Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Menjalani Hari Pasca Peristiwa Bagian 2


__ADS_3

PEMANDANGAN kerena asisten rumah tangganya cuti, di semua


sudut rumah bertebaran. Baju kotor di dekat kamar mandi ada satu rigen penuh.


Piring kotor dan wadah-wadah lainnya, ada yang di meja makan. Ada yang di meja


ruang tamu. Ada yang di Kamar. Ada juga yang sudah ditempat pencucian. Tapi


yang di kamar biasanya kalau dirumah sudah lengang, suka bi bawa Wiwin ketempat


pencucian. Tapi hari ini Kamal masih ada di rumah. Wiwin pun kini masih


mengurung diri di kamar sambil mengajak main anaknya.


“Halo…?” Kamal yang masih memakai baju tidur, menelpon di


ruang tengah.


“Halo…? Dengan loundry berkah disini. Ada yang bisa saya


bantu?”


“Ambil cucian kita sekarang ya ?”


“Alamatnya dimana pak ?”


“Babakan. RT 3/ RW 16. Calon pengguna jasanya, atas nama


Kamal”


“Oh baik pak. Sekarang karyawan kami akan langsung menuju


kerumah pak Kamal ”


“Yaya. Saya tunggu. Terimakasih”


Setelah dari pihak loundry akan datang, Kamal lalu


memasukkan semua baju kotor dalam rigen itu ke kantong plastik. Karena saking


banyak, satu kantong tidak muat. Akhirnya ada dua kantong untuk wadah baju-baju


itu. Tidak lama kemudian orang yang di tunggu datang. Satu pekerjaan sudah bisa


di atasi dengan bantuan salah satu jasa.


Untuk urusan perut, setelah mandi dan memakai baju kerja Kamal


mau nelpon jasa kuliner rupanya. Tapi untuk yang satu ini, ternyata laki-laki


ini ngeloyor dulu ke kamar anaknya. Setibanya disana ternyata istrinya yang


masih marahan sedang mengajak main buah hatinya.


“Bun? Untuk makan hari ini, belinya apa saja ?”


“M,M aja. Aku mau masak sendiri “


Dari ambang pintu, Kamal maju beberapa langkah. Setelah

__ADS_1


dekat dengan orang-orang tercintanya lalu ia sengogong hingga menyamai yang


sedang bermain di atas tempat tidur.


“Sampai kapan bun keadaan akan tetap seperti ini?”


“Sampai hatimu tercabik-cabik seperti yang pernah  aku rasakan!”


“Aku terlalu cinta sama kamu bun. Apa tidak ada pengertian


dari kamu sedikitpun untuk aku yang takut kehilangan kamu?”


“Sudah pukul delapan tuh.! Bukankah mau berangkat kerja?!”


Mendengar jawaban istrinya yang suaranya tidak lunak, kedua


mata Kamal berkaca-kaca. “Ya sudah..,sekarang aku akan berangkat kerja dulu.


Ini uang untuk makanan yang sudah di pesan kalau datang. Kalian baik-baik di


rumah…Do,akan aku juga semoga selamat”


Sebelum pergi Kamal menyimpan sejumlah uang di atas Kasur.


Sebelum keluar, Dani di ciumnya dulu. Melihat pemandagan seperti yang biasa


dilakukan ketika keadaan sedang baik-baik itu, hati Wiwin sebenarnya trenyuh.


Tapi ia buru-buru menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca dengan berpura-pura


berbaling.


“Dan ? Susu sisanya sekarang mau bunda buang ya? Beneran


“Tidak bunda, perutnya sudah penuh”


Setelah anaknya benar-benar tidak mau meminumnya lagi, Wiwin


lalu membawa semua wadah yang kotor keluar. Kamal yang tinggal berdua dengan


anaknya, kali ini duduk di pinggir tempat tidur.


“Dan ? Selama kamu tidur dengan bunda, apa saja yang suka


ditemukan atau Dani lihat?”


“Maksud ayah dari bunda?”


“Ya ? Dari apa saja?”


“Dani sering melihat bunda nangis disini…Dani juga pernah


melihat bunda bangun malam-malam. Lalu nangis juga”


“Dan ? Barusan bunda sudah nanak air untuk mandi. Sekarang


kamu keluar dulu yuk sama bunda ? Tempat tidurnya mau bunda beresin juga?”   Ketika Kamal sedang mencari tahu apakah


marahan istrinya itu masih lama untuk berakhir ? Tapi ketika sedang

__ADS_1


mengorek-ngorek ke anaknya, tiba-tiba sumber obyekannya muncul. Mantan playboy


anak tunggal dari seorang juragan tanah ini pun akhirnya langsung bangkit.


“Ya udah Dan. Sekarang ayah mau berangkat dulu. Kamu


baik-baik di rumah ya? Jangan bandel sama bunda. Ayo sekarang janji dulu sama


ayah”


“Iya ayah…Aku janji tidak akan nakal dan tidak akan ngeselin


bunda”


“Anak baik. Makasih yah. Cup…”  Kamal kembali mencium anaknya


“Sekarang ayo giliran kamu yang cium ayah”  Sebelum benar-benar pergi, Kamal menyodorkan


pipinya.


“Cup…Cup…” Dani mencium piki kiri dan pipi kanan ayahnya.  Setelah itu Kamal benar-benar pergi. Kali ini ia


melupakan dulu masalah rumah tangganya yang di terpa cobaan itu. Dan fokus


untuk berangkat kerja.


“Asalamualaikum “


“Wa,alakumussalam”


Tidak lama setelah Kamal pergi, dari pintu dapur ada yang


uluk salam. Wiwin lalu membuka pintu.


“Ceu Min ? Ternyata ceu min yang datang?”


“Iya neng. Ceu Min itu kemarin bertemu dengan ceu Ijah yang


mau naik angkot. Katanya dia cuti kerja dulu karena cucunya mau di sunat.


Maksud ceu Min. Kalau neng Win tidak keberatan, pekerjaannya biar sekarang di


kerjakan oleh ceu Min”


“Oh, tentu saja tidak ceu. Malah saya senang kalau ceu Min


mau beresin rumah yang berantakan ini”


Setelah ada kesepakatan, ceu Mimin akhirnya mengerjakan


perkerjaan yang biasa dilakukan bi Ijah, kecuali mencuci pakaian karena Kamal


sudah menghubungi jasa laundry. Setelah pekerjaan beres, ceu Miminnya langsung


pulang. Di rumah jadi bersih dan tidak berantakan, Kamal yang pulang karena mau


makan dulu, kaget. “Siapa ini yang mengerjakan ya?”  pikirnya. Tapi Kamal tidak berani bertanya.


Selain yang mau di ditanya nya tidak ada, perutnya sudah terus-terusan nagih

__ADS_1


mau di isi. Akhirnya ayah dari Dani ini langsung ke meja makan. Semua


problemnya dilupakan sejenak.


__ADS_2