
SEBUAH pesta yang spektakuler, saat ini tengah dinikmati pak Kosim sebagai orangtua mempelai laki-laki, karena rombongan serahan yang didanainya besar-besaran, baru saja diterima pihak mempelai wanita dan momemnya disaksikan ratusan pasang mata dari dua Desa yang berbondong datang kelokasi. Tujuan mereka yang sangat antusias, ternyata sama. Selain telah menerima undangan dari sohibul hajat, mereka juga merasa penasaran dengan menyatunya dua insan yang super heboh selama berpacarannya. Setelah prosesinya melihat dengan mata kepala sendiri, rasa penasaran mereka kini tergantikan dengan rasa takjub. Didesa mereka memang untuk pertama kalinya ada yang serahan membawa seekor kerbau dan lima ekor kambing serta belasan ekor ayam. Tapi khusus kambing dan kerbau, kedua belah pihak telah sepakat, bahwa nantinya hewan-hewan itu akan di korbankan kalau lebaran haji yang jatuhnya dua hari kemudian. Didesa mereka juga untuk yang pertamakalinya ada Tablig Akbar dengan penceramahnya Ustadz kondang yang sering mengisi acara di televisi.
“Sekarang kita menginjak ke acara pokok yang sangat dinanati-nanti, yaitu walimatul urus yang akan dipimpin langsung oleh petugas dari KUA. Untuk itu, mempelai wanita, silahkan segera dibawa keluar untuk disandingkan dengan calon mempelai pria yang sudah ada dipelaminan.” Kata pembawa acara untuk prosesi selanjutnya.
Semua mata, langsung tertuju kekamar pengantin, termasuk Kamal. Tidak lama kemudian calon mempelai wanita keluar didampingi beberapa pagar ayu. Melihat Wiwin yang dirias cantik, dalam hati Kamal langsung bergumam. “Kamu cantik sekali Win…Tidak sia-sia aku mengeluarkan biaya yang besar untuk pesta ini. Karena yang kukejar selama ini, ternyata bidadari “
“Ayo cep Kamal, sekarang kita mulai prosesi akad nikahnya dengan membaca istigfar dulu dan membaca dua kalimah syahadat bersama-sama. Ini memang bukan syarat nikah, tapi siapa tahu kita semua saat ini sedang dalam keadaan ada dosa yang tidak disadari. Jadi alangkah baiknya kalau kita mensucikan diri dulu masing-masing sesuai adat kebiasaan di kampung kita”
Petugas dari KUA, ternyata tertib. Terus Kamal dan wali dari yang akan dinikahinya, disuruh saling berpegangan tangan .
“Ayo pak, sekarang ikrarkan sebagai wali yang akan menikahkan putrinya . Terus nanti cep Kamal harus menjawabnya sebagai laki-laki yang mau menikahinya.”
“Ananda Kamal Kamaludin bapak nikahkan anak bapak yang bernama Wiwin Winarti kepada ananda dengan mas kawin berupa emas perhiasan sebanyak seratus dua puluh lima gram dibayar tunai “
“Saya terima nikahnya Wiwin Winarti Sukmadikarta dengan mas kawin tersebut, tunai”
“Syah…? Syah….?” Para saksi saling bertanya. Ternyata pernikahan antara Wiwin dan Kamal itu menurut mereka sudah syah.
“Akhamdulillah… Kalau begitu berarti peosesi acara pokok, telah selesai. Sekarang mari kita berdoa sama-sama untuk kedua mempelai supaya mereka menjadi pasangan yang syakinah, mawaddah, warohmah.
“ Amin…” Para hadirin mengangkat kedua tangan. Termasuk pasangan pengantin baru.
“Sebelum acara saweran, mungkin juru rias akan mengganti dulu pakaian pengantinnya ?” Kata protolol setelah berdoa. Disini ternyata juru rias hanya memanggil mempelai wanitanya saja.
“Kalau yang mau diganti pakaiannya sebelum disawer, pengantin wanitanya saja kali ?’
“Berarti yang harus masuk kamar, cuma mempelai wanita ya bu sawer ?” pak lebe bercanda. Ger ! para hadirin riuh.
“Pak lebe ? Kalau yang disuruh masuk kekamarnya hanya mempelai wanita, memangnya kenapa?”
“Kasihan aja sama den Kamal. Kan sekarang mah neng Wiwin itu sudah syah menjadi istrinya. Massa kalau mau masuk kekamar istrinya tetap tidak boleh ?”
“Kan masih siang pak lebe ?” Mang Kardi nimbrung. Ger ! Para hadirin riuh lagi.
Acara demi acara, terus dijalani sesuai susunan yang sudah dikonsep. Setelah walimah, ramah tamah untuk para tamu dari pihak laki-laki. Setelah itu dilanjutkan dengan acara saweran. Yang terakhirnya, hiburan ( marawis ) sebelum nanti ceramahan yang akan dimulai pukul duadan. Disini mempelai wanita dan pria sama-sama sibuk dan lelah. Tapi selama tamunya masih berdatangan, Kamal dan Wiwin tetap bertahan duduk dipelaminan.
Pukul satu siang, tamu undangan itu mulai orang-orang penting. Yang pertama aparat Desa. Kedua mempelai sama-sama senang ketika seorang ketua Kampung memanfaatkan suasana hari bahagia mereka.
“Neng Wiwin itu ternyata akhirnya jadi menikah juga ya sama den Kamal ? Padahal setahu pak apung..”
__ADS_1
“Sssstt…! Jangan diteruskan pak Apung. Kita nikah memang udah jodoh. Jadi pak Apung nggak usyah bicara kayak gitu.”
Takut ketua Kampung itu keseleo jadi membicarakan surat dari Indra untuk Wiwin yang digelapkan oleh mertuanya dulu, Kamal menempelkan telunjuk di ujung bibirnya. Ternyata aparat desa itu mengerti isyarat Kamal.
“Jadi neng Wiwinnya tidak sedang kedatangan tamu bulanan ya den ?” Ketua kampung itu akhirnya mengalihkan pembicaraan .
“Kayaknya nggak pak. Tapi supaya lebih jelas, silahkan aja pak Apung nanya sendiri ke orangnya.”
“Kayaknya neng Wiwin nggak bakal memberi tahu yang menjadi rahasianya tuh den ? Buktinya dari tadi orangnya meneleng terus sama pak Apung sambil mesum ?”
“Kalau begitu lebih baik sekarang pak apung ikuti yang lain untuk menikmati hidangan kami. Kalau nanti ketinggalan sama mereka, nggak ada tumpangan yang gratis kan ?” Wiwin ternyata akhirnya celoteh. Setelah pak Apung menyusul rekannya keruang ramah tamah, Kamal pun merasa lega.
Setelah aparat Desa, undangan yang datang itu kali ini Predi dan Lala yang sudah jadian.
“Selamat ya Rik. Maaf gue baru nonghol sekarang”
“Elo itu jahat Pred! Waktu mau malimah, gua gugup banget karena nggak ada yang nemenin. Emangnya lo kemana nggak datang dari tadi ? Juga kamu La ?”
“Kalau masalah kita nggak menghadiri acara walimah kalian, tanya orang ini aja Kang ? Dari kemarin temanmu ini malah dirumah terus karena takut aku pergi kerumah Wiwin.”
“Kamu sekejam itu sama aku Fred? Padahal Lala itu satu-satunya orang yang aku harepin bisa menemaniku di saat-saat yang menegangkan itu. Eh, ternyata kalian bersekongkol ngejahatin aku ?”
“Ya udah. Sekarang silahkan kalian cicipi dulu hidangan kami. Dibelakang kalian, sepertinya ada tamu lagi tuh.” Kata Kamal tidak memperpanjang candaannya dengan pasangan ini. Itu tiadalain karena tamu yang berikutnya adalah Evi, orang yang selama ini pernah dekat dengannya, dan dicemburui Wiwin.
“Selamat menempuh hidup baru ya Kang ? Maaf papa dan mama tidak bisa datang katanya. “
“Memangnya papa dan mamamu sedang kemana ?”
“Sedang dirumah sakit kang. Maksud saya, selain tugas, papa sambil tunggu Ryian juga.”
“Memangnya adik kamu kenapa ?”
“Waktu mau latihan basket, dia jatuh dari motor kang, dengan temannya”
“Terus gimana keadaannya sekarang ?”
“Alhamdullah udah baikan.”
“Syukurlah kalau begitu. Semoga adikmu itu lekas sembuh.”
__ADS_1
“Mbak ? Selamat menempuh hidup baru ya ?”
Evi kali ini menyalami Wiwin.
“Terimakasih…Dik Evi juga cepat susul kami ya ?”
“Evi masih kuliah Win. Pasti masih lama ya Ev ?”
“Heh ! Main serobot aja !” Gumam dalam hati Wiwin. Ternyata cemburunya untuk Evi masih ada.
“Oya Ev, silahkan kamu juga sekarang keruang ramah tamah seperti yang lain” Kata Kamal. Dan ternyata Evi langsung mengikuti yang lain.
Pukul setengah dua, para undangan sudah mulai sepi, tapi hadirin masih membludak karena ceramahan akan segera dimulai. Tepat pukul dua, sepasang pengantin membuka segala atribut yang dipakainya. Sebagai mempelai wanita, Wiwin membersihkan makeup tebal yang menempel diwajahnya. Supaya badannya kembali segar, tidak lupa mandi. Setelah dirinya beres, giliran Kamal. Setelah masing-masing mengganti baju dengan pakaian biasa, pengantin lalu duduk di ruangan khusus untuk sama-sama mendengarkan ceramahan pak Ustadz
Malam harinya Wiwin dan Kamal masuk kamar. Wajah Wiwin kelihatan murung, tidak seperti pengantin layaknya yang sudah tidak sabar menunggu malam pertama. Tapi ketika Kamal mendekatinya dan mengambil tangannya, ia tidak menghindar
“Setelah jadi suami aku, akang harus bantu ayah kerja di sawah ya?” Wiwin membuka malam pertama.
Dan ternyata Kamal langsung mendebatnya. “Maksud kamu, aku harus bantu ayah mertua mencangkul di sawah ?”
Wiwin mengangguk. “Supaya akang bisa menafhahi aku “
“Tapi kamu kan tahu, selama ini tidak pernah kerja yang berat-berat”
“Tapi sebagai istri, aku juga mau dinafkahi oleh hasil keringat suami sendiri. Maksud aku, mulai sekarang keluarga kecil kita harus lebih meningkatkan keta’atan kepada sang pencipta…Kita juga harus bisa membedakan yang halal dan yang haram…Suatu saat, kita bakal punya buah cinta yang lucu, cantik atau tampan…Sebagai orangtua, pasti kita ingin anak kita tumbuh sehat dan tidak sakit-sakitan…Semua itu bisa terwujud, kalau kita bisa melaksanakan perintahnya dan menjauhi langannya. Seperti kata Ustadz dalam ceramahnya tadi lengkapnya”
“Kalau begitu berarti pengorbanan aku terhadap kamu masih ada yang kurang…Perjuanganku untuk mendapatkan kamu seutuhnya, masih belum berakhir” Kamal yang tangannya sedang di elus-elus Wiwin, tiba-tiba bangkit
“Sekarang mau kemana ?” Wiwin akhirnya ikut turun dari ranjang pengantin itu
“Mana, tidak ada baju tangan panjang yang bisa kupakai? Aku mau keluar dulu sebentar” celoteh Kamal setelah yang dicarinya tidak ada dalam tmpukan baju di sudut kamar
Wiwin membuka lemari tanpa kata. Setelah menemukan kemeja levis warna biru langit yang tangannya panjang. “Supaya akang tidak kedinginan di jalan, coba pakai baju ini”
Mengenai baju yang titawarkan, ternyata Wiwin juga membantu memakaikannya. Setelai memakaikanya : “ Waktu kita masih pacaran, aku paling suka kalau melihat akang pakai baju ini. Dan malam ini aku mau jujur. Akang mirip, bahkan lebih tampan dari aktor-aktor pemain sinetron di televisi. Karena baju ini dibelinya mahal kali ”
“Sekarang aku berangkat dulu ya ?” pamit Kamal setelah sejenak tersanjung atas pujian selangit yang didenagrnya. Setelah itu satu kecupannya disarangkan di kening istri tercintanya. Tak terbantahkan bahwa keputusannya ini sudah membuatnya sedih. Dan yang ditinggalkannya juga menitikkan air mata
“Harus buru-buru pulang ya? Kan ini malam pertama kita ?” pesan terakhir Wiwin
__ADS_1
Kamal mengangguk. “ Ya “ ucapnya menggantung. Dalam hatinya sendiri sangat pesimis. “Belum tentu aku bisa balik setetelah kepergianku ini. “ kata Kamal untuk dirinya sendiri.