Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Hadiah Unik Untuk Teman


__ADS_3

“BEGITULAH ceritanya Mi…Kata pak Suherman. Setelah terjadi


peristiwa itu, seluruh keluarganya  pindah


ke Medan. Tapi aset-asetnya disini seperti rumah, perusahaan. Dan satu unit


rumah yang ada di Bandung, masih tetap ada katanya”


Dari tempat duduknya Mia bangkit. Plak…!  Galang yang sudah bertutur bahwa selama ini


sebenarnya ia sedang menjalankan misi pak Suherman yang ingin balas dendam


kepada musuh bebuyutannya, tiba-tiba di tampar.


“Mas Galang benar-benar keterlaluan ! Kenapa selama ini mas


Galang tega melakukan semua itu kepada aku…! Kalau rencana Pak Suherman dulu tidak


dibantu mas Galang, pasti semua ini tidak akan terjadi…!”


Kali ini Mia kembali duduk. Sambil terus menangis, memelas.


“Kenapa mas…? Padahal selama ini aku sudah menganggap mas Galang itu kakak


sendiri… Selama ini kita juga sering pergi berdua dengan hatiku yang tulus… Aku


bahkan sampai tidak bisa melupakannya ketika suatu hari kita pergi ke bukit.


Mas Galang disana waktu itu mengambil foto yang banyak…Ketika kembali kerumah,


kita lihat foto itu bersama-sama… Ketika ada yang lucu, aku tertawa. Mas Galang


juga tertawa…Tapi dibalik itu ternyata ada satu kebusukan didalam hati mas


Galang…Itulah yang membuat aku kecewa. Kenapa kita harus bertemu kalau akhirnya


menyakitkan…?”


Mendengar Mia di selak tangisnya mengeluarkan kata-kata yang


menyebabkan rasa bersalahnya tambah besar, Galang melutut di hadapan Mia. Meskipun


laki-laki, air matanya berjatuhan.


“Saat itu pikiran aku benar-benar sedang kalut Mi…Karena setelah


ayahku sakit-sakitan, orangtuaku jadi tidak bisa membiayayai  kuliahku lagi…Disaat aku sedang kesusahan karena


uang semester belum didayar, tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan pekerjaan dengan


bayaranan tinggi… Meskipun beresiko, pekerjaan itu akhirnya kuterima…Seandainya


waktu bisa diputar, aku pasti akan memilih lebih baik kuliahku putus di tengah


jalan…Karena akibat aku menyanggupi tawaran itu, ternyata yang menjadi


korbannya adalah kamu…? Orang yang sangat baik hati dan selama ini cer sama aku…?”

__ADS_1


“Sekarang pergi ! Karena mulai sekarang aku tidak mau


melihat wajah mas Galang lagi !”


“Tapi Mi…?”


“Jangan coba merayu supaya aku belas kasihan ! Tahu nggak…?!


Perbuatan mas Galang itu sudah membuat semua mimpi-mimpiku jadi hilang… !”    Setelah melemah karena lelah, pita suara


Mia tiba-tiba kembali meninggi. Dan itu karena saking segala rasa ber campur


aduk.


“Baiklah kalau itu maumu Mi…”  Dengan berat akhirnya Galang pun bangkit.


Tapi sebelum pergi, angan-angannya sendiri di ungkapkan dulu.


“Meskipun kita berpisah dan tidak akan bisa bertemu lagi


selamanya...? Jujur..,aku pasti tidak akan bisa melupakan pertemanan kita yang


singkat itu sampai kapanpun…Sosok kamu pasti akan selalu ada di depan mata


aku…Dan kalau aku rindu..,mungkin aku akan berhayal saja yang lama…? Sampai


kamu hadir, lalu kita bercanda gurau seperti yang biasa kita lakukan selama


ini…?”


kekasih, tapi kehadiran mas Galang selama ini sudah membuat hari-hariku jadi


tidak kesepian…Mas Galang juga sering membantu menyelesaikan mata kuliah aku


kalau ada yang tidak kumengeri…Sekarang aku sudah jadi perawat seperti yang


menjadi cita-citaku…Harusnya aku balas budi kepada mas Galang…Karena support


mas Galang selama jadi teman, sudah membuatku semangat dalam mengejar cita-cita


itu…”  gumam dalam hati Mia selama


menatap Galang yang pergi. Tapi ketika yang sedang di tatapnya menoleh ke


belakang, gadis ini berapi-api membaling. Galang pun akhirnya kembali


melanjutkan perjanannya.


“Ternyata kamu benar-benar benci sama aku Mi, sampai-sampai


tidak mau melihat aku yang pergi…? Padahal meskipun sekarang aku


meninggalkanmu, bukan berarti tidak ada perasaan apapun…Setelah usia puber,


baru kali ini aku menemukan gadis yang memberi kemistri ke lubuk hatiku yang


paling dalam…Tapi aku tahu, dirimu adalah mlik orang lain…Sehingga aku hanya

__ADS_1


bisa mengingat semua kenangan saat sedang bersamamu saja…”


Setelah perjalanannnya yang dibarengi curahan hati sampai di


jalan raya, Galang berhenti dan menurunkan ranselnya dari gendongan. Selama


menunggu bus yang menuju Jakarta, Galang kembali menoleh kebelakang. Ternyata


kali ini Mia tidak menghindar. Ketika mereka sedang berpandangan dari jauh, tiba-tiba


angina berhembus. Rambut Galang maupun rambut Mia, sama-sama terberai di dahinya


masing-masing. Setelah apa yang terjadi, ingin sekali Galang lari dan balik


lagi kepada Mia yang terus menatapnya dari jauh. Namun bus yang ditunggu


tiba-tiba datang. Galangpun akhirnya mengakhiri hasrtnya yang menggebu. Dan


akhirnya naik ke bus jurusan Jakarta itu yang terus membawanya pergi


meninggalkan perkampungan yang pernah disinggahinya.


Setelah bus yang dinaiki Galang melaju, Mia pun ucapkan kata


perpisahannya. “Selamat jalan mas Galang…Buatku ini seperti mimpi. Setelah


pernah bersama, sekarang mas Galang sudah pergi. Aku tidak tahu, apa kita bisa


bertemu lagi atau tidak? Yang pasti, dibalik kesalahan mas Galang yang sudah


jelas. Ada sisi baikmu yang tidak akan bisa aku lupakan”


“Langit sudah mendung…” Galang yang sudah di dalam bus pun


bergumam sambil menghallau keluar melalui kaca jendela. Ketika bus melalui


bukit yang selama ini sering mereka datangi, kini bukit itu sudah dipenuhi


kabut. Pepohonan di sekitarnya tampak sedih. Seandarnya hujan turun sebelum Mia


sampai kerumah, pasti gadis itu akan basah kuyup di jalan. Pikir Galang. “Tapi


apa boleh buat…Semua peristiwa yang terjadi hari ini pasti sudah tertulis di


lauh mahfud…Terimakasih Mia. Tadi kamu sudah memberi hadiah unik untuk teman…Tamparanmu


tadi buat aku bukanlah sesuatu yang menyakitkan. Melainkan pelajaran berharga


yang tidak akan kulupakan dalam seumur hidupku…Kalau di depan ada iming-iming


yang berbau keduniawian, sebelum di pertimbangkan seharusnya jangan


diambil…Seperti pak Suherman. Dia yang kaya dan banyak duit, mungkin sekarang


dia sedang sedih dan menyesal…Sama seperti aku yang sebelumnya tidak punya


apa-apa...”pikir Galang. Setelah kampung halaman Mia tidak terlihat .

__ADS_1


__ADS_2