
SEMUA perawat yang sedang berada di mes puskesmas ini, wajahnya pada sedih. Hal ini
bukan dikarenakan tadi malam ada pasien yang meninggal, melainkan karena Mia
telah curhat dari sebagian perjalanan hidupnya kepada teman-temannya ini. Mia
bertutur dari mulai selama ini ia saling suka dengan Fajar sebelum jadi dokter,
sampai mengenai semalam pak Suherman yang melampiaskan dendam masa lalunya.
Tujuan utama Mia datang kerumah sakit kali ini, hanya mau menitip suran izin
tidak akan masuk kerja kepada teman-temannya itu. Karena bagaimanapun, gadis
ini tetap tidak enak kalau tidak hadir di acara prosesi pemakaman oma dari
kekasihnya. Meskipun ayah dari kekasihnya sendiri jelas-jelas tidak suka
terhadap dirinya. Dan ketika mencoba curhat, ternyata semua teman-temannya
memberi support. Inilah yang membuat hati gadis ini jadi lega sehingga
kesedihannya lumayan berkurang.
“Kamu harus sabar ya Mi ? Kita turut prihatin atas cobaan
yang menimpa kamu itu ”
“Iya Mi…? Setelah mendengan cerita kamu, aku juga jadi ingin
nangis “ teman Mia yang ini menepis air
mata yang bergenang disudut matanya.
“Udahlah… Karena surat izinmu sudah kita terima, mendingan
sekarang kamu buru-buru pulang”
“Iya Mi. Surat izinmu ini pasti nanti akan kita sampaikan ke
kepala. Tapi kamu jangan sampai ketinggalan acara pemakamannya bu Sarah. Iya
nggak teman-teman?”
“Ela benar Mi. Kalau bu Sarahnya keburu dikubur, nanti kamu
nyesel lho. Nggak usah dipikirin sikap ayahnya pacarmu yang nyebelin itu. Kamu
kan cinta sama anaknya, bukan cinta sama bapaknya”
Gerrr…! Perawat-perawat itu kali ini tertawa.
“Ya udah…Kalau begitu sekarang aku pamit ya?” Mia kali ini bangkit dari tempat duduknya.
“Hati-hati di jalannya ya Mi ? Maklum pikiran kamu lagi kacau
“ Orang yang selama ini paling dekat, menggandeng Mia. Setelah sampai didepan
pintu Mia dilepas. Setelah itu Mia pun langsung pergi. Tidak lama setelah Mia
__ADS_1
pergi, datang seorang perawat yang kesiangan.
“Aduh ! Aku kesiangan nih. Soalnya semalam banyak mikir”
“Memangnya mikir apa Ver ? Sampai kamu harus kesiangan datang?” Yang bertanya kompak.
“Itu teman-teman…Sepertinya Dokter Fajar dan Mia punya masa
lalu tuh“
“Info mu basi Ver…” salah seorang langsung nyambar. Pembawa kabar merasa disepelekan. Yang
bernama Vera ini langsung menyusul.
“Ah massa, info yang baru ku ketahui kemarin dibilang basi?”
“Karena kita sudah tahu dari sumbernya langsung, barusan“
jawaban mereka kompak lagi. Setelah itu lalu salah seorang dari mereka memberitahukan
bahwa barusan ada Mia dan menceritakan lagi ceritanya.
“Pantesan wajah kalian pada cemberut. Ternyata masih sedih
atas ceritanya Mia”
“Berarti info aku yang orsinil…” Disaat hening sejenak, yang bernama Dewi
tiba-tiba nyeletuk. Semua temannya langsung mengalihkan perhatian kepada
seorang perawat ini, termasuk Vera yang baru datang.
usyah disampaikan ya teman-teman?”
“Vera benar Wi. Kalau bukan tentang idola yang belakangan
kita gandrungi, nggak usyah disuguhi kekita lah. Karena sebenarnya
masing-masing sudah punya gebetan kan ? Kecuali Ela, kita belum pernah dengar
ceritanya”
“Sekarang aku juga sudah punya kok? Tapi gebetannya masih
kuliah”
“Caaa…Akhirnya dia tidak jomlo lagi” Yang namanya Ela dibuli.
“Udah-udah…Sekarang kita fokus dulu ketemuan Dewi tadi.
Semuanya sepakat?”
“Sepakat…!”
“Ayo Wi. Semuanya sudah sepakat mau dengar cerita kamu tuh”
“Begini... Waktu aku mau mengambil berkas catatap untuk
tugas hari itu di ruangannya dokter Fajar, tiba-tiba aku melihat ada catting
__ADS_1
masuk di HPnya. Ketika itu dokter Fajar keluar sebentar dan tidak membawa HP
nya “
“Kamu tahu nggak La, isi cattingnya apa ?”
“Ya enggak lah…Tapi nama pengirimnya sempat kulihat”
“Siapa namanya?” Yang tiga orang penasaran.
“Dari emak nya kali atau bapak nya?” kata yang dua orang.
“Tapi kalau sudah kukatakan, kalian tidak boleh melempar
barang atau yang lainnya ya?”
“Kamu ini ada-ada aja Wi. Ya nggak lah…Emangnya kita ini
sedang berada di pasar?”
“Namanya Dokter Evi”
“Hah ?! Gelarnya Dokter juga?” kali ini semuanya terperangah.
Setelah itu masing-masing. Ada yang mengurut-ngurut dahinya. Ada yang membaling
karena menyesal. Tapi kebanyakan, cukup menghela nafas saja.
“Kalau menurut kamu, mau apa kira-kira dokter Evi itu mengirim
pesan kepada dokter Fajar? Kita anggap Dokter Evi itu dokter muda sebaya kita
ya?”
“Kalau anak muda mau apa lagi? Paling ngajak ketemuan”
“Tapi kalau disini ada Mia yang kerja ful terus, kira-kira
dokter Fajar bakal sanggupi nggak ya ajakannya dokter Evi itu? Kan dokter idola
kita semua itu masih tetap suka kepada Mia?”
“PR lagi nih ? Sementara waktu buka tinggal beberapa menit
lagi?”
“Ya udah. Obrolan kita selama ini sekarang di garis bawahi
aja ya? Yang udah punya pacar, mendingan sekarang tetap setia aja sama yang
lama. Karena ternyata seorang dokter yang kita kagumi disini, sudah punya
kehidupan pribadi yang tidak mungkin bisa kita ganggu gugat. Kedua; karena sudah
hampir jam tujuh, sekarang kita harus segera siap-siap untuk upacara bendera” seorang nakes senior menyudahi rumpian.
Setelah di peringatkan oleh yang dituakan, ternyata nakes-nakes muda ini langsung
merapikan lagi bajunya. Dan ada juga yang bercermin karena takut makeup nya
__ADS_1
berlebih atau berantakan.