Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Tianggalkan Profesi Demi Sebuah Janji


__ADS_3

SETELAH paginya pergi ke rumah keluarga Kamal. Sekarang Mia


mau pergi ke rumah sakit tapi memakai baju biasa. Surat pengunduran diri yang


mau di berikan kepada kepala sudah berada di dalam tasnya. Di rumah sakit


sindiri saat ini semua nakes sedang pada sibuk di bidangnya masing-masing. Pas


Mia datang yang langsung masuk ke ruangan kepala, ternyata seorang dokter


laki-laki ini sedang berbicara  dengan


seseorang melalui telepon selulernya.


“Permisi dok?’


“Ya, silahkan masuk. Ada perlu apa ?”   jawab dokter kepala sambil tetap


mendengarkan pembicaraan orang disana.


“Saya mau menyampainya ini”


“Ya, simpan dulu di meja. Di prosesnya nanti ya ? Sekarang


saya sedang berbincang dulu dengan seseorang”


“Baik dok. Kalau begitu sekarang saya permisi dulu”


“Yang keluar dari ruang kepala barusan seperti Mia ?”


Fajar  yang keluar dari ruangan pasien


rawat inap bergumam. Di depan pintu ia menghentikan langkahnya. Ketika ada yang


membuatnya penasaran, untung tugasnya memeriksa pasien rawat inap sudah


selesai.


“Suster? Hasil pemeriksaannya langsung bawa ke rungan saya


ya? Sekarang saya mau ke ruangan kepala dulu”


“Baik dok…”  Perawat


itu langsung masuk keruangan Fajar. Sedangkan Fajar lalu masuk ke ruangan


dokter kepala.


“Kebetulan ada dokter Fajar…?”  Kedatangan Fajar ternyata disambut baik oleh


atasannya itu.


“Memangnya ada apa dok?”


“Tadi ada suster Mia kesini membawa surat. Tapi suratnya


belum saya lihat karena tadi saya sedang berbicara dengan seseorang lewat HP…Sekarang


coba lihat isi suratnya sama dokter Fajar ya? Untuk segala sesuatunya saya


serahkan sepenuhnya kepada dokter Fajar. Sekarang saya buru-buru mau menemui


orang itu”


Dokter kepala yang buru-buru, keluar dari ruangannya.


Setelah tinggal seorang diri, Fajar lalu membuka surat dari Mia tadi. Setelah membaca

__ADS_1


isinya, bukan main laki-laki ini kecewa. Saking menyesal, meja di pukul dengan


dua kepalannya.


“Untuk apa Mia meninggalkan kariernya di rumah sakit ini?


Apa karena tidak mau sering berdekatan dengan aku?”


Selama di kantor, Fajar terus menahan gelembung di dadanya


yang seakan mau meledak. Disini fasilitas umum yang banyak aturannya. Setelah


bubaran kantor, ternyata Fajar tidak langsung pulang ke rumah. Tapi isi dadanya


yang sudah bergelebung itu, mau dikeluarkannya di tempat yang tepat!


“Eh, ada nak Fajar? Tumben pulang dari kantor mampir dulu


kesini?”


“Mia nya ada bu…?”


“Ada…Setelah hari ini berkunjung ke dua tempat, sepertinya


Mia kini Mia mau istirahan”


“Pergi kedua tempat ? Setelah tadi dari rumah sakit ? Terus


pergi kemana lagi dia hari ini?”  Tanya


Fajar untuk dirinya sendiri. Sedangkan ibunya Mia yang sedang ada dihalaman,


lalu membuka pintu.


“Silahkan masuk dulu nak Fajar…Mia mungkin sedang di


Setelah mempersilahkan oleh pribumi Fajar lalu duduk di


kursi yang ada di ruang tamu. Sedangkan bu Sumiati lalu menuju ke kamar Mia.


Ternyata yang di dalam kamar langsung keluar. Ketika melihat diruang tamu ada


Fajar, Mia langsung mengisyarati ibunya. “Sekarang ibu pergi saja ya ? Jangan


ikut ngobrol di ruang tamu”


Bu Sumiati tidak mengucap sepatahpun. Tapi setelah Mia


menghapiri Fajar yang sedang di ruang tamu, ibu tiga anak ini lalu mundur tiga


langkah. Terus ngintip obrolan orang di depan dari balik pintu.


“Tadi kamu ke kantor kan?”


“Iya. Menyampaikan surat pengunduran diri kepada kepala”


“Pengunduran dirimu di tolak, karena ternyata kamu sudah


terikat kontrak. Sedangkan isi kontrak itu apabila yang bertanda tangan


melanggar, sanksinya harus membayar ganti rugi yang jumlahnya tidak sedikit”


Setelah isi kontrak dibacakan Fajar, Mia termenung. Fajar


kemudian menyusul.


“Tapi karena kamu perawat teladan yang prestasinya

__ADS_1


mengharumkan nama rumah sakit, jadi dokter kepala hanya memberikan izin cuti


satu bulan. Setelah itu kamu bisa kembali ngantor tanpa harus urus administrasi


lagi. Jadi usahakan urusanmu itu bisa selesai dalam satu bulan”


“Mudah sekali kak Fajar kalau ngomong…? Memangnya kak Fajar tahu


urusanku apa…?”  Mia yang baru duduk


sebentar, bangkit. Karena takut Mia pergi, Fajar pun ikut bangkit.


“Mi please…? Tolong petimbangkan lagi keputusanmu mau


mengundurkan dari rumah sakit itu”


“Sudahlah kak…Kak Fajar itu bukan siapa-siapa aku. Mengapa


ikut ngatur-ngatur?”


“Aku hanya memikirkan dampak dari keputusanmu itu Mi…Kalau


kamu melanggar kontrak, ganti ruginya tidak sedikit”


“Mau besar mau tidak, itu urusanku…! Sekarang aku mau


istirahat lagi !”  Brug !  Mia menutupkan pintu kamarnya. Saking kesel


Fajar langsung memegang kepalanya sambil berkacak. Disaat dadanya masih gendok,


tiba-tiba bu Sumiati menghampiri.


“Nak Fajar maafkan Mia ya ? Akhir-akhir ini sikapnya kepada


ibu dan ayahnya juga seperti itu kalau di usik…Sekali lagi mohon dimaafkan


semua kesalahan putri ibu ya?”


“Tidak di minta ibu pun saya pasti memaafkannya bu…Ibu


sendiri sudahlah jangan menangis…Sekarang mendingan kita sama-sama


mendo’akannya…Semoga tujuan Mia dilancarkan…Dan semua harapan kita di kabulkan


seperti yang di inginkan”


“Amiiin…” bu Sumiati yang sedang berderai air mata


mengangkat kedua tangan.


“Sekarang saya juga pamit bu. Karena selain ada tugas yang


harus di kerjakan, nanti malam jadual piket. Titip salam saja buat bapak yang


sedang beraktifitas diluar…Juga untuk Mia. Assalamualaikum…”


“Wa’alaikumussalam…”   Bu Sumiati mengantar Fajar yang mau pulang sampai keteras. Setelah mobil


Fajar tidak ada, air matanya langsung di harus kering. Tapi tidak berani


samasekali kalau harus mengusik putrinya yang sedang sensetif. Dadanya yang


sesak berat hanya ditenangkan sembari duduk di kursi sambil menunggu datangnya waktu


asar. Tapi yang pernah putrinya katakana beberapa hari lalu, tidak lupa juga


bahwa Mia rela tinggalkan propesi itu demi sebuah janji. Janjinya apa? Pastinya

__ADS_1


hanya Mia dan Indra yang tahu.


__ADS_2