Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Hadiah Fantastis Dari Ayah Mertua


__ADS_3

“IKUT saya dulu sebentar…” Dokter yang sudah memeriksa Wiwin mengajak Kamal keluar dari ruang pemeriksaan.


“Istri anda barusan sudah saya periksa “ Kata Dokter setelah di tempat yang sepi. Ke khawatiran Kamal tambah besar


“Istri saya itu sebenarnya sakit apa Dok ?”


“Lambungnya bermasalah. Mungkin akibat tidak teratur makan...Tapi anda akan menjadi seorang ayah, karena sekarang istri anda sedang hamil”


“Hamil Dok…?”


“Oya ? Atas yang barusan sudah saya beritahukan, Pak Kamal sepertinya masih kurang percaya ?”


“I, iya Dok. Saya memang masih kurang percaya”


“Sudah berapa lama usia perkawinan pak Kamal dan istri?”


“Dua tahun lebih Dok”


“Pantas”


“Mm….Maksud Dokter ?”


“Prosesnya cukup lama. Tapi nggak apa-apa…Memang kalau salah satunya lemah,  benih dengan telur itu tidak bisa menyatu. Penyebabnya bisa karena pernah sakit parah, atau pernah kecelakaan yang mengganggu reproduksi, dan lain-lain”


“Saya baru tahu sekarang soal itu Dok. Kalau menurut kedokteran, ternyata seperti itu prosesnya untuk bisa hamil itu?”


“Sebenarnya saya bukan Dokter ahli kandungan...Oya ? Di ruang periksa, mungkin sekarang istri saudara sudah mau dijemput ”


“Betul Dok…Kalau begitu sekarang saya akan menjemputnya…Pasien lain sudah pada nunggu. Pasti Dokter juga mau tugas lagi”


“Iya pak Kamal...Tapi khusus untuk istri pak Kamal, ada beberapa pesan dari saya. Pertama: Mengenai makanannya jangan terlalu banyak mengonsumsi yang bisa mengganggu lambungnya ya? Ingat itu. Kedua: Istri pak Kamal tidak boleh bekerja yang berat-berat...Hal ini juga harus diperhatikan karena istri pak Kamal termasuk katagori yang lemah kandungan. Sedangkan yang terakhir...”


“Yang terakhirnya lebih beresiko ya Dok?”


“Pak Kamal jangan cemas dulu. Karena yang terakhirnya adalah istri anda belum tahu dirinya hamil”


“Dok ? Sungguh kalau Dokter belum memberitahunya?”


“Menurut anda bagaimana ? Kita itu laki-laki pak Kamal. Membuat istri senang, pasti selalu di pikirkan suami yang cinta istri. Bukan begitu ?”


Maksudnya iya. Dari mulut Kamal tidak ada kata-kata yang keluar. Tapi yang di ucapkannya didalam hati banyak sekali. Dan semua itu kini diwakilinya oleh genangan air mata dari kedua kelopak matanya.


“Ibu mana ayah…? Mang Kardi juga kemana Bi ?”


Sesampainya dirumah, Kamal langsung menanyakan orang-orang yang tidak ada. Wiwin juga belum dibawa lagi ke kamar, tapi dibawanya duduk dulu diruang tamu.

__ADS_1


“Kamu ternyata sudah pulang Mal ? Wiwin itu sakit apa kata Dokter ?”


Pak Kosim muncul.


“Tinggal mang Kardi sekarang yang belum ada”


“Ini mamang den. Ada apa sebenarnya?” mang Kardi juga datang


“Mang Kardi syukur buru-buru datang. Jadi tidak harus lama  menunggu”


“Kamu itu sebetulnya mau ngomong apa Mal ? Sekarang ayo katakan karena semuanya sekarang sudah berkumpul ?” kata bu Arum dan pak Kosim kompak


“Ayah…? Ibu…? Sekarang kalian itu akan segera mempunyai cucu”   Kamal mengutarakan kebahagiaannya.


“Apa itu artinya bahwa Wiwin yang pusing serta mual-mual hingga pingsan itu sebenarnya karena dampak dari kehamilannya Mal?”


“Kata Dokter yang tadi memeriksanya, memang begitu ayah”


“Tapi ibu masih belum yakin Mal. Tadi kamu membawa Wiwin itu bukan ke Dokter kandungan kan ? Jadi sekarang ibu mau nanya sesuatu dulu sama Wiwin....Nak, apa bulan ini kamu mendapat mentruasi ?”


“Saya terakhir mendapatkannya itu dua bulan lalu kurang seminggu bu...Sekarang sudah tanggal dua puluh bulan ketiganya. Berarti kalau saya memang sedang mengandung, usianya itu baru enam Minggu lebih”


“Alhamdulillah...Berarti benar bahwa kamu itu sekarang sedang hamil Win...Mulai sekarang hati-hati ya ? Maksud ibu, kamu itu jangan bekerja yang berat-berat...Kamu juga Mal, awas kalau tidak bantu Wiwin untuk jaga calon cucu ibu” Bu Arum yang sangat bahagia mewanti-wanti mantu dan anaknya


“Tapi saya punya uangnya belum cukup ayah” Kamal buka-bukaan soal uangnya


“Siapa yang nyuruh beli mobil uangnya dari kamu?” Pak Kosim menegaskan


“Maksud ayah? Jadi beli mobilnya itu untuk menghadiahi cucu yang masih ada dalam kandungan?”


“Hari ini kamu lihat-lihat dulu jenisnya ke showroom ya ? Kalau sudah ada yang cocok, nanti ngambil ungnya di bank”


“Tapi jaga Wiwin di rumah tidak kalah penting pak”  bu Arum berpendapat lain


“Kalau soal itu tenang bu...Ada mang Kardi dan bi Ijah. Mereka pasti akan siap siaga selama duapuluh empat jam. Iya kan mang...? Bi..?” canda Kamal


Suasana sudah tidak tegang sekarang. Mang Kardi dan bi Ijah yang di olok Kamal pun jadi sama-sama ikut gembira serta memanfatkan situasi yang ada.


“Kalau soal itu mah jangan khawatir den...Waktu aden masih kecil juga kan kita sudah seperti itu. Iya kan bu ?”  kata bi Ijah


“Iya Ijah, Kardi...Kalau sama kalian berdua, aku memang sudah percaya...Tapi kan sekarang kalian itu sudah tidak muda lagi. Iya nggak ?”


“Hehe...Kalau itu mah hukum alam bu...Begitu juga rambut putih yang mulai tumbuh di rambut kepala saya...Dengan akan segera lahirnya  cucu ibu dan juragan ke Dunia ini, berarti rambut putih ini sekarang menjadi saksi tanda bakti kami pada keluarga ini” Mang Kardi ambil bagian dari kebahagiaan hari ini


“Kang..,sekarang aku mau dipindahkan lagi kekamar ”

__ADS_1


Pada saat diruang tamu masih suasananya meng haru biru, Wiwin tiba-tiba minta pindah ke kamar.


“Kamu bisa jalan sendiri ? Kalau tidak akan ku gendong?”


“Bisa “


Kamal akhirnya memapah Wiwin yang mau pindah ke kamar. Setelah duduk di pinggir tempat tidur, Wiwin langsung menyandarkan kepalanya ke pelukan sang suami


“Disana Dunia mereka...”  kata Wiwin setelah tubuhnya terlindungi. Rasa tak percaya diperlihatkan Kamal dengan kebahagiaannya sendiri


“Jadi kamu minta dipindahkan itu sebenarnya ingin tinggal di Dunia kita ? Disini ?”


“Kebahagiaan seperti ini sudah lama kita dambakan...Sekarang aku pun ingin lama berada dalam pelukanmu”.


“Badai itu akhirnya berlalu ya Win...? Akhir-akhir ini kita itu sering bertengkar gara-gara aku kerap pulang telat...Tapi mulai sekarang aku janji, hal itu tidak akan terjadi lagi...Semua itu demi calon bayi kita dan kamu”


“Dani...”


Wiwin yang kini sudah dibangkitkan lagi dari pelukannya oleh Kamal, kali ini menebar senyuman


“Siapa tuh ?”


Kamal belum mengerti maksudnya.


Wiwin mengusap perutnya. “Itu untuk nama baby kita kalau sudah lahir”


“Kalau babynya perempuan ?”


“Anak pertama kita bakal laki-laki ”


“Kamu melebihi Tuhan Win....Tidak boleh. Dosa”


“Nggak...Itu hanya filling dan keyakinan aku aja....Kita ini manusia....Kodratnya adalah hilaf dan berbuat kesalahan”


“Aku semakin cinta sama kamu Win...Kalau lagi senang hati, kamu itu tambah cantik...Aku jadi nggak sabar ingin segera dengar dan penuhi ngidam kamu...Kamu mau apa sekarang ?”


“Buah kang...Macam-macam buah...Anggur, mangga, rambutan...”


“Pepaya, durian, dukuh dan lain-lain...Setelah itu kamu kekenyangan. Akhirnya kamu tertidur lelap dalam pelukanku”


Kebahagiaan pasangan ini yang sudah sejak lama mendambakan buah cinta mereka melengkapi biduk rumah tangganya, memang tidak dapat dilukiskan oleh seutas kuas dan kampas. Dan itulah yang sedang dibuktikan Kamal dan Wiwin pada saat ini. Pada saat tubuhnya sedang dipeluk suami tercinta, didalam hati cinta pertama Indra itu berkata. ”Sekarang dalam rahimku sudah ada segumpal darahnya..Buah cintanya yang akan tumbuh dan membuncitkan perutku...Tat kala energi banyak terrbuang, belaian kasih pasti sangat diharap...Sampai akhirnya aku selalu tetap berada dalam pelukannya”


“Baru kusadari. Ternyata lama belum di kasih buah hati itu, waktu untuk kita pacaran. Mulai sekarang, panggilan masing-masing harus di rubah. Supaya kalau anak kita lahir nanti, kita sudah terbiasa”


Atas anugrah ini ternyata Kamal dan Wiwin sama-sama mencurahkan isi hatinya.

__ADS_1


__ADS_2