Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Sajian Pagi Siang dan Malam


__ADS_3

MALAM sudah berganti siang. Pukul enam pagi Mamat sudah ke rumah bu Sarah karena hari ini sudah janjian mau berburu lagi dengan Indra. Untuk bekal, sedang di kemas oleh Indra dibantu neneknya. Setelah beres ngemas untuk bekal, Indra lalu menemui Mamat  menyuruh nunggu. Setelah itu Indra balik lagi lalu mengganti pakaiannya di kamar


Di sini, bi Ijah pun sudah membawa dua gelas susu di atas baki untuk majikannya yang sudah jalan-jalan di halaman. Kejadian tadi malam rupanya sudah dilupakan Wiwin dan Kamal. Ketika melihat bi Ijah sudah membawa untuk menghangatkan perutnya, pasangan ini balik ke teras


“Pagi neng, den…Susunya bibi simpan di atas meja ya ?”


“Iya bi terimakasih…Hari ini mukena saya tolong cucikan ya bi ?”


“Jadi eneng sudah mendapat datang bulannya lagi ya?”


“Bi, mang Kardi sedang apa ?”


Kamal mengalihkan perhatian bi Ijah


“Si mamang mah sedang ngopi den…Hari ini aden mau pergi lagi dengan si mamang kan ?”


“Iya bi. Makanya kalau si mamangnya sudah ngopi, suruh kesini dulu ya ?”


“Baik den “


Bi Ijah akhirnya kebelakang lagi. Setelah bi Ijah tidak ada, Kamal lalu caper lagi didepan istri tercinta.


“Biar perutnya tidak perih, susunya minum dulu Win”


Ternyata orang yang diperhatikannya ini tidak menolak


“Hari ini akang mau cari barang ke daerah mana?”


Setelah sama-sama duduk dikursi yang ada di teras, Wiwin ngajak ngobrol sambil minum susu itu. Sebelum Kamal menjawab, tiba-tiba mang Kardi muncul


“Den, hari ini kita cari barang ke kampung Ciloa lagi kan ?”


“Iya mang…Kan kata yang menjual gabah ke kita kemarin, tetangganya mau menjual gabah sebanyak satu ton…Berarti hari ini saya juga harus bawa uang yang banyak “

__ADS_1


“Ci Loa itu di daerah mana kang ? Kalau orangnya menjual gabah banyak, berarti orang-orang disana pada luas sawahnya ?”


“Sudah pasti atuh neng…Bahkan bukan cuma itu kelebihan penduduk Ci Loa…Gadisnya juga cantik-cantik neng. Iya kan den?”


“Mamang itu apa-apaan sih, dari bisnis malah jadi bicara soal gadis…”


“Tapi mang Kardi jujur kan kang ? Terus kenapa akang malah ngomentar seolah kata-kata mang kardi itu salah ?”


“Waduh…! Barusan aku keceplosan tuh…Akhir-akhir ini den Kamal kan jadi kerap bertemu dengan neng Mia walau tidak sengaja? Ach..,Daripada nanti aku bingung menjawab kalau ditanya oleh neng Wiwin, mendingan sekarang aku buru-buru pergi. Mungpung den Kamal sedang kebingungan.


“Den, sekarang mamang mau menyiapkan air minum dan segala sesuatunya untuk bekal kita di jalan ya?”


“Iya mang…Tali rapia dan jarum pengarut juga jangan lupa”   pesan Kamal. Ternyata mang kardi cukup mengangguk dan setelah itu buru-buru pergi.


Sepeninggal mang Kardi, lagi-lagi Kamal mendapat buah yang rasanya pahit seperti semalam. Karena setelah mang Kardi tidak ada, ternyata Wiwin menabur rasa cemburunya.


“Pantesan akang senang sekali dengan bisnis ini ? Rupanya karena mudah kontak dengan wanita manapun yang disuka ?”


“Sekarang kamu mau kemana ? Kok, meninggalkan suami yang masih betah berduaan?”


“Susunya belum habis…Ayo sekarang balik lagi dan habiskan dulu”


Setelah tangannya berhasil dipegang oleh Kamal, ternyata Wiwin menghentikan langkahnya


“Kalau mau jadi suami yang baik, kerjalah yang ikhlas untuk menafkahi keluarga…Maagku kambuh lagi ternyata…Sekarang aku hanya mau menenangkannya sebelun ada makanan yang bisa diterimanya”


“Kalau begitu Bi Ijah akan suruh bikin bubur ya?”


“Tidak usyah”


Tangan Wiwin akhirnya dilepaskan. Tapi setelah itu Kamal termenung beberapa saat.


“Membina rumah tangga itu ternyata tidak gampang. Ada sukanya dan ada dukanya…Dua hal yang berlawanan ini sekarang sedang kerap melandaku…Untuk yang berat mudah-mudahan aku bisa menjalaninya…Untuk yang indah mudah-mudahan kedepan lebih sempurna lagi menghiasi biduk rumah tangga kami”

__ADS_1


“Amin…Aden sedang berdoa supaya cepat diberi momongan rupanya ? Sekarang neng Wiwinnya sudah ke kamar den ?”  bi Ijah mengamini do’a Kamal


“Sudah bi…Kalau mang Kardi, sudah menyiapkan air dan lain sebagainya juga kan?”


“Sudah den. Kalau si mamang malah sudah sarapan…Katanya supaya kalau aden nanti ngajak pergi, ia tinggal berangkat”


Diberi tahu mang Kardi sudah sarapan, ternyata Kamal langsung meninggalkan bi Ijah. Sesampainya didapur, lalu menghampiri orang yang akan di ajak pergi.


“Mamang sudah sarapan katanya? Kalau begitu kita berangkat sekarang”


“Tapi aden belum sarapan kan ?”


“Belum selera mang…Ini gara-gara mamang tadi bicara sembarangan”


“Sekarang neng Wiwinnya kemana den?”


“Tiduran lagi dikamar…Katanya sih maagnya kambuh…Tapi saya yakin itu hanya alasan untuk menghindar dari saya”


“Kalau begitu maafkan mamang ya den…Sekarang mamang juga tidak khawatir lagi…Maksud mamang, meskipun nanti aden bertemu dengan neng Mia, mamang tidak akan cemburu lagi sekarang”  kata mang Kardi sambil tersenyum. Setelah itu ia keluar sambil membawa ransel. Sedangkan Kamal sebelum berangkat ternyata ke kamar dulu.


“Win, aku mau berangkat ”   Kamal berdiri didepan tempat tidur. “Kamu jangan lupa nanti harus makan”


“Akang sendiri sudah sarapan belum ?” tanya Wiwin sambil merubah pisisi jadi memunggung.


Kamalpun sekarang jadi duduk. “ Belum…Tapi kalau sudah sekali narik, meskipun tetap nggak ada selera, aku pasti akan makan diluar.”


Apalagi ketika mendengar Kamal akan makan diluar, Wiwin tambah mempertebal selimbutnya.


“Kalau begitu berangkatlah…Semoga selamat”


“Tapi Win, masih ada yang kurang dari kamu…Jadi sebelum pergi, aku akan tunggu kebiasaan kamu dulu”


“Sekarang aku malas bangunnya”

__ADS_1


“Nggak apa-apa, biar aku yang mengalah”


Yang di inginkan Kamal itu ternyata tanda setia dari istri tercinta. Dan itu sekarang sudah dilakukan pasangan ini berbeda dari biasanya. Tapi Kamal tetap membalasnya seperti biasa menunjukkan betapa ia selalu cinta dan menghargai gadis yang dimasa lalunya lama menjadi kekasih orang lain itu.


__ADS_2