
SETELAH beberapa hari HP nya tidak diaktifkan, kali ini Inda
mengaktifkannya kerena terdorong emosinya yang menggebu. Disana pak Suherman
yang mau dihubunginya, saat ini sedang berkempul dengan istri dan adik iparnya
yang kini sudah menjadi besan. Syafira juga ada disitu tapi tidak membawa
anaknya karena sedang tidur. Ketika sedang mematangkan rencana aqhiqah anak
Indra dan Syafira, tiba-tiba HP pak Suherman berbunyi nada panggilan. Dan
ketika dilihat siapa yang menghubunginya, satu-satunya lelaki yang ada disini langsung
semberingah. Sehingga bu Ranti yang lebih berwenang atas lelaki yang sudah
menikahinya tiga puluh empat tahun laku itu, buru-buru mengakhiri rasa
kepenasarnya.
“Ada apa kelihatan girang pah…?”
“Indra menghubungi…” celoteh pak Suherman. Syafira dan bu
Ranti langsung berdiri. Sedangkan bu Syerli tetap duduk karena soal problem
yang sedang ada di keluarga ini, ia tidak tahu menau.
“Kalau begitu suaranya kerasin pah…” Syafira dan bu Ranti sependapat. Maksudnya
supaya suara Indra didengar oleh semua yang ada disini.
Pak Suherman ternyata melakukan yang di usulkan istri dan menantunya.
Kalau sebelumnya sulit dihubungi, sudah pasti pak Suherman saat meng oke kan
panggilan dari Indra, dalam pikirannya positif. Indra mau menanyakan keadaan
anak istrinya mungkin? Pikir pak Suherman.
“Akhirnya kamu menghubungi papa juga In…” kata pak Suherman sesuai
situasi dan kondisi. Tapi jawaban Indra sungguh mengejutkan semua.
“Aku benci papa…! Benci sekali…!”
“Jadi kamu menghubungi papa hanya untuk mengatakan itu…?”
Pak Suherman merasa kurang percaya dengan apa yang sudah didengarnya.
“Kamu kalau ngomong ke orang tua, sopanan dikit In…!”
“Pah…! Tadi malam Mia menikah dengan dokter Fajar…! Sekarang
aku sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan orang yang aku cintai…!
Semua ini gara-gara papa…! Jadi aku sangat benci sama papa…! Benci sekali…Sekarang
sudah jelas…!” Kata Indra disana berkali-kali
mengatakan benci kepada ayahnya.
Bu Syherli yang selama ini duduk pun, kali ini langsung bangkit.
“Syafira…! Kenapa kamu bohong sama mama…! Ternyata Indra yang tidak ada itu
bukan sedang bekerja…! Tapi sedang mengejar wanita lain…!” Putrinya dibentak.
Kalau tadi Indra. Kali ini yang merasa seperti mendengar
petir di siang hari itu orang-orang disini. Pas Suherman dan bu Ranti diam
mematung. Mata tidak berkedip, mulut ngangah. Sedangkan Syafira akal sehatnya
hilang entah kenama. Kondisinya mengkhawatirkan.
“Syafira…! Kenapa selama ini kamu diam saja diduakan oleh
__ADS_1
suami itu…! Sekarang mendingan kamu minta pisah saja dari suami kamu yang tidak
bertanggung jawab itu…! Lalu kamu ikut mama ke Malaysia…!”
Mendengar ancaman dari ibunya Syafira yang keras, pak
Suherman dan bu Ranti kompak sama-sama membela menantunya.
“Syerli…Kamu jangan kejam begitu kepada anakmu sendiri…!”
“Iya adik ipar…Syafira itu sangat mencintai Indra…Selama ini
dia bertahan, mungkin karena cintanya itu…Kalau adik ipar tidak percaya, tanyakan
saja kepada anakmu langsung…”
Setelah hanya baru sekali mengeluarkan bum yang mengejutkan
semua orang, ternyata bu Syherli tidak mampu mengulanginya lagi. “Aku tidak
harus menanyakan dulu kepada Syafira mbak…? Mas…? Karena dari dulu aku sudah
tahu, memang Syafira itu sangat cinta sama anaknya mbak dan mas…?”Alasannya.
Menyusul air matanya yang langsung mengalir deras. Dalam benaknya kemudian
melintas.
“Syafira lihat…Oom Herman mengirimkan foto Indra sedang
bersama kekasihnya…Kekasih Indra cantik sekali ya Syafira…? Namanya tuh ada
dibawah…Nama lengkapnya Wiwin Winarti Sukmadikarta”
Ketika itu yang dikirimkan pak Suherman memang foto Indra
dan Wiwin ketika mereka baru jadian. Setelah melihatnya sekilas, ketika itu Sfyafira
langsung pergi lalu masuk kekamarnya.
menginginkan mas Indra itu jadi pacar aku…Tapi ternyata sekarang mas Indra
sudah punya pacar yang sangat cantik…Kini aku jadi tidak punya kesempatan untuk
mendapatkan mas Indra…” ratap Syafira waktu itu. Bu Shreli mengitip dari balik
pintu.
Kali ini Syafira sudah mendapatkan Indra yang selama ini
dicintainya itu dan menjadi suaminya. Buah cintanya malah sudah lahir.
Tiba-tiba mamanya menyuruh mereka berpisah. Syafira pun langsung bersimpuh.
“Mah…? Mohon jangan menyuruh aku pisah dari mas Indra…Sejak
kami menikah memang sikap mas Indra kurang baik terhadap aku…Mungkin karena mas
Indra masih terobsesi oleh mantannya yang canti-cantik…? Tapi aku yakin suatu
saat mas Indra akan berubah…Dan dia akan kembali kepada kami, untuk hidup
bersama selamanya…”
Putinya yang memohon sambil tersimpuh, bu Syherli tidak kuasa
menahan sedih. Supaya putinya tidak merasa diabaikan, lalu dipeluk. Setelah
puas memeluk sambil mengusap-ngusap kepalanya yang tertutup hijab, lalu Syafira
dibangkitkannya lagi. “Tidak Syafira…Mama tidak akan memisahkan kamu dari
Indra…Sekarang mama mencabut lagi omomngan mama tadi”
“Beneran mah…?” setelah sebentar membalas pelukan mamanya,
Syafira merenggangangkan tuhubnya lagi supaya bisa menatap mamanya.
__ADS_1
Bu Sherli mengangguk. “Ya…Sekarang mama sudah sadar, bahwa
kamu itu tidak boleh dipisahkan dari bapaknya anak kamu…Malah kalau suami kamu
sudah balik, mama akan langsung menyerahkan perusahaan agar dikelolanya…Harapan
mama, kalian itu nanti hidup bahagia dengan tidak ada kekurangan apapun…”
“Termakasih mah…Sekali lagi terimakasih…” Setelah
merenggangkang tubuhnya sejenak karena mau mendengar jawaban mamanya, Syafira
lalu memeluk mamanya lagi lebih erat. Kali ini bu Rantipun tidak tinggal diam,
kemudian menghampiri yang sedang berbahagia itu lalu ikut ambil bagian atas kebahagiaannya.
Yang patut di acungi jempol disini adalah bu Shreli. Selain cantik ternyata dia
berhati mulia dan bijak. Itu sebabnya dulu ayahnya buru-buru menikahkan bu
Ranti dengan pak Suherman yang menjadi karyawannya. Alasannya karena takut
kakaknya itu dilangkahi oleh adiknya yang punya banyak kelebihan ini.
Melihat pemandangan yang indah dari adik kakak yang kini
jadi besan itu, pak Suherman hanya bisa diam. Tapi hatinya lega. Sebelum duduk
kembali, penglihatannya yang suram karena ada air mata ditepis dulu. Setelah
nyaman duduk, baru pak Suherman menghela nafas panjang.
“Satu masalah akhirnya sudah terselesaikan…Adik ipar malah
akan menyerahkan perusahaan yang selama ini masih dipercayakan kepada pak Anwar
pamannya Wiwin…Kalau secara keduniawian, Indra anakku sebenarnya beruntung
punya istri yang harta warisannya tidak akan habis tujuh turunan…Tapi mungkin
bagi anak muda, yang nomor satu itu adalah cinta. Cinta dan cinta. Haaah…”
Bu Ranti menghampiri suaminya yang mengelus dada. “Pah…? Apa
yang membuat papa masih nampak bingung itu?”
“Ya pasti memikirkan anak kita yang laki-laki itu mah…Kenapa
tadi dia berkata seperti itu sama papa?”
“Sebaiknya sadari kesalahan sendiri pah…Penyebab semua ini
jelas gara-gara papa begitu dendam kepada ayahnya Mia “
“Iya mah…Sekarang papa memang sudah sadar…Untuk itu kalau
ada kesempatan, dengan Panji papa itu mau islah…Tapi kapan ya ? Papanya juga
sibuk terus ?”
“Nggak usah bingung pah…Setelah menikah, Mia pasti akan
mengadakan resepsi. Mereka pasti akan mengundang kita…Nah, di momen itulah
nanti papa dan ayahnya Mia ber islah…Mama juga nanti akan ikut…Keluarga kita
wajib ikut. Termasuk Indra dan Syafira…”
“Oh iya ya…?” Setelah wajahnya lama murung. Ketika bu Ranti menghampiri dan langsung
memberi ide, pak Suherman jadi tersenyum. Tidak lama setelah itu, Syafira dan
mamanya menghampiri. Keluarga besar ini akhirnya melanjutkan obrolan yang
tertunda. Yaitu mematangkan kembali mengenai
rencana aqiqah untuk cucu mereka.
__ADS_1