
SETELAH paginya pergi ke rumah keluarga Kamal. Sekarang Mia
mau pergi ke rumah sakit tapi memakai baju biasa. Surat pengunduran diri yang
mau di berikan kepada kepala sudah berada di dalam tasnya. Di rumah sakit
sindiri saat ini semua nakes sedang pada sibuk di bidangnya masing-masing. Pas
Mia datang yang langsung masuk ke ruangan kepala, ternyata seorang dokter
laki-laki ini sedang berbicara dengan
seseorang melalui telepon selulernya.
“Permisi dok?’
“Ya, silahkan masuk. Ada perlu apa ?” jawab dokter kepala sambil tetap
mendengarkan pembicaraan orang disana.
“Saya mau menyampainya ini”
“Ya, simpan dulu di meja. Di prosesnya nanti ya ? Sekarang
saya sedang berbincang dulu dengan seseorang”
“Baik dok. Kalau begitu sekarang saya permisi dulu”
“Yang keluar dari ruang kepala barusan seperti Mia ?”
Fajar yang keluar dari ruangan pasien
rawat inap bergumam. Di depan pintu ia menghentikan langkahnya. Ketika ada yang
membuatnya penasaran, untung tugasnya memeriksa pasien rawat inap sudah
selesai.
“Suster? Hasil pemeriksaannya langsung bawa ke rungan saya
ya? Sekarang saya mau ke ruangan kepala dulu”
“Baik dok…” Perawat
itu langsung masuk keruangan Fajar. Sedangkan Fajar lalu masuk ke ruangan
dokter kepala.
“Kebetulan ada dokter Fajar…?” Kedatangan Fajar ternyata disambut baik oleh
atasannya itu.
“Memangnya ada apa dok?”
“Tadi ada suster Mia kesini membawa surat. Tapi suratnya
belum saya lihat karena tadi saya sedang berbicara dengan seseorang lewat HP…Sekarang
coba lihat isi suratnya sama dokter Fajar ya? Untuk segala sesuatunya saya
serahkan sepenuhnya kepada dokter Fajar. Sekarang saya buru-buru mau menemui
orang itu”
Dokter kepala yang buru-buru, keluar dari ruangannya.
Setelah tinggal seorang diri, Fajar lalu membuka surat dari Mia tadi. Setelah membaca
__ADS_1
isinya, bukan main laki-laki ini kecewa. Saking menyesal, meja di pukul dengan
dua kepalannya.
“Untuk apa Mia meninggalkan kariernya di rumah sakit ini?
Apa karena tidak mau sering berdekatan dengan aku?”
Selama di kantor, Fajar terus menahan gelembung di dadanya
yang seakan mau meledak. Disini fasilitas umum yang banyak aturannya. Setelah
bubaran kantor, ternyata Fajar tidak langsung pulang ke rumah. Tapi isi dadanya
yang sudah bergelebung itu, mau dikeluarkannya di tempat yang tepat!
“Eh, ada nak Fajar? Tumben pulang dari kantor mampir dulu
kesini?”
“Mia nya ada bu…?”
“Ada…Setelah hari ini berkunjung ke dua tempat, sepertinya
Mia kini Mia mau istirahan”
“Pergi kedua tempat ? Setelah tadi dari rumah sakit ? Terus
pergi kemana lagi dia hari ini?” Tanya
Fajar untuk dirinya sendiri. Sedangkan ibunya Mia yang sedang ada dihalaman,
lalu membuka pintu.
“Silahkan masuk dulu nak Fajar…Mia mungkin sedang di
Setelah mempersilahkan oleh pribumi Fajar lalu duduk di
kursi yang ada di ruang tamu. Sedangkan bu Sumiati lalu menuju ke kamar Mia.
Ternyata yang di dalam kamar langsung keluar. Ketika melihat diruang tamu ada
Fajar, Mia langsung mengisyarati ibunya. “Sekarang ibu pergi saja ya ? Jangan
ikut ngobrol di ruang tamu”
Bu Sumiati tidak mengucap sepatahpun. Tapi setelah Mia
menghapiri Fajar yang sedang di ruang tamu, ibu tiga anak ini lalu mundur tiga
langkah. Terus ngintip obrolan orang di depan dari balik pintu.
“Tadi kamu ke kantor kan?”
“Iya. Menyampaikan surat pengunduran diri kepada kepala”
“Pengunduran dirimu di tolak, karena ternyata kamu sudah
terikat kontrak. Sedangkan isi kontrak itu apabila yang bertanda tangan
melanggar, sanksinya harus membayar ganti rugi yang jumlahnya tidak sedikit”
Setelah isi kontrak dibacakan Fajar, Mia termenung. Fajar
kemudian menyusul.
“Tapi karena kamu perawat teladan yang prestasinya
__ADS_1
mengharumkan nama rumah sakit, jadi dokter kepala hanya memberikan izin cuti
satu bulan. Setelah itu kamu bisa kembali ngantor tanpa harus urus administrasi
lagi. Jadi usahakan urusanmu itu bisa selesai dalam satu bulan”
“Mudah sekali kak Fajar kalau ngomong…? Memangnya kak Fajar tahu
urusanku apa…?” Mia yang baru duduk
sebentar, bangkit. Karena takut Mia pergi, Fajar pun ikut bangkit.
“Mi please…? Tolong petimbangkan lagi keputusanmu mau
mengundurkan dari rumah sakit itu”
“Sudahlah kak…Kak Fajar itu bukan siapa-siapa aku. Mengapa
ikut ngatur-ngatur?”
“Aku hanya memikirkan dampak dari keputusanmu itu Mi…Kalau
kamu melanggar kontrak, ganti ruginya tidak sedikit”
“Mau besar mau tidak, itu urusanku…! Sekarang aku mau
istirahat lagi !” Brug ! Mia menutupkan pintu kamarnya. Saking kesel
Fajar langsung memegang kepalanya sambil berkacak. Disaat dadanya masih gendok,
tiba-tiba bu Sumiati menghampiri.
“Nak Fajar maafkan Mia ya ? Akhir-akhir ini sikapnya kepada
ibu dan ayahnya juga seperti itu kalau di usik…Sekali lagi mohon dimaafkan
semua kesalahan putri ibu ya?”
“Tidak di minta ibu pun saya pasti memaafkannya bu…Ibu
sendiri sudahlah jangan menangis…Sekarang mendingan kita sama-sama
mendo’akannya…Semoga tujuan Mia dilancarkan…Dan semua harapan kita di kabulkan
seperti yang di inginkan”
“Amiiin…” bu Sumiati yang sedang berderai air mata
mengangkat kedua tangan.
“Sekarang saya juga pamit bu. Karena selain ada tugas yang
harus di kerjakan, nanti malam jadual piket. Titip salam saja buat bapak yang
sedang beraktifitas diluar…Juga untuk Mia. Assalamualaikum…”
“Wa’alaikumussalam…” Bu Sumiati mengantar Fajar yang mau pulang sampai keteras. Setelah mobil
Fajar tidak ada, air matanya langsung di harus kering. Tapi tidak berani
samasekali kalau harus mengusik putrinya yang sedang sensetif. Dadanya yang
sesak berat hanya ditenangkan sembari duduk di kursi sambil menunggu datangnya waktu
asar. Tapi yang pernah putrinya katakana beberapa hari lalu, tidak lupa juga
bahwa Mia rela tinggalkan propesi itu demi sebuah janji. Janjinya apa? Pastinya
__ADS_1
hanya Mia dan Indra yang tahu.