Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Oma Dalam Kenangan


__ADS_3

SETELAH seharian waktunya full berada dirumah duka, ba’da


solat Isya Mia mencoba mengenang Omanya Indra itu sambil rebahan di tempat


tidur. Pada saat yang bersamaan tapi berbeda hitungan jam, Indra pun melakukan


yang sama di tempat tidurnya pula. Yang mulai di ingatnya sama, yaitu saat  pertamakali mereka jadian. Ketika itu Indra


membawa Mia ke rumah Oma nya. Ternyata Omanya menyambut mereka dengan sangat gembira.


“In ? Oma benar-banar senang. Keinginan Oma supaya kamu bisa


bersatu dengan neng Dian, akhirnya bisa terwujud”


“Iya Oma. Mohon do’anya juga dari Oma. Semoga hubungan kita


langgeng sampai ke pelaminan”


“Amiiin…Mudah-mudahan “


Ketika pasangan ini mau rekreasi pun, waktu itu bu Sarah


mengantarnya sampai ke teras.


“Kalau boleh Oma tahu? Rekreasinya mau kemana?”    ketika itu Bu Sarah ingin tahu.


“Pokoknya ke tempat yang romantis Oma“ canda Indra ketika


itu sambil masuk ke dalam mobil. Mia hanya tersenyum. Lalu masuk juga ke dalam


mobil.


Ketika sudah mau berangkat, waktu itu Mia melambai dari kaca


mobil yang masih terbuka. “ Kita pergi dulu ya Oma!”


“Ya! Selamat bersenang-senang!”   Dari teras ketika itu bu Sarah membalas.


Indra yang disana kali ini mengambil HP nya. Mia yang disini


juga sama. Ketika HP nya sudah nyambung, keduanya sama-sama ingin berbicara


mengenai orang yang sedang dikenang rupanya.


“Oma…”  Kata Mia dan


Indra bersamaan. Dari sana Indra langsung diam. Dari sini Mia tidak membuat


keadaan menjadi beku.


“Kamu mau bilang apa tentang Oma  In?”


Sebelum menjawab, Indra tengadah dulu supaya air matanya


tidak tumpah.


“Banyak…”  Jawab Indra


sambil terus menahan air matanya. “Tapi yang tidak mungkin bisa aku lupakan,


Oma itu sangat sayang dan pertatian sama aku…”    Air mata Indra akhirnya tumpah juga.


“Kamu harus ikhlaskan kepergian Oma ya In”


“Ya… Aku juga sudah berusaha ikhlas. Tapi disaat akhir hidupnya


aku tidak ada disisinya, tetap saja aku nyesel”


“Aku bisa merasakan penyesalanmu In…Orang yang sangat

__ADS_1


dicintai tiba-tiba pergi dan tidak mungkin bisa bertemu lagi, hati kamu pasti


tersayat dan perih…Tapi aku hanya ingin menghibur kamu…Kalau kamu suka, aku


pasti akan selalu ada buat kamu. Dalam suka maupun duka…”


Kali ini yang tumpah itu air mata Mia. Indra yang disana


langsung menepis air matanya.


 “Terimakasih Mi…Ternyata


Oma bukan hanya berarti buat aku. Tapi buat kamu juga”


“Sama-sama…”


“Oya ? Tadi kamu mengikuti proses pemakaman Oma kan ?”


“Tentu saja. Tadi aku mengukuti proses pemakaman Oma dari


awal sampai akhir”


“Terus sikap papa dan mama terhadap kamu bagaimana? Santi


juga ada kan ?”


“Aduh ! Harus menjelaskan bagaimana aku?”  pikir Mia sambil termenung.


“Mi ? Kok kamu malah diam? Masih ingat pertanyaannya kan ?”


“Iya In, ingat banget. Tapi sepertinya papa dan mama kamu


belum mengetahui hubungan kita. Rupanya Oma belum sempat cerita”


“Ya udah. Nanti kalau aku sudah pulang, aku akan


mengatakannya langsung kepada mama dan papa. Sekalian sambil mau ngomong bahwa


“Membuat kepalaku makin butek lagi tuh In! Sayangnya kamu


tidak mengetahui apa-apa? Aku bahkan tidak yakin. Apakah kalau tahu aku anak


dari musuh bebuyutan ayahmu, kamu akan tetap mempertahankan cinta kita?”


“Mi ? Kenapa lagi…?”  ketika Mia lagi-lagi diam, Indra menegurnya. Kali ini suaranya lirih


sehingga Mia kembali menepis air matanya.


“In? Ngomongnya yang lain aja ya? Maksud aku, kalau tidak


keberatan bisa nggak kamu sekarang beritahukan detil hari dan tanggal untuk kepulangan


kamu itu ?”


“Oh…Nanti aku pulang ke tanah air itu, tanggal 13 bulan


depan. Itu sudah dil. Tiket pesawat juga sudah di pesan.“


“Sebentar-sebentar In. Sekarang aku mau memberi tanda di


kalender dulu. Soalnya aku sibuk. Takut lupa, gitu”


Dari atas tempat tidurnya Mia turun. Setelah itu lalu


mencari sepidol warna merah di meja kerjanya. Kebetulan ada. Tanggal 13 dalam


kalender kemudian ia beri kolom supaya tidak lupa dan terus di ingatnya.


Setelah memberi tanda tanggal 13 dalam kalender, Mia lalu naik lagi ke atas

__ADS_1


tempat tidurnya.


“In? Kamu masih stanbeye?”


“Iya Mi. Aku pasti akan selalu ada untuk orang yang


setia…”   Kesedihan Indra kini mulai


terobati dengan hadirnya suara Mia lewat udara.


“Jadi nanti sang pangeran mau disambut kayak gimana


nih…?”   Dari sini Mia pun kini jadi


berani menggoda sang pacar.


“Kayak gimana ya…?”  Indra mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari.


“Kalau di tentukan oleh aku sendiri bagaimana?”


“Ya udah. Tentukan saja oleh kamu. Nanti aku tinggal


mengikuti scenario yang sudah ada”   Indra yang selama ini bingung langsung menyerahkan penuh soal ini kepada


Mia sendiri yang nanti akan menyambutnya.


“Kalau begitu sekarang obrolannya kita sudahi dulu ya? HP


nya mau kututup”


“Eh, sebentar-sebentar”


“Mau ngomong apa lagi In?”


“Aku belum menanyakan soal pekerjaan kamu”


“Oh, kalau soal itu tidak ada masalah. Bahkan ke rumah sakit


tempat aku bekerja, sekarang kak Fajar juga mengambdi di sana”


“Berarti kamu sering berduaan ?”


“Yaiya lah…Namanya juga tugas. Bahkan waktu Oma dirawat,


kebetulan yang piket itu aku dan kak Fajar. Papa dan mamamu juga tahu “


“Tugas memang tugas. Masalahnya aku itu masih trauma kalau


harus kembali ada orang ketiga dalam urusan percintaanku. Apalagi Antara Mia


dan dia aku sangat tahu kartunya “ kata Indra yang terpendam. Sedangkan yang


keluar.


“Ya, sudah Mi. Kalau mau ditutup, sekarang tutup saja”


“Terimakasih ya In. Sampai jumpa tanggal 13 bulan depan “


“Ya ! Pokoknya nanti, setelah dari bandara aku singgah dulu


ke rumah sebentar. Setelah itu langsung cabut lagi untuk menemui sang putri


yang sedang menanti. Bakal nyampaikan diperkirakan dini hari.” Indra memberi


gambaran untuk rencananya nanti. Setelah HP ditutup, keduanya langsung


tersenyum. Terus keduanya menggeledak ke atas tempat tidurnya masing-masing. Di


kamar Mia langsung gelap karena lampunya dimatikan. Sedangkan Indra mengambil

__ADS_1


sebuah buku untuk dibacanya sambil menunggu waktu subuh.


__ADS_2