Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Orangtua Berhaji Anak Di Uji Bagian 3


__ADS_3

HARI ini Kamal benar-benar mengajak Mia kesuatu tempat.


Disebuah dangau tempat menunggu pipit di sawah, dua orang yang berbeda status


ini sepintas seperti yang sedang berpacaran. Mia serius mendengarkan ketika


Kamal bertutur sambil berhadap-hadapan.


“Begitulah ceritanya Mi. Atas peristiwa ini aku benar-benar merasa


terpukul…Lebih dari seperti di pukul malah. Selain merasa sakit akibat tamparan


dari kenyataan itu, sekarang hidupku juga jadi merasa hampa…Dan semua ini jelas


akibat orang yang selama ini kuncintai berbuat yang tidak terduga”


“Mi…?”  Keheningan


dipecahkan lagi oleh Kamal. Setelah yang disapanya melirik. “Hubungan kamu


dengan Indra bagaimana? Maksud aku apa selama baik-baik saja?”


“Maksud akang kalau tidak baik-baik saja sekarang kita bertukar


pasangan?”


“Kan alasannya jelas Mi? Kita sama-sama dikhianati pasangan


sendiri?”


“Tidak kang. Sejauh ini aku masih tetap percaya terhadap kak


Indra. Dia itu orang terpelajar dan terhormat. Tidak mungkin kak Indra berbuat


serendah itu meskipun dulunya sangat mencintai mbak Win”


“Iya juga “  pikir


Kamal setelah Mia berkata panjang lebar. Disaat ia sedang membalak-balik


penjelasan teman curhatnya, HP dalam saku jakketnya tiba-tiba berbunyi. Setelah


dibuka ternyata ada catting yang mengharuskannya segera kerumah sakit.


“Mi ? Ngobrolnya sudah dulu ya ?”


“Catting dari siapa barusan kang?”


“Dari dokter kepala. Katanya aku harus sesegera datang ke


rumah sakit”


Dari tempat yang sudah di pilih untuk pertemuan, Kamal dan


Mia akhirnya mangkat. Sesampainya di jalan besar, mereka lalu masuk ke mobil


yang di parkir. Setelah perjalanan sampai di kampungnya, Mia lalu turun.

__ADS_1


Setelah itu Kamal tidak banyak berpikir lagi. Langsung tancab gas menuju ke


rumah sakit.


Sesampainya ditujuan, Kamal langsung menuju ruang kepala.


Ternyata yang mau ditemui sedang menunggu.


“Selamat datang pak Kamal. Silahkan duduk”


“Terimakasih dok”


“Oya? Kalau boleh tahu? Untuk apa ya dokter menyuruh saya supaya


sesegera datang kerumah sakit itu?”


“Begini pak Kamal. Tapi sebelumnya atas nama pribadi dan kru


yang mengabdi di puskesmas ini, saya minta maaf atas ketidak telitian salah


satu nakes disini mengenai laporan hasil leb pasien. Yang punya riwayat leukemia


itu ternyata bukan ananda Dani putranya pak Kamal. Melainkan ananda Dani


putranya pak Jamal. Otomatis hasil cekup pak Kamal yang dilakukan kemarin tidak


cocok dengan hasil leb yang sudah ada itu. Sekali lagi saya minta maaf atas


kesalahan menyebut satu huruf itu. K dan J, ternyata bermakna besar kalau


sedang kondisi darurat”


tubuh Kamal lunglai tidak berdaya. Ia menyasal sekali atas apa yang sudah


terjadi. Sedangkan sakit hati yang sudah dimarahinya, belum tentu sembuh


sekejap. Itulah alasan ia merasakan lemasnya sekujur badan.


“Minta maaf…Sekarang aku harus buru-buru minta maaf kepada


Wiwin yang sudah dituduh yang nggak-nggak”


Alasan Kamal akhirnya buru-buru pamit dan keluar dari


ruangan kepala.Tapi yang mau di mohon kata maafnya ternyata tidak ada. Ruangan


tempat Dani di rawat kini sudah kosong. Lelaki ini tidak membuang-buang waktu.


Waktunya terus diburu supaya tidak terbuang percuma. Sesampainya di rumah, yang


pertamakali ditemukan adalah sang buah hati yang sedang dalam gendongan bi Ijah.


Setelah di diambil dari pangkuan bi Ijah,  Kamal lalu memeluk erat anaknya itu seolah


takut lepas. Selama memeluk erat, airmata Kamal tak terbendung saking menyesal


pernah mengganggap anak ini bukan darah dagingnya.

__ADS_1


“Ayah ? Ayah itu darimana aja ?”


“Maafkan ayah Dan…Ayah memang bukan ayah yang baik”


“Semalam bunda nangis karena rambutnya di jambak oleh Dani”


“Kenapa Dani menjambak rambut bunda?”


“Habis bunda tidak mau panggil ayah. Ya, sudah. Dani jambak


aja rambutnya ”


Mendengar anaknya berbicara seperti orang dewasa, air mata


Kamal semakin subur keluarnya. Pernyataan Dani, tergambar oleh Kamal. Diminta


yang ia tidak mungkin bisa memenuhinya, pasti Wiwin akan beralasan dengan


berbagai cara.


“Bi istri saya dimana ? Kok dari tadi tidak kelihatan?”


“Ketika melihat ada mobil aden datang, tadi neng Wiwin


langsung keluar lewat pintu belakang den. Setelah itu tidak ada balik lagi ”


“Setelah apa yang kulalukan kepadanya, sangat mungkin kalau


Wiwin tidak mau bertemu aku. Tapi itu tidak boleh terjadi” Gumam dalam hati


Kamal.


“Bi? Sekarang Dani gendong lagi sama bibi. Saya mau mencari


istri saya kebelakang”  Alasan Kamal lalu


mengembalikan lagi anaknya kepada bi Ijah. Setelah itu Kamal keluar melalui


pintu belakang. Tapi yang dicari ternyata tidak ada. Kamalpun lalu masuk lagi


ke dalam.


“Bi. Istri saya ternyata dibelakang tidak ada?”


“Tidak ada den ? Lalu kemana neng Wiwin kalau ternyata


dibelakang tidak ada?”


“Sekarang saya mau coba mencari ke tempat lain ya? Tapi


selama saya tidak ada, bibi yang bener jaga Dani”


“Baik Den. Bibi pasti bakal ngestokan pesan aden”


Setelah berpesan kepada bi Ijah, Kamal lalu keluar.


Setelah diluar, mobilnya yang sebentar terparkir dinaiki lagi. Tidak lama

__ADS_1


kemudian mobilnya bergerak meninggalkan halaman. Dan terus menuju ke jalan


raya.


__ADS_2