
DI tempat wisata ini Kamal tengah berbahagia menjalani hari
di lembaran baru bersama keluarga. Pada saat yang bersamaan, Mia pun sangat
bahagia karena Indra sudah mengabari mengenai waktu, hari dan tanggal
kepulangannya. Karena hari ini hari Minggu, yang berpropesi sebagai perawat
inipun kini sudah menyambangi rumah bu Sarah yang kondisinya tetap harus di
pantau. Kepada bu Sarah, Mia sudah pula mengabarkan berita gembira itu.
“Jadi berapa lagi Indra itu pulangnya neng Dian ?”
“Satu bulanan lagi Oma”
“Ternyata masih lama”
“Tidak lama Oma. Kalau dikurangi hari ini tinggal dua puluh
Sembilan hari lagi”
“Tetap masih lama. Kalau begitu hubungkan saja HP Oma. Oma
mau nelpon Indra yang bisa tatap muka itu”
“Oh..,video call Oma ? Baik, sekarang mau saya hubungkan”
kata Mia. Setelah itu Hp bu Sarah diambilnya. Kemudian disambungkan ke HP Indra
melalui video call. Setelah nyambung, Mia langsung bicara.
“In ? Oma mau ngobrol sama kamu katanya?”
“Oya? Kalau begitu cepat berikan HP nya kepada Oma”
“Oma nih udah nyambung. Selagi Oma ngobrol, saya mau ke
kamar kecil dulu ya?”
“Iya neng Dian. Terimakasih”
“Oma ?” setelah HP
nya di pegang neneknya, Indra langsung memanggil.
“In? Kamu sedang apa ?”
“Biasa Oma. Kalau pagi-pagi setelah solat subuh, Indra suka
membalurkan ramuan herbal itu ke kaki yang dulu tulangnya patah. Ini rasanya
hanyat Oma…Nih lihat, seperti ini kalau kaki Indra sedang dibalur. Warnanya
hijau agak kehitam-hitaman. Karena selain dedaunan, ramuan ini juga katanya ada
unsur beras hitam dan kemcur. Ramuan yang diminumnya juga ada. Tuh dalam gelas
di atas meja”
Indra mengarahkan HP nya kearah meja supanya neneknya
__ADS_1
melihat ramuan yang sedang didinginkan itu.
“Ya! Semoga kalau kamu sudah rajin, kakimu itu benar-benar
sembuh total. Jadi kalau kamu pulang ke tanah air, fisikmu benar-benar bugar
tidak kurang suatu apapun”
“Amiin…Kesehatan Oma sendiri bagaimana ? Kata Mia sesaknya
masih ada? Apa benar?”
“Itu benar In. Malah sekarang, dada oma juga sedang agak
sakit”
“Kalau begitu semoga lekas sembuh ya Oma, supaya nanti Oma
bisa menyaksikan Indra menikah”
“Menikahnya itu dengan neng Dian bukan?”
“Insya Alloh dengan dia Oma. Kan selama ini yang setia sama
Indra itu cuma dia bukan yang lain”
“Tapi…”
“Tapi apa Oma? Kok bicaranya tidak di teruskan?”
Prak ! Sebelum mendapat jawaban, Indra mendengar Omanya yang
Mia…?! Mia…?! Liatin dulu oma ! Mia…?!”
Ketika mendengar Indra berteriak-teriak seperti sedang
panik, Mia yang sudah keluar dari kamar kecil langsung lari. Sesampainya di
kamar bu Sarah, ternyata perempuan itu sudah didapati tergeletak dan tidak
sadarkan diri.
“Oma…?!” Mia yang panik, berteriak juga.
“Mia? Kamu ambil dulu HP Oma, aku mau bicara…!” dari sana Indra memerintahkan.
“HP Oma sudah di ambil In? Kamu mau bicara apa?”
“Gimana keadaan Oma?”
“Tak sadarkan diri tapi nadinya masih berdenyut”
“Kalau begitu cepat kamu hubungi rumah sakit supaya mengirim
ambulance. Setelah itu buru-buru Oma bawa ke rumah sakit tempat kamu bekerja.
Papa akan aku kabari dari sini”
“Baik In. Sekarang HPnya kututup dulu ya? Dari sana cepat
kamu juga kasih kabar papamu”
__ADS_1
Beberapalama kemudian ambulance datang ke alamat bu Sarah.
Dengan dibantu para tetangga, bu Sarah berhasil di epakuasi. Setengah jam
kemudian, ambilance yang membawa bu Sarah tiba di rumah sakit. Mia lalu
memasukkan bu Sarah ke kamar kelas satu. Karena ketika dulu dibawa oleh pak
Suherman pun dimasukkannya itu ke sal nomor satu.
“Yang membawa bu Sarah ke sini kamu? Emang ketika bu Sarah
kena serangan penyakitnya itu kamu lagi disana?”
“Iya. Oma nya Indra ini kan kesehatannya masih harus terus
di pantau. Jadi kalau libur, aku memang suka ke rumahnya”
“Hubungan kamu dengan Indra rupanya sudah serius. Aku
menyesal. Dulu mau menembak kamu itu banyak menimbang-nimbang. Akhirnya
keduluan oleh orang lain”
“Sudah ach…Kalau ditempat kerja jangan ngomong soal pribadi.
Nanti ada yang mendengar. Terus dilaporkan ke pimpinan. Yang rugi nanti kan kita
juga”
“Maaf dok? Penanganan pertama untuk bu Sarah harus segera
dilakukan kan ?”
“O, iya suster Vera. Tabung oksigen dan untuk infusnya sudah
disiapkan?”
“Tabung oksigennya, security sedang membawa menuju kekari.
Kalau untuk infusnya, ini sudah saya bawa Dok”
“Kalau begitu ayo langsung kerjakan. Sekarang bu Sarahnya
Alhamdulillah sudah siuman”
Bu Sarah yang dibawa Mia ke rumah sakit, ternyata langsung
di tangani oleh nakes-nakes yang bertugas. Tapi sebelum keluar dari ruangan bu
Sarang setelah menyesasaikan tugas, salah satu rekan Mia kalau sedang bertugas
ini, nyeloteh “ Dari omongan mereka yang tadi aku dengar, sepertinya dokter
Fajar dan Mia sudah lama akrab? Apa selama ini sebetulnya mereka punya hubungan
special ya? Hal ini besok bisa jadi biang rumpi yang seru bersama teman-teman
nih? Atau mungkin teman-teman punya temuan lain tentang meraka?” gumam perawat
muda itu normal dan manusiawi.
__ADS_1