
SETELAH seharian waktunya full berada dirumah duka, ba’da
solat Isya Mia mencoba mengenang Omanya Indra itu sambil rebahan di tempat
tidur. Pada saat yang bersamaan tapi berbeda hitungan jam, Indra pun melakukan
yang sama di tempat tidurnya pula. Yang mulai di ingatnya sama, yaitu saat pertamakali mereka jadian. Ketika itu Indra
membawa Mia ke rumah Oma nya. Ternyata Omanya menyambut mereka dengan sangat gembira.
“In ? Oma benar-banar senang. Keinginan Oma supaya kamu bisa
bersatu dengan neng Dian, akhirnya bisa terwujud”
“Iya Oma. Mohon do’anya juga dari Oma. Semoga hubungan kita
langgeng sampai ke pelaminan”
“Amiiin…Mudah-mudahan “
Ketika pasangan ini mau rekreasi pun, waktu itu bu Sarah
mengantarnya sampai ke teras.
“Kalau boleh Oma tahu? Rekreasinya mau kemana?” ketika itu Bu Sarah ingin tahu.
“Pokoknya ke tempat yang romantis Oma“ canda Indra ketika
itu sambil masuk ke dalam mobil. Mia hanya tersenyum. Lalu masuk juga ke dalam
mobil.
Ketika sudah mau berangkat, waktu itu Mia melambai dari kaca
mobil yang masih terbuka. “ Kita pergi dulu ya Oma!”
“Ya! Selamat bersenang-senang!” Dari teras ketika itu bu Sarah membalas.
Indra yang disana kali ini mengambil HP nya. Mia yang disini
juga sama. Ketika HP nya sudah nyambung, keduanya sama-sama ingin berbicara
mengenai orang yang sedang dikenang rupanya.
“Oma…” Kata Mia dan
Indra bersamaan. Dari sana Indra langsung diam. Dari sini Mia tidak membuat
keadaan menjadi beku.
“Kamu mau bilang apa tentang Oma In?”
Sebelum menjawab, Indra tengadah dulu supaya air matanya
tidak tumpah.
“Banyak…” Jawab Indra
sambil terus menahan air matanya. “Tapi yang tidak mungkin bisa aku lupakan,
Oma itu sangat sayang dan pertatian sama aku…” Air mata Indra akhirnya tumpah juga.
“Kamu harus ikhlaskan kepergian Oma ya In”
“Ya… Aku juga sudah berusaha ikhlas. Tapi disaat akhir hidupnya
aku tidak ada disisinya, tetap saja aku nyesel”
“Aku bisa merasakan penyesalanmu In…Orang yang sangat
__ADS_1
dicintai tiba-tiba pergi dan tidak mungkin bisa bertemu lagi, hati kamu pasti
tersayat dan perih…Tapi aku hanya ingin menghibur kamu…Kalau kamu suka, aku
pasti akan selalu ada buat kamu. Dalam suka maupun duka…”
Kali ini yang tumpah itu air mata Mia. Indra yang disana
langsung menepis air matanya.
“Terimakasih Mi…Ternyata
Oma bukan hanya berarti buat aku. Tapi buat kamu juga”
“Sama-sama…”
“Oya ? Tadi kamu mengikuti proses pemakaman Oma kan ?”
“Tentu saja. Tadi aku mengukuti proses pemakaman Oma dari
awal sampai akhir”
“Terus sikap papa dan mama terhadap kamu bagaimana? Santi
juga ada kan ?”
“Aduh ! Harus menjelaskan bagaimana aku?” pikir Mia sambil termenung.
“Mi ? Kok kamu malah diam? Masih ingat pertanyaannya kan ?”
“Iya In, ingat banget. Tapi sepertinya papa dan mama kamu
belum mengetahui hubungan kita. Rupanya Oma belum sempat cerita”
“Ya udah. Nanti kalau aku sudah pulang, aku akan
mengatakannya langsung kepada mama dan papa. Sekalian sambil mau ngomong bahwa
“Membuat kepalaku makin butek lagi tuh In! Sayangnya kamu
tidak mengetahui apa-apa? Aku bahkan tidak yakin. Apakah kalau tahu aku anak
dari musuh bebuyutan ayahmu, kamu akan tetap mempertahankan cinta kita?”
“Mi ? Kenapa lagi…?” ketika Mia lagi-lagi diam, Indra menegurnya. Kali ini suaranya lirih
sehingga Mia kembali menepis air matanya.
“In? Ngomongnya yang lain aja ya? Maksud aku, kalau tidak
keberatan bisa nggak kamu sekarang beritahukan detil hari dan tanggal untuk kepulangan
kamu itu ?”
“Oh…Nanti aku pulang ke tanah air itu, tanggal 13 bulan
depan. Itu sudah dil. Tiket pesawat juga sudah di pesan.“
“Sebentar-sebentar In. Sekarang aku mau memberi tanda di
kalender dulu. Soalnya aku sibuk. Takut lupa, gitu”
Dari atas tempat tidurnya Mia turun. Setelah itu lalu
mencari sepidol warna merah di meja kerjanya. Kebetulan ada. Tanggal 13 dalam
kalender kemudian ia beri kolom supaya tidak lupa dan terus di ingatnya.
Setelah memberi tanda tanggal 13 dalam kalender, Mia lalu naik lagi ke atas
__ADS_1
tempat tidurnya.
“In? Kamu masih stanbeye?”
“Iya Mi. Aku pasti akan selalu ada untuk orang yang
setia…” Kesedihan Indra kini mulai
terobati dengan hadirnya suara Mia lewat udara.
“Jadi nanti sang pangeran mau disambut kayak gimana
nih…?” Dari sini Mia pun kini jadi
berani menggoda sang pacar.
“Kayak gimana ya…?” Indra mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari.
“Kalau di tentukan oleh aku sendiri bagaimana?”
“Ya udah. Tentukan saja oleh kamu. Nanti aku tinggal
mengikuti scenario yang sudah ada” Indra yang selama ini bingung langsung menyerahkan penuh soal ini kepada
Mia sendiri yang nanti akan menyambutnya.
“Kalau begitu sekarang obrolannya kita sudahi dulu ya? HP
nya mau kututup”
“Eh, sebentar-sebentar”
“Mau ngomong apa lagi In?”
“Aku belum menanyakan soal pekerjaan kamu”
“Oh, kalau soal itu tidak ada masalah. Bahkan ke rumah sakit
tempat aku bekerja, sekarang kak Fajar juga mengambdi di sana”
“Berarti kamu sering berduaan ?”
“Yaiya lah…Namanya juga tugas. Bahkan waktu Oma dirawat,
kebetulan yang piket itu aku dan kak Fajar. Papa dan mamamu juga tahu “
“Tugas memang tugas. Masalahnya aku itu masih trauma kalau
harus kembali ada orang ketiga dalam urusan percintaanku. Apalagi Antara Mia
dan dia aku sangat tahu kartunya “ kata Indra yang terpendam. Sedangkan yang
keluar.
“Ya, sudah Mi. Kalau mau ditutup, sekarang tutup saja”
“Terimakasih ya In. Sampai jumpa tanggal 13 bulan depan “
“Ya ! Pokoknya nanti, setelah dari bandara aku singgah dulu
ke rumah sebentar. Setelah itu langsung cabut lagi untuk menemui sang putri
yang sedang menanti. Bakal nyampaikan diperkirakan dini hari.” Indra memberi
gambaran untuk rencananya nanti. Setelah HP ditutup, keduanya langsung
tersenyum. Terus keduanya menggeledak ke atas tempat tidurnya masing-masing. Di
kamar Mia langsung gelap karena lampunya dimatikan. Sedangkan Indra mengambil
__ADS_1
sebuah buku untuk dibacanya sambil menunggu waktu subuh.