Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Ngidam Buah


__ADS_3

SEBUAH mobil mewah yang keluar dari jalur simpang lima, berhenti di depan terminal pusat kota. Setiap angkot yang berhenti di tempat pengeteman, penumpangnya yang keluar terus di perhatikan. Supaya penglihatannya jelas, kaca mobilnya di buka sedikit. Tapi yang di temukan sang pengemudi bukan wanita cantik yang dua bulan lalu di ajak ke mobilnya. Melainkan menemukan seorang laki-laki yang sedang menawar buah.


“Kalau anggur hijau berapa per kilonya bu?”


“Sembilan puluh ribu”


“Tidak bisa kurang bu?”  calon pembeli nego


“Mau berapa kilo?”  tawaran calon pembeli di sepakati


“Satu kilo aja. Kalau apel?”


“Yang Impor atau yang lokal?”


“Dua-dua nya aja bu. Satu kilo, satu kilo”


“Semangka nya nggak ? Rambutan juga masih segar-segar. Duku, sawo”   penjual menawarkan buah-buahan lain


“Ya, itu juga satu kilo satu kilo. Jadi berapa semuanya?”


“Anggur hijau delapan puluh. Apel lokan dan inpor delapan puluh. Sawo dan rambutan lima puluh. Duku dan manggu lima puluh ribu Semuanya jadi dua ratus enam puluh mas”


“Pas kan aja tiga ratus ribu bu. Yang empat puluhnya saya minta anggur merah dan manga. Tapi mangganya yang tidak terlalu masam ya? “


“Baik mas”


“Banyak banget orang itu membeli buahnya ? Apa itu untuk di jual lagi ?” pikir pengemudi yang tiadalain Indra sambil terus memperhatikan orang itu


“Kalau lagi di markasnya, kamu itu beda ya ?Jadi lebih agresif ketika mau mendekatiku?”  Ketika itu Wiwin dan Kamal sedang di taman rumahnya Oom Anwar. Kamal ketika itu memegang kedua bahu Wiwin. Indra yang baru datang, ketika itu langsung marah


“Wiwin ! Rupanya sekarang kamu sudah jadi perempuan murahan !”  bentak Indra saat itu. Selain menurunkan kedua tangannya, ketika itu Kamal melihat kearah Indra. Disitulah Indra melihat wajah Kamal pertama kali


“Oh…Dengan orang itu aku pernah melihatnya sekilas waktu sedang di rumahnya Oom Anwar. Sekarang dia membeli buah-buahan yang banyak. Jangan-jangan Wiwin hamil? Kalau begitu sekarang lebih baik aku bubu-buru pergi dari sini ”


“Saudara In…?!” Ketika Indra mau menutupkan kaca mobil setelah memutuskan untuk pergi, orang yang sedang membeli buah itu tiba-tiba memanggil. Indra akhirnya tidak jadi menutupkan kaca mobilnya. Malah ia lalu keluar dari mobilnya itu


“Ini saudara Kamal ?” Indra tahu nama Kamal, dari surat undangan yang di terima dulu untuk keluarga besarnya ketika Wiwin mau menikah.


“Iya saudara In. Saya Kamal. Akhirnya kita bisa bertemu lagi ya ?”


“Apa kabar ?”  Indra mengulurkan tangan. Oleh Kamal di sambut


“Kabar baik. Tapi ngomong-ngomong, memangnya di kota ini saudara Indra sedang apa?”  Tanya Kamal setelah jabatan tangannya dilepas

__ADS_1


“Oma saya kan asal dari kota ini. Dua bulan lalu malah saya lama liburan di sini”


“Oya ? Kenapa tidak main ke rumah kalau memang saudara In lama liburan di sini ?”


“Kalau tahu alamatnya, mungkin main. Oya, ngomong-ngomong? Saudara Kamal sendiri sedang apa di sini ?”  Indra balik bertanya


“Oh, kalau saya biasa. Habis setor bulanan ke perusahaan yang masok pakan ternak “


“Itu belanja buahnya banyak banget ? Untuk apa?”


“Kalau ini untuk yang lagi ngidam”


“Maksudnya Wiwin hamil ?”


“Iya. Alhamdulillah setelah sekian lama menanti, akhirnya kita di kasih kepercayaan”


“Saya ikut senang…” Kata Indra yang keluar. Sedangkan dalam hatinya entah kenapa ada rasa sesal yang kini membuatnya termenung


“Sekarang ke rumah ya? Kebetulan setelah ini saya juga mau terus pulang”   Kepada Indra yang sedang termenung, kini Kamal menganggap teman


Ternyata Indrapun seperti tidak pernah di zalimi oleh Kamal. “Boleh “ jawab Indra demikian pasti “Berangkatnya sekarang ?”


“Iya. Sekarang aja mungpung masih belum panas “


“Yaya…Saya mau bayar dulu belanjaan “


Seperti itu akhirnya Kamal dan Indra yang di pertemukan


“Bu ? Belanjaannya bisa di antar ke mobil ?”  Setelah Indra ke mobilnya, Kamal minta ke tukang jualan buah supaya belanjaannya diantar. Ternyata pedagang buah langsung memanggil pelayan yang suka membantunya


“Jang ? Antarkan kardus ini ke mobil si mas ya ?”


“Baik bu “  Pelayan nya itu lalu membawa sebuah kardus yang sudah di isi bermacam-macam buah, langsung di masukkan ke mobil Kamal yang pintunya sudah di buka. Setelah itu Kamal masuk ke mobilnya.


“Saudara In, saya yang jalan di depan ya?”


“Iya,iya silahkan.  Sebagai petunjuk jalan”


Ketika berangkat, yang melaju di depan mobil Kamal. Setibanya di rumah, bi Ijah yang sedang mengambil jemuran kaget ada dua mobil yang masuk halaman.


“Mobil siapa yang satunya ya ? Kalau yang satunya, aku tahu itu mobil den Kamal”  pikir bi IJah. Dari dalam mobil, Kamal dan Indra lalu keluar. Ketermenungan bi Ijah  tersadar ketika Kamal yang turun dari mobil langsung menghampirinya


“BI, buka pintu ruang tamu ya ? Dan ini kardus tolong nanti bawa kedalam. Kalau kerinjang yang isi manga, biar saya yang bawa”

__ADS_1


“Kalau begitu sekarang bibi mau nyimpan dulu jemurannya ya den? Nanti balik lagi sambil membuka pintu ruang tamu“


“Bi ? Tidak mau kenalan dulu dengan saya? “  Kepada bi Ijah yang mau menyimpan jemuran, Indra menglurkan tangan


“Hehe…Nama bibi, Ijah den “ bi Ijah menyambut uluran tangan Indra


“Saya Indra”  Indra menyebutkan namanya


“Aden ini temannya den Kamal ya?”


“Iya bi “


“Asal dari mana tea aden teh?”


“Saya dari Jakarta bi. Karena sekarang kita sudah saling kenal, silahkan simpan dulu jemurannya “  kali ini Indra menyuruh bi Ijah melaksanakan tugasnya. Bi Ijah pun setelah itu lalu pergi. Tapi waktu menyimpan jemuran ke tempat nyetrika, memberi kabar dulu ke majikan perempuan.


“Neng ? Den Kamal datangnya dengan tamu”


“Siapa ? Dari mana?”


“Namanya den Indra neng. Katanya dari Jakarta”


“Yang namanya Indra itu banyak. Tapi aku harus memastikannya. Jangan-jangan yang hari ini datang kesini itu Indra mantanku” alasan Wiwin lalu memutuskan pergi ke ruang tamu untuk memastikan. Ketika melihat bahwa yang datang dengan suaminya itu ternyata Indra mantannya, perangainya langsung berubah


“Saudara In? Sekarang saya mau menyimpan bawaan dulu ke dalam ya ?”  Kamal meninggalkan istri dan mantannya itu berdua di ruang tamu.


“Mau ngapain kamu ke sini ?”   Setelah hanya berdua, ternyata Wiwin menunjukan ketidak senangannya


“Nggak usyah ngambek. Aku kesini hanya silaturahmi. Oya ? Kamu sedang hamil Win?”


“Iya. Kamu kaget?”


“Apa suamimu tahu bahwa kita…”


“Saudara In. Saya bawa mangga yang baru di beli itu nih ? Nanti kita sama-sama cicipi sambil ngobrol ya“  Sebelum Indra tuntas menyelesaikan kalimat, Kamal tiba-tiba muncul membawa dua buah manga yang sudah di masukkan ke dalam kerinjang plastik. Di belakangnya tidak lama, membuat Indra yang sedang memanfaatkan situasi lumayan nyesel


“Awas ! kalau kamu bilang ke suamiku bahwa kita pernah bertemu…!”  Wiwin pun akhirnya memperingatkan Indra. Tentu saja dengan isyarat. Sedangkan untuk suaminya yang membawa buah


“Yah ? Piring dan ganpunya sudah bawa belum?”


“O, iya lupa bun…Kalau begitu, tolong ambilkan sebentar ya ? Nanti bunda juga terus di sini ngobrol bareng kita”  Kamal menyimpan manga yang sudah di dalam kerinjang plastik itu di atas meja, beserta pisau untuk mengupasnya


Sebelum pergi, Wiwin kembali mengarahkan perhatiannya kepada Indra. Setelah yang mau di peringatkannya  melirik “Ingat pesanku tadi…!”

__ADS_1


“Ya. Jangan bilang ke suami kamu bahwa kita pernah bertemu kan?“  Indra menjawab dengan isyarat pula. Setelah yang di dikhawatirkannya comel duduk di kursi bersama suaminya, baru ibu yang sedang ngidam ini pergi ke belakang untuk mengambil piring dan garpu.


__ADS_2