
KAMAL yang bulan ini ketiban rejeki nomplok dari hasil
usahanya dibidang agri bisnis, hari ini sibuk menata rumah karena akan
merayakan ulang tahun anaknya yang sudah berusia genap dua tahun. Satu ruangan
dipenuhi balon dan hiasan-hiasan lainnya yang serba gemerlap. Untuk urusan hias
menghias, pasangan ini memang tidak melibatkan orang lain. Wiwin malah
kelihatan lebih antusias meskipun keringatnya bergenangan di seputar dahi dan
wajahnya yang cantik mulus.
“Bun ? Akhirnya hasil kreatif kita sesuai harapan “
“Iya yah…Dekorasinya berhasil ditata sesuai keinginan aku.
Sekarang tinggal kita mandi dan ngurus yang ultahnya mau dirayakan.”
“Keringatnya bun…?” Kepada istrinya yang tersenyum Kamal mengambil beberapa butir keringatnya
yang hampir jatuh dari kening.
“Ada apa ? Ini bukan ajangnya romantis-romantisan kali, selain
ngemong yang ultah?”
“Tapi buat aku selalu merasa ada yang kurang kalau memanjanya
bukan kepada kalian berdua”
“Pengganggu datanglah supaya laki-laki ini tidak ngelayab
lebih jauh” Wiwin bercanda.Tiba-tiba.
“Ayah… ? Bunda...? Kalau menghiasnya sudah beres, cepetan
pada mandi? Kan sebentar lagi teman-temannya bakal datang?”
Selain menurunkan tangan dari pundak istrinya, Kamal
mengedip sambil tersenyum. “Iya Dan…Kan ini juga ayah dan bunda mau mandi”
“Tapi barusan ayah malah ngusap-ngusap kening bunda ?”
“Itu barusan di kening bunda ada keringat yang mau jatuh Dan
? Benar kan yah?” Wiwin ambil bagian dalam
penyelamatan itu.
“Kalau begitu ayo sekarang Dani dulu yang mandiin bunda. Takut
teman-temannya keburu datang” Dani kali
ini menarik-narik tangan ibunya. Selain tersenyum, ternyata kali ini Kamal
langsung memangku anaknya itu.
“Ayo ! Jagoannya sekarang ayah antarkan ke kamar mandi. Tapi
sambil berjalan kamu harus merasakan ini dulu. Kitik,kitik,kitik…” Sambil
membawa anaknya ke kamar mandi, Kamal menggelitik pinggang Dani.
“Hihi…Geli ayah “ Dani yang merasa geli, terus tertawa-tawa
sambil terpingkal-pingkal.
“Lagi ach…” Selama
belum sampai ke tujuan, Kamal terus menggelitik pinggang anaknya.
“Ayah…! Sungguhan geli tahu !” Kali ini Dani pun membentak ayahnya.
“Iya, iya…Sekarang kamu akan ayah turunkan karena sudah
__ADS_1
sampai”
Anaknya yang sudah diturunkan dari pangkuan, Kamal masih
saja menunjukkan rasa gemas.
“Sebelum masuk kamar mandi, sun dulu ayah”
“Cup…” Dani mencium
pipi ayahnya.
“Makasih sayang…Jug sekarang masuk kekamar mandi bersama
bunda ya? Mandinya yang bersih supaya harum” Setelah oleh anaknya dicium, Kamal
belum juga pergi. Setelah anak dan bundanya masuk ke kamar mandi, baru seorang
ayah yang selangit sayang buah hati dan istri itu kembali kedalam. Kekurangan
yang ada diruangan hasil dekorannya, disempurnakan sambil menunggu yang sedang
mandi.
Tepat pukul satu, tamu undangan mulai berdatangan. Anak-anak
panti yang di undang, sudah hadir didampingi beberapa pengasuhnya. Sebagai
kakek dan neneknya, pak Kosim dan bu Arum datangnya membawa hadiah sepeda yang
dibawa oleh mang Kardi. Saking senang, Dani langsung mau menaikinya. Setelah
itu tamu undangan yang datang, Mia membawa kado juga. Dan yang terakhir datang
adalah Fajar membawa kadonya mobil-mobilan remot. Dua orang ini dianggap tamu
special oleh pribumi. Tapi belakangan keduanya selalu menjaga jarak. Karena Mia
selalu menjaga hubungannya dengan Indra.
kertas kado.
“Kamu harus bilang apa sama Oom dokter?” Kamal membantu
anaknya menerima hadiah.
“Terimakasih Oom dokter” tanpa diajari kata-katanya, Dani mengucap.
“Sama-sama sayang” Fajar mengusap kepala Dani.
“Oom Dokter? Boleh enggak kalau hadiahnya dibuka
sekarang?” Gerrr. Semua undangan yang
hadir pada tertawa.
Fajar jongkok. “Boleh sayang…” Jawab Fajar setelah dekat dengan yang ultah.
Dani yang sedang didamping ayah bundanya langsung merobek bungkus kado. Setelah
isinya terlihat.
“Hore…! Hadiah dari Oom dokter ternyata mobil-mobilan remot”
“Jadi Dani suka hadiah dari Oom ?”
“Suka banget Oom dokter. Oom dokter harus sering main kemari
ya? Nanti kita main mobil-mobilannya berdua” Gerrr ! tamu yang hadir pada tertawa lagi.
“Karena semua tamu undangan sudah hadir, sekarang acaranya
mau saya buka dulu ya? Dan sebelumnya saya akan wawancara dulu sepatah atau dua
patah kata. Selain tasyakuranan atas anak kami yang uasianya sudah dua tahun,
saya juga sebenarnya ingin berbagi kebahagiaan dengan semua tamu yang hadir. Terutama
__ADS_1
anak-anak dari panti. Karena belakangan kami diberi rizki yang berlimpah,
insyaalloh kita ingin berbagi. Semoga tujuan saya ini termasuk tanda syukur
kami atas anugrah yang sudah kita terima. Dan kita semua jadi tambah kebaikan”
“Amin…” yang hadir
mengamini wawancara Kamal. Setelah itu sejumlah amplop yang sudah di isi uang,
dibagikan kepada anak-anak panti. Pengasuhnya menyuruh anak-anak itu ngantri
memberi ucapan selamat kepada yang ulang tahun. Dan berterima kasih kepada ayah
bundanya yang sudah memberi santunan.
“Kalau ini khusus untuk para gurunya… ” Kali ini Kamal mengeluarkan amplop yang
dipisah. “Ayo sekarang semua ibu guru supaya menyambung antrian anak-anak “
“Terimakasih ya pak Kamal. Semoga rizkinya tambah diluaskan.
Dan rumah tangga pak Kamal dan bu Wiwin selalu rukun”
“Amin…” Yang di
do,akan mengangkat kedua tangan.
“Sekarang do,anya silahkan pimpin oleh ustazah “ kata Kamal setelah semua santunan selesai di
serahkan. Pengasuh panti yang senior lalu kedepan. Mickrofon lalu Kamal serahkan
kepada beliau.
“Sebelumnya ayo kita sama-sma bersyukur bahwa hari ini kita
semua bisa berkumpul di acara yang penuh makna ini. Seorang anak memang perlu
perhatian orang tuanya. Disini saudara Dani punya orangtua lengkap yang sangat
menyayanginya. Sedangkan anak-anak yang ada dalam asuhan kami, berbeda-beda
latar belakangnya. Tidak perlu dibahas soal itu karena publik sudah lebih
mengetahui. Sekarang ayo kita doakan, khususnya ananda Dani yang sekarang
usianya sudah genap dua tahun. Wabil khususnya semua anak-anak yang berada
dimana saja, semoga mereka menjadi anak soleh dan solehah seperti yang kita
inginkan. Amin…Bacakan doanya bersama-sama”
Dari awal sampai akhir, acara terselenggara seperti yang
diharapkan pribumi. Tapi setelah para tamu kebanyakan pulang, ada pemandangan
yang membuat pribumi geregetan.
“Mi ? Pulangnya bareng yuk?”
“Nggak ach. Mm aja”
“Kenapa mm Mi? Kan kalian mau pulang ke rumah yang satu
arah? Fajar bawa mobil tuh” Kamal
mencairkan situasi.
“Iya dik Mia. Dik Mia tidak perlu takut sama Indra. Orangnya
jauh ini kok” timbrung Wiwin setengah bercanda. Mungkin karena alasan itu. Mia
dan Fajar akhirnya pulang bareng. Setelah didalam mobil Fajar memberi tawaran.
“Kalau besok mau berangkat kerja, tunggu saja di jalan
cagak. Nanti kita berangkat ke rumah sakitnya sama-sama”.
__ADS_1