
MUSIM kemarau sudah datang. Rontoknya daun daun pepohonan
yang ada di bukit sekitar pesawahan, bagi warga sudah menjadi patokan. Setelah
daun baru tumbuh, satu bulan lagi hujan akan turun. Kalau sudah seperti ini para
petani sudah harus menggarap tanahnya lagi. Supaya ketika hujan datang,
ladangnya tinggal ditanami. Tapi di tempatnya dulu berburu pipit, membuatnya pangling bagi pak Suherman. Karena
disawah yang dulu menghampar tanaman padi itu, kini hampir separuhnya ditanami
palawija.
Pak Suherman yang terus jalan-jalan kesawah setelah zarah ke
makam ibunya, ternyata bukan tidak ada maksud. Dari kejauhan pak Panji yang
sudah janjian dengan sahabat lamanya ini, dari jalan ber aspal sudah turun ke
pematang. Ketika melihat sahabatnya sudah ada didekat dangau, berjalannya pak
Panji dipercepat karena ingin segera sampai.
“Herman…?!”
“:Eh Panji…!Ternyata kamu sudah kesini…!”
Dari jarak lima meter, pak Panji menyapa pak Suherman.
Ternyata yang disapanya selain menoleh, terus maju menyambut yang datang.
Setelah bertemu, keduanya lalu berpelukan.
“Panji maafkan aku…Akhir-akhir ini kesalahan aku kepada
keluarga kamu sangat besar…”
“Aku juga minta maaf Her…Kesalahan aku dulu kekamu juga
sangat besar…Jadi sebenarnya kita itu sama-sama mempunyai kesalahan…“
“Sekarang lupakan semua itu Panji…Aku ngajak ketemuan dengan
kamu sebenarnya mau islah…Tapi selain itu, memang ada yang mau aku minta dari
kamu…”
“Kalau boleh tahu, apa itu Her…?”
“Di acara kamu besok, aku itu ada permintaan…Tapi supaya
lebih leluasa dan nyaman, kita ngobrolnya sambil duduk di dangau yuk ?”
“Kalau begitu ayo sekarang kita bernostalgia…Padahal tidak
ada janji sebelumnya…Seminggu yang lalu kebetulan dangau tempat nunggu pipit
itu direnofasi…Sebagian kayu-kayunya telah aku ganti karena sudah
keropos…Seperti inilah akhirnya saung warisan leluhur tempat dulu kita
istirahat setelah berburu pipit itu…”
“Benar-benar seperti sedang kembali kemasa lalu, Panji…Ayo
sekarang kita sama-sama manjat ke atas…Kalau dulu mau beristirahat setelah
berburu, biasanya kamu duluan yang manjat..”
“Kalau sekarang silahkan kamu dulu Her…” Pak Panji menyuruh pak Suherman manjat
__ADS_1
duluan. Ternyata pak Suherman langsung naik. Pak Panji lalu mengikuti dan
akhirnya mereka berdua duduk nyaman di atas sambil melihat pemandangan
disekitarnya.
“Panji...? Sekarang sawah tempat kita dulu berburu pipit itu,
ternyata sudah banyak yang ditanami palawija, tidak padi lagi ?”
“Iya Her…Karena warga disini sekarang sudah mengikuti program
seseorang yang sudah sukses…Anak muda itu berani ngajak para petani untuk
menanam palawija, karena pengalamannya sendiri…Dan kalau dihitung-hitung memang
benar…Kalau usia padi, sampai bisa dipanen itu empat bulan…Sedangkan kalau
timun atau sawi, kepanennya itu satu bulan sampai empat puluh hari…Dan sekarang
para petani disini memang sudah banyak yang memperoleh keuntungannya…Maka
seperti inilah sekarang tempat kita dulu berburu pipit itu…” kata Pak Panji
panjang lebar menjelaskan kepada sahabatnya soal pesawahan yang jadi berubah.
“Perintisnya orang sini asli bukan ?” Pak Suherman mau tahu.
“Bukan Her. Tapi dia seorang pengusaha khusus sayuran (
agribisnis ) yang punya lapak di pasar induk. Kita-kita malah dimodali kalau
berminat…Jadi kalau panen, dia juga yang narik semua barangnya langsung dibawa
ke pasar induk”
“Menggiurkan juga rupanya kalau usaha dibidang ini…? Maksud
soal…Sudah gitu para petani merasa terbantu dalam permodalan”
“Memang begitu tujuan cep Kamal juga…Teman Mia itu pada
suatu hari menjelaskan hal ini secara pribadi kepada aku…Katanya kalau mau
mencoba, modalnya dikasih..”
“Sebentar panji…Apa yang kamu sebut itu orang yang aku kenal
atau hanya sama namanya saja…? Orangnya masih muda ya?”
“Iya…? Dia memang masih muda Her?”
“Terus kalau dia teman Mia anak kamu, mungkin kamu pernah
dengar…Istrinya bernama Wiwin Winarti bukan?”
“Nama lengkapnya aku tidak tahu Her…Tapi anakku suka
menyebut mbak Win kepada istrinya itu”
“Panji…? Panji…Berarti orang yang kamu maksud itu benar nak
Kamal suaminya Wiwin…Aku memang kenal mereka”
“Ya sudah…Kalau benar mereka, mungkin besok kita bakal bertemu. Karena pasti Mia juga
mengundang mereka…Sekarang aku mau nanya soal lain…Tadi apa maksud kamu mau
minta waktu di acara anakku besok itu?”
“Oh, soal itu Panji…Aku memang mau minta waktu kekamu di
__ADS_1
acara anakmu besok…Tapi bukan diwaktu yang penting buat keluarga kamu…Dan yang
hadirnya juga hanya orang-orang khusus yang ada hubungannya dengan tujuan
aku…Pokoknya waktu yang kuminta itu setelah undangan lain habis. Dan waktunya sampai
menjelang Asar saja…”
“Karena tujuan kamu pasti baik, aku setuju Her…Semoga semua
rencana kita besok, dilancarkan “
“Amin…Terimakasih Panji…Sambil menunggu duhur, ayo sekarang
kita kupas lagi masa lalu kita”
Di dangau itu kini pak Suherman dan pak Panji sama-sama
termangu. Ketika pandangannya sedang sama-sama diarahkan kehamparan padi yang
sudah hampir menguning, tiba-tiba tidak jauh dari dangau yang sedang
didudukinya muncul yang membawa senapan anginan berjumlah dua orang.
“Panji…? Kalau dulu yang seperti mereka itu, kita berdua ya…?
Ditengah terik mata hari, hampir setiap hari kita panas-panasan di tengah
sawah…Kalau sudah tidak kuat menahan sengatan matahari, lalu kita beristirahan
dibawah pohon kersen”
“Sekarang pohon kersen itu sudah besar dan tinggi Her…Tuh,
dari sini juga terlihat” tangan Pak
panji menunjuk kea rah pohon kersen. Ternyata sahabatnya langsung merespon.
“Benar juga panji…Pohon kersen tempat kita berteduh dulu itu
sekarang sudah tinggi banget…Padahal dulu kalau mau buahnya, aku tinggal petik
sambil berjalan gitu aja kerena pohonnya masih pendek “
“Kita juga sekarang sudah tua Her…Dulu tidak kepikiran samasekali
bahwa rambut kita itu bakal jadi putih…Terus ada yang memanggil kakek…Aku
memang belum punya cucu…Tapi kalau anak-anak aku sudah menikah, insyaalloh aku
bakal punya cucu “
“Kalau aku sudah punya satu Panji…Tapi belakangan rumah
tangga anakku itu agak kurang harmonis…Makanya selama ini aku terus berusaha
mencari ide supaya semuanya kembali seperti semula…Dan Alhamdulillah sekarang
kuncinya sudah didapatkan”
“Kalau begitu aku ikut senang Her…Mudah-mudahan setelah
kuncinya kamu sakui, rumah tangga anak kamu itu jadi seperti yang diharapkan..”
“Amin, amin Panji…” Pak Suherman tersenyum bahagia. Karena rencananya mau membuat kejutan
besok itu sudah ada izin dari yang punya hajat. Setelah itu dari kejauhan
terdengan ada yang mengumandangkan azan. Dua sahabat inipun akhirnya mengakhiri
kebersamaannya. Mereka tinggalkan dangau
__ADS_1
kemudian pulang menuju ke rumah masing-masing.