Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Ngerumpi Tentang Idola


__ADS_3

SEMUA perawat yang sedang berada di mes  puskesmas ini, wajahnya pada sedih. Hal ini


bukan dikarenakan tadi malam ada pasien yang meninggal, melainkan karena Mia


telah curhat dari sebagian perjalanan hidupnya kepada teman-temannya ini. Mia


bertutur dari mulai selama ini ia saling suka dengan Fajar sebelum jadi dokter,


sampai mengenai semalam pak Suherman yang melampiaskan dendam masa lalunya.


Tujuan utama Mia datang kerumah sakit kali ini, hanya mau menitip suran izin


tidak akan masuk kerja kepada teman-temannya itu. Karena bagaimanapun, gadis


ini tetap tidak enak kalau tidak hadir di acara prosesi pemakaman oma dari


kekasihnya. Meskipun ayah dari kekasihnya sendiri jelas-jelas tidak suka


terhadap dirinya. Dan ketika mencoba curhat, ternyata semua teman-temannya


memberi support. Inilah yang membuat hati gadis ini jadi lega sehingga


kesedihannya lumayan berkurang.


“Kamu harus sabar ya Mi ? Kita turut prihatin atas cobaan


yang menimpa kamu itu ”


“Iya Mi…? Setelah mendengan cerita kamu, aku juga jadi ingin


nangis “   teman Mia yang ini menepis air


mata yang bergenang disudut matanya.


“Udahlah… Karena surat izinmu sudah kita terima, mendingan


sekarang kamu buru-buru pulang”


“Iya Mi. Surat izinmu ini pasti nanti akan kita sampaikan ke


kepala. Tapi kamu jangan sampai ketinggalan acara pemakamannya bu Sarah. Iya


nggak teman-teman?”


“Ela benar Mi. Kalau bu Sarahnya keburu dikubur, nanti kamu


nyesel lho. Nggak usah dipikirin sikap ayahnya pacarmu yang nyebelin itu. Kamu


kan cinta sama anaknya, bukan cinta sama bapaknya”


Gerrr…!   Perawat-perawat itu kali ini tertawa.


“Ya udah…Kalau begitu sekarang aku pamit ya?”   Mia kali ini bangkit dari tempat duduknya.


“Hati-hati di jalannya ya Mi ? Maklum pikiran kamu lagi kacau


“ Orang yang selama ini paling dekat, menggandeng Mia. Setelah sampai didepan


pintu Mia dilepas. Setelah itu Mia pun langsung pergi. Tidak lama setelah Mia

__ADS_1


pergi, datang seorang perawat yang kesiangan.


“Aduh ! Aku kesiangan nih. Soalnya semalam banyak mikir”


“Memangnya mikir apa Ver ?  Sampai kamu harus kesiangan datang?”  Yang bertanya kompak.


“Itu teman-teman…Sepertinya Dokter Fajar dan Mia punya masa


lalu tuh“


“Info mu basi Ver…”  salah seorang langsung nyambar. Pembawa kabar merasa disepelekan. Yang


bernama Vera ini langsung menyusul.


“Ah massa, info yang baru ku ketahui kemarin dibilang basi?”


“Karena kita sudah tahu dari sumbernya langsung, barusan“


jawaban mereka kompak lagi. Setelah itu lalu salah seorang dari mereka memberitahukan


bahwa barusan ada Mia dan menceritakan lagi ceritanya.


“Pantesan wajah kalian pada cemberut. Ternyata masih sedih


atas ceritanya Mia”


“Berarti info aku yang orsinil…”  Disaat hening sejenak, yang bernama Dewi


tiba-tiba nyeletuk. Semua temannya langsung mengalihkan perhatian kepada


seorang perawat ini, termasuk Vera yang baru datang.


usyah disampaikan ya teman-teman?”


“Vera benar Wi. Kalau bukan tentang idola yang belakangan


kita gandrungi, nggak usyah disuguhi kekita lah. Karena sebenarnya


masing-masing sudah punya gebetan kan ? Kecuali Ela, kita belum pernah dengar


ceritanya”


“Sekarang aku juga sudah punya kok? Tapi gebetannya masih


kuliah”


“Caaa…Akhirnya dia tidak jomlo lagi”  Yang namanya Ela dibuli.


“Udah-udah…Sekarang kita fokus dulu ketemuan Dewi tadi.


Semuanya sepakat?”


“Sepakat…!”


“Ayo Wi. Semuanya sudah sepakat mau dengar cerita kamu tuh”


“Begini... Waktu aku mau mengambil berkas catatap untuk


tugas hari itu di ruangannya dokter Fajar, tiba-tiba aku melihat ada catting

__ADS_1


masuk di HPnya. Ketika itu dokter Fajar keluar sebentar dan tidak membawa HP


nya “


“Kamu tahu nggak La, isi cattingnya apa ?”


“Ya enggak lah…Tapi nama pengirimnya sempat kulihat”


“Siapa namanya?”   Yang tiga orang penasaran.


“Dari emak nya kali atau bapak nya?” kata yang dua orang.


“Tapi kalau sudah kukatakan, kalian tidak boleh melempar


barang atau yang lainnya ya?”


“Kamu ini ada-ada aja Wi. Ya nggak lah…Emangnya kita ini


sedang berada di pasar?”


“Namanya Dokter Evi”


“Hah ?! Gelarnya Dokter juga?” kali ini semuanya terperangah.


Setelah itu masing-masing. Ada yang mengurut-ngurut dahinya. Ada yang membaling


karena menyesal. Tapi kebanyakan, cukup menghela nafas saja.


“Kalau menurut kamu, mau apa kira-kira dokter Evi itu mengirim


pesan kepada dokter Fajar? Kita anggap Dokter Evi itu dokter muda sebaya kita


ya?”


“Kalau anak muda mau apa lagi? Paling ngajak ketemuan”


“Tapi kalau disini ada Mia yang kerja ful terus, kira-kira


dokter Fajar bakal sanggupi nggak ya ajakannya dokter Evi itu? Kan dokter idola


kita semua itu masih tetap suka kepada Mia?”


“PR lagi nih ? Sementara waktu buka tinggal beberapa menit


lagi?”


“Ya udah. Obrolan kita selama ini sekarang di garis bawahi


aja ya? Yang udah punya pacar, mendingan sekarang tetap setia aja sama yang


lama. Karena ternyata seorang dokter yang kita kagumi disini, sudah punya


kehidupan pribadi yang tidak mungkin bisa kita ganggu gugat. Kedua; karena sudah


hampir jam tujuh, sekarang kita harus segera siap-siap untuk upacara bendera”  seorang nakes senior menyudahi rumpian.


Setelah di peringatkan oleh yang dituakan, ternyata nakes-nakes muda ini langsung


merapikan lagi bajunya. Dan ada juga yang bercermin karena takut makeup nya

__ADS_1


berlebih atau berantakan.


__ADS_2