Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Bahagia Di Atas Penderitaan Orang Lain


__ADS_3

SALAH satu konter sore hari menjelang malam minggu masih banyak pengunjung. Di tempat parkirnya sepeda motor berjajar. Salah satu motor dibawa pergi tuannya. Sepuluh menit kemudian tempat yang sudah kosong dimasuki motor Kamal yang datang kesana.


Antara pemuda ini dan pemilik konter, memang bukan orang asing. Itu sebabnya ketika melihat ada pemuda ini berkunjung ketokonya, pemilik toko yang sedang duduk dikersi, lalu bangkit. Orang yang mau disambutnya semakin mendekat, tambah lebar senyuman orang yang bertubuh subur itu.


“Pantesan sore ini tidak turun hujan ? Rupanya karena akan ada mantan model mas kesini ?”  Orang itu menyambut Kamal.


Pada kesempatan ini senyuman Kamal pun tidak kalah lebar dari pemilik konter. “Apa kabar mas Her ?”


“Baik…”  Mereka  berjabatan. “ Kalau targetnya pasti masih yang dulu ?” orang itu menyusul.


“Tahu aja . ..Memang masih yang dulu mas. Orang yang dulu fhotonya mas kawinkan disetudio mas dengan hfoto saya, malah sekarang kita itu udah resmi jadian. Kaget kan mendengarnya? Haha…“


“Hai Des, bukankah itu Erik yang selama ini suka naktir kita ?”    Ketika Kamal sedang terbahak dengan pemilik konter, dua orang pengunjung wanita, saling bisik. Yang diberitahunya ternyata langsung membeliak.


“Ala mak, lama tak jumpa tambah ganteng aja dia.”


“Des, mau deketin dia nggak ?”


“Pasti Sil. Gua juga perlu pastiin kalau dia masih suka sama gua. Cabut.”  Pdnya besar sekali perempuan itu sebelum menghampiri Kamal.


“Hai Rik…? Masih ingat sama gua nggak ? Desy “


“Siapa tuh orang ? Aku nggak kenal ?”   sikap Kamal seolah-olah.


“Rik ? Lo dingin gitu sih sama gua ? Kenapa Rik sikap lo berubah drastis ?”


“Itu karena sekarang gua udah dapatin cewek seperti yang gua inginkan. Faham?”


“Mas Har ?  Hp termahal yang ada disini berapa ya ? Saya butuh satu “ kata Kamal membuat gadis masa lalunya sakit hati


“Empat juta . Untuk siapa ?”


Sebelum menjawab ternyata Kamal memastikan dulu, apakah gadis itu masih disana atau tidak ?  Ternyata masih. Pemuda ini pun tersenyum.


“Sebetulnya selama ini saya bingung mas. Gimana gitu…? Untuk menghadiahi orang yang sangat spesial hp itu mas. Sayang harganya mungkin tidak bisa kurang ?”


“Gini aja…Kalau empat juta itu plus keccing. Di isi kartu baru dan plus pulsanya seratus ribu gimana ?”


“Ya udah mas, saya bayar. Kalau untuk yang ini saya minta nomor baru. Hp dia sebelumnya, sebetulnya yang ini mas.”


Selain mengeluarkan uang, Kamal mengeluarkan hp juga. Tindakan proaktifnya ternyata tepat sasaran. Selain langsung menciut, gadis yang kepedean ini mencibir.


“Blagu banget tuh orang ! Mentang-mentang anak orang kaya dan banyak duit ! Udah gitu, ngerendahin gua lagi. Gua sumpahin. Orang kayak gitu pasti kelak akan mendapat balasan!” desis gadis itu ketika akhinya memutuskan menjauh dari pemuda yang selama ini mau dikejarnya.


Setelah dari konter, Kamal tidak pulang ke rumahnya, tapi langsung ke rumah Wiwin


“Maaf, hp kamu itu baru hari ini kuganti.” Sesampainya ditujuan, Kamal langsung menyimpan hp yang baru dibelinya di atas meja. Tapi Wiwin yang sedang duduk di sofa, tetap saja pada posisinya semula


“Kamu kenapa Win ? Makdsudku..,kamu tidak mau melihat handphone  yang baru kubeli? Ini untuk kamu lho?”


Setelah Kamal sabar dan gigih membujuknya, ternyata kali ini Wiwin merongkong kedekat alat komunikasi itu disimpan.


“Obati dulu hausku…”  Ternyata Kamal memanfaatkannya. Setelah tangannya dipegang, ternyata Wiwin menatap orang yang mulai dicintainya ini.


“Kamu itu udah kangen sama Oom dan tante ya ? Sekarang silahkan hubungi mereka dengan handphone yang ini”


“Kenapa harus dengan handphone yang ini? Bukan dengan yang ada dikamu ?”


“Handphone yang ada ditanganku ini kan untuk peganganku… Sedangkan hp yang baru, untuk pegangan kamu. Takut bocor nomor kamu kepada yang disana…Makanya kalau mau nelpon tante kamu, pakainya hp untuk peganganku ini”


Nomor rumah tantenya, akhirnya dilacak Wiwin dengan hp lamanya yang ditukar Kamal. “Kediaman Anwar Harahap disini”   Dari sana, tantenya yang dihubungi, ternyata langsung mengangkat pesawat dirumahnya yang berbunyi.


“Tante, apa kabar ?”


“Win ? Ini dengan kamu ?”


“Iya tante. Saya rindu sekali sama tante dan Oom.”


“Salah kamu juga sih ? Kenapa baru menghubungi sekarang ?”


“Hp saya rusak tante. Kalau ngirim surat, malas “


“Jangan bilang kalau hp yang kamu pakai ini dapat pinjam dari orang lain. Kamu jangan menjatuhkan calon suami kamu yang kaya itu Win.”


“Memang hp ini dapat pinjam tan. Tapi bukan dari orang lain. “    Selain melirik kepada Kamal, ternyata kali ini Wiwin tersenyum renyah.

__ADS_1


“Maksud kamu hp yang dipakai sekarang, punya nak Kamal ?”


“Iya tan. Orangnya ada disini. Tante mau bicara dengannya ?”


“Iya, iya Win. Ayo sekarang hp nya berikan dulu sama nak Kamal “


“Assalamualaikum….Tante apa kabar ?”  Kamal menyapa tante Wati


“Waalaikumsalam….Baik nak Kamal. Eh ngomong-ngomong, nak Kamal itu kapan mau main kerumah kami  ?  Om katanya penasaran mau ketemu dengan sang Arjuna. Benar lho, nak Kamal ?”


“Kapan ya ?”  Kamal menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal


“Jangan bingung begitu nak Kamal. Bandung kan tidak jauh. Tinggal rencanakan aja sama Wiwin. Kapan pun kalian akan datang, disini kami akan menyambut kalian berdua dengan tangan terbuka“


Kalau dengan tantenya, aku pernah bertemu. Yah.., orangnya memang baik. Kalau omnya aku juga tidak tahu. Apa nanti kalau sudah bertemu orangnya akan bisa menerimaku atau tidak ? Sejauh yang kutahu, dia kan bawahan ayahnya dari orang yang mencintai Wiwin selama ini ?


“Halo, halo….?”   Ketika hubungan dari sini aut sejenak karena Kamal banyak berpikir, dari sana tante Wati ngecek pesawatnya yang lobet. Dari lamunannya, Kamal akhirnya tersadar kembali.


“Permintaan tante, tidak dijawab sekarang ya ?”


“Kenapa nak Kamal? Padahal tante udah nggak sabar ingin mendengar keputusan dari nak Kamal ?”


“Harus bicara dulu sama Wiwin soalnya tan. Sekarang pesawatnya dikembalikan lagi sama dia ya ?”


“Ya udah kalau begitu.”


“Tante ?”


“Iya Win. Nak Kamal masih disana kan ?  Dan tadi kamu mendengar pembicaraan kami?”


”Iya tan.”


“Jadi pendapat kamu sendiri gimana soal kedatangan kalian itu?”


“Pokoknya secepatnya tan. Tapi saya tidak akan memberitahukan tanggal maupun harinya. Pokoknya kedatangan kami nanti, surprise buat om dan tante. Sekarang udah dulu  ya, soalnya tamu disini belum disuguhi dari tadi nih ? Tuh, sekarang  orangnya tersenyum mendengar pembicaraan kita.”


“Ya udah, kalau begitu sekarang pesawatnya tante tutup ya? Assalamualaikum…”


“Wa’alaikumussalam”


Setelah tantenya menutup teleponnya, Wiwin pun meletakkan hpnya lagi di atas meja.


“JADI ini orang yang sudah mengasuh Wiwin dari kecil hingga dewasa ? Meskipun sudah tidak muda, ternyata dia masih kelihatan tampan dan gagah”  Kamal ketika untuk pertamakalinya bertemu dengan Oom Anwar


Oom Anwar sama “Pantesan Wiwin bisa cepat melupakan nak Indra. Ternyata pemuda yang sudah dijohkan ayahnya, punya pesona luar biasa begini“


Kamal dan Oom Anwar, sama-sama terpaku ketika mereka baru pertamakalinya dipertemukan. Lain dengan Wiwin dan tantenya yang langsung melepas rasa kangen dengan berpelukan satu samalain


“Yuk, sekarang langsung masuk kedalam…” kata tante Wati setelah puas melepas kangen tahap satu


“Papah…? Nak Kamal…? Kok kalian berdua malah saling plongok ? Cepetan nak Kamal ajak masuk ke dalam pah ?”  tante Wati membuyarkan ketermenungan keduanya. Kamal dan Oom Anwar akhirnya bersalan


“Om benar-banar senang karena akhirnya bisa bertemu dengan orang yang bakal jadi pendamping hidup Wiwin. Jujur, tadi kirain yang datang bersama Wiwin itu Frll Bramasta pemain sinentron itu “  Setelah di dalam, Oom Anwar bercanda


“Ach Oom bisa aja…” Mulanya Kamal malu-malu. “ Tadi saya juga kirain yang keluar bersama tante itu, Aktor kawakan yang film lamanya pernah saya tonton”  kata Kamal sambil tersenyum


Karena keduanya baru pertamakali dipertemukan, setelah di ruang tamu Kamal banyak di Tanya soal berhubungannya dengan Wiwin oleh Oom Anwar.


“Sekarang Wiwin pasti sudah nggak canggung sama nak Kamal?”


“Alhamdulillah Oom “


“Kalian suka pergi bareng ?”


“Kadang-kadang. Tapi Wiwin sudah berkali-kali kerumah saya “


“Sudah merencanakan pernikahan ?”


“Belum om. Saya juga belum siap kalau untuk nikah”


“Tapi orangtua nak Kamal kan keluarga berada. Jadi meskipun nak Kamal belum punya pekerjaan tetap, kehidupan kalian pasti terjamin ?”


“Bukan masalah itu om. Yang pasti pertimbanagn itu terkait kemenakan Oom juga. Target kita nikah mungkin akan dipikirkan setelah usia Wiwin genap dua puluh”


“Om salut atas kedewasaanmu nak Kamal. Sekarang kita tidak khawatir lagi kalau pergi jauh dari kehidupan Wiwin”

__ADS_1


“Maksud Oom?”


“Januari tahun depan pekerjaan Oom akan dioper keluar Jawa nak Kamal. Keputusan majikan itu kemungkinan  mengharuskan kita terus menetap disana “ tante Wati yang tiba-tiba muncul, nimbung.


“Tan…? Bisa kan kalau kabar ini tidak diketahui dulu oleh Wiwin ? Saya khawatir dia kenapa-napa soalnya?”


Selama ini Wiwin sedang membuat jus di dapur. Kali ini orangnya sudah datang membawa empat gelas minuman dingin buatannya


“Jangan khawatir nak Kamal. Kita juga sama-sama sayang sama Wiwin kok. Sekarang orangnya sudah kembali tuh. Sebaiknya kita tutup mulut “  Tante Wati memberi isyarat. Tapi dasar Wiwin orangnya cenderung kocak


“Kalian pada diam dari tadi ?”  setelah menyimpan gelas-gelas minuman yang dibawanya, Wiwin menegur orang-orang yang masih tutup mulut. Untung om Anwar bisa membuang mencairkan situasi.


“Tenggorokan nak Kamal kering Win. Kita kasihan kalau ngajak ngobrol juga.”


“Ya, sekarang saya udah bawa penghilang hausnya nih. Maaf, dibelakangnya agak lama.”


Setelah semuanya berkumpul, tentu saja topik pembicaran berbeda. Kali ini kebersamaan mereka lebih ke saling curahkan rasa kangen. Sedikit pun tidak menyinggung masa lalu. Karena dari ke empat orang ini, sekarang salah satunya Kamal


“Tan, besok kita jalan-jalan ke mall ya ?”  Kali ini ngobrolnya sambil makan malam. Wiwin usul


“Mau ke mall, pangeran-pangerannya di ajak nngak?”  Oom Anwar nemanbah suasana tambah hangat


“Kalau cowok-cowoknya ikut, nanti kalau ada Oom-Oom  berduit naksir kita, bakalan ngak jadi di belanjain kitanya ya tan ?” canda Wiwin


Grr! Yang sedang makan tertawa semua kecuali Kamal


“Nak Kamal jangan diam aja . Kita juga bisa kan gaet mami-mami berduit? Kita kan cowok-cowok ganteng yang bisa diperhitungkan juga. Apalagi nak Kamal”


“Oomnya Wiwin ternyata bisa menerima aku. Padahal mantan Wiwin yang masih mencintainya itu anak bossnya” gumam dalam hati Kamal sambil memutar-mutar gelas yang masih berisi air. Makannya hanya sedikit karena maagnya masih belum sembuh”  Dan kali ini hari sudah pagi. Pemuda ini menyambut paginya sambil duduk-duduk di teras sendirian


Pagi harinya setelah sholat Kamal minum susu di teras. Setelah matahari naik beberapa penggal, pemuda itu beranjak, dari tempat duduknya. “Dihalaman belakang seperti banyak pepohonan yang berbuah?”  alasan Kamal kemudian jalan-jalan di halaman belakang. “Ternyata benar disini banyak tumbuh pepohonan yang bisa dimakan buahnya. Siapa yang tanam ini ya ? Apakah Oom, atau tante mengisi waktu luangnya dengan Wiwin?”


Satu pohon di amati Kamal dengan seksama. Pohon kedondong ini sepertinya masih berumur muda?


“Pantesan Oom cari di depan tidak ada ? Rupanya nak Kamal sedang lihat-lihat kebunnya Wiwin dan Tante”


“Jadi semua ini tante dan Wiwin yang urus Oom?”


“Iya. Kalau ada waktu luang, Wiwin dan tante memang suka ngurus kebunnya ini”


“Ternyata rajin juga anak itu..?”  gumam Kamal untuk dirinya sendiri. Tapi Oom Anwar melihat Kamal itu tersenyum sendiri seperti sedang kasmaran. Mungkin itu alasan akhirnya ia pamit


“Nak Kamal, sekarang Oom mau kedalam dulu ya? Kalau masih betah, nak Kamal lanjutkan saja lihat-lihat tanamannya”


“Baik Oom. Mungkin saya akan terus lihat-lihat tanaman bunganya juga yang ada dihalaman sana”


Rumpun melati yang sedang berbunga ditatap Kamal agak lama. Pemuda ini begitu tertarik oleh satu tangkai yang bunganya mulai mekar. Ketika sedang terik-teriknya menatap, iba-tiba kepundaknya ada yang merangkul. Otomatis Kamal langsung membalikkan badannya


“Sudah kuduga, yang melakukan ini pasti kamu”


“Akang suka bunga melati itu ya ?”


“Barusan kamu memanggilku apa ? Ayo ulangi, aku mau mendengarnya lagi?”


“Kalau kita sudah nikah, boleh kan kalau aku memanggilnya seperti tadi?”


“Kenapa tidak boleh. Kita kan sama-sama suku sunda”


“Aku jadi semakin cinta sama kamu “


“Aku juga..”


“Wiwin ! Rupanya sekarang kamu itu sudah menjadi perempuan murahan !”


Kamal yang sedang memegang kedua pundak Wiwin langsung menurunkan tangannya


“Siapa orang itu?”


“Dia Indra mantan aku “


Mendengar nama Indra, ingatan Kamal langsung melambung


“Nak Kamal, di bapa itu ada surat dari yang namanya Indra untuk Wiwin “


“Atas yang dilakukan ayahnya Wiwin, dari dulu aku sudah tidak setuju. Inilah saatnya buat aku untuk meminta maaf terhadap Indra. Bahkan kalau perlu, aku akan mengembalikan lagi Wiwin kepadanya hari ini “  ini isi hati Kamal

__ADS_1


“Wiwin memilih dia, pasti karena ketampananya. Terus kalau diantara kita dia punya satu kelebiahan, buat apa sekarang aku meladeni dia? Ditambah kini fisikku sudah tidak sempurna. Jadi daripada tambah sakit, mendingan sekarang aku cepat pergi. Biarlah rencanaku ingin silaturahmi kepada yang punya rumah, kali mereka yang menggatikan”  Alasan Indra akhirnya tiba-tiba membatalkan maksud dan tujuan


“Saudara Indra tunggu…! Saudara Indra, saya mau bicara dengan saudara…! Saudara Indraaa!”  Kamal memanggil-manggil. Tapi yang dipanggilnya tidak menghiraukan. Pemuda satu ini terus berjalan dengan terpincang-pincang menuju lagi ke mobilnya. Inilah yang menyebabkan sakit maag Kamal kambuh lebih parah.


__ADS_2