Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Saat Berduka Dendam Tetap Membara


__ADS_3

KARENA perjalanan jauh. Pak Suherman yang mendapat kabar


ibunya sakit, ba’da isya baru sampai ditujuan. Ia yang datang bersama istri dan


anak perempuannya, langsung ke rumah sakit karena sudah dipastikan kalau datang


ke kerumah, tidak akan ada siapa-siapa. Tapi ketika sampai di ruangan ibunya,


didalam ada dokter dan perawat yang sedang memeriksa ibunya. Alasan supaya


tidak mengganggu tugasnya, ayah dari Indra dan Santi ini akhirnya memutuskan menunggu


dulu di depan pintu.


“Suster coba lihat hasil pemeriksaan tadi siang ?”


“Baik dok”


Seorang suster yang sudah di kenal pak Suherman membuka buku


catatan medis yang dibawanya.


“Ini hasil pemeriksaan awal bu Sarah dok. Tensinya seratus


delapan puluh per seratus. Yang lain-lainnya silahkan dokter untuk melihatnya


sendiri ”


“Ternyata sekarang lebih buruk”


“Apa itu artinya pasien harus dirujuk ke rumah sakit umum


dok?”


“Sebaiknya begitu. Soalnya keadaan bu Sarah semakin buruk”


“Tapi sayang ya dok? Satu-satunya penanggung jawab dari


pasien sampai sekarang belum datang ”


“Sekarang saya sudah datang dok. Lakukanlah yang terbaik


untuk ibu saya”


 Dokter dan perawat


yang sedang bertugas langsung menoleh ke ambang pintu. Pak Suherman dan


keluarganya lalu masuk.


“Jadi ibu saya itu kali ini sakitnya lebih parah dari yang


lalu ya dok?”   kata pak Suherman setelah di dalam.


“Dari hasil pemeriksaan awal, memang seperti itu pak”


“Tadi kata dokter ibu saya harus di rujuk kerumah sakit


umum?”


“Iya pak. Maksudnya kalau dirumah sakit umum, pasyen bisa


dirawat lebih intensip karena disana ada dokter specialis. Selain itu peralatan


medis juga lebih lengkap. Kebetulan yang bertugas malam ini disini saya dengan


suster Mia. Jadi kalau bapak memutuskan mau memindahkan ibu kesana, surat

__ADS_1


rujukannya sekarang akan langsung kita buat dan legalisir”


“Pah ? Untuk kesehatannya ibu jangan menimbang-nimbang…?”  Kepada pak Suherman yang sedang termenung, bu


Ranti menghampiri. Padahal yang dipikirkan pak Suherman bukan soal itu,


melainkan ingat beberapa fhoto yang diberikan Galang. Ternyata keduanya


sekarang sedang kompak bertugas, pikirnya.


“Nggak mah…Papa bukan sedang menimbang-nimbang” akhirnya


jawab pak Suherman.


“Terus kenapa sekarang masih diam ? Beri keputusan donk


kepada dokter yang sedang menunggu persetujuan dari papa?”


“Iya pak. Saya memang sedang menunggu persetujuan dari


bapak?”


“Baik dok.  Rujuk saja


ibu saya ke rumah sakit umum malam ini juga”


“Kalau begitu kita permisi untuk membuat surat rujukannya.


Ayo suster sekarang kita balik ke kantor dulu ?”


“Baik dok” Jawab Mia untuk patner kerja. Sedangkan kepada


pak Suherman dan bu Ranti, Mia pamit khusus secara pribadi.


“Oom ? Tante ? Saya pamit dulu “


Bu Ranti mengangguk. Sedangkan pak Suherman memutuskan membaling tidak mau


melihat kebersamaan dua nakes itu.


“Mah ? Perawat yang barusan cantik ya?”  Santi tiba-tiba nyeloteh. Ternyata bu Ranti


menyempurnakannya.


“Dokternya juga tampan San. Mereka sangat serasi kalau jadi pasangan


hidup” balas bu Ranti. Darah Pak Suherman langsung naik seketika.


“Kalian ini gimana ! Keadaan lagi darurat malah memuji muji


orang ! Cepetan sekarang kita sama-sama hampiri ibu yang lagi sekarat!”


“Baik pah…Ayo San “ Bu Ranti yang dibentak ternyata langsung


menggandeng putrinya. Lalu akhirnya bersama-sama menghapiri ibu mertuanya yang sedang


terbaring di sal.


“Ibu…?”  Setelah


didepan ibunya pak Suherman langsung menyapa sambil mengambil tangannya.


Mendengar ada yang memanggilnya, bu Sarah langsung membuka


mata. “Herman… ?”  ternyata masih normal ingatan


bu Sarah.

__ADS_1


“Ibu semoga cepat sembuh ya?”  Bu Ranti ambil bagian dalam memberi perhatian


kepada ibu mertua.


“Ini nak Ranti ?”  Bu


Sarah kali ini melirik ke pada bu Ranti. Terus melirik ke Santi yang di samping


mamanya.


“Cucu oma yang cantik juga ternyata ada?”


“Iya oma. Oma cepat sembuh ya?”


“Keluarga ibu sudah berkumpul, tapi tanpa Indra…” Air mata


bu Sarang mulai merembes. Karena ada sesuatu yang terpendam, detak jantungnya


juga kini mulai berdegup tidak teratur.


“Indra masih di luar negri bu…Tapi dua puluh Sembilan hari


lagi dia akan pulang”


“Menunggu… dua puluh Sembilan… hari, terlalu lama …buat ibu…”


“Ibu…?”  Pak Suherman


melihat nafas ibunya mulai tidak setabil pula.


“Sekarang Ibu… mau pulang Herman…Sampaikan… pesan ibu ini…kepada


Indra…kalau dia sudah pulang…”   Suara bu


Sarah makin lemah dan berbata.


“Ibu jangan bi cara yang enggak-nggak…Tapi saya harus tahu,


apa sebenarnya yang mau ibu sampaikan ke Indra?”


“Tepati… janjinya…kepada…” kata bu Sarah tidak tuntas.


Karena setelah itu ruh keluar dari jasadnya.


Ketika kesedihan Mia berlebih waktu bu Sarah meninggal, Pak


Suherman buru-buru bertindak tegas supaya yang disembunyikannya selama ini dari


bu Ranti, tidak diketahui. Dan ucapannya hanya bisa didengar oleh gadis itu


saja ketika sedang menangis.


“Kamu pasti tidak tahu yang di pendam oleh saya selama ini.


Tapi suatu saat kamu pasti akan mengetahuinya. Seperti halnya istri dan anak


perempuan saya yang tidak mengetahui hubungan kamu dengan Indra. Tapi suatu


saat mereka pasti akan tahu…Jadi sekarang akhirilah kecurigaan anak istriku. Dulu


ayah kamu dan saya itu sahabatan. Tapi seiring waktu persahabatan kita itu jadi


permusuhan. Jadi sampai  saat ini sebenarnya


saya masih ingin ayah kamu menderita seperti yang saya rasakan dulu. Juga kamu


sebagai keturunannya karena sudah coba-coba masuk dalam kehidupan keluarga saya."

__ADS_1


__ADS_2