
DANI yang usinya sudah genap dua tahun setengah, dibawa rekreasi
oleh ayah bundanya. Di tempat wisata pantai itu, satu rumah di sewa Kamal
supaya anak dan istrinya merasa nyaman. Untuk atribut kalau mereka menikmati
alam pemandangannya supaya lebih seru, beberapa tukang jualan disambanginya. Ada
pemadangan yang tidak biasa tapi biasa mereka lakukan setelah mereka mengenakan
atribut pantai itu. Mungkin karena mereka menganggap ini lembaran baru setelah
dalam rumah tangganya banyak mendapat cobaan.
“Setelah apa yang terjadi, kupikir kita tidak akan bisa
seperti ini lagi. Membelai rambut istri yang cantik…?Memegang kedua tangannya…?
Dan menatap dalam matanya yang bening ? Ditambah sekarang tuan ptrinya sudah
mengenakan baju pantai yang seksi..? Sayang kalau kesempatan ini kulewatkan tanpa
berbuat apa-apa ?”
“Kamu harus minta maaf”
“Minta maaf kepada siapa ? Dan apa kesalahannya?”
“Dulu kamu mengambil cintaku dari dia. Tapi setelah
mendapatkan seluruh cintaku, kamu masih pula berprasangka buruk terhadapnya”
“Maksud kamu aku harus minta maaf kepada Indra ?”
“Orang setulus dia tidak pantas mendapat fitnah dan lain
sebagainya”
“Ya! Aku pasti nanti akan minta maaf. Tapi kapan datangnya
ya ? Harus nanya kepada Mia kalau soal ini”
Meskipun sudah berbicara banyak, ternyata Kamal tidak
melepaskan kedua tangan Wiwin yang sedang di pegangnya. Malah mau lebih dari
itu. Tapi ketika tubuh yang ditariknya hampir jatuh kepelukannya.
“Ayah ? BUnda ? Buruan ? Katanya kalau sudah tidak panas mau
main di pantai?”
“Kalau sudah punya ekor ? Setiap kali mau berduaan itu jadi
kerap terganggu ya?” Kamal yang
rajuannya tidak menghasilkan apa-apa nyeloteh.
“Makanya kalau baru punya satu ekor saja sudah merasa repot?
Jangan dulu jadi mau punya dua ya ?”
”Kalau begitu nanti atur saja sama kamu. Sekarang mari
penuhi dulu keinginan anak kita”
Sebelum keluar ternyata keluarga kecil yang sedang liburan
itu melengkapi dulu atributnya. Selain memakai kaca mata hitam, Wiwin memakai
topi berdaun lebar supaya kulit mulusnya tidak terlalu tersengat matahari.
__ADS_1
Kalau Kamal selain memakai kacamata hitam juga, tidak lupa membawa kamera untuk
foto-foto. Mereka bertiga keluar dari pondokan sambil menuntun Dani yang pakat
kaca mata juga. Tapi warnanya berbeda dari yang dipakai kedua orangtuanya.
Sesampainya di pantai, selain main bola di atas pasir. Kamal
foto-foto giliran dengan sang istri. Ketika matahari hampir terbenam, Kamal
tiba-tiba memanggil tiga remaja yang sama-sama sedang menikmati indahnya
matahari yang mau terbenam kedalam laut.
“Jang kadieu” Kamal
melambai.
“Aya peryogi naon kang?” Tiga pemuda itu lalu menghampiri.
“Begini…” kepada
orang itu Kamal lalu menceritakan bahwa kalau matahari mau terbenam, ia mau di
foto dengan istrinya di pinggir pantai.
“Diantara kalian bertiga, siapa kira-kira yang lebih tepat
jadi juru foto?”
“Dia kang…” Yang dua orang menunjuk orang yang sama.
“Dua orang menunjuk kamu. Berarti kamu ya yang fotoin kita?”
“Baiklah kang”
“Terimakasih sebelumnya dik. Nanti kita mau di foto beberapa
disuruh, kemudian dipelajarinya.
Ketika matahari mau terbenam, pasangan ini lalu menuju ke
pinggir pantai. Untuk gaya yang pertama, Kamal dan Wiwin berhadap-hadapan
sambil berpegangan tangan. Wiwin yang memakai topi daun lebar menatap Kamal.
Juga sebaliknya. Baju Wiwin yang tipir
tertebak angin, beriak. Kamal memakai celana sontog yang baju atasannya satu
corak dengan yang di pakai sang istri. Selagi temannya yang satu mau mengambil
gambar, yang dua orangnya saling bisik.
“Mereka kayak selebriti ya? Yang lakinya ganteng. Yang
perempuannya cantik”
“Iya. Mereka juga sepertinya orang kaya”
Yang mau moto sudah ngeceng-ngceng.“Siap ya kang. Saya akan
ambil beberapa gambar untuk antisipasi kegagalan. Ckrek, ckrek, ckrek! Oke.
Sudah kang. Terus gaya dimana lagi?”
Untuk foto berikutnya ternyata Kamal mengambil gaya
menyangga Wiwin yang seolah mau jatuh. Topi Wiwin kali ini tidak dipakai
melainkan di pegang oleh tangan kanannya yang merangkul pundak Kamal. Yang ini juga hasilnya bagus. Yang terakhir
__ADS_1
Kamal melibatkan anaknya dengan gaya main bola. Di foto ini baju pantai yang
dikenakan Kamal kancingnya dibuka semua. Ketika tertebak hembusan angin yang
terlihat di dada bidangnya hanya kaus dalam warna putih. Sedangkan kedua sisi
bajunya menyinglkak. Adegan yang didapat seolah-olah ia mau merebut bola dari
Dani anaknya, tapi oleh Wiwin bundanya dihalangi.
“Terimakasih atas bantuannya ya dik. Dan ini lumayan untuk
jajan. Dibagi tiga aja nanti ya?” Setelah apa yang di inginkannya selesai
dibuat, Kamal memberi uang ke pemuda itu dua ratus ribu.
Ketiga pemuda itu
sepakat di bagi adil.
”Aku seratus karena yang motonya ya? Kalian lima puluh-lima
puluh”
“Alhamdulillah segini juga. Ini rejeki yang tidak di
sangka-sangka”
Ketiga orang itu merasa senang.
Siang kini sudah berganti malam. Pasangan yang sedang
menjalani hari di lembaran baru pasca dalam rumah tangganya di terpa badai,
kali ini kebersamaannya benar-benar tidak ada yang mengganggu. Kepala anaknya
yang sedang tidur pulas, di elus-elus oleh Kamal. Wajahnya yang bersih tanpa
dosa, ditatapnya penuh cinta. Bundanya ada di sebelahnya.
“Ya Alloh…Mulai saat ini mohon jangan timpakan lagi cobaan
ke keluarga hamba. Baik yang besar maupun yang kecil…Kalau ayah bundanya
kembali tidak rukun, hamba hanya kasihan anak tanpa dosa ini ya Alloh…Dia
adalah titipanMU yang harus selalu kami jaga…Juga bundanya semoga hatinya tidak
berpaling lagi meskipun sedikit. Dan kami terus bersama-sama dalam balutan
rahmatMU. Amiiin…”
Clak ! Saat sedang
memanjatkan do,a, air mata Kamal ada yang jatuh ke wajah anaknya. Ketika di
wajahnya ada yang dingin, Dani langsung bangun.
“Ayah…?”
“Kenapa kamu bangun nak?”
“Barusan di wajah aku ada yang dingin. Ternyata itu air mata
ayah. Kenapa ayah menangis ?”
“Kesini kalian berdua…” Kedua tangan Kamal merangkul anak
dan istrinya. Setelah keduanya ada dalam satu naungan. “Kalian berdua
orang-orang yang ayah cintai. Semoga kita tidak dipisahkan selamanya. Kecuali
__ADS_1
kalau ajal menjemput” ucap Kamal untuk anak dan istrinya.