
KARENA perjalanan jauh. Pak Suherman yang mendapat kabar
ibunya sakit, ba’da isya baru sampai ditujuan. Ia yang datang bersama istri dan
anak perempuannya, langsung ke rumah sakit karena sudah dipastikan kalau datang
ke kerumah, tidak akan ada siapa-siapa. Tapi ketika sampai di ruangan ibunya,
didalam ada dokter dan perawat yang sedang memeriksa ibunya. Alasan supaya
tidak mengganggu tugasnya, ayah dari Indra dan Santi ini akhirnya memutuskan menunggu
dulu di depan pintu.
“Suster coba lihat hasil pemeriksaan tadi siang ?”
“Baik dok”
Seorang suster yang sudah di kenal pak Suherman membuka buku
catatan medis yang dibawanya.
“Ini hasil pemeriksaan awal bu Sarah dok. Tensinya seratus
delapan puluh per seratus. Yang lain-lainnya silahkan dokter untuk melihatnya
sendiri ”
“Ternyata sekarang lebih buruk”
“Apa itu artinya pasien harus dirujuk ke rumah sakit umum
dok?”
“Sebaiknya begitu. Soalnya keadaan bu Sarah semakin buruk”
“Tapi sayang ya dok? Satu-satunya penanggung jawab dari
pasien sampai sekarang belum datang ”
“Sekarang saya sudah datang dok. Lakukanlah yang terbaik
untuk ibu saya”
Dokter dan perawat
yang sedang bertugas langsung menoleh ke ambang pintu. Pak Suherman dan
keluarganya lalu masuk.
“Jadi ibu saya itu kali ini sakitnya lebih parah dari yang
lalu ya dok?” kata pak Suherman setelah di dalam.
“Dari hasil pemeriksaan awal, memang seperti itu pak”
“Tadi kata dokter ibu saya harus di rujuk kerumah sakit
umum?”
“Iya pak. Maksudnya kalau dirumah sakit umum, pasyen bisa
dirawat lebih intensip karena disana ada dokter specialis. Selain itu peralatan
medis juga lebih lengkap. Kebetulan yang bertugas malam ini disini saya dengan
suster Mia. Jadi kalau bapak memutuskan mau memindahkan ibu kesana, surat
__ADS_1
rujukannya sekarang akan langsung kita buat dan legalisir”
“Pah ? Untuk kesehatannya ibu jangan menimbang-nimbang…?” Kepada pak Suherman yang sedang termenung, bu
Ranti menghampiri. Padahal yang dipikirkan pak Suherman bukan soal itu,
melainkan ingat beberapa fhoto yang diberikan Galang. Ternyata keduanya
sekarang sedang kompak bertugas, pikirnya.
“Nggak mah…Papa bukan sedang menimbang-nimbang” akhirnya
jawab pak Suherman.
“Terus kenapa sekarang masih diam ? Beri keputusan donk
kepada dokter yang sedang menunggu persetujuan dari papa?”
“Iya pak. Saya memang sedang menunggu persetujuan dari
bapak?”
“Baik dok. Rujuk saja
ibu saya ke rumah sakit umum malam ini juga”
“Kalau begitu kita permisi untuk membuat surat rujukannya.
Ayo suster sekarang kita balik ke kantor dulu ?”
“Baik dok” Jawab Mia untuk patner kerja. Sedangkan kepada
pak Suherman dan bu Ranti, Mia pamit khusus secara pribadi.
“Oom ? Tante ? Saya pamit dulu “
Bu Ranti mengangguk. Sedangkan pak Suherman memutuskan membaling tidak mau
melihat kebersamaan dua nakes itu.
“Mah ? Perawat yang barusan cantik ya?” Santi tiba-tiba nyeloteh. Ternyata bu Ranti
menyempurnakannya.
“Dokternya juga tampan San. Mereka sangat serasi kalau jadi pasangan
hidup” balas bu Ranti. Darah Pak Suherman langsung naik seketika.
“Kalian ini gimana ! Keadaan lagi darurat malah memuji muji
orang ! Cepetan sekarang kita sama-sama hampiri ibu yang lagi sekarat!”
“Baik pah…Ayo San “ Bu Ranti yang dibentak ternyata langsung
menggandeng putrinya. Lalu akhirnya bersama-sama menghapiri ibu mertuanya yang sedang
terbaring di sal.
“Ibu…?” Setelah
didepan ibunya pak Suherman langsung menyapa sambil mengambil tangannya.
Mendengar ada yang memanggilnya, bu Sarah langsung membuka
mata. “Herman… ?” ternyata masih normal ingatan
bu Sarah.
__ADS_1
“Ibu semoga cepat sembuh ya?” Bu Ranti ambil bagian dalam memberi perhatian
kepada ibu mertua.
“Ini nak Ranti ?” Bu
Sarah kali ini melirik ke pada bu Ranti. Terus melirik ke Santi yang di samping
mamanya.
“Cucu oma yang cantik juga ternyata ada?”
“Iya oma. Oma cepat sembuh ya?”
“Keluarga ibu sudah berkumpul, tapi tanpa Indra…” Air mata
bu Sarang mulai merembes. Karena ada sesuatu yang terpendam, detak jantungnya
juga kini mulai berdegup tidak teratur.
“Indra masih di luar negri bu…Tapi dua puluh Sembilan hari
lagi dia akan pulang”
“Menunggu… dua puluh Sembilan… hari, terlalu lama …buat ibu…”
“Ibu…?” Pak Suherman
melihat nafas ibunya mulai tidak setabil pula.
“Sekarang Ibu… mau pulang Herman…Sampaikan… pesan ibu ini…kepada
Indra…kalau dia sudah pulang…” Suara bu
Sarah makin lemah dan berbata.
“Ibu jangan bi cara yang enggak-nggak…Tapi saya harus tahu,
apa sebenarnya yang mau ibu sampaikan ke Indra?”
“Tepati… janjinya…kepada…” kata bu Sarah tidak tuntas.
Karena setelah itu ruh keluar dari jasadnya.
Ketika kesedihan Mia berlebih waktu bu Sarah meninggal, Pak
Suherman buru-buru bertindak tegas supaya yang disembunyikannya selama ini dari
bu Ranti, tidak diketahui. Dan ucapannya hanya bisa didengar oleh gadis itu
saja ketika sedang menangis.
“Kamu pasti tidak tahu yang di pendam oleh saya selama ini.
Tapi suatu saat kamu pasti akan mengetahuinya. Seperti halnya istri dan anak
perempuan saya yang tidak mengetahui hubungan kamu dengan Indra. Tapi suatu
saat mereka pasti akan tahu…Jadi sekarang akhirilah kecurigaan anak istriku. Dulu
ayah kamu dan saya itu sahabatan. Tapi seiring waktu persahabatan kita itu jadi
permusuhan. Jadi sampai saat ini sebenarnya
saya masih ingin ayah kamu menderita seperti yang saya rasakan dulu. Juga kamu
sebagai keturunannya karena sudah coba-coba masuk dalam kehidupan keluarga saya."
__ADS_1