
KEPADA orangtuanya dan Mia, Indra mengrimkan video yang
sama. Didalam video itu Indra melompat-lompat ke atas menunjukkan bahwa kakinya
sekarang sudah tidak bermasalah. Mengenai hasil karya yang dibantu temannya
itu, bagi yang menonton ada dua poin. Pertama senang, tapi Indra harus
menuntaskan terapinya disana. Itulah kalau poin kedua. Bibir bawah Mia bahkan
sudah naik ke atas karena mumet.
“Jadi meskipun sudah lulus, kamu belum bisa pulang ke tanah
air ya In karena terapi kakimu itu belum tuntas?”
“Iya Mi. Tidak lama kok, cuma tinggal sepuluh atau dua belas
kali lagi terapi”
“Sekali terapinya ?”
“Dua minggu sekali”
“Berarti kamu disana lima atau enam bulanan lagi?”
“Memangnya kenapa? Kok mukanya kecut?”
“Aku sudah kangen tahu ! Kok kamu masih pura-pura nggak
ngerti?”
“Alhamdulillah…Ternyata aku dirindukan seorang perawat yang
cantik?” Indra yang disana cengengesan
“Cukup ya In! Aku disini beneran lagi mumet! Yang serius
aja. Dengan menyampaikan sambutannya nanti mau kayak apa misal ? Ayo sekarang
pergunakan waktu yang sedikit ini”
“Baiklah cantik…Nanti kalau aku pulang kamu mau menyambutnya
di rumah yang di Ciloa atau dimana?”
“Pastinya di rumah kontrakan MELISA HAPPY. Disana kan aku
punya ruangan sendiri. Nanti seluruh ruangan itu akan ku hias seindah mungkin.
Makanan juga kupastikan yang kesukaan kamu semua. Nanti suasanya dijamin
romantis. Kamu jadi Romeonya, dan aku jadi Julia nya. Pokoknya kalau kamu
pulang nanti aku akan libur panjang supaya kamu benar-benar senang”
“Duuh…? Jadi beneran ingin buru-buru pulang ke tanah air nih
__ADS_1
?” Indra yang disana, lagi lagi
tersanjung. Tapi disini Mia sudah harus berangkat bekerja.
“In, udah dulu ya? Sekarang aku mau berangkat kerja dulu nih?
Disana masih malam kan ? Kamu jangan tidur lagi, tapi harus solat tahajud” canda Mia sebelum mengakhiri video call.
Setelah HPnya mati, Mia lalu memasukkannya kedalam tas yang mau dibawa. Dan
tepat pukul tujuh kurang lima belas menit, salah satu nakes di puskesmas
daerahnya ini kemudian berangkat meninggalkan rumahnya yang sederhana.
Setibanya di tujuan, Mia langsung disambut koleganya.
Kebetulan dari semua perawat muda yang bekerja di puskesman ini, gadis ini yang
datang paling akhir.
“Mi? Kok kamu datangnya telat?”
“Telat juga rumah sakitnya bulum buka kan? Kita juga punya
perhitungan kok”
“Bukan begitu Mi ? Maksud aku akan tambah seru kalau kita
menyambut dokter barunya itu bersama-sama ?”
atau lain sebagainya, itu sudah biasa kan ? Bukan hal aneh”
“Ini bedanya kamu dari kita Mi…Kalau dokternya itu tampan
dan masih single, kita-kita wajib pusatkan perhatian kali ?”
Karena satu temannya itu demikian yakin dengan pernyataannya,
Mia yang sudah menyimpan tasnya akhirnya ikut merumpi.
“Selain muda dan tampan, apakah dokter itu punya kelebihan
lain dimata kalian?”
“Ada deh”
Oleh orang itu Mia digandeng dan diajak melihat ketempat
parkiran melalui jendela.” Tadi dia datang pakai mobil itu. Tadi dia langsung
masuk ruangan kepala. Kekita-kita dia hanya manggut sambil tersenyum. Aduh
Mia…? Kalau dia naksir sama aku, pasti aku bahagia banget”
“Mungkinkah itu kak Fajar ? Tapi dia kan tidak punya mobil ?
Kalau iya, aku pasti bakal banyak nervous. Kan kak Indra cemburu banget sama
__ADS_1
orang satu ini?”
Yang namanya suster Dewi mana ?” ketika Mia sedang termenung, tiba-tiba dokter
muda itu muncul dan bertanya. Yang jantungnya berdegup kencang bukan hanya
orang yang ditanyakan, tapi Mia yang sedang di gandengnya. “Ternyata benar yang
mereka ramai gosipkan itu kak Fajar” pikir Mia
Yang bernama Dewi melepaskan Mia yang sedang di gandengnya “Saya
dok” kepada fajar ia manggut
“Kalau melakukan pemeriksaan ke pasien-pasien yang rawat
inap, nanti suster yang jadi pendamping saya”
“Berkas laporannya dok ?”
“Ada diruangan saya. Sepuluh menit lagi pelayanan ke
mayarakat akan dibuka. Kalian segera siap-siap untuk bertugas”
“Baik dok” jawab yang
ditinggalkan. Kalau Mia menjawabnya itu agak telat. “Siap kak Fajar” Dan itu hanya untuk dirinya sendiri.
“Asyik…Ternyata aku yang dipilih menjadi patnernya” Yang namanya Dewi menunjukkan kegirangannya.
“Nggak harus kegirangan berlebih kali? Aku yakin memilih
kamu sebagai patner bukan atas kemauannya, tapi atas rekomendasi kepala” Mia langsung menukas
“Idih..,kok kamu sinis Mi? Jangan-jangan kamu naksir juga
sama dia ?”
“Ih ! Dikasih masukan malah sentiment. Aku pergi duluan ach
“ Mia yang terus-terusan di serang memilih pergi. Setelah Mia tidak ada, yang
ada saling lerai.
“Sudah-sudah…Yang lagi sensitif jangan terus di sulut. Soal
sikap dia tidak biasanya, lihat saja nanti. Kalau ada apa-apa, pasti akan kita
mengetahui jawabannya.
Setelah yang paling senior berpetuah, suster-suster muda itu
akhirnya pada diam. Setelah itu mereka lalu mulai tugas. Makin siang, di puskesmas
ini makin banyak pengunjung. Semua nakes sibuk dan tekun bekerja di tempat
tugasnya masing-masing.
__ADS_1