Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Pesonanya Masih Ada


__ADS_3

“JADI kalian menemukan orang ini sedang pingsan dikebun sayuran  kalian ?”


Dan ketika Kamal akhirnya di bawa orang-orang yang menolong kepada gurunya.


“Ustad…Sekarang tolong dia beri do’a. Mudah-mudahan orangnya masih bisa diselamatkan.”


“Coba minta segelas air putih “


Salah satu muridnya lalu kebelakang. Setelah kembali.“Ini airnya ustad “  air putih dalam gelas itu, lalu disodorkan kepada gurunya.


Proses agar Kamal bisa siuman, dilakukan kiai dengan membaca do’a. Setelah memanjatkan do’anya selesai, beberapa sendok air lalu dimasukkan ke mulut Kamal. Tidak lama mudian, ternyata kedua mata Kamal langsung terbuka. Tapi pikirannya masih kabur.


“Dimana…? Ada dimana saya…? Haus….Saya haus.”


“Ini air…Silahkan minum “


“Bismillahirrohmanirrohim…”ucap Kamal sebelum minum. Setelah tenggorokannya yang kering diberi minum, ternyata tubuhnya jadi lebih terasa segar.


“Mau nambah ?”


“Cukup dulu…Terimakasih atas kebaikan semuanya “


“Kalau begitu sekarang makan ya ? Mungkin dari pagi saudara belum makan ?”


Ketika ditawari makan, air mata Kamal tiba-tiba bergenang. “Karena mau memastikan apakah korban yang ditemukan warga di jembatan itu Andi atau bukan, memang aku jadi lupa mengisi perutku sendiri. Sekarang  perutku memang lapar sekali. Tapi aku jadi banyak merepotkan mereka “


“Syarip, ngambil nasi ke ibu “  kata kiai ketika Kamal tetap diam. Yang disuruhnya tidak membuang-buang waktu. Begitu diperintah, langsung bangkit dan pergi.


“Neng Fifah, akang disuruh ngambil nasi sama ayah neng Fifah. Ibunya lagi kemana ternyata tidak ada disini?”


“Ibu lagi solat Kang… Memangnya  abi nyuruh kang Aip ngambil nasi, untuk siapa kang?”


“Barusan kita menemukan seorang pemuda yang pingsan dikebun sayuran neng. Sekarang orangnya sudah siuman. Sebelum kita tanya, kata ayah neng Fifah harus di beri makan dulu.”


“Kalau begitu biar saya bantu kang. Kalau semuanya dibawa sama kang Aip kan tidak mungkin bisa.”


“Terimakasih neng. Jangan terlalu banyak lauknya …Makannya juga pasti tak akan banyak.”  Usul  orang itu ketika putri kiai sedang mengalas nasi dan lauknya.


“Subhanalloh…”  Sesampainya dikobong, putri kiai langsung bengong ketika melihat ketampanan Kamal. Sebagai gadis remaja, rupanya ia sangat suka. Apalagi setelah nasi yang dibawanya disimpan didepan Kamal, orang yang mau ditolongnya itu menatap dan berkata.


“Maaf udah merepotkan.”


“Tidak apa-apa kang…Menolong sesama itu kan kewajiban kita ”


“Afifah.., kamu sudah solat belum ?”


Kiai, mengingatkan putrinya yang sedang terpesona oleh Kamal.


“Belum abi…Afifah kan baru pulang sekolah barusan.”

__ADS_1


“Kalau begitu buru-buru sekarang balik lagi kerumah”


“Baik abi…”


Setelah menyimpan nasi dan lauk pauknya, Afifah akhirnya balik lagi kerumah. Tapi setelah bertemu dengan Kamal, hatinya tidak bisa didiamkan gelisah terus. Kamal sendiri setelah makan kondisinya semakin pulih. Yang akhirnya ia bisa menceritakan peristiwa penyebab kepergiannya kepada orang-orang yang ada.


“Jadi kamu pergi dari riumah itu karena di usir ayahmu dan ditampar ?”


“Ayah saya tetap tidak mau menghentikan usaha ribanya itu Ustad.”


“Tapi kamu  harus tetap yakin bahwa suatu saat, Alloh pasti akan menurunkan taufiq dan hidayahnya  kepada ayahmu itu”


“Sekarang KTP saya hilang.”


“Oya, namamu sendiri siapa ?”


“Orangtua saya memberi nama sama saya dari kecil, Kamal Kamaluddin. Sekarang saya mau belajar ilmu agama sama ustad. Sepertinya disini banyak murid yang menuntut ilmu juga ”


“Itu benar, tapi tidak banyak Yah.., keadaan pondok ini memang seperti ini kondisinya”


“Tapi yang penting ilmunya kan Ustad ?”


Hmm…Sepertinya kesungguhan orang ini  untuk menuntut ilmu disini bukan cuma agar dirinya terlindungi ?


“Kenapa Ustad ?”


“Ach tidak…Barusan hanya  sedang  memikirkan  tempat untuk kamu”


“Ada…Pasti ada”


“Kalau begitu terimakasih…Mulai hari ini saya pun resmi mendaftarkan diri sebagai murid Ustad “


“Alhamdulillah…” Ucap semua  yang ada di forum ketika mendengar Kamal berikrar. Setelah itu obrolan di akhiri. Kemudian semuanya sama-sama berangkat kemesjid untuk berjamah solat duhur.


                                                    ***


MENGENAI Kamal yang akhirnya betah dipondok itu, seperti yang lain kali ini dia juga punya kebun sayuran yang sudah musimnya panen. Terhadap putri gurunya, pemuda ini juga sekarang sudah kenal. Malah lebih akrab dari santri lama karena Afifahnya selalu memberi kesempatan untuk ngobrol.


“Lagi menunggunya ya Mal ?”     Salah seorang teman Kamal menghampiri. Saat ini Kamal sedang termenung di kebunnya. Di olok, ternyata pemuda ini tidak diam.


“Jadi kamu tahu Mul, kalau Afifah suka menemuiku ?”


“Semua teman-teman tahu Mal. Tapi kenapa kamu sendiri malah tampak bingung dekat dengan putri guru kita itu ?”


“Sebetulnya aku sudah punya istri Mul”


“Gila kamu Mal…? Sudah menikah, tapi istrinya ditinggalkan ?”


“Ada Afifah tuh Mul sedang menuju kemari. Masalah itu  cukup kamu atau teman-teman aja ya Mul yang tahu ?”

__ADS_1


“Iya Mal…Kalau begitu sekarang aku mau ke kebunku dulu ya ?”


“Assalamualaikum…”   Setelah Mulyana pergi, Afifah muncul. Kamal tersenyum menyambut yang datang


“Waalaikumsalam…”


“Barusan kang Mulyana habis apa dari sini ?”


“E, e..,nggak habis apa-apa Fifah…Sudah beres ya pekerjaan dirumah  ?”


“Sudah kang….Oya…Fifah itu mau bicara sama kang Kamal”


“Bicara apa Fifah ? Aduh.., sampai berdenyut kencang  nih jantung  akang “


“Sejak pertama kali melihat akang, Fifah itu suka sama kang Kamal… Kang Kamal mau nggak jadi pacar Afifah ?”


“Tidak Fifah..,hal itu tidak boleh terjadi”


“Kenapa kang ?”


“Karena Afipah itu anak guru ngaji. Sedangkan akang hanya orang bodoh yang numpang disini”


“Tapi aku mencinati akang …Selama ini sudah banyak yang mau melamar Afifah…Tapi perasaan sama akang ternyata beda.”


“Ya Alloh….Andai saja aku belum menikah dengan Wiwin, pasti ke inginan Afifah itu akan langsung kuterima. Tapi sejauh ini aku tetap yakin, bahwa Wiwin masih setia .”


“Kalau tidak dijawab sekarang, boleh kan Fifah ? Soalnya akang harus mempertimbangkan dulu banyak hal”


“Nggak apa-apa Kang, yang penting ke inginan aku bisa tercapai… Oya, hari ini kang Kamal panen nggak ? Fifah mau bantu lagi kang ?”


“Nggak Fifah…Bayamnya masih pendek…Cabainya juga masih hijau-hijau tuh belum matang. Meski pun nggak ada kerjaan, kamu akan tetap disini ?”


“Iya kang. Pokoknya Fifah mau pulang bareng sama akang nanti. Boleh kan ?”


Untuk yang satu ini ternyata Kamal menjawabnya dengan senyuman. Meski pun putri seorang kiai yang tahu batasan-batasan, Afifah sampai tak berkedip metatap Kamal.  Rupanya hal seperti ini bukan satu-satunya yang belakangan dilakukan gadis ini. Ketika sedang dirumah juga, orangtuanya  sering memergok putrinya  bersikap aneh sejak ada Kamal. Rupanya itu alasan kedua orangtuanya kali ini ngobrol  yang mengarah kesana.


“Abi…? Bagaimana menurut pandangan abi mengenai putri kita yang belakangan akrab dengan pemuda itu?”


“Kalau menurut abi, itu  hal yang wajar umi, mengingat usia putri kita sedang masa puber. Memangnya kenapa ?”


“Barangkali saja abi berpendapat lain. Soalnya sampai sekarang, ternyata orangnya tetap tidak mau pulang ke orangtuanya.”


“Mengenai masalah itu, nanti juga pasti akan ada jalan keluarnya.  Sudah ya umi, sekarang ngobrolnya sudahi dulu”


“Abi mau kemana bangkit dari tempat duduk ?”


“Mau ke pak RW. Abi mau menanyakan, apakah nak Kamal bisa jadi warga disini atau tidak?”


“Kalau untuk mengganti KTP nya yang hilang, selama ini dia sudah punya KTP sementara kan ?”

__ADS_1


“Hanya untuk waktu enam bulan. Itupun abi bertyanggung jawab kalau memang nak Kamal bukan orang baik-baik.”


Entah sudah mengerti karena oleh suaminya sudah dijelaskan. Istri kiai kali ini jadi ikut bangkit selain tidak berbicara lagi. Namun diamnya itu bukan berarti kepalanya diam. Putrinya dan Kamal dibayangi satu pasangan yang akhinya salah seorang akan ditinggal pergi.


__ADS_2