Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Nostalgia


__ADS_3

MUSIM kemarau sudah datang. Rontoknya daun daun pepohonan


yang ada di bukit sekitar pesawahan, bagi warga sudah menjadi patokan. Setelah


daun baru tumbuh, satu bulan lagi hujan akan turun. Kalau sudah seperti ini para


petani sudah harus menggarap tanahnya lagi. Supaya ketika hujan datang,


ladangnya tinggal ditanami. Tapi di tempatnya dulu berburu pipit,  membuatnya pangling bagi pak Suherman. Karena


disawah yang dulu menghampar tanaman padi itu, kini hampir separuhnya ditanami


palawija.


Pak Suherman yang terus jalan-jalan kesawah setelah zarah ke


makam ibunya, ternyata bukan tidak ada maksud. Dari kejauhan pak Panji yang


sudah janjian dengan sahabat lamanya ini, dari jalan ber aspal sudah turun ke


pematang. Ketika melihat sahabatnya sudah ada didekat dangau, berjalannya pak


Panji dipercepat karena ingin segera sampai.


“Herman…?!”


“:Eh Panji…!Ternyata kamu sudah kesini…!”


Dari jarak lima meter, pak Panji menyapa pak Suherman.


Ternyata yang disapanya selain menoleh, terus maju menyambut yang datang.


Setelah bertemu, keduanya lalu berpelukan.


“Panji maafkan aku…Akhir-akhir ini kesalahan aku kepada


keluarga kamu sangat besar…”


“Aku juga minta maaf Her…Kesalahan aku dulu kekamu juga


sangat besar…Jadi sebenarnya kita itu sama-sama mempunyai kesalahan…“


“Sekarang lupakan semua itu Panji…Aku ngajak ketemuan dengan


kamu sebenarnya mau islah…Tapi selain itu, memang ada yang mau aku minta dari


kamu…”


“Kalau boleh tahu, apa itu Her…?”


“Di acara kamu besok, aku itu ada permintaan…Tapi supaya


lebih leluasa dan nyaman, kita ngobrolnya sambil duduk di dangau yuk ?”


“Kalau begitu ayo sekarang kita bernostalgia…Padahal tidak


ada janji sebelumnya…Seminggu yang lalu kebetulan dangau tempat nunggu pipit


itu direnofasi…Sebagian kayu-kayunya telah aku ganti karena sudah


keropos…Seperti inilah akhirnya saung warisan leluhur tempat dulu kita


istirahat setelah berburu pipit itu…”


“Benar-benar seperti sedang kembali kemasa lalu, Panji…Ayo


sekarang kita sama-sama manjat ke atas…Kalau dulu mau beristirahat setelah


berburu, biasanya kamu duluan yang manjat..”


“Kalau sekarang silahkan kamu dulu Her…”  Pak Panji menyuruh pak Suherman manjat

__ADS_1


duluan. Ternyata pak Suherman langsung naik. Pak Panji lalu mengikuti dan


akhirnya mereka berdua duduk nyaman di atas sambil melihat pemandangan


disekitarnya.


“Panji...? Sekarang sawah tempat kita dulu berburu pipit itu,


ternyata sudah banyak yang ditanami palawija, tidak padi lagi ?”


“Iya Her…Karena warga disini sekarang sudah mengikuti program


seseorang yang sudah sukses…Anak muda itu berani ngajak para petani untuk


menanam palawija, karena pengalamannya sendiri…Dan kalau dihitung-hitung memang


benar…Kalau usia padi, sampai bisa dipanen itu empat bulan…Sedangkan kalau


timun atau sawi, kepanennya itu satu bulan sampai empat puluh hari…Dan sekarang


para petani disini memang sudah banyak yang memperoleh keuntungannya…Maka


seperti inilah sekarang tempat kita dulu berburu pipit itu…” kata Pak Panji


panjang lebar menjelaskan kepada sahabatnya soal pesawahan yang jadi berubah.


“Perintisnya orang sini asli bukan ?” Pak Suherman mau tahu.


“Bukan Her. Tapi dia seorang pengusaha khusus sayuran (


agribisnis ) yang punya lapak di pasar induk. Kita-kita malah dimodali kalau


berminat…Jadi kalau panen, dia juga yang narik semua barangnya langsung dibawa


ke pasar induk”


“Menggiurkan juga rupanya kalau usaha dibidang ini…? Maksud


soal…Sudah gitu para petani merasa terbantu dalam permodalan”


“Memang begitu tujuan cep Kamal juga…Teman Mia itu pada


suatu hari menjelaskan hal ini secara pribadi kepada aku…Katanya kalau mau


mencoba, modalnya dikasih..”


“Sebentar panji…Apa yang kamu sebut itu orang yang aku kenal


atau hanya sama namanya saja…? Orangnya masih muda ya?”


“Iya…? Dia memang masih muda Her?”


“Terus kalau dia teman Mia anak kamu, mungkin kamu pernah


dengar…Istrinya bernama Wiwin Winarti bukan?”


“Nama lengkapnya aku tidak tahu Her…Tapi anakku suka


menyebut mbak Win kepada istrinya itu”


“Panji…? Panji…Berarti orang yang kamu maksud itu benar nak


Kamal suaminya Wiwin…Aku memang kenal mereka”


“Ya sudah…Kalau benar mereka, mungkin besok kita  bakal bertemu. Karena pasti Mia juga


mengundang mereka…Sekarang aku mau nanya soal lain…Tadi apa maksud kamu mau


minta waktu di acara anakku besok itu?”


“Oh, soal itu Panji…Aku memang mau minta waktu kekamu di

__ADS_1


acara anakmu besok…Tapi bukan diwaktu yang penting buat keluarga kamu…Dan yang


hadirnya juga hanya orang-orang khusus yang ada hubungannya dengan tujuan


aku…Pokoknya waktu yang kuminta itu setelah undangan lain habis. Dan waktunya sampai


menjelang Asar saja…”


“Karena tujuan kamu pasti baik, aku setuju Her…Semoga semua


rencana kita besok, dilancarkan “


“Amin…Terimakasih Panji…Sambil menunggu duhur, ayo sekarang


kita kupas lagi masa lalu kita”


Di dangau itu kini pak Suherman dan pak Panji sama-sama


termangu. Ketika pandangannya sedang sama-sama diarahkan kehamparan padi yang


sudah hampir menguning, tiba-tiba tidak jauh dari dangau yang sedang


didudukinya muncul yang membawa senapan anginan berjumlah dua orang.


“Panji…? Kalau dulu yang seperti mereka itu, kita berdua ya…?


Ditengah terik mata hari, hampir setiap hari kita panas-panasan di tengah


sawah…Kalau sudah tidak kuat menahan sengatan matahari, lalu kita beristirahan


dibawah pohon kersen”


“Sekarang pohon kersen itu sudah besar dan tinggi Her…Tuh,


dari sini juga terlihat”   tangan Pak


panji menunjuk kea rah pohon kersen. Ternyata sahabatnya langsung merespon.


“Benar juga panji…Pohon kersen tempat kita berteduh dulu itu


sekarang sudah tinggi banget…Padahal dulu kalau mau buahnya, aku tinggal petik


sambil berjalan gitu aja kerena pohonnya masih pendek “


“Kita juga sekarang sudah tua Her…Dulu tidak kepikiran samasekali


bahwa rambut kita itu bakal jadi putih…Terus ada yang memanggil kakek…Aku


memang belum punya cucu…Tapi kalau anak-anak aku sudah menikah, insyaalloh aku


bakal punya cucu “


“Kalau aku sudah punya satu Panji…Tapi belakangan rumah


tangga anakku itu agak kurang harmonis…Makanya selama ini aku terus berusaha


mencari ide supaya semuanya kembali seperti semula…Dan Alhamdulillah sekarang


kuncinya sudah didapatkan”


“Kalau begitu aku ikut senang Her…Mudah-mudahan setelah


kuncinya kamu sakui, rumah tangga anak kamu itu jadi seperti yang diharapkan..”


“Amin, amin Panji…”  Pak Suherman tersenyum bahagia. Karena rencananya mau membuat kejutan


besok itu sudah ada izin dari yang punya hajat. Setelah itu dari kejauhan


terdengan ada yang mengumandangkan azan. Dua sahabat inipun akhirnya mengakhiri


kebersamaannya. Mereka  tinggalkan dangau

__ADS_1


kemudian pulang menuju ke rumah masing-masing.


__ADS_2