Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Rumah Duka


__ADS_3

KARENA hari ini Senin, sebelum bertugas seluruh nakes


mengikuti upacara bendera dulu. Pada saat yang bersamaan, ke rumah duka terus


berdatangan para pelayat. Mereka kebanyakan tetangga sekampung almarhumah dan dari


kampung sebrang. Satu-satunya pelayat dari jauh turun dari mobil memakai baju


putih yang seragam dengan suaminya. Kedatangannya bukan hanya mengagetkan


keluarga yang berduka. Tapi sekaligus mengagetkan Mia yang dari semalam sudah


mendapatkan perlakuan kurang baik dari pak Suherman.


“Saya turut berduka cita Oom”


“Terimakasih”


“Eh ? Ini Wiwin bukan…?”  Bu Ranti yang duduk disamping suaminya nyeloteh. Pak Suherman langsung


menatap yang barusan menyalaminya. Setelah perhatiaannya fokus. “ Ini beneran


Wiwin?”


“Iya Oom…Oom dan tante apa kabar?”


“Kalau fisik Alhamdulillah sehat. Tapi bathin, kamu juga


pasti sudah maklum. Disaat Indra sedang tidak ada, neneknya pergi untuk


selama-lamanya…Kabar kamu sendiri bagaimana? Dengan siapa barusan kemari ?”


“Dengan suami saya Oom”


“Mana suamimu sekarang?”  Bu Ranti ambil bagian bertanya.


“Menunggu diluar tan”


“Kenapa tidak di ajak masuk?”


Wiwin tidak menjawab.


“Ya udah, mungkin suami kamu agak sungkan dengan kita.


Sekarang panggil dulu jug? Kita ingin bertemu”  Bu ranti lagi-lagi mencairkan suasana.


Melihat pak Suherman begitu baik terhadap Wiwin, Mia yang


sudah tiba dirumah duka bergumam dalam hatinya. “Mbak Win itu cinta pertamanya


kak Indra…Dari cerita yang kutahu, hubungan mereka itu akhirnya putus karena


mbak Win memilih kang Kamal lelaki pilihan ayahnya. Kalau secara logika,


terhadap orang yang sudah membuat anaknya frustasi,  seharusnya pak Suherman tidak sebaik itu.


Lalu sebesar apa kesalahan ayah dulu terhadap pak Suherman sehingga kini


orangnya benci sampai kepada keturunannya…? Tapi sejauh ini aku tidak akan

__ADS_1


mencari tahu langsung kepada ayah…Mendingan sekarang aku hampiri yang sedang


melepas kangen. Siapa tahu sekarang Oom Suherman sudah berubah pikiran.


“Suster ? Suster tidak ngantor ?”  Sapa bu Ranti ketika Mia menghapiri.


“Nggak tante, karena saya ingin ikut ke pemakamannya Oma”


“Memangnya sedekat apa sih hubunganmu dengan ibu mertua


saya, sehingga suster memutuskan tidak masuk kerja?”


“Itu mah…Pertama karena selama ini suster Mia itu sudah di


suruh papa untuk terus pantau kesehatan ibu. Yang kedua. Kan di kampung sebrang


orang tuanya itu punya rumah petak yang di kontrakan. Iya kan suster?”


“Itu betul tante”


“Oh pantesan.”   Kata


bur anti percaya pada omongan suaminya.


“Sebenarnya kedua orangtua saya tinggal di rumah kami yang


di Ciloa tan. Kontrakan disini dikelola oleh saya dan kakak saya”


“Oh… Ya udah. Karena tadi bunga belum dirangkai, bagaimana


kalau sekarang suster dan Wiwin untuk mengerjakannya bersama-sama. Kalian nggak


keberatan kan kalau tante suruh?”


“Itu di ruang TV. Yuk, sekarang bareng tante aja kesana”


“Kalau begitu Oom juga mau menemui suami kamu dulu Win.


Sekalian mau memberi tahunya bahwa kamu sedang kami beri pekerjaan dulu”


Setelah sampai di ruang tengah Mia dan Wiwin akhirnya


merangkai bunga yang ternyata masih dalam wadahnya seperti semula belum di


apa-apa. Sedangkan bu Ranti balik lagi ke vavaliun karena masih banyak pelayat


yang datang. Yang tidak menyengka pak Suherman yang keluar. Begitu menemukan


Kamal, ayah Indra ini ternyata semua perkataannya enak sekali didengar oleh


telinga suami Wiwin ini.


“Ya udah, yang lalu kita lupakan saja. Kalau nak Kamal


merasa bersalah karena sudah membuat anak saya jadi berpisah dari orang yang


dicintainya, itu wajar. Sekarang kita saling do’akan saja. Nak Kamal pasti


sudah bahagia dengan Wiwin. Oya ? Sudah punya anak berapa?”

__ADS_1


“Baru satu Oom. Anak pertama kami laki-laki. Saya juga


mendo’akan putra Oom.  Semoga jalinan cinta


keduanya dengan Mia langgeng sampai ke pelaminan”


“Ih ! Tidak boleh…!Tidak boleh…!”


Begitu nama Mia disebut oleh Kamal, pak Suherman langsung


memotong. Kamalpun kaget. Tapi akhirnya pak Suherman menjelaskan alasannya ia


tidak setuju kalau Indra menyatu dengan Mia.


“Nak Kamal harus janji ya? Kalau hal ini tidak boleh diberitahu


kepada siapa-siapa. Istri saya sendiri bahkan tidak tahu Indra menjalin


hubungan dengan gadis itu”


“Apa Oom yakin bahwa keputusan menutup-nutupi hubungan


mereka kepada orang serumah itu tidak akan ada sebab akibat di kemudian hari?”


“Persimi pak…?” sebelum pak Suherman menjawab pertanyaan


Kamal, tiba-tiba ada orang utusan dari tempat pemakaman.


“Ada apa jang ?”


“Penggalian untuk kuburan sekarang sudah beres. Jadi kata


yang nunggu disana, sekarang jenazahnya sudah bisa dibawa kesana”


“Nak Kamal ? Obrolannya kita sudahi dulu ya? Ternyata dari


tempat pemakaman menggalinya sudah selesai?”


“Ya Oom. Obrolan kita bisa dilanjutkan kalau ada waktu.


Sekarang ayo sama-sama berangkat. Saya dan istri saya juga mau ikut kesana.


Dari tempat ngobrolnya pak Suherman dan Kamal beranjak.


Sesampainya dirumah, kepada orang yang ada pak Suherman lalu memerintahkan


supaya jenazah segera dimasukkan ke dalam keranda. Karena sesuatunya sudah


disiapkan sesuai adat istiadat setempat, tidak lama kemudian jenazah bu Sarah


keluar dari rumah yang selama ini ditempatinya dengan di iring warga menuju


ketempat peng istirahatannya yang terakhir. Meskipun hubungan dengan keluarga


baru calon, pada saat jenazah bu Sarang dimasukkan keliang lahat kesedihan Mia


tidak terbendung. Gadis ini yang dari tadi berduaan terus dengan Wiwin, supaya


kuat kepalanya disandarkan ke bahu cinta pertama Indra itu. Sebagai cinta

__ADS_1


keduanya, kini Mia berharap kalau dengan dirinya Indra itu bisa bersatu


meskipun sampai saat ini hubungannya belum ada restu dari Pak Suherman.


__ADS_2