
MENDAPAT kabar cucu kesayangannya belum bisa pulang dari luar
negri, bu Sarah jatuh sakit. Tadi malam ceu Popon yang selama ini suka
bantu-bantu dirumah, menginap karena sakitnya bu sarah itu lumayan serius.
Sebelum berangkat bekerja, Mia pun mampir dulu dan mengecek tensi nenek
kesayangan kekasihnya itu. Dan ternyata selain badannya panas, tensi darahnya
juga tinggi.
“Oma ? Tensi darah oma ternyata tinggi. Untuk sementara, oma
harus banyak minum air putih ya? Sekarang saya mau berangkat kerja dulu. Nanti
pulangnya saya mampir lagi kesini”
“Terimakasih neng dian. Hari ini Herman juga pasti datang
karena tadi malam sudah dikasih kabar”
“Assalamualakum…” pas Mia hampir mengambil tas, di depan terdengar
ada yang uluk salam
“Ceu Ponpon, biar saya saja yang buka sekalian mau
berangkat”
“Baik neng”
“ Sekarang saya pamit dulu ya? Asalamualikum…”
“Wa,alkumussalam…Hati-hati di jalan ya neng”
“Iya ceu”
Sebelum keluar dari kamar bu Sarah, Mia mengambil dulu tas nya.
Tapi ada yang membuatnya agak kaget setelah pintu depan dibuka” Su…?
Sumiati?” orang yang uluk salam tadi
terperangah ketika melihat Mia. Tapi Mia yang baru bertemu dengan orang yang
datang itu, sikapnya tenang.
“Itu nama ibu saya oom…Kenalkan, kalau nama saya Mia.
Lengkapnya Mia Mardiana”
“Suherman…” Mia dan
yang tadi uluk salam itu yang ternyata Pak Suherman, berjabatan.
“Oom itu ayahnya Indra ya?”
“Iya. Sekarang saya mau menjenguk ibu saya yang sedang
sakit”
__ADS_1
“Barusan oma itu sudah saya periksa Oom. Ternyata selain
badannya panas, tensi oma tinggi. Sekarang saya mau berangkat ke rumah sakit.
Kalau Oom memutuskan oma mau rawat inap, bawanya ke puskesmas tempat saya
bekerja saja Oom. Kebetulan tiga hari kedepan saya ada jadual piket”
“Ya, itu tergantung situasi saja. Sekarang saya mau masuk ke
dalam dulu”.
“Iya Oom. Saya juga sekarang mau berangkat kerja.
Asalamualaikum…”
“Wa,alaikumussalam…”
“Jadi gadis ini yang selama ini jadi cinta kedua Indra?
Ternyata orangnya jauh lebih cantik aslinya dibanding dalam fhoto? Dan yang
membuat hatiku sejuk, ternyata dia mirip sekali dengan ibunya. Dimana dulu aku
juga begitu mencintainya”
“Herman ? Kau kah itu yang datang…?” Disaat pak Suherman sedang berat termenung,
bu Sarah tiba-tiba memanggil.
Pak Suherman buru-buru menepis air matanya yang bergenang. “
Iya bu !” jawab pak Suherman setelah kedua matanya kering.
“Barusan saya habis ngobrol dulu dengan anaknya Sumiati bu…”
kata pak Suherman setelah masuk kamar.
“Sekarang dia sudah berangkat ?”
“Sudah. Keadaan ibu sendiri bagaimana ? Apa ibu mau kalau
rawat inap? Barusan anaknya Sumiati itu menyarankan, kalau ibu mau rawat inap,
katanya di puskesmas tempat dia kerja aja?”
“Untuk sementara, bawa saja ibu ke dokter yang biasa ibu
berobat. Kamu juga jangan lama-lama disini. Kalau ibu sudah berobat ke dokter,
sore harinya kamu pulang lagi”
“Iya bu, tergantung kondisi ibu. Sekarang saya juga jadi
tidak terlalu khawatir, karena disini ada seorang perawat yang dekat dengan
ibu”
“Keterlaluan si Herman…Kepada gadis yang sangat di cintai
Indra, ngomongnya kayak gitu! Sayang sekali aku lagi sakit. Kalau sedang sehat,
__ADS_1
pasti sudah ku omelin tuh anak!”
“Bu ? Langsung sekarang saja berangkat ke dokternya ya? Mungpung
masih pagi ?”
“Iya. Terserah kamu “
Bu Sarah yang sakit akhirnya dibawa ke dokter oleh pak
Suherman. Setelah bu Sarah di periksa, ternyata dokter itu banyak menyampaikan
hasil pemeriksaannya yang sangat buruk.” Penyakit bu Sarah ternyata bukan hanya
satu macam Pak. Maagnya sudah kronis. Di paru-parunya ada plek. Asam uratnya
juga tinggi. Ditambah asmanya aktif akut, sebaiknya ibu menjalani rawat inap.
Selain supaya bisa terkontrol setiap saat. Kalau di rumah sakit peralatan
medisnya lengkap pak”
Atas alasan ini akhirnya pak Suherman merujuk ibunya
ketempat Mia bekerja. Setibanya dirumah sakit, pak Suherman langsung menemui
dokter yang piket. Karena pak Suherman membawa bu Sarahke rumah sakitnya ba,da
jumat. Sedangkan ke esokan harinya Sabtu libur.
“Permisi dok?”
“Silahkan duduk pak. Ada yang bisa saya bantu ?”
“Barusan saya memasukkan ibu saya untuk rawat inap dok.
Apakah yang akan piket malam itu dokter?”
“Betul. Setiap hari hari jum,at malam sabtu sampai malam
senin, memang saya yang piket dan beberapa perawat”
“Termasuk suster Mia ?”
“Iya pak. Di puskesmas ini beliau termasuk nakes teladan
yang terkenal ramah kepada pasien. Jadi mengenai ibu yang dirawat disini, bapak
tidak usyah khawatir. Karena patner saya kali ini adalah suster Mia sendiri”
“Betul sekali kata Galang. Bahwa orang yang akan
kusingkirkan dari anakku itu, kemungkinan akan sering berdekatan dengan seorang
dokter tampan yang ada dipoto itu. Karena selain berasal dari desa yang sama,
mereka juga bekerja di rumah sakit yang sama. Berarti problemku tidak ringan. Kerena
orang yang akan kuper alat untuk balas dendam juga punya kelebihan begini
istimewa“ gumam dalam hati pak Suherman
__ADS_1
sambil termenung.