Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Dalam Penantian Enam Bulan Bagian 1


__ADS_3

KEPADA orangtuanya dan Mia, Indra mengrimkan video yang


sama. Didalam video itu Indra melompat-lompat ke atas menunjukkan bahwa kakinya


sekarang sudah tidak bermasalah. Mengenai hasil karya yang dibantu temannya


itu, bagi yang menonton ada dua poin. Pertama senang, tapi Indra harus


menuntaskan terapinya disana. Itulah kalau poin kedua. Bibir bawah Mia bahkan


sudah naik ke atas karena mumet.


“Jadi meskipun sudah lulus, kamu belum bisa pulang ke tanah


air ya In karena terapi kakimu itu belum tuntas?”


“Iya Mi. Tidak lama kok, cuma tinggal sepuluh atau dua belas


kali lagi terapi”


“Sekali terapinya ?”


“Dua minggu sekali”


“Berarti kamu disana lima atau enam bulanan lagi?”


“Memangnya kenapa? Kok mukanya kecut?”


“Aku sudah kangen tahu ! Kok kamu masih pura-pura nggak


ngerti?”


“Alhamdulillah…Ternyata aku dirindukan seorang perawat yang


cantik?” Indra yang disana cengengesan


“Cukup ya In! Aku disini beneran lagi mumet! Yang serius


aja. Dengan menyampaikan sambutannya nanti mau kayak apa misal ? Ayo sekarang


pergunakan waktu yang sedikit ini”


“Baiklah cantik…Nanti kalau aku pulang kamu mau menyambutnya


di rumah yang di Ciloa atau dimana?”


“Pastinya di rumah kontrakan MELISA HAPPY. Disana kan aku


punya ruangan sendiri. Nanti seluruh ruangan itu akan ku hias seindah mungkin.


Makanan juga kupastikan yang kesukaan kamu semua. Nanti suasanya dijamin


romantis. Kamu jadi Romeonya, dan aku jadi Julia nya. Pokoknya kalau kamu


pulang nanti aku akan libur panjang supaya kamu benar-benar senang”


“Duuh…? Jadi beneran ingin buru-buru pulang ke tanah air nih

__ADS_1


?”  Indra yang disana, lagi lagi


tersanjung. Tapi disini Mia sudah harus berangkat bekerja.


“In, udah dulu ya? Sekarang aku mau berangkat kerja dulu nih?


Disana masih malam kan ? Kamu jangan tidur lagi, tapi harus solat tahajud”  canda Mia sebelum mengakhiri video call.


Setelah HPnya mati, Mia lalu memasukkannya kedalam tas yang mau dibawa. Dan


tepat pukul tujuh kurang lima belas menit, salah satu nakes di puskesmas


daerahnya ini kemudian berangkat meninggalkan rumahnya yang sederhana.


Setibanya di tujuan, Mia langsung disambut koleganya.


Kebetulan dari semua perawat muda yang bekerja di puskesman ini, gadis ini yang


datang paling akhir.


“Mi? Kok kamu datangnya telat?”


“Telat juga rumah sakitnya bulum buka kan? Kita juga punya


perhitungan kok”


“Bukan begitu Mi ? Maksud aku akan tambah seru kalau kita


menyambut dokter barunya itu bersama-sama ?”


atau lain sebagainya, itu sudah biasa kan ? Bukan hal aneh”


“Ini bedanya kamu dari kita Mi…Kalau dokternya itu tampan


dan masih single, kita-kita wajib pusatkan perhatian kali ?”


Karena satu temannya itu demikian yakin dengan pernyataannya,


Mia yang sudah menyimpan tasnya akhirnya ikut merumpi.


“Selain muda dan tampan, apakah dokter itu punya kelebihan


lain dimata kalian?”


“Ada deh”


Oleh orang itu Mia digandeng dan diajak melihat ketempat


parkiran melalui jendela.” Tadi dia datang pakai mobil itu. Tadi dia langsung


masuk ruangan kepala. Kekita-kita dia hanya manggut sambil tersenyum. Aduh


Mia…? Kalau dia naksir sama aku, pasti aku bahagia banget”


“Mungkinkah itu kak Fajar ? Tapi dia kan tidak punya mobil ?


Kalau iya, aku pasti bakal banyak nervous. Kan kak Indra cemburu banget sama

__ADS_1


orang satu ini?”


Yang namanya suster Dewi mana ?”  ketika Mia sedang termenung, tiba-tiba dokter


muda itu muncul dan bertanya. Yang jantungnya berdegup kencang bukan hanya


orang yang ditanyakan, tapi Mia yang sedang di gandengnya. “Ternyata benar yang


mereka ramai gosipkan itu kak Fajar” pikir Mia


Yang bernama Dewi melepaskan Mia yang sedang di gandengnya “Saya


dok” kepada fajar ia manggut


“Kalau melakukan pemeriksaan ke pasien-pasien yang rawat


inap, nanti suster yang jadi pendamping saya”


“Berkas laporannya dok ?”


“Ada diruangan saya. Sepuluh menit lagi pelayanan ke


mayarakat akan dibuka. Kalian segera siap-siap untuk bertugas”


“Baik dok”  jawab yang


ditinggalkan. Kalau Mia menjawabnya itu agak telat. “Siap kak Fajar”  Dan itu hanya untuk dirinya sendiri.


“Asyik…Ternyata aku yang dipilih menjadi patnernya”  Yang namanya Dewi menunjukkan kegirangannya.


“Nggak harus kegirangan berlebih kali? Aku yakin memilih


kamu sebagai patner bukan atas kemauannya, tapi atas rekomendasi kepala”  Mia langsung menukas


“Idih..,kok kamu sinis Mi? Jangan-jangan kamu naksir juga


sama dia ?”


“Ih ! Dikasih masukan malah sentiment. Aku pergi duluan ach


“ Mia yang terus-terusan di serang memilih pergi. Setelah Mia tidak ada, yang


ada saling lerai.


“Sudah-sudah…Yang lagi sensitif jangan terus di sulut. Soal


sikap dia tidak biasanya, lihat saja nanti. Kalau ada apa-apa, pasti akan kita


mengetahui jawabannya.


Setelah yang paling senior berpetuah, suster-suster muda itu


akhirnya pada diam. Setelah itu mereka lalu mulai tugas. Makin siang, di puskesmas


ini makin banyak pengunjung. Semua nakes sibuk dan tekun bekerja di tempat


tugasnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2