Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Generasi Dari Tiga Sisi Dan Hobi (Gadis dalam ikatan 2)


__ADS_3

SEBUAH mobil bak warna putih yang selip di tanjakan pasir mencek, dihampiri sekelompok remaja. Di Alun-alun saat ini sedang berlangsung pertandingan sepak bola. Saking senangnya, mereka rela berangkat dari kampungnya menempuh perjalanan yang cukup jauh, dan untuk yang tinggal separuh ini rupanya sekarang mereka akan mempergunakan teknik sambil menyelam minum air.


Dan ketika dari musolla Kamal dan mang Kardi keluar setelah asar, ternyata remaja-remaja itu langsung beranjak. Kecuali perempuan yang ada dua orang, mereka tetap di tempat asal


“Kang ? Mobil yang selip ini punya akang?”


“Iya. Memangnya kenapa ?”


“Kita mau bantu dorong kang. Tapi kalau mobilnya udah selamat, kita mau di antar ke alun-alun”


Kalau mengantar dulu mereka ke alun-alun, panti akan tambah telat aku menemui yang akan menjual gabah. Tapi kalau tidak di bantu mereka, tadi juga mang Kardi kesulitan


“Udahlah kang, sekarang cepat masuk ke mobilnya…” remaja-remaja itu mendorong-dorong Kamal. Yang tadinya belum, “Iya kang, sekarang cepetan hidupkan mesinnya..” ia akhirnya ikut  mendorong juga


“Ya udah kalau begitu, tolong carikan dulu untuk pengganjal. Batu ke, atau kayu balok”


Setelah diminta Kamal, ternyata si penggila bola itu langsung berhamburan. Tidak lama kemudian, mereka kembali  ada yang membawa batu. Ada yang membawa kayu balok


“Sok kang, sekarang hidupkan mesinnya. Satu…! Dua…! Tiga…!”


“Alhamdulillah…” ucap semuanya setelah ban mobil itu keluar dari keselipannya


“Sok, sekarang pada naik…” kata mang Kardi. Setelah itu remaja yang laki-laki pada naik di belakang.


“Yang perempuan di depan…” Kata Kamal sambil membuka pintunya


“Mia, kamu di sebelah sana ya?” yang namanya Sari menyuruh yang namanya Mia


“Kenapa aku yang di sebelah sana Sar?”


“Emangnya kenapa? Enggak mau deket sopir? Padahal si akangnya duda. Yak an kang?”  yang bernama Sari bercanda. Tapi Kamal tetap dingin, cuek. Setelah semuanya aman, Kamal kemudian menjalankan mobilnya perlahan-lahan karena jalannya berbatu


“Di alun-alun itu…”

__ADS_1


“Ada kompetisi sepak bola antar desa Kang. Hari ini sedang di gelar semi final. Salah satu pesertanya adalah dari desa kami”  Yang bernama Mia nyambar


“Ternyata mereka ini penggila sepak bola. Sedangkan dulu waktu sebaya mereka, aku hobinya trek-trekan


“Rik, lu berani nggk tanyangi gua jajal arena gersang ini?”


“Oke, siapa takut”  terbayang dalam benak Kamal


Mungkin karena dirinya tidak mungkin kalah. “Lu. Mau minta apa kalau missal nanti gua kalah?” kata yang nantang


“Kalau nanti lu yang kalah, Lola pacar lo berikan ke gua karena gua suka sama dia” kata Kamal


“Rik, jadi lu suka sama gua. Sebenarnya gua juga dari dulu suka sama lu “ Yang namanya Lola lari dari pacarnya yang bernama Dedi


“Haha…Balapan belum di mulai, hadiah udah ada di tangan gue. Berarti yang menang gua”


“Fred, beresin tuh si Erik. Bikin gua muak aja”


“Oke boss. Asal jelas aja bayarannya”


Dasar Kamal juga anak orang kaya. “Jhon, hadapi tuh si Fridi. Nih, baayarannya untuk lu. Gua sekarang mau pergi dari sini sama Lola”


“Cep Kamal…! Ke rumah bapak masuknya gang sini !”


Kamal yang sedang nyetir sambil melamun langsung ngerem mobilnya tiba-tiba. Seluruh penumpang yang ada di mobilnya, tak elak bergelimpangan dan saling pegang. Termasuk Mia yang duduk di samping Kamal, kepalanya jadi tersadar di pundak laki-laki ini


“Aduh, minta maaf ya kang ?” kata Mia sambil menatap


“Ya ngak apa-apa” jawab Kamal sambil membuka pintu mobil. Setelah di luar, lalu orang yang tadi sengaja mapag itu di hampiri


“Pak saya minta maaf ya? Tadi mobil saya ini selip”


“Pantesan. Padahal bapak menunggu dari jam dua seperti janji cep Kamal. Anak-anak itu?”

__ADS_1


“Mereka yang membatu pak. Mereka itu mau nonton bola”


“Jadi sekarang aden mau mengantar dulu mereka ke alun-alun?”


“Iya pak”


“Ya udah, kalau begitu mang Kardi aja yang bantu bapak, biar nanti kalau aden pulang ngantar anak-anak, tinggal bayar duitnya”


Seperti itu akhirnya Kamal yang sedang belajar bisnis . Setelah ada kesepakan, mang Kardi turun dari mobil itu. Sedangkan Kamal langsung mengantarkan anak-anak yang mau meninton bola


DI alun-alun tempat berlangsungnya kompetisi, seorang pemain cadangan yang bernomor punggung tiga, dari tribun yang dibuat dadakan oleh panitia penyelenggara, nampat tidak tenang dari tadi. Bukan karena tegang karena belum juga di panggil. Tapi seseorang yang dinantinya belum juga datang


“Itu dia, ternyata sekarang muncul “ gumamnya ketika melihat Mia turun dari mobil bak. “Tapi supirnya terus mengikuti dia?”


Memang Kamal di ajak Mia supaya nonton dulu sebentar


“Mia, di sini aja…” maksud Kamal jangan ke depan


“Iya kang…Kali ini mungkin yang akan menjual gabah itu sedang menunggu. Jadi nggak apa-apa tidak nonton lama juga. Tapi kalau pinal minggu depan, akang wajib nonton ya? Apalagi kalau yang masuk finalnya dari desa aku”


“Yah, semoga aja nanti akang punya waktu “ selain tersenyum, ternyata sebelum pergi Kamal membuka topinya. Wajahnya yang tampan terlihat jelas oleh yang ada ada di tribun. Yang tiadalain Fajar pemain cadangan teman kuliahnya kakak Mia yang bernama Umar, main bola juga hari ini di turunkan full oleh opesial. Pemuda satu ini merasa kecewa karena selama ini ia menyukai gadis itu


Setelah Kamal pergi, Mia langsung menuju ke tribun. “Kak Fajar belum dimainkan?” langsung bertanya kepada orang yang selama ini disukainya itu


“Belum…” dan jawab yang di Tanya, tampak malas


“Ahmad, seperti sudah kelalahan tuh” Mia yang gemar nonton bola sepertinya paham kondisi dilapangan. Dan ternyata setelah itu reporter mengumumkanya


“Saudara-saudara…! Dari kesebelasan TUNAS sepertinya akan ada pergantian pemain !” kata reporter. “Dan yang akan digantikannya adalah nomor punggung 9, Ahmad keluar, dan masuk Fajar lebmayung nomor punggung tiga!”


Ger ! Begitu disebut nama Fajar lembayung, seluruh penonton riuh. Ada yang bersuit, ada yang tepuk tangang. Sedangkan Mia, selain tepuk tangan, gadis ini malah berteriak.”Kak Fajar…! Semangat ya?”


BIasanya kalau Mia sudah menyemangatinya, pemuda ini membalasanya sambil menyarangkan kecupan dari jauh. Tapi kali ini yang dibalasnya itu, orang lain. Tapi sejauh ini Mia tidak memikirkan negatifnya. Mungkin karena yang mengidolakannya itu bukan hanya dirinya. Mia sadar. Dilapangan Fajarpun tetap sportif. Karena kalau masalah pribadi di bawa-bawa, pasti efeknya akan berdampak kepada tim

__ADS_1


“Ya, saudara-saudar…Sekarang kita kembali lagi kelapangan ! Sang bintang Fajar lembayung sekarang sudah masuk kelapangan ! Ya, saudara-saudra, dia langsung diberi bola ! Luar biasa saudara-saudara. Satu…Dua…Tiga orang pemain bisa dilewatinya saudara-saudara. Tapi o, ow..! Apa yang terjadi saudara-saudara. Ternyata pelanggaran di depan gawang. Berarti tendangan penalti untuk kesebelasan TUNAS!”


“Nanti malam kita akan syukuran hadir yah… hadir yah… hadir yah…” Setelah pertandinga usai, Fajar menyalami fans’nyah yang menggerubut. Tapi ke pada Mia dia lewat. Itulah yang membuat gadis itu kini murung.


__ADS_2