Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Makan Malam Yang Romantis


__ADS_3

YANG berjama’ah isya di masjid sudah bubaran. Setelah tadi siang bertemu dengan orang yang menjadi cinta pertamanya, malam ini Wiwin bersoleh untuk suami tercinta. Rambutnya yang sudah rapi, terus disisirnya sambil duduk di depan meja rias. Lumayan terik lamunan nyonya Kamal ini selama menunggu suami pulang


“Assalamualaikum “


“Wa’alaikumussalam…” Dari depan meja rias, Wiwin akhirnya bangkit.


“Sekarang langsung ke ruang makan aja”


“Ke ruang makan dulu jangan ya ?”  Kamal yang tidak lupa rencana bulan madunya tadi siang gagal, bercanda.


Oleh sang istri tangannya di cubit sayang “Yang serius aja ach ngomongnya “


“Ya tentu ke ruang makan dulu donk. Kalau tidak, kasihan bi Ijah yang sudah nyiapin”


Pasangan muda ini akhirnya menuju ke ruang makan . “Mamang ? Bibi ? Ayo kita makan bareng ?!”   Setelah sampai di ruang makan, Kamal memanggil bi Ijah dan mang Kardi.


Yang di panggilnya menghampiri. “Den, da bibi mah sudah makan ”


“Mamang juga sudah den. Sekarang silahkan aja aden dan eneng makan yang banyak supaya nanti ada tenaga”


“Mamang ini bicara apa…?’ kata Kamal sambil memegang piring yang nasinya sedang di alasi sang istri.


“Maksud mang Kardi. Kalau makan banyak, nanti tidurnya pulas ya mang ?”  Wiwin nimbrung. Ternyata mang Kardi merasa tertolong


“Hehe…Iya neng. Kalau begitu sekarang mamang dan bibi mau ke belakang lagi…


Hayu Jah…”  Setelah itu mang Kardi setengah menggusur tangan bi Ijah supaya buru-buru meninggalkan majikannya yang mau makan.


“Kang ! Aku ini bukan domba Garut ! Kenapa ngajak pergi aja sampai di seret-seret begini ?”  Setelah oleh mang Kardi dilepaskan, bi Ijah membentak


“Supaya tidak ngintip maksud akang mah Jah “


“Ngawur ngomongnya akang ! Maksud nya ngintip apa ?!” bi Ijah tidak bisa terima


“Tadi siang kan neng Wiwin pulangnya hampir ashar. Darimana tuh ? Mungkin den Kamal mau tahu”  mang Kardi menjelaskan

__ADS_1


Dan ternyata benar, sambil makan Kamal menanyakan itu.


“Tadi darimana saja kamu sampai pulang telat itu ?”


“Tadi itu aku ketemu teman lama. Dia nya ngajak ngobrol terus. Jadinya aku sampai lupa waktu”


“Oh…” Kamal percaya. Sedangkan dalam hati Wiwin langsung berkata. “Meskipun kita tidak berbuat yang melewati batas, tapi pertemuanku dengan Indra itu akan tetap kurahasiakan kang. Kamu terlalu baik untuk aku. Pasti tidak akan rela kalau istrinya mengabiskan waktu dengan mantannya. Dan untuk menebusnya, sekarang aku akan membuat kamu senang”


“Aa…” Wiwin mengantar satu bola-bola daging yang sudah di cocog garpu ke mulut suaminya


“Apa ini…?” tapi Kamal belum bisa menerima yang tidak biasa


“Mau di terima nggak? Di dalamnya ada cinta lho?”


“Kalau di dalamnya ada unsur cinta, pasti mau donk “


Kamal akhirnya memegang tangan Wiwin. Setelah yang dipegangnya tersenyum, baru makanan hantaran itu di masukkan ke mulutnya bersama-sama


“Sekarang giliran aku…” Sambil menyenyam, Kamal mengambil sepotong risol. Setelah berhasil di ambilnya dengan cocogan garpu pula. “Nah, kalau tadi makanan kamu buat aku itu cintanya hanya satu. Kalau dari aku untuk kamu, unsur cintanya ada seratus kali lipat. Aa..."  Kamal mengantar makanan itu kemulut istrinya. Tapi setelah di santap, Wiwin langsung berteriak. “Au pedas !”


“Ada apa den ?” bi Ijah menghampiri


“Kenapa risolnya pedas? Kan saya dan istri saya tidak makan pedas?”


“Ketukar sama yang ini mungkin den ?”  Mang Kardi muncul membawa risol dalam piring lain


“Coba saya cicipin dulu satu mang “ Kamal mengambil risol yang di bawa mang Kardi. Setelah di cicipi. “Ini tidak pedas”


“Berarti benar ketukar “ kata Wiwin.


Mang Kardi langsung mendelik kepada bi Ijah. “Jah ! Malu-maluin aja kamu! Makanya kalau kerja itu jangan sambil melamun ! Untung yang ketukar cuma makanan pedas! Kalau yang ketukarnya madu dan racun, bagaimana ?!”


“Udah-udah mang, soal ini jangan terus diributin. Apalagi kalau sampai mamang  dan bibi jadi berantem ”  Kamal meredam yang terjadi


“Wiwin sekarang lagi apa ya ?”  Pada saat yang bersamaan, Indra bergumam di kamarnya. Pikirannya terus menerawang jauh. “Ketika diberi tahu bahwa aku belum bisa move on darinya, tadi dia menangis”

__ADS_1


“In ?” ke kamar Indra neneknya menghampiri. “Sedang apa ?”


“Sedang nunggu oma nyiapin untuk makan malam “


“Sekarang sudah beres. Ayo kamu keluar “


Dari kamarnya akhirnya Indra keluar. Tapi sambil makan, ternyata neneknya meng introgasi


“Tadi kamu darimana saja ? Katanya hanya mau beli peluru senapan sebentar? Tapi berangkat pagi itu pulangnya hampir ashar”


“Tadi Indra itu ketemu teman lama Oma “


Dahi neneknya mengerut. “Setahu Oma, kamu itu besar di kota ? Maksud kamu, ada teman kamu yang sedang liburan juga ?”


“Iya Oma. Dan karena saking kangennya, kita ngobrol sampai lupa waktu”


“Oh…” Neneknya melanjutkan lagi makannya


“Kalau mengenai Dian bagaimana ? Maksud Oma, kan Waktu itu kalian lari pagi bersama ?”   neneknya Indra mau tahu mengenai perasaan Indra kepda Mia


“Mia ternyata suka kepada seorang pemuda yang bernama Fajar Oma“


“Kalau kamu, suka tidak sama dia ?”


“Entahlah Oma. Indra itu tetap belum bisa melupakan Wiwin”


“Kalau menurut Oma, kamu itu harus lebih dekat lagi dengan Dian…” nenek Indra yang bernama bu Sarah ini mengakhiri makannya. Cucunya lalu di ajak ngobrol dari hati ke hati supaya masa depannya seperti yang di harapkan


“Kamu punya rasa suka kan sama dia ?”


“Jujur Oma. Iya “


“Nah, rasa itu terus kamu tanam supaya tumbuh… Setelah tumbuh, lalu kamu pupuk dengan sering bertemu, kencan dan lain sebagainya. Setelah rasa itu tumbuh subur, nanti kamu pasti akan bisa melupakan Wiwin. Jadi mulai sekarang, cobalah kamu turuti saran Oma”


“Maaf Oma. Untuk saat ini aku tidak bisa. Apalagi setelah pertemuan tadi. Rasanya aku tidak mungkin bisa melupakan Wiwin secepat itu. Aku bahkan berharap bisa bertemu lagi meskipun dari lubuk hati menyelip rasa bersalah terhadap suaminya” gumam Indra sambil membayangkan sosok Kamal yang baru sepintas dulu ia lihat waktu di rumahnya Oom Anwar

__ADS_1


“Oma ? Sekarang Indra mau istirahatnya di kamar ya, sambil main hp “  Setelah dalam hatinya menegaskan bahwa ia belum bisa melupakan kenangan cinta pertama, Indra akhirnya pamit dengan alasan yang masuk akal. Bu Sarah pun ikut bangkit. Tapi perempuan 60 ini bukan lalu masuk kamar, melainkan memindahkan dulu piring kotor ke tempat pencucian.


__ADS_2