Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Menjalani Hari Pasca Peristiwa Bagian 1


__ADS_3

PASCA dirumah tangganya terjadi kesalah pahaman, hari-hari


pasangan muda ini sekarang seperti sedang kucing-kucingan. Kalau Wiwin sedang


di ruang tengah Kamal menghampiri, Wiwin buru-buru ke kamar. Kalau Wiwinnya


sedang di halaman Kamal menghampiri, Wiwinnya lalu masuk kedalan. Situasi yang


seperti ini, membuatnya menderita bagi Kamal. Membutuhkan orang untuk mengadu,


kedua orangtuanya sedang tidak ada. Tapi malam ini Kamal mengambil HP nya. Lalu


nomor ibunya di hubungi dengan menelepon biasa.


“Ibu…?”


“Ada apa Mal ? Kok kamu seperti sedang sedih?”


“Iya bu. Kami sedang mendapat musibah”


“Musibah apa Mal ? Kapan terjadinya?”


“Empat hari yang lalu bu”


Kepada ibunya Kamal lalu menceritakan yang terjadi di sini


dari awal sampai akhir.Ternyata ibunya disana langsung menangis.


“Kamu harus sabar ya nak..? Yakinilah bahwa ujian ini


rahasiaNYA untuk menaikan derajat kalian…Dimana Daninya sekarang? Apa sekarang


keadaannya sudah baik-baik saja ?”


“Dani dan bundanya mungkin sekarang sudah pulas. Disini


sudah pukul dua belas malam bu”


“O, iya. Waktu disini dan di sana kan beda empat jam. Ibu


disini malah ini baru pulang dari Harom. Ikut  berjamah Magrib dan Isya disana bersama teman


sekamar”


“Alhamdulillah kalau disana ibu sehat…Doakan kami ya bu


supaya keadaan cepat seperti sedilakala”


“Tidak diminta kamu pun, disini ibu suka mendoakan kalian


Mal. Mulai sekarang pasti  do,anya akan


ditambah dengan semoga kalian cepat rukun lagi “


“Amin…”


“Bu ? Disana mungkin ibu mau makan malam dan lain sebagainya


? Sekarang teleponnya mau saya tutup dulu ya ? Saya juga mau langsung tidur


sekarang”


“Iya nak. Sampaikan salam ibu buat Wiwin ya ? Meskipun dia


masih marahan, tapi kamu pasti bisa menyampaikan salam ibu ini”


“Wa,alaikum salam bu…Aku ada disini dan mendengarkan semua


perkataan ibu” Jawab Wiwin dari balik pintu. Dari mulai Kamal menelpon ibunya


sampai akhir,   Wiwin mendengar semua. Karena malam ini ia


juga tidak bisa tidur.


Ketika memutuskan menggeledag lagi ke atas Kasur, Wiwin

__ADS_1


langsung melambung. Kilas balik rumah tangganya dengan Kamal yang selama ini di


bangun, melintas lagi dalam benaknya.


“Mataharinya sudah muncul Win? Hari ini kamu berjemur lagi


di depan jendela ya ? Sebentar, sekarang aku mau membuka dulu jendelanya


sekalian mau mengeluarkan kursi roda untuk nanti kamu duduk disana”


Ketika itu sedang masa pemulihan setelah sakit parah. Semua


itu kini terbayang lagi oleh Wiwin yang tidak bisa tidur.


“Aku kan sudah menyuruh kamu untuk mencari wanita lain ?


Tapi kenapa hingga sekarang kamu masih saja sibuk ngurus aku yang jelek dan


kurus?”


“Stt…Jangan bicara seperti itu…Untuk bisa mendapatkan kamu,


perjuangan aku sangat berat…Jadi kalau sekarang kamu begini, buat aku ini


adalah ujian. Sudahlah…Mulai sekarang kamu jangan berpikir macam-macam. Fokus


saja pada kesehatan sendiri dan terus berusaha untuk memulihannya”


Waktunya makan, Kamalpun suka membawa hantaran ke depan


jendela.


“Sekarang makan dulu ya ? Nih, makanan yang kubawanya juga


empat sehat lima sempurna supaya kamu cepat pulih “


Kamal lalu menyuapi Wiwin. Terus seperti itu tiap pagi dan


sore. Suatu hari hantaran Kamal itu langsung diambil oleh Wiwin. “Jangan


Ketika itu kedua tangan Kamal menggenggam tangan Wiwin yang


sudah meletakan makanan di tas meja.


“Jadi sekarang sudah sembuh ya?”


“Sehat banget…”


“Kan sudah sehat. Berarti hutangmu ke aku yang belum dibayar…?”


“Siap banget “


“Kok? Semua jawabanmu  banget-banget mulu?”


“Karena sekarang aku sudah seperti model lagi. Cantik dan


seksi?”


“Hihi…”


“Haha…”


Keduanya ketika itu sama-sama  tertawa. Wiwin yang sudah cantik lagi seperti


sediakala dipeluk suami setia penuh kebahagiaan. Sejak saat itu rumah tangga


mereka selalu rukun. Dan meskipun Wiwin lama belum bisa hamil, Kamal tetap


setia dan tidak mempermasalahkannya. Tapi ketika Dani mengalami kecelakaan,


semuanya berubah drastis. Dalam bayangan Wiwinpun kini hanya keburukan suaminya


yang terbayang.


“Kenapa golongan darah aku dan Dani tidak sama?!”

__ADS_1


“Aku tidak tahu !”


“Apa setelah kita menikah kamu pernah bertemu dengan Indra?!”    Dari keburukannya itu, Wiwin memulainya


dari tuduhan keji Kamal.


“Ya! Memang aku pernah bertemu ! Ketika itu tadinya kita


akan pergi berdua untuk berbulan madu! Tapi karena ada sesuatu hal, akhirnya


aku disuruh pergi sendiri ! Ketika itulah aku bertemu dengan Dia ! Sekarang ayo


balik kerumah sakit karena Dani membutuhkan kita!”


“Tidak salah menyuruh aku ke rumah sakit? Buat apa aku


peduli terhadap seorang anak yang bukan darah dagingku ! Yang ada aku malah nyesel


karena selama ini sudah memperlakukan kalian seperti ratu dan pangeran!”


“Tidak ! Dia bukan seorang penyayang ! Atas perkataannya aku


masih sakit hati… ! Bukan cuma itu. Dia juga sengaja menlpon wanita lain di


depan aku dan mengajaknya ketemuan…” Setelah mengingat peristiwa tempo hari,


segruk Wiwin langsung menangis. Tapi ke kamar utama tangisannya tidak terdengar


karena Kamal yang tidak bisa tidur akhirnya  memutuskan memutar sebuah lagu dari HP nya.


“Selama ini hari-hari itu kita jalani penuh kebahagiaan…Dan


meskipun tadinya Wiwin menolak perjodohan itu, tapi pada akhirnya dia bisa


memberikan seluruh cintanya untuk aku…Saat merayakan ulang tahun perkawinan


juga, dia memberi surprise yang membuatku tidak bisa melupakannya…Tapi sejak


Dani mengalami kecelakaan, semuanya berubah drastis. Dan semua itu karena aku


kurang bijak dalam menangani masalah yang ada di rumah tangga sendiri…”


Kamal yang tidak bisa tidur, meleknya cacap sampai adzan


subuh. Setelah selesai sholat subuh dengan sisa kantuknya, bi Ijah tiba-tiba


menghampir dengan tergopoh-gopoh.


“Ada apa bi ?”


“Sebelumnya minta maaf den. Anak bibi yang di Banrek itu mau


nyunati si Ujang. Jadi sekarang bibi itu


mau minta izin cuti”


“Bi ? Kalau bukan urusan keluarga, pasti saya tidak akan


ngizijin. Tapi ini karena cucu bibi sendiri akan disunat, ya saya ngizinin.


Tapi jangan lama-lama ya? Bibi tahu sendiri kan situasi dan kondisi dirumah


sekarang gimana ?”


“Iya den, bibi mengerti. Kalau begitu sekarang bibi pamit.


Asalamualaikum”


“Wa,alaikumussalam”


“Adduh…!”  Setelah bi


Ijah tidak ada, Kamal langsung memukul dahinya. Rupanya ia sudah bisa membayangkan


kalau dirumah tidak ada pembntunya itu.

__ADS_1


__ADS_2