
LEMBAYUNG senja sudah mulai terlihat indah diluar. Setelah
pulang bekerja dan mandi, Mia terus mengurung diri di kamarnya. Lain dengan
tante Wati. Setelah mandi dan asar, tantenya Wiwin ini nyantai di ruang tengah.
Tapi tidak berani memanggil Mia meskipun tidak ada teman untuk ngobrol.
“Kring…!” Tiba-tiba
bel rumah. Juga tidak banyak komentar. Dari tempat duduknya tante Wati lalu
bangkit. Terus kedepan untuk membuka pintu.
Hanya setelah pintu dibuka. “Eh papa dan nak Indra
ternyata…?” tante Wati menyapa orang yang
datang.
“Mah…Sekarang cepetan ngambil air minum yang dingin…Sejak
masih di jalan nak Indra itu berkali-kali bilang haus...Sedangkan air bekalnya
sudah habis”
“Kalau begitu sekarang tante mau ambilkan obat hausnya dulu
ya nak In…?” canda tante Wati sambil
tersenyum.
“Yang dingin ya tan?”
“Baik nak…”
Tante Wati rurusuhan pergi ke dapur. Pas sampai di tempat
penyimpanan galon, disana ada Mia yang sedang mengambil air juga.
“Kebetulan”
“Memangnya ada apa tan?”
“Di depan ada Oom dan tamu…Tante mau mengambil air minum
untuk mereka”
“Sama saya saja tan…Nanti saya mau sekalian silaturahmi
kepada Oom”
“Tadinya cuma mau minta dibantu tuanginnya saja…Tapi kalau
di kedepankannya mau sama nak Mia, sekarang tante mau balik lagi ya…? Airnya
dua ya nak Mia, yang dingin…”
“Baik tan…”
Setelah tante Wati pergi, Mia menuangi air dingin dua gelas.
Setelah gelasnya sudah terisi, Mia lalu mengambil tampan dari rak piring.
“Mana air nya mah…?” sesampainya di ruang tamu, tante Wati
langsung ditanya suaminya.
“Sebentar pah masih dituangi”
__ADS_1
“O, iya…? Kan sekarang di rumah kita ada yang tinggal ya mah?” kata Oom Anwar tidak kaget. Karena ia sudah
tahu bahwa di rumahnya akan ada orang yang tinggal.
Tapi Indra lain lagi. “Jadi sekarang disini ada pembantu ya tan?”
“Enak aja pembantu…?” tante Wati langsung menukas. “Dia itu
seorang perawat yang bekerja di Bidan Leni tahu…! Sudah gitu, orangnya cantik,
lagi”
“Kalau begitu maafkan tan…Saya pikir sekarang di rumah tante
ada pembantu…? Ternyata dia salah satu orang yang sudah berjasa merawat istri
dan anak saya “ kata Indra disertai rasa
bersalah. Dan pada saat Indra menyampaikan rasa bersalahnya itu sambil
mengatakan istri dan anak saya, kebetulan bertepatan dengan munculnya Mia yang
membawa air minum. Karena kaget ternyata tamu itu Indra, baki air yang sedang
dibawa Mia langsung jatuh. Gelasnya langsung pecah. Beling pecahannya ada yang
mental kedekat kaki Indra.
“Mia…?!”
Melihat Mia yang bergenang air mata sambil berdiri, dari
tempat duduknya Indra langsung bangkit. “Ngapain kamu disini…?” Pertanyaan
Indra membuat kemarahan Mia tidak bisa di bendung.
“Malah nanya lagi…?! Aku ada disini sudah pasti sedang
kurawat itu ternyata anak dan istri kamu…!”
“Kalau iya kenapa marah…? Ini kan yang kamu inginkan makanya
selama aku di luar negri kamu dan Fajar sering berduaan…! Kamu jangan mengelak
karena aku melihat sendiri foto-fotonya !”
“Foto-foto itu adalah reka yasa ayahmu untuk memisahkan hubungan
kita…! Orang suruhannya sudah jujur sama aku…! Ayahmu itu tidak setuju hubungan
kita karena ayahku dan ayahmu adalah musuh bebuyutan masa lalu!”
“Terus kalau iya, kenapa kamu tidak menghubungi aku dan menceritakan
semuanya…?” Suara Indra melunak. Sedangkan
suara Mia tetap tinggi dan dibarengi emosi.
“Mau menghubungi bagaimana, HP mu juga langsung tidak
aktif…! Selama ini aku juga banyak menderita dan malu oleh orang-orang…! Tapi
ternyata kamu diam-dian sudah menikah,dan melupakan janji kita…!”
Setelah yang di pendamnya dikeluarkan semua, Mia akhirnya
menangis.
“Mia…?” Indra yang
__ADS_1
jadi merasa bersalah mau menghampiri, tapi Mia langsung menghadang dengan kedua
tangannya. “Jangan mendekat ! Karena aku sudah nggak mau melihat wajahmu lagi !
Apalagi didekati…!” Setelah itu ia langsung pergi dan lupa bahwa di rumah ini
ia hanya numpang.
“Mia tunggu…!” Indra mau mengejar. Tapi tangannya di tahan
oleh Oom Anwar.
“Sudahlah nak In…? Sekarang biarkan dulu Mia menenangkan diri
di kamarnya…Nanti kalau dia sudah tenang, kita samperi dia sama-sama sambil
menjelaskan duduk persoalannya”
“Iya nak In…Sekarang mendingan duduk dulu yuk…? Setelah apa
yang terjadi, nak Indra juga perlu menenangkan diri…Persoalan ini jelas-jelas
karena kesalah pahaman”
Setelah di bujuknya oleh suami istri langsung, ternyata
Indra mau duduk kembali meskipun air matanya tetap mewakili ke galauannya.
Sedangkan Mia sendiri pada saat yang bersamaan langsung merarad semua
pakaiannya yang tergantung. Supaya mewakili pamitnya kalau ia pegi diam-diam,
Mia menulis di sehelai kertas. Setelah menurutnya cukup mewakili pamitnya dan
minta maaf kepada pribumi, surat itu Mia simpan diatas baju seragam. Setelah
itu Mia lalu pergi lewat pintu belakang. Dan ternyata selamat tidak diketahui
orang-orang yang sedang di ruang tamu.
“Sudah ada yang adzan…” Celoteh tante Wati ketika tiba-tiba
ada yang mengumandangkan adzan Magrib. “Mungkin nak Mia sekarang sudah tenang
“ alasan tante Wati lalu bangkit, terus
menuju ke kamar Mia. Tidak lama setelah satu-satunya perempuan ini pergi.“
Pah…?! Nak Indra…?! Mianya sudah tidak ada di kamar…!”
Indra dan Oom Anwar langsung berlarian. Sesampainya di kamar
yang pernah ditempati Mia, keduanya pada salah laku. Lebih-lebih Indra.
“Ternyata benar Mia sudah nggak ada…? Padahal banyak sekali
yang ingin kujelaskan padanya…? Tentang ketidak tahuanku mengenai masalah yang
ada…? Tentang kenapa aku memutuskan menikah…? Dan lain sebagainya…? Tapi
ternyata Mia nya sudah meninggalkan aku lagi…?”
“Miaaaaa…!” Indra
yang jiwanya kembali mendapat guncangan, akhirnya berteriak lepas. Setelah itu
pruk ! Tubuhnya yang lemas tidak berdaya jatuh di atas seragam yang di
tinggalkan Mia di atas Kasur dengan surat. Setelah begini, jangankan menemui
__ADS_1
anak istri. Dirinya sendiri harus ditangani dan di bawa ke rumah sakit untuk di
obati.