Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Perpisahan


__ADS_3

INDRA disana sudah bisa menenangkan diri dari kegalauannya. Pada saat yang bersamaan, Wiwin masih menghitung papingblok trotoar yang dilaluinya. Hari sudah mulai gelap. Angin sore menusuk-nusuk. Tapi Wiwin tidak merasa capek dengan perjalanannya karena sambil mendengarkan music yang syairnya :


Berjalan diam-diam ternyata banyak makna


setiap sudut dapat aku lihat


Semua yang tersembunyi


serta merta kubuka


kotor berdebu kumuh dan kusam


seperti apa adanya


Angin menampar-nampar


membuatku terperangah


aku berhenti di kaki bukit


Ranting kring kerontang


patah berderak-derak


sejuta anak sakit dan lapar


menari-nari di mataku, bernyanyi-nyanyi di jiwaku


Gemuruh tanah runtuh menimpa kepala


seiring jerit ngilu menyayat

__ADS_1


Simpati hanya lewat jendela


Terlampau jauh untuk diraih


Bunga-bunga karang merenda buih air, pecahkan gelombang


Mereka terus merangkak menggapai batang angin


kita tak melihat ho.. hoo.. ho


Mari kita bersama-sama berkaca


Lihat luka bernanah di wajah kita


Berjalan diam-diam ternyata lebih bermakna


Semuanya berbicara sejujurnya


Gemuruh tanah runtuh menimpa kepala


seiring jerit ngilu menyayat


Simpati hanya lewat jendela


Terlampau jauh untuk diraih


Bunga-bunga karang merenda buih air, pecahkan gelombang


Mereka coba merangkak menggapai batang angin


kita tak melihat ho... ho ho

__ADS_1


Mari kita bersama-sama berkaca


Lihat luka bernanah di wajah kita


Berjalan diam-diam ternyata lebih bermakna


Semuanya berbicara sejujurnya


Berjalan diam-diam ternyata lebih bermakna


Semuanya berbicara sejujurnya


Demikian syair dari album Ebiet G Ade yang berjudul “Berjalan diam-diam”


Ketika perjalanan Wiwin sudah sampai rumah, ternyata gorden-gorden sudah ditutup. Pintu-pintu juga sudah dikunci. Supaya bisa masuk, akhirnya Wiwin berupaya


“Assakamualaikum…Tan… !”    tantenya sedang sholat Magrib


“Tok, tok, tok... Assalamualaikum.”


“Waalaikumussalam…” Dari dalam kali ini ada yang menjawab. Dari atas sejadah tante Wati melompat. Setelah pintu di buka. Grep ! tante Wati langsung memeluk Wiwin. Gadis ini sampai tidak bisa nafas karena lehernya terhimpit


“Win kamu dari mana aja ? Dari tadi Tante dan Oom sangat cemas karena kamu yang  pergi seharian belum pulang-pulang?”


Sebelum menjawab, Wiwin menghela nafas dulu. Setelah dadanya plong. “”Hari ini saya habis perpisahan sama Indra tan, karena setelah saya pulang kampung, kita tidak akan bisa bersama-sama lagi”


Setelah direnggangkan saat bertanya, grep ! tante Wati mendekap tubuh Wiwin lagi lebih erat. “Kalau hari itu sudah tiba, sama oom dan tantepun kamu itu tidak bisa bersama-sama lagi” alasan tante Wati mendekap Wiwin lebih erat


Dan hari yang sudah diperkirakan bakal menguras air mata itu akhirnya tiba. Sebelumnya ternyata Wiwin menghadiri dulu perpisahan di sekolah. Dengan teman dekat bangkunya Wiwin berpelukan. Sedangkan teman laki-laki yang selama ini menyukainya, orangnya berbuat lucu mewek-mewekan sambil menggisik kedua matanya. Semuanya tertawa merasa terhibur. Kalau ketemannya yang banyak, Wiwin hanya mengacungkan kedua tangannya sambil berjalan mundur. Sebenarnya ia buru-buru. Tapi teman-temannya membalas apa yang dilakukan Wiwin


“Selamat jalan Win…!” kata mereka serempak

__ADS_1


Setelah duhur barulah Wiwin siap-siap menuju terminal. Om Anwar dan tante Wati yang mengantar, melihat Wiwin naik bus dengan sebuah tentengan tas di punggunya. Berangkat pukul satu, perkiran tiba di tujuan ba’da asar. Ini sama dengan dulu ketika ia mau liburan.


Ketika bus yang ditumpangi Wiwin mulai bergerak, tante Wati dan Oom Anwar melambai. Wiwin membalasanya dari kaca bus. Makin lama, bus Jurusan Jakarta-Tasikmalaya itu semakit cepat melajunya. Lama-lama menghilang. Tante Wati yang berurai air mata, digandeng oleh Oom Anwar dan diajak pulang,


__ADS_2