Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Bertahan Demi Cinta


__ADS_3

SETELAH beberapa hari HP nya tidak diaktifkan, kali ini Inda


mengaktifkannya kerena terdorong emosinya yang menggebu. Disana pak Suherman


yang mau dihubunginya, saat ini sedang berkempul dengan istri dan adik iparnya


yang kini sudah menjadi besan. Syafira juga ada disitu tapi tidak membawa


anaknya karena sedang tidur. Ketika sedang mematangkan rencana aqhiqah anak


Indra dan Syafira, tiba-tiba HP pak Suherman berbunyi nada panggilan. Dan


ketika dilihat siapa yang menghubunginya, satu-satunya lelaki yang ada disini langsung


semberingah. Sehingga bu Ranti yang lebih berwenang atas lelaki yang sudah


menikahinya tiga puluh empat tahun laku itu, buru-buru mengakhiri rasa


kepenasarnya.


“Ada apa kelihatan girang pah…?”


“Indra menghubungi…” celoteh pak Suherman. Syafira dan bu


Ranti langsung berdiri. Sedangkan bu Syerli tetap duduk karena soal problem


yang sedang ada di keluarga ini, ia tidak tahu menau.


“Kalau begitu suaranya kerasin pah…”  Syafira dan bu Ranti sependapat. Maksudnya


supaya suara Indra didengar oleh semua yang ada disini.


Pak Suherman ternyata melakukan yang di usulkan istri dan menantunya.


Kalau sebelumnya sulit dihubungi, sudah pasti pak Suherman saat meng oke kan


panggilan dari Indra, dalam pikirannya positif. Indra mau menanyakan keadaan


anak istrinya mungkin? Pikir pak Suherman.


“Akhirnya kamu menghubungi papa juga In…” kata pak Suherman sesuai


situasi dan kondisi. Tapi jawaban Indra sungguh mengejutkan semua.


“Aku benci papa…! Benci sekali…!”


“Jadi kamu menghubungi papa hanya untuk mengatakan itu…?”


Pak Suherman merasa kurang percaya dengan apa yang sudah didengarnya.


“Kamu kalau ngomong ke orang tua, sopanan dikit In…!”


“Pah…! Tadi malam Mia menikah dengan dokter Fajar…! Sekarang


aku sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan orang yang aku cintai…!


Semua ini gara-gara papa…! Jadi aku sangat benci sama papa…! Benci sekali…Sekarang


sudah jelas…!”  Kata Indra disana berkali-kali


mengatakan benci kepada ayahnya.


Bu Syherli yang selama ini duduk pun, kali ini langsung bangkit.


“Syafira…! Kenapa kamu bohong sama mama…! Ternyata Indra yang tidak ada itu


bukan sedang bekerja…! Tapi sedang mengejar wanita lain…!” Putrinya dibentak.


Kalau tadi Indra. Kali ini yang merasa seperti mendengar


petir di siang hari itu orang-orang disini. Pas Suherman dan bu Ranti diam


mematung. Mata tidak berkedip, mulut ngangah. Sedangkan Syafira akal sehatnya


hilang entah kenama. Kondisinya mengkhawatirkan.


“Syafira…! Kenapa selama ini kamu diam saja diduakan oleh

__ADS_1


suami itu…! Sekarang mendingan kamu minta pisah saja dari suami kamu yang tidak


bertanggung jawab itu…! Lalu kamu ikut mama ke Malaysia…!”


Mendengar ancaman dari ibunya Syafira yang keras, pak


Suherman dan bu Ranti kompak sama-sama membela menantunya.


“Syerli…Kamu jangan kejam begitu kepada anakmu sendiri…!”


“Iya adik ipar…Syafira itu sangat mencintai Indra…Selama ini


dia bertahan, mungkin karena cintanya itu…Kalau adik ipar tidak percaya, tanyakan


saja kepada anakmu langsung…”


Setelah hanya baru sekali mengeluarkan bum yang mengejutkan


semua orang, ternyata bu Syherli tidak mampu mengulanginya lagi. “Aku tidak


harus menanyakan dulu kepada Syafira mbak…? Mas…? Karena dari dulu aku sudah


tahu, memang Syafira itu sangat cinta sama anaknya mbak dan mas…?”Alasannya.


Menyusul air matanya yang langsung mengalir deras. Dalam benaknya kemudian


melintas.


“Syafira lihat…Oom Herman mengirimkan foto Indra sedang


bersama kekasihnya…Kekasih Indra cantik sekali ya Syafira…? Namanya tuh ada


dibawah…Nama lengkapnya Wiwin Winarti Sukmadikarta”


Ketika itu yang dikirimkan pak Suherman memang foto Indra


dan Wiwin ketika mereka baru jadian. Setelah melihatnya sekilas, ketika itu Sfyafira


langsung pergi lalu masuk kekamarnya.


menginginkan mas Indra itu jadi pacar aku…Tapi ternyata sekarang mas Indra


sudah punya pacar yang sangat cantik…Kini aku jadi tidak punya kesempatan untuk


mendapatkan mas Indra…” ratap Syafira waktu itu. Bu Shreli mengitip dari balik


pintu.


Kali ini Syafira sudah mendapatkan Indra yang selama ini


dicintainya itu dan menjadi suaminya. Buah cintanya malah sudah lahir.


Tiba-tiba mamanya menyuruh mereka berpisah. Syafira pun langsung bersimpuh.


“Mah…? Mohon jangan menyuruh aku pisah dari mas Indra…Sejak


kami menikah memang sikap mas Indra kurang baik terhadap aku…Mungkin karena mas


Indra masih terobsesi oleh mantannya yang canti-cantik…? Tapi aku yakin suatu


saat mas Indra akan berubah…Dan dia akan kembali kepada kami, untuk hidup


bersama selamanya…”


Putinya yang memohon sambil tersimpuh, bu Syherli tidak kuasa


menahan sedih. Supaya putinya tidak merasa diabaikan, lalu dipeluk. Setelah


puas memeluk sambil mengusap-ngusap kepalanya yang tertutup hijab, lalu Syafira


dibangkitkannya lagi. “Tidak Syafira…Mama tidak akan memisahkan kamu dari


Indra…Sekarang mama mencabut lagi omomngan mama tadi”


“Beneran mah…?” setelah sebentar membalas pelukan mamanya,


Syafira merenggangangkan tuhubnya lagi supaya bisa menatap mamanya.

__ADS_1


Bu Sherli mengangguk. “Ya…Sekarang mama sudah sadar, bahwa


kamu itu tidak boleh dipisahkan dari bapaknya anak kamu…Malah kalau suami kamu


sudah balik, mama akan langsung menyerahkan perusahaan agar dikelolanya…Harapan


mama, kalian itu nanti hidup bahagia dengan tidak ada kekurangan apapun…”


“Termakasih mah…Sekali lagi terimakasih…” Setelah


merenggangkang tubuhnya sejenak karena mau mendengar jawaban mamanya, Syafira


lalu memeluk mamanya lagi lebih erat. Kali ini bu Rantipun tidak tinggal diam,


kemudian menghampiri yang sedang berbahagia itu lalu ikut ambil bagian atas kebahagiaannya.


Yang patut di acungi jempol disini adalah bu Shreli. Selain cantik ternyata dia


berhati mulia dan bijak. Itu sebabnya dulu ayahnya buru-buru menikahkan bu


Ranti dengan pak Suherman yang menjadi karyawannya. Alasannya karena takut


kakaknya itu dilangkahi oleh adiknya yang punya banyak kelebihan ini.


Melihat pemandangan yang indah dari adik kakak yang kini


jadi besan itu, pak Suherman hanya bisa diam. Tapi hatinya lega. Sebelum duduk


kembali, penglihatannya yang suram karena ada air mata ditepis dulu. Setelah


nyaman duduk, baru pak Suherman menghela nafas panjang.


“Satu masalah akhirnya sudah terselesaikan…Adik ipar malah


akan menyerahkan perusahaan yang selama ini masih dipercayakan kepada pak Anwar


pamannya Wiwin…Kalau secara keduniawian, Indra anakku sebenarnya beruntung


punya istri yang harta warisannya tidak akan habis tujuh turunan…Tapi mungkin


bagi anak muda, yang nomor satu itu adalah cinta. Cinta dan cinta. Haaah…”


Bu Ranti menghampiri suaminya yang mengelus dada. “Pah…? Apa


yang membuat papa masih nampak bingung itu?”


“Ya pasti memikirkan anak kita yang laki-laki itu mah…Kenapa


tadi dia berkata seperti itu sama papa?”


“Sebaiknya sadari kesalahan sendiri pah…Penyebab semua ini


jelas gara-gara papa begitu dendam kepada ayahnya Mia “


“Iya mah…Sekarang papa memang sudah sadar…Untuk itu kalau


ada kesempatan, dengan Panji papa itu mau islah…Tapi kapan ya ? Papanya juga


sibuk terus ?”


“Nggak usah bingung pah…Setelah menikah, Mia pasti akan


mengadakan resepsi. Mereka pasti akan mengundang kita…Nah, di momen itulah


nanti papa dan ayahnya Mia ber islah…Mama juga nanti akan ikut…Keluarga kita


wajib ikut. Termasuk Indra dan Syafira…”


“Oh iya ya…?”   Setelah wajahnya lama murung. Ketika bu Ranti menghampiri dan langsung


memberi ide, pak Suherman jadi tersenyum. Tidak lama setelah itu, Syafira dan


mamanya menghampiri. Keluarga besar ini akhirnya melanjutkan obrolan yang


tertunda.  Yaitu mematangkan kembali mengenai


rencana aqiqah untuk cucu mereka.

__ADS_1


__ADS_2