Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Dalam Penantian Enam Bulan Bagian 4


__ADS_3

MENDAPAT kabar cucu kesayangannya belum bisa pulang dari luar


negri, bu Sarah jatuh sakit. Tadi malam ceu Popon yang selama ini suka


bantu-bantu dirumah, menginap karena sakitnya bu sarah itu lumayan serius.


Sebelum berangkat bekerja, Mia pun mampir dulu dan mengecek tensi nenek


kesayangan kekasihnya itu. Dan ternyata selain badannya panas, tensi darahnya


juga tinggi.


“Oma ? Tensi darah oma ternyata tinggi. Untuk sementara, oma


harus banyak minum air putih ya? Sekarang saya mau berangkat kerja dulu. Nanti


pulangnya saya mampir lagi kesini”


“Terimakasih neng dian. Hari ini Herman juga pasti datang


karena tadi malam sudah dikasih kabar”


“Assalamualakum…” pas Mia hampir mengambil tas, di depan terdengar


ada yang uluk salam


“Ceu Ponpon, biar saya saja yang buka sekalian mau


berangkat”


“Baik neng”


“ Sekarang saya pamit dulu ya? Asalamualikum…”


“Wa,alkumussalam…Hati-hati di jalan ya neng”


“Iya ceu”


Sebelum keluar dari kamar bu Sarah, Mia mengambil dulu tas nya.


Tapi ada yang membuatnya agak kaget setelah pintu depan dibuka” Su…?


Sumiati?”  orang yang uluk salam tadi


terperangah ketika melihat Mia. Tapi Mia yang baru bertemu dengan orang yang


datang itu, sikapnya tenang.


“Itu nama ibu saya oom…Kenalkan, kalau nama saya Mia.


Lengkapnya Mia Mardiana”


“Suherman…”   Mia dan


yang tadi uluk salam itu yang ternyata Pak Suherman, berjabatan.


“Oom itu ayahnya Indra ya?”


“Iya. Sekarang saya mau menjenguk ibu saya yang sedang


sakit”

__ADS_1


“Barusan oma itu sudah saya periksa Oom. Ternyata selain


badannya panas, tensi oma tinggi. Sekarang saya mau berangkat ke rumah sakit.


Kalau Oom memutuskan oma mau rawat inap, bawanya ke puskesmas tempat saya


bekerja saja Oom. Kebetulan tiga hari kedepan saya ada jadual piket”


“Ya, itu tergantung situasi saja. Sekarang saya mau masuk ke


dalam dulu”.


“Iya Oom. Saya juga sekarang mau berangkat kerja.


Asalamualaikum…”


“Wa,alaikumussalam…”


“Jadi gadis ini yang selama ini jadi cinta kedua Indra?


Ternyata orangnya jauh lebih cantik aslinya dibanding dalam fhoto? Dan yang


membuat hatiku sejuk, ternyata dia mirip sekali dengan ibunya. Dimana dulu aku


juga begitu mencintainya”


“Herman ? Kau kah itu yang datang…?”    Disaat pak Suherman sedang berat termenung,


bu Sarah tiba-tiba memanggil.


Pak Suherman buru-buru menepis air matanya yang bergenang. “


Iya bu !” jawab pak Suherman setelah kedua matanya kering.


“Barusan saya habis ngobrol dulu dengan anaknya Sumiati bu…”


kata pak Suherman setelah masuk kamar.


“Sekarang dia sudah berangkat ?”


“Sudah. Keadaan ibu sendiri bagaimana ? Apa ibu mau kalau


rawat inap? Barusan anaknya Sumiati itu menyarankan, kalau ibu mau rawat inap,


katanya di puskesmas tempat dia kerja aja?”


“Untuk sementara, bawa saja ibu ke dokter yang biasa ibu


berobat. Kamu juga jangan lama-lama disini. Kalau ibu sudah berobat ke dokter,


sore harinya kamu pulang lagi”


“Iya bu, tergantung kondisi ibu. Sekarang saya juga jadi


tidak terlalu khawatir, karena disini ada seorang perawat yang dekat dengan


ibu”


“Keterlaluan si Herman…Kepada gadis yang sangat di cintai


Indra, ngomongnya kayak gitu! Sayang sekali aku lagi sakit. Kalau sedang sehat,

__ADS_1


pasti sudah ku omelin tuh anak!”


“Bu ? Langsung sekarang saja berangkat ke dokternya ya? Mungpung


masih pagi ?”


“Iya. Terserah kamu “


Bu Sarah yang sakit akhirnya dibawa ke dokter oleh pak


Suherman. Setelah bu Sarah di periksa, ternyata dokter itu banyak menyampaikan


hasil pemeriksaannya yang sangat buruk.” Penyakit bu Sarah ternyata bukan hanya


satu macam Pak. Maagnya sudah kronis. Di paru-parunya ada plek. Asam uratnya


juga tinggi. Ditambah asmanya aktif akut, sebaiknya ibu menjalani rawat inap.


Selain supaya bisa terkontrol setiap saat. Kalau di rumah sakit peralatan


medisnya lengkap pak”


Atas alasan ini akhirnya pak Suherman merujuk ibunya


ketempat Mia bekerja. Setibanya dirumah sakit, pak Suherman langsung menemui


dokter yang piket. Karena pak Suherman membawa bu Sarahke rumah sakitnya ba,da


jumat. Sedangkan ke esokan harinya Sabtu libur.


“Permisi dok?”


“Silahkan duduk pak. Ada yang bisa saya bantu ?”


“Barusan saya memasukkan ibu saya untuk rawat inap dok.


Apakah yang akan piket malam itu dokter?”


“Betul. Setiap hari hari jum,at malam sabtu sampai malam


senin, memang saya yang piket dan beberapa perawat”


“Termasuk suster Mia ?”


“Iya pak. Di puskesmas ini beliau termasuk nakes teladan


yang terkenal ramah kepada pasien. Jadi mengenai ibu yang dirawat disini, bapak


tidak usyah khawatir. Karena patner saya kali ini adalah suster Mia sendiri”


“Betul sekali kata Galang. Bahwa orang yang akan


kusingkirkan dari anakku itu, kemungkinan akan sering berdekatan dengan seorang


dokter tampan yang ada dipoto itu. Karena selain berasal dari desa yang sama,


mereka juga bekerja di rumah sakit yang sama. Berarti problemku tidak ringan. Kerena


orang yang akan kuper alat untuk balas dendam juga punya kelebihan begini


istimewa“  gumam dalam hati pak Suherman

__ADS_1


sambil termenung.


__ADS_2