
MIA dan Galang semakin akrab meskipun baru sehari kenal.
Galang malah pagi-pagi sudah main hp di teras. Karena hari ini hari minggu, setelah
selesai beres-beres Mia menghapiri pemuda itu dan membawakannya secangkir kopi
panas.
“Mas Galang hari ini mau keluar nggak ?”
“Memangnya kenapa Mi?”
“Kalau mas Galang mau mencari lokasi untuk obyek fhotonya,
aku ingin ikut”
Sebelum menjawab, Galang menyimpan dulu sebuah fhoto
postingan di pacebook yang menurutnya menarik. Setelah membukanya lagi
“Mi mau lihat ? Ada
yang mosting anaknya yang baru dilahirkan nih…?” tiba-tiba celoteh Galang.
“Mana mas ?” Duduknya
Mia pindah jadi lebih dekat kepada Galang
“Ini Mi ? Lucu ya ? “
“Eh, yang lagi gendong bayi itu mah kang Kamal mas ? Kalau
yang menyender, itu mbak Win istrinya”
“Jadi kamu kenal orangtua muda ini ? Berarti hari ini mau
langsung menjenguk?”
“Pasti donk. Mas Galang ikut ya kalau aku kesana?”
“Boleh. Pukul berapa berangkatnya ?”
“Sekitar pukul sepuluhan aja mas. Kalau setelah mandi, kita
beli kadonya dulu ketoko souvenir”
Mia dan Galang akhirnya dil, bahwa hari ini mereka mau ke
rumah Kamal dan Wiwin. Setelah melihat postingan itu, Fajar justru buru-buru
mandi. Tepat pukul Sembilan Fajar berangkat dari mumah menaiki motornya.
Setelah sampai di tujuan, pribumi menyambutnya penuh ke gembiraan. Terutama
Wiwin.
“Terimakasih ya dik Fajar udah mau tengokin anak kami” kata Wiwin sambil tersenyum senang.
“Iya Jar terimakasih. Kalau hari minggu suka mudik ya?” Dari Kamal berterimakasihnya itu ada
tambahnya
“Kadang-kadang kang. Kalau lagi banyak tugas, kita juga
tidak mudik”
“Memang disana dik Fajar ngekos dengan siapa?”
“Assalamualikum…” Sebelum Fajar menjawab, di depan tiba-tiba ada yang uluk salam
“Kang ? Biar saya aja yang buka “ Fajar akirnya menawarkan diri, karena Kamal
sedang menggendong anaknya
“Iya sok, Jar…” Kata Kamal bercampur sunda. Setelah ada izin
dari pribumi, Fajar akhirnya menuju kedepan. Tapi setelah pintu dibuka, bukan
hanya ia yang terkejut. Tapi orang yang baru datang itu
“Siapa Jar..?” karena lama belum balik, Kamal akhirnya
memutuskan kedepan sambil tetap mengendong anaknya
“Eh, ternyata kamu Mi?” celoteh Kamal setelah di depan.
__ADS_1
“Kamu kesini bersama siapa?” Kamal melihat ada mobil di depan dan melihat
seseorang keluar dari dalam mobil itu
“Kenalkan, nanya saya Galang”
“Kamal”
Galang yang sudah sampai, langsung mengulurkan tangan kepada
Kamal sambil memperkenalkan namanya
“Kalau yang ini siapa ya? Lebih muda dan tampan?” Sebelum menyalami Fajar, Galang bergumam dulu
dalam hatinya
“Galang”
“Fajar “
“Jadi ini yang namanya Fajar ? Hari ini bisa langsung
menjalankan misi kayaknya ?”
Setelah bersalaman dengan Fajar, di dalam hati Galang
kembali bergumam. Kebetulan Kamal langsung menyuruh mereka masuk sambil
bercanda yang nyambung dengan misinya Galang
“Ayo sekarang pada masuk. Anak kita sudah mau di fhoto
dengan kalian nih untuk kenang-kenangan” kata Kamal sambil tersenyum. Setelah
sampai di dalam, Mia langsung menghambur ke arah Wiwin. Terus cipika cipiki
sambil berpelukan
“Selamat ya mbak. Tapi di sosmed kayaknya tidak mencantumkan
jenis kelamin?”
“Anak pertama kami laki-laki Mi. Alhamdulillah sesuai
keinginan kakek neneknya dan kita juga” Kamal mengusap kepala Wiwin yang sedang tersenyum bahagia
yang ada “ Kamal kini mempersilahkan
duduk tamu-tamunya. Semuanya pada duduk
“Maaf ya? Kalau aku belum bisa meninggalkan tempat sandaran
?” Wiwin yang masih ipetan atas sarannya
orangtua, sanduk-sanduk dari atas tempat tidur bayi
“Nggak apa-apa mbak. Kalau kita mau sesuatu, tinggal ngambil
sendiri”
Obrolan tidak bisa lepas karena Mia dan Fajar, masing-masing
menjaga jarak. Tapi tiba-tiba Kamal meminta sesuatu yang lumayan mengejutkan
bagi kedua orang ini. “Fajar ? Mia ? Karena sekarang istirahatnya sudah cukup,
ayo sekarang kalian di fhoto dulu mungpung jagoan kaminya belum minta mimi “ kata Kamal. Dalam benak Mia langsung melintas
“Mi ? Fajar masih suka ke rumah nggak ?”
“Iya suka. Dia kan teman dekatnya kak Umar. Memangnya kenapa
kak In?”
“Aku cemburu tahu! Udah…! Mulai sekarang kalau ada dia
kerumah, kamu harus menghindar. Karena setelah berhubungan dengan kamu,
satu-satunya orang yang ku cemburui adalah dia ! ” pesan Indra dari teleponnya. Dan setiap nelpon, pesan terakhirnya selalu begitu.
Sekarang pribumi memintanya fhoto bersama. Duh ! Aku benar-benar bingung! Pikir Mia dan menyebabkannya termenung lama
“Yes…!” Lain
Galang, lain Mia. Kalau untuk Galang, Mia di suruh berfhoto dengan Fajar oleh
__ADS_1
Kamal itu, malah membuatnya senang karena berarti tugasnya dari pak Suherman akan
dimulai
“Sudahlah Mi…? Aku tahu kamu itu tidak mau di fhoto dengan
dia ? Tapi pribumi kayaknya sangat berharap tuh ada fhoto kalian untuk
kenang-kenangan atas kelahiran anaknya” bisik Galang hanya bisa di dengar oleh Mia saja
“Baik lah kang. Tapi aku ada permintaan. Di fhoto jangan
pakai hp akang melainkan mau pakai kameranya fhoto grafer ini” Mia yang akhirnya bersedia di fhoto dengan
Fajar, mengarahkan ibu jari kedepan Galang
“Jadi kamu seorang fhoto grafer Lang ? Pantesan dan-dananmu
seperti seniman? Tapi kameranya…?”
“Ada di mobil kang. Kalau begitu sekarang mau saya ambil
dulu ya ?”
Galang yang semakin senang karena misinya sudah ada jalan,
berpamitan untuk mengambil kameranya yang ada di mobil. Setelah kembali, Mia
dan Fajar akhirnya disuruh mendekati anak Kamal dan Wiwin. Kemudian beberapa
adegan di syuting oleh Galang. Karena pumuda ini sudah mendalami ilmunya di
bangku kuliah, tentu saja hasilnya sangat bagus. Pribumi sampai
memercik-mercik.
“Galang ? Bagus banget hasil kerjanya ?” Kamal bahkan menepuk-nepuk bahu Galang
setelah melihat fhoto di hp nya setelah oleh Galang di upload
“Terimakasih kalau pekerjaan saya memuaskanmu kang”
“Berapa kita harus bayar Lang ?”
“Ah nggak usah kang. Tapi nanti fhotonya cetak sendiri”
“Pasti akan kita buru-buru cetak Lang. Kalau begitu silahkan
ngaropinya dilanjutkan lagi “
“Bun lihat…?” Setelah ketiga orang tamunya kembali duduk di
kursi, Kamal kembali ke tempat tidur ibu dan bayinya
“Bagus sekali ya yah ? Kayaknya Galang berbakat banget jadi
fhoto grafer”
“Kalau anak kita nanti harus jadi apa ?”
“Terserah dia nanti setelah besar. Asal jangan jadi tukang
piara ayam seperti ayahnya”
“Ach bunda sentiment gitu sama orang yang suka ngasih uang
setumpuk hasil penjualah ayam ? Kan selama ini segala ke inginan bunda
terpenuhi juga dari hasil ngurus ayam?”
Kamal dan Wiwin yang sangat bahagia setelah kelahiran anak
mereka, memperlihatkan keharmonisan. Saking senangnya mereka jadi lupa bahwa di
sana ada tiga lajang yang memperhatikannya.
“Seandainya kak Indra menyaksikan keharmonisan dan
kebahagiaan mantannya ini, mungkin hatinya akan terluka lagi. Untuk itu aku
berjanji. Sebesar apapun godaan yang kuhadapi, aku tetap akan setia kepada kak
Indra. Dulu kak Indra menjalin hubungannya dengan mbak Win berakhir perpisahan.
Mudah-mudahan dengan aku bisa berjodoh dan berakhir bahagia. Amiin” Mia
__ADS_1
memejamkan mata. Orang lain tidak mengerti apa-apa.