereka sedang berpandangan dari jauh, tiba-tiba
angina berhembus. Rambut Galang maupun rambut Mia, sama-sama terberai di dahinya
masing-masing. Setelah apa yang terjadi, ingin sekali Galang lari dan balik
lagi kepada Mia yang terus menatapnya dari jauh. Namun bus yang ditunggu
tiba-tiba datang. Galangpun akhirnya mengakhiri hasrtnya yang menggebu. Dan
akhirnya naik ke bus jurusan Jakarta itu yang terus membawanya pergi
meninggalkan perkampungan yang pernah disinggahinya.
Setelah bus yang dinaiki Galang melaju, Mia pun ucapkan kata
perpisahannya. “Selamat jalan mas Galang…Buatku ini seperti mimpi. Setelah
pernah bersama, sekarang mas Galang sudah pergi. Aku tidak tahu, apa kita bisa
bertemu lagi atau tidak? Yang pasti, dibalik kesalahan mas Galang yang sudah
jelas. Ada sisi baikmu yang tidak akan bisa aku lupakan”
“Langit sudah mendung…” Galang yang sudah di dalam bus pun
bergumam sambil menghallau keluar melalui kaca jendela. Ketika bus melalui
bukit yang selama ini sering mereka datangi, kini bukit itu sudah dipenuhi
kabut. Pepohonan di sekitarnya tampak sedih. Seandarnya hujan turun sebelum Mia
sampai kerumah, pasti gadis itu akan basah kuyup di jalan. Pikir Galang. “Tapi
apa boleh buat…Semua peristiwa yang terjadi hari ini pasti sudah tertulis di
lauh mahfud…Terimakasih Mia. Tadi kamu sudah memberi hadiah unik untuk teman…Tamparanmu
tadi buat aku bukanlah sesuatu yang menyakitkan. Melainkan pelajaran berharga
yang tidak akan kulupakan dalam seumur hidupku…Kalau di depan ada iming-iming
yang berbau keduniawian, sebelum di pertimbangkan seharusnya jangan
diambil…Seperti pak Suherman. Dia yang kaya dan banyak duit, mungkin sekarang
dia sedang sedih dan menyesal…Sama seperti aku yang sebelumnya tidak punya
apa-apa...”pikir Galang. Setelah kampung halaman Mia tidak terlihat .
__ADS_1