
SETELAH mendaftar beberapa tahun lalu, tahun ini pak Kosim
dan bu Arum akhirnya mendapat panggilan untuk beribadah haji. Usia cucunya yang
bernama Dani pun sekarang sudah genap dua tahun. Kini anak itu yang sedang
bermain mobl-mobilan di kamarnya di hampiri ayahnya karena mau di ajak pergi
“Dan ? Udah dulu main mobil-mobilannya. Kan kita mau ke rumah karek”
“Ban mobil-mobilannya copot ayah. Nih lihat...” Dani
memperlihatan ban yang copot dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya
memegang badan mobilnya.
“Nanti betulin ya ,yah?”
“Iya. Nanti pulang dari rumah kakek, ayah betulin. Sekarang
kamu ke bunda dulu untuk ganti baju”
“Dani suka banget mobil-mobilan hadiah dari Oom Dokter itu.
Tapi sayang sekarang rodanya copot” celoteh Dani selama menuju ke kamar utama bareng ayahnya. Mobil-mobilan
itu hadiah dari Fajar waktu Dani ulang tahun. Karena sering dimainkan, kini
roda mobil-mobilan itu jadi kerap copot.
Tiba ditujuan, ternyata dirumah orang tuanya yang mau
mengadakan acara walimatusafar, tamu undangan sudah mulai berdatangan. Setelah
memarkir mobil di tempat yang tidak mengganggu para tamu, keluarga kecil ini
langsung menuju ke rumah dan nyamperi orangtuanya yang sudah duduk di kursi
khusus.
“Ayah? Ibu ? Maaf saya agak telat? Soalnya Dani main
mobil-mobilannya susah dilarang?”
“Biarin saja dia masih anak-anak. Sekarang ayo ajak mereka
untuk mendampingi kita”
Setelah menyalami kedua mertuanya, Wiwin lalu duduk di kursi
tempat pendamping yang sudah tersedia. Tidak lama kemudian All ustadz yang mau
tausiah, tiba juga di tempat dengan beberapa santri dan raisnya. Setelah
kursi-kursi penuh, acara kemudian dimulai. Pertama-tama pembawa acara dulu
__ADS_1
membacakan susunan acara. Terakhirnya pembawa acara itu mengajak kepada hadirin
untuk membacakan lafadz bismillah bersama-sama. Setelah itu sambutan atas nama
keluarga yang diwakili sesepuh setempat. Selanjutnya untuk acara inti yaitu tausyiah
walimatusafar, All Ustadz yang mau ceramahan kemudian dipersilhkan naik ke atas
podium.
Hingga pukul dua siang, para tamu masih terus ada yang
datang. Kali ini yang datang itu dua tamu, yang salah satunya tidak diduga oleh
pribumi.
“Aduh, tamunya kali ini dua dokter nih? Karena sama-sama
masih muda ? Kayaknya bisa di jodohkan nih?” atas dua tamu ini, Kamal langsung nyeloteh.
Yang dicomlangi Kamal langsung saling lirik. “Jadi perempuan
ini dokter?” Fajar
“Jadi laki-laki tampan ini sama dokter seperti aku ?”
‘EV ? Mau ngobrol dulu atau makan dulu ? Atau kalian berdua
mau makan sambil ngobrol ?”
Fajar juga sama. “Iya…Kita shering dulu tentang pekerjaan
masing-masing ya?”
“Kalau begitu silahkan kalian mencari tempat yang nyaman dan
aman dari terik sinar matahari “
Evi dan Fajar akhirnya menuju kursi yang agak pojok dekat
pohon sawo. Sudah pula mereka saling kenalkan nama sambil bersalaman.
“Selama ini Evi bekerja dimana ?” Tanya Fajar setelah tangannya dilepas.
“Di rumah sakit tempat papa bekerja. Kalau mas Fajat
bekerjanya di rumah sakit mana?”
“Kalau saya di puskesmas wilayah ini. Oya ? Bisa minta
nomornya enggak ?”
“O, yaya boleh...” Evi mengeluarkan HP nya. “Nomor mas Fajar
aja yang sebut “
__ADS_1
Atas permintaan gadis ini Fajar akhirnya menyebut
angka-angka nomor HP nya. Pemandangan ini bukan hanya menyita perhatian Wiwin
dan Kamal. Tapi Mia yang baru datang juga langsung nyeloteh ketika melihat
kebersamaan Evi dan Fajar itu.
“Yang sedang dengan kak Fajar itu siapa ya? Kelihatannya
mereka akrab banget?” Gumamnya. Kebetulan Fajar dan Evi lalu sama-sama bangkit.
Setelah saling kenal keduanya sepakat untuk makan dulu. Tapi atas pemandangan
ini, aliran darah dalam tubuh Mia malah tambah bergejolak.
Setelah lama diam diluar area kursi tamu, Mia akhirnya
memutuskan masuk. Karena tujuannya mau menjumpai yang mau berangkat haji, gadis
inipun pertama-tama langsung menghampiri calon duyufurrohman.
“Ibu ? Bapak ? Semoga hajinya mabrur dan mabrorroh”
“Amin…Ini suster Mia kan?” pak Kosim dan istrinya kompak.
“Iya bu ? Pak ?”
“Hari ini tamu yang datang banyak dari tenaga kesehatan ya?”
“Maksud ibu ?” barusan yang nyeloteh bu Arum.
“Itu nak. Sebelumnya yang datang itu dokter Evi saudara
kita. Tuh sekarang gadis itu sedang bersama dokter Fajar”
“Jadi yang sedang bersama kak Fajar itu berprofesi sebagai
dokter juga ? Duh kenapa dihatiku jadi ada rasa cemburu ya?”
“Suster Mia ? Silahkan sekarang langsung prasmanan aja.
Cicipi tuh hidangan kita yang alakadarnya”
“O, yaya bu. Terimakasih…” Jawab Mia untuk sohibul hajat.
Sedangkan yang disimpan untuk dirinya sendiri. “Kalau melihat kak Fajar dengan
wanita lain, seharusnya aku tidak cemburu. Dalam penantian enam bulan atas
kepulangan kak Indra pasti banyak cobaan yang datang. Apa yang kulihat hari ini
pasti hanya salah satu ujian. Dan di waktu penantian yang tersisa, mungkin akan
ada yang kujumpai lagi."
__ADS_1