Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Hikmah


__ADS_3

“BEGITULAH  ceritanya An…Aku pergi dari rumah itu karena sudah ditampar dan di usir oleh ayahku…Sekarang silahkan giliran kamu untuk menuturkan semua yang menyebabkanmu hingga pergi dari rumah. Kalau sudah sama-sama tahu asal usul masing-masing, pasti persahabatan kita akan tambah erat An”


“Kalau menurut aku, kamu masih punya masa depan Mal. Tidak seperti aku yang sudah tidak ada harapan lagi…Selama ini ibu dan saudara tiriku kejam sekali sama aku…Sebetulnya aku tidak sanggup kalau harus menceritakannya lagi.  Atas semua pengadua-pengaduan ibu dan kedua saudara tiriku, ayahku sangat  percaya sama mereka…Puncaknya masalah yang kuhadapi, adalah setelah ayahku meninggal…Setiap hari aku harus melayani mereka seperti pembantu…Daripada setiap hari harus jadi jongos mereka, akhirnya aku memutuskan pergi dari rumah dan melupakan yang seharusnya jadi milikku…Kini aku hanya sama kamu menganggap saudara Mal..Lupakan bahwa  aku pewaris  dari seorang konglomerat  yang memiliki beberapa perusahaan…Itu hanya sebuah impian dan masa lalu…Setelah di Jakarta aku ini sekarang tak lebih sebagai gelandangan yang tidak ada gunanya…Itulah kalau yang kusesali dari hidup ini. Kalau sedang ingat kemasa lalu, kadang-kadang aku juga suka kepikiran mau bunuh diri agar perderitaan ini segera berakhir. “


“Andi, Andi udah…” Kamal yang selama ini merasa dirinya paling susah, mencoba menenangkan Andi. “Sebagai kuli kita kan harus punya tenaga. Bagaimana kalau sekarang kita makan dulu nasi yang sudah ada didepan kita ?”  Kata Kamal. Memang tadi meresa sudah pesan


“Baiklah Mal…Setelah dari pagi kerja terus, memang perutku sekarang udah lapar. Oya, kalau kamu mau makan dengan ikan atau daging, silahkan ambil biar aku yang bayar.  Ternyata hari ini aku dapat rejeki yang lebih.”


“Kok sama ya An ? Hari ini aku juga dapat rejeki yang lebih dari biasanya. Malah kerja aku barusan, sampai  tak ada waktu untuk istirahat. Habis kalau tidak dikerjakan, pasti mereka nyuruh kuli lain. Orang yang terakhir, malah menyuruh aku agar besok menjemputnya lagi An ?”


Karena mereka mendapat rejeki lebih, Kamal dan Andi akhirnya kali ini makan dengan daging. Sedangkan kuli-kuli lama, terpaksa mengadu kepada yang dituakannya. Ternyata bossnya menanggapi serius hal ini.


“Kalian tahu, siapa nama mereka ?”


“Kalau yang baru, tidak boss. Sedangkan kalau yang lama, namanya Andi.”


“Sekarang kalian ikut gua”


“Kemana boss ?”


“Mencari mereka pasti ! Goblok amat kamu !”


“Kalau di jam-jam begini, biasanya mereka dimisolla boss. Menunggu Asar” yang seorang memberitahukan.


“Bagus ! Berarti keadan sepi “


“Boss itu mau menyingkirkan mereka ya ?”


“Katanya setelah ada mereka ? Wilayah kalian jadi dikuasainya.  Ya pasti harus disingkirkan”


“Eh, tunggu  boss…Yang sedang dibawah pohon kenari itu seperti si Andi. Tidak bersama temannya boss “


“Itu lebih bagus lagi. Kalau kita mengeksekusi musuh, kadang repot kalau bukan hanya satu orang. “


“Jadi sekarang bagaimana boss”


“Jelas yang ada dulu kita bereskan. Soal temannya, gampang.”


Ketika dibawah pohon kenari ada Andi sedang sendirian, preman-preman itu akhirnya menuju kesana.  Yang bertanya kepada Andi, ternyata bossnya langsung.


“Nama kamu Andi kan ?”


“Iya ? Memangnya ada apa ?”

__ADS_1


“Keluarkan semua uang kamu !. Sejak kamu beroperasi diwilayah kekuasaan kami, anak buahku jadi sedikit setornya !. Jadi sekarang kamu harus mengantinya !.”


“Aku tidak punya uang…Sungguh”


“Jangan lari, kamu ! Duk !” Andi yang mau lari dikejar. Setelah berhasil ditangkap, lalu ditonjok.


“Lepaskan…Sekarang aku mau solat”


Plak ! Plak ! “Sebelum kamu menyerahkan seluruh uang, kami tidak akan melapaskan kamu !”


Duk ! “Iya !”   Andi terus dikeroyok oleh lima orang itu.


“Mal dimana kamu…? Ya Alloh.., tolong lindungi sahabat baikku itu?” Andi yang sudah tidak berdaya dan babak belur, tiba-tiba khawatir terhadap Kamal. Rupanya ia takut sahabatnya senasib dengannya. Dianiaya oleh preman-preman itu.


                                           ***


“KEMANA  Andi ya?”    Ketika malam harinya Andi  tidak datang ketempat biasa, Kamal pun kaget. Dan biasanya kalau belum mau tidur, mereka suka duduk-duduk dulu dibalai pedagang kaki lima. Kali ini Kamal pun melakukannya  sendirian. Tiba-tiba ketempatnya duduk itu ada dua orang yang lewat sambil ngobrol.” Orang yang dijembatan itu seperti mau bunuh diri ya?” katanya.  Kamal pun lalu mengejar orang itu.


“Pak,pak…? Benar dijembatan itu ada orang yang mau bunuh diri ?”


“Iya dik, dijembatan sana ada orang yang seperti akan bunuh diri tuh? Soalnya barusan sudah melihat terus kebawah jembatan yang airnya sangat deras”


“Orangnya seumur berapa kira-kira pak ?”


“Wah, itu pasti dia “


“Siapa dik ?”


“Teman saya… Oya pak, terimakasih atas inpormasinya. Sekarang saya mau buru-buru kesana. Permisi ya pak “


Sesampainya ditujuan , sudah tentu Kamal  langsung memburu orang yang memang benar-benar temannya.


“Di.. ? Kamu itu kenapa Di…?” Kata Kamal sambil memegang tangan Andi.


“Aku dirampog Mal…Selain dompetku diambil, mereka  menyiksaku sampai babak belur kayak gini”


“Berapa orang jumlah mereka Di ?”


“Lima termasuk pimpinannya Mal …Mereka itu sangat biadab. Terus terang aku jadi putus asa “


“Kamu jangan bicara seperti itu An. Ingat, putus asa itu dosa. Daripada kedinginan disini, mendingan sekarang kita pulang yuk ?”


“Maaf Mal, aku belum mau pulang. Kamu aja pulang duluan.”

__ADS_1


“Andi  mohon…Kita ini berteman. Kalau uangmu habis dirampog, hari ini aku jstru mendapat yang lebih.   Jadi aku harap kamu jangan memikirkan lagi uang yang sudah hilang itu An.”


“Iya  Mal, aku akan turuti saranmu. Tapi bagaimana kalau sekarang kamu dulu yang pulang. Ingat,  tempat itu jangan ditinggal-tinggal. Bagaiamana kalau  nanti jadi ditempati orang lain. Bukankah itu istana kita yang paling nyaman diantara tempat-tempat yang pernah kita miliki?”


“Baiklah kalau begitu An. Tapi disini sangat dingin. Kamu pakai jakketku  ya ? Terus nanti segera susul aku.  Oke?”


Terhadap Andi yang jiwanya sedang mengalami tekanan, Kamal  bukan main merasa iba. Supaya orangnya tidak tambah menderita ditembus angin malam, ternyata Kamal rela membuka jakketnya. Setelah melihat oleh Andi dipakai, baru Kamal berani  meninggalkannya.


Pukul lima pagi, Kamal sudah dibangunkan oleh satpan. Tapi pas ia bangun, Andi sudah tidak ada. Seorang satpam  segera menyuruh Kamal  agar membersihkan depan toko yang biasa dijadikan tempat tidurnya kalau malam hari dengan Andi itu.


“Cepat bangun… ! Disungai ada sesosok mayat  yang ditemukan warga tuh !  Apa itu temanmu ?”


“Massa Alloh…Kalau begitu semalam Andi tidak pulang?”   pikir Kamal sambil terus lari. Sesampainya di TKP ternyata sudah banyak polisi yang berbaur dengan warga sekitar.


“Orang-orang sekarang, memang sudah banyak yang pikirannya sempit…Ingin mendapat uang itu mau dengan cara yang mudah…Dan bila tidak tercapai, ternyata kalau tidak jotos  saiangannya, ya bunuh diri seperti orang malang disana itu.”


Yang bicara itu, tepat disamping Kamal yang sedang cemas.


“Orangnya sudah dikenali pak ?”   Terhadap orang itu Kamal memcoba minta inpormasi yang bisa mengakhiri ketegangannya.


“Belum dik. Sebab wajah orangnya sendiri penuh dengan luka tusukan. Satu-satunya yang bisa memudahkan tugas polisi, mungkin hanya kartu identitasnya dik. Itupun kalau ada.”


“Ya Tuhan…” Dompet serta identitasku sendiri ada dijakket yang semalam dipakai sama  andi ?”


“Kenapa dik ? Kok adik tiba-tiba  meraba-raba saku celana dan bajunya.?”


“Iya pak. Barusan bapak mengatakan identitas korban,  saya malah jadi ingat KTP saya sendiri yang ketinggalan dirumah.  Pemisi  pak, bu. Sekarang saya mau mencarinya dulu “


Dari kerumunan itu, akhirnya Kamal pergi lagi dengan buru-buru. Dan diantara mereka, ternyata ada juga yang iseng-iseng  nanya terhadap  orang yang barusan menjadi lawan bicara Kamal.


“Kenapa orang itu lari-lari ?”


“Katanya kehilangan dompetnya.  Waktu mau melihat kemari, dijalannya bubu-buru kali?”


Dari lokasi kejadian, memang Kamal pergi setengah lari. Maksudnya supaya cepat jauh dari lokasi TKP.  Kembali ketempat asal, ternyata  toko sudah dibuka. Larak-lirik mencari Andi. Untung satpam yang tadi tidak ada. Kalau ada pasti orangnya akan marah karena koran bekas alas tidurnya, tadi belum sempat dibersihkan.


“Cari kepasar ach, mungkin Andi sudah berangkat kerja ?”   alasan Kamal kali  ini menuju kepasar. Tapi ternyata dipasar juga Andi itu tidak ada. Demikian pula orang yang mengganggunya kemarin tidak ada berkeliaran seperti biasanya.


“Kemana ya dia ?”  pikir Kamal setelah mulai bosan mencari Andi. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar . “Jamret ! Jamret !”


“Ada  jamret ?  Kalau aku tetap saja disini, bisa-bisa  menemukan masalah yang tidak diduga. Kalau begitu aku harus buru-buru pergi juga dari sini “


Itulah alasan Kamal kemudian berhenti mencari Andi. Tapi tujuannya mau kemana, masih belum tahu. Mengingat KTP nya sendiri tidak ada, akhirnya Kamal hanya pergi dengan mengikuti langkah kakinya sendiri.

__ADS_1


“Sudah sampai dimana aku lari…? Berada dimana aku sekarang…?”    Kali ini Kamal seperti setengah sadar dan tidak. Keringatnya mengucur membasahi seluruh bajunya.  Tubuhnya yang sudah sangat lemah, kini disandarkan kesebuah batang yang ada dikebun sayur. Setelah kepanasan dan kehausan yang berlebih,  pemuda ini  akhirnya pingsan dan ditemukan pemilik kebun.


__ADS_2