Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Safari


__ADS_3

HARI ini tanggal sepuluh. Syafira dan tante Wati turun dari


pesawat ber iringan. Dibelakang dua perempuan ini Indra dan Oom Anwar, keduanya


sama-sama menenteng kopor besar. Resepsi pernikahan Mia dan Fajar tinggal tiga


hari lagi. Itulah alasan kedua keluarga kecil ini terbang  dari bandara POLONIA menuju bandara SUKARNO


HATTA. Tujuannya, karena sama-sama mau hadir di  perhelatan itu.


 Setelah tiba di


parkiran, dua keluarga yang tadinya bersama-sama itu jadi berpisah karena


keluarga Indra di jemput supirnya pak Suherman, sedangkan tante Wati dan OOm


Anwar naik taksi karena tujuannya mau langsung kerumah Wiwin. Sedangkan meskipun


disana ada rumahnya, kota Bandung akan dilewati karena semenjak tugasnya di


oper ke luar jawa, huniannya itu sudah dikontrakan kepada seseorang. Karena


masih dikawasan Jakarta, perjalanan Indra dan keluarganya tidak lama sampai.


Pak Suherman dan bu Ranti menyambut yang baru datang penuh suka cita. Sang cucu


oleh bu Ranti diambil dari gendongan ibunya. Sedangkan pak Suherman menggandeng


Indra yang menenteng koper. Setelah seluruh bawaannya dibawa kedalam oleh


pembantu, Indra dan ayahnya lalu sama-sama masuk kedalam.


Pada saat yang bersamaan, taksi yang ditumpangi Oom Anwar


dan istri makin cepat melaju di jalan tol k. Di rumah yang mau ditujunya


sendiri, Wiwin dan Kamal masih terus berbenah, dari mulai membereskan tempat


tidur untuk tante dan Oomnya, sampai hal-hal lain yang sekiranya dibutuhkan


tamu. Dan Dani satu-satunya anak mereka yang sudah berusia enam tahun,


keruangan manapun orangtuanya pergi, anak ini pasti ikut sambil tidak berhenti mengoceh.


“Bunda..? Bunda…? Jadi nenek cantik nanti tidurnya dikamar


ini ?”


“Iya Dan…Jadi untuk sementara, kamu tidurnya sama bunda dulu


dan ayah. Karena kamar kamu juga mau dijadikan tempat menyimpan


barang-barangnya  tante cantik dan Oom


ganteng ”


“Kakek Kardi di belakang mau membuat tempat mancing ya ?”


“Iya…Kan Oom ganteng suka mancing…Jadi tempat duduknya harus


nyaman”


“Jadi dibelakang kakek Kardi itu mau bikin sopa?”


Kamal dan Wiwin sama-sama tertawa. “Bukan sopa Dan, tapi


bangku…Bangku itu cukup dibuat dari bambu atau kayu saja…Jadilah tempat duduk


yang sederhana “  Kepada anaknya Kamal


menjelaskan.

__ADS_1


“Sekarang aku mau melihat kakek Kardi yang sedang membuat


bangku dipinggir kolam ach…”


“Jangan lari Dan…”  Kamal memperingatkan anaknya yag tiba-tiba berlari keluar.


“Ikuti yah…Anak kecil diperingatkan mana tahu maksud dan


tujuannya”


Kamal yang sedang membantu beres-beres di kamar, akhirnya


keluar mengikuti Dani. Sesampainya diluar, ternyata anaknya sudah duduk mendeko


didepan mang Kardi yang sedang menggergaji bambu.


“Belum beres mang ?”


“Tinggal pasang siku-sikunya den…Sebentar lagi beres “


“Ya udah…Sekarang saya bantu ya?”  Kamal mengambil satu balok kayu untuk


siku-siku.


Pukul lima sore orang yang di tunggu-tunggunya datang. Tante


Wati dan Oom Anwar yang untuk pertamakalinya ke rumah kemenakannya, langsung


dibuat takjub oleh hunian yang berasitektur kekinian meskipun ada dipedesaan.


“Win…? Rumah baru kamu sangat besar dan megah…? Perabotannya


juga antic-antik. Furniturrnya  keluaran


terbaru seperti yang banyak di iklankan di majalah-majalah “


“Istri saya memang rajin buka majalah-majalah wanita


tan…Kalau pulang kerja, selama ini saya juga sering dibuat kaget dirumah


ini…Orangnya rajin, pasti turunan dari tante”   Kamal beberkan tentang perilaku positif sang istri. Yang dulu


mengasuhnya dari kecil, sangat terharu mendengar perkataan Kamal. Air mata


tante Wati bergenang.


“Tante jadi ingat ke bapak kamu Win…Dulu, ternyata dia


menjodohkan kamu dengan orang yang tepat”


“Tante jangan nangis…Aku juga jadi mau nangis “


Setelah tadi dilepas, Wiwin memeluk tantenya lagi.


“Nenek cantik…!”   Ketika Wiwin dan tante Wati sedang berpelukan, Dani tiba-tiba muncul.


Tante Wati melepaskan ibunya sebelum menyambut anaknya.


“Ini beneran Dani yang suka video call lan sama nenek ?”


“Iya nenek…Emangnya kenapa nenek canti bertanya lagi?”


“Habis kamu berbeda dengan di video call…Aslinya ternyata


kamu lebih ganteng Dan…”


Setelah dipeluk oleh tante Wati, Dani melepaskan diri. “Oom


ganteng…? Sekarang kita mancing yuk…? Tempat duduknya tadi kakek Kardi dan ayah


sudah membuat…”

__ADS_1


“Nanti setelah kakek gantengnya beristirahat dulu sebentar


ya…?” Wiwin dan Kamal sama-sama mengentikan ocehan anaknya. “Sekarang mendingan


nenek canti dan Oom gantengnya kita suguhi dulu air dan makanan“


Dani ternyata langsung mengangguk. Tapi meskipun


keinginannya belum bisa dipenuhi, anaknya terus nempel kepada tante Wati. Oom


Anraw juga ambil bagian meraih bahagia dari kebersamaan itu.


“Besok kalau kedesa, kita sekalian nyekar ke makam Oma


kalian…” kata Pak Suherman disana ketika sama-sama sedang berkumpul dengan


keluarga.


“Syafira, kamu juga belum tahu kampung halaman Papa…Besok


insyaalloh kamu dan Raihan akan bisa menginjakkan kaki di kampung halaman suami


kamu”


“Iya pah…Aku juga sangat ingin tahu tempat masa kecilnya


papa…Dan mungkin selama ini mas Indra sering liburan kesana”


Disini tante Wati pun ada niat ziarah kubur. “Besok kita


ziarah ke makam bapak kamu ya Win…? Waktu meninggalnya tante tidak ada


disini…Setelah meninggal, pemakamannya juga tante belum tahu karena baru


sekarang kesini”


“Iya tan…Kebetulan saya juga sudah lama tidak ke makam ayah…”  Air mata Wiwin bergenang lagi. Tante Wati juga


sama. Didalam benak keduanya lalu melintas.


“Ayah…!”    Wiwin


kecil yang mau dibawa ke Bandung oleh tante Wati, ketika itu menoleh lagi


kebelakang dan memanggil ayahnya yang sedang berdiri di depan rumah.


“Ikutlah kepada tantemu nak…Ibu kamu sudah tiada…Sebagai


bapak, ayah tidak akan bisa mengurus kamu…Bersekolahlah kamu disana…Tuntut ilmu


setinggi-tingginya, biar kamu nanti jadi orang yang sukses”


“Sekolahmu tidak tinggi ya Win…Tapi keputusan orang tua


adalah do’a…Dan ternyata setelah hidup bersama lelaki pilihan ayahmu, hidup


kamu itu tidak kekurangan…Malah lebih dari yang diperkirakan kami selama ini “


“Tan…? Sekarang sebaiknya istirahat dulu…Kalau sudah


istirahat, Oom dan ayah Dani bisa langsung berjamaah Asar di masjid”


“Iya Win…Waktu Asar ternyata sebentar lagi…Sebaiknya


sekarang Oom menyimpan dulu bawaan “


“Sini bawanya sama saya Oom…”  Kamal mengambil kopor dari Oom Anwar. Setelah


pindah tangan, Kamal lalu membawanya ke kamar yang sudah disediakan untuk


tamunya. Untuk yang lain-lainnya, Wiwin juga membantu. Safari pasangan ini di

__ADS_1


hari pertama telah mengharu biru karena selain tempat yang disediakannya


membuat nyaman, sambutan pribuminya juga dibarengi hati yang ikhlas.


__ADS_2