
HARI ini Kamal benar-benar mengajak Mia kesuatu tempat.
Disebuah dangau tempat menunggu pipit di sawah, dua orang yang berbeda status
ini sepintas seperti yang sedang berpacaran. Mia serius mendengarkan ketika
Kamal bertutur sambil berhadap-hadapan.
“Begitulah ceritanya Mi. Atas peristiwa ini aku benar-benar merasa
terpukul…Lebih dari seperti di pukul malah. Selain merasa sakit akibat tamparan
dari kenyataan itu, sekarang hidupku juga jadi merasa hampa…Dan semua ini jelas
akibat orang yang selama ini kuncintai berbuat yang tidak terduga”
“Mi…?” Keheningan
dipecahkan lagi oleh Kamal. Setelah yang disapanya melirik. “Hubungan kamu
dengan Indra bagaimana? Maksud aku apa selama baik-baik saja?”
“Maksud akang kalau tidak baik-baik saja sekarang kita bertukar
pasangan?”
“Kan alasannya jelas Mi? Kita sama-sama dikhianati pasangan
sendiri?”
“Tidak kang. Sejauh ini aku masih tetap percaya terhadap kak
Indra. Dia itu orang terpelajar dan terhormat. Tidak mungkin kak Indra berbuat
serendah itu meskipun dulunya sangat mencintai mbak Win”
“Iya juga “ pikir
Kamal setelah Mia berkata panjang lebar. Disaat ia sedang membalak-balik
penjelasan teman curhatnya, HP dalam saku jakketnya tiba-tiba berbunyi. Setelah
dibuka ternyata ada catting yang mengharuskannya segera kerumah sakit.
“Mi ? Ngobrolnya sudah dulu ya ?”
“Catting dari siapa barusan kang?”
“Dari dokter kepala. Katanya aku harus sesegera datang ke
rumah sakit”
Dari tempat yang sudah di pilih untuk pertemuan, Kamal dan
Mia akhirnya mangkat. Sesampainya di jalan besar, mereka lalu masuk ke mobil
yang di parkir. Setelah perjalanan sampai di kampungnya, Mia lalu turun.
__ADS_1
Setelah itu Kamal tidak banyak berpikir lagi. Langsung tancab gas menuju ke
rumah sakit.
Sesampainya ditujuan, Kamal langsung menuju ruang kepala.
Ternyata yang mau ditemui sedang menunggu.
“Selamat datang pak Kamal. Silahkan duduk”
“Terimakasih dok”
“Oya? Kalau boleh tahu? Untuk apa ya dokter menyuruh saya supaya
sesegera datang kerumah sakit itu?”
“Begini pak Kamal. Tapi sebelumnya atas nama pribadi dan kru
yang mengabdi di puskesmas ini, saya minta maaf atas ketidak telitian salah
satu nakes disini mengenai laporan hasil leb pasien. Yang punya riwayat leukemia
itu ternyata bukan ananda Dani putranya pak Kamal. Melainkan ananda Dani
putranya pak Jamal. Otomatis hasil cekup pak Kamal yang dilakukan kemarin tidak
cocok dengan hasil leb yang sudah ada itu. Sekali lagi saya minta maaf atas
kesalahan menyebut satu huruf itu. K dan J, ternyata bermakna besar kalau
sedang kondisi darurat”
tubuh Kamal lunglai tidak berdaya. Ia menyasal sekali atas apa yang sudah
terjadi. Sedangkan sakit hati yang sudah dimarahinya, belum tentu sembuh
sekejap. Itulah alasan ia merasakan lemasnya sekujur badan.
“Minta maaf…Sekarang aku harus buru-buru minta maaf kepada
Wiwin yang sudah dituduh yang nggak-nggak”
Alasan Kamal akhirnya buru-buru pamit dan keluar dari
ruangan kepala.Tapi yang mau di mohon kata maafnya ternyata tidak ada. Ruangan
tempat Dani di rawat kini sudah kosong. Lelaki ini tidak membuang-buang waktu.
Waktunya terus diburu supaya tidak terbuang percuma. Sesampainya di rumah, yang
pertamakali ditemukan adalah sang buah hati yang sedang dalam gendongan bi Ijah.
Setelah di diambil dari pangkuan bi Ijah, Kamal lalu memeluk erat anaknya itu seolah
takut lepas. Selama memeluk erat, airmata Kamal tak terbendung saking menyesal
pernah mengganggap anak ini bukan darah dagingnya.
__ADS_1
“Ayah ? Ayah itu darimana aja ?”
“Maafkan ayah Dan…Ayah memang bukan ayah yang baik”
“Semalam bunda nangis karena rambutnya di jambak oleh Dani”
“Kenapa Dani menjambak rambut bunda?”
“Habis bunda tidak mau panggil ayah. Ya, sudah. Dani jambak
aja rambutnya ”
Mendengar anaknya berbicara seperti orang dewasa, air mata
Kamal semakin subur keluarnya. Pernyataan Dani, tergambar oleh Kamal. Diminta
yang ia tidak mungkin bisa memenuhinya, pasti Wiwin akan beralasan dengan
berbagai cara.
“Bi istri saya dimana ? Kok dari tadi tidak kelihatan?”
“Ketika melihat ada mobil aden datang, tadi neng Wiwin
langsung keluar lewat pintu belakang den. Setelah itu tidak ada balik lagi ”
“Setelah apa yang kulalukan kepadanya, sangat mungkin kalau
Wiwin tidak mau bertemu aku. Tapi itu tidak boleh terjadi” Gumam dalam hati
Kamal.
“Bi? Sekarang Dani gendong lagi sama bibi. Saya mau mencari
istri saya kebelakang” Alasan Kamal lalu
mengembalikan lagi anaknya kepada bi Ijah. Setelah itu Kamal keluar melalui
pintu belakang. Tapi yang dicari ternyata tidak ada. Kamalpun lalu masuk lagi
ke dalam.
“Bi. Istri saya ternyata dibelakang tidak ada?”
“Tidak ada den ? Lalu kemana neng Wiwin kalau ternyata
dibelakang tidak ada?”
“Sekarang saya mau coba mencari ke tempat lain ya? Tapi
selama saya tidak ada, bibi yang bener jaga Dani”
“Baik Den. Bibi pasti bakal ngestokan pesan aden”
Setelah berpesan kepada bi Ijah, Kamal lalu keluar.
Setelah diluar, mobilnya yang sebentar terparkir dinaiki lagi. Tidak lama
__ADS_1
kemudian mobilnya bergerak meninggalkan halaman. Dan terus menuju ke jalan
raya.