Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Menyambut Pagi Di Tepi Jendela


__ADS_3

“KATA Oma dia gadis tercantik di Desa ini…Kalau hari Minggu atau Sabtu, orangnya suka lewat disini mau berlari pagi dengan kakaknya. Tapi mana sekarang mereka belum ada ? Padahal aku ditepi jendela ini sudah cukup lama. Atau mungkin hari ini mereka tidak akan berolah raga? Itu artinya hari ini aku tidak akan bertemu dengan orang yang sedang ku tunggu itu?”


Ditepi jendela Indra bergumam sendiri. Tiba-tiba di depan rumah, oma nya disapa seseorang.


“Selamat pagi nek Sarah”


“Pagi juga neng Dian…Tumben sekarang perginya sendirian?”


“Iya nek, soalnya hari ini kakak saya ada acara dengan temannya…Nenek Sarah juga tumben sekarang menyapu halamannya sendiri ? Pembantunya kemana ?”


“Sedang ngurus ayam kampung yang dipotong neng Dian…Dan kalau sudah selesai mencucinya, mungkin nyi Popon akan terus memasaknya”


“Nek Sarah banyak pelihara ayam kampung rupanya ?Terus, apa gigi nenek masih kuat gigit ayam kampung ?”


“Nggak neng, itu dibeli dari orang…Uangnya juga diberi oleh yang ingin makan daging ayam kampung tuh”


“Orang yang dimaksud Oma itu pasti dia…Orangnya memang cantik. Dan sekarang sedang melihat ke arahku”


Kepada Mia yang sedang bersama neneknya, Indra manggut. Mia pun tersenyum sambil manggut pula. Setelah itu Mia mengalihkan perhatiannya lagi kepada bu Sarah.


“Dia cucu nenek ya?”


“Iya neng. Ini hari ketiga cucu nenek itu ada disini. Mau menghabiskan liburan  disini katanya”


“Jadi nenek Sarah itu punya cucu laki-laki yang sudah segede gini ternyata ?” pikir Mia sambil mengalihkan pandangannya lagi ke arah Indra. Selain manggut, kali ini Indra juga  tersenyum.


”Gadis yang diceritakan Oma itu memang cantik. Tapi meskipun dia cantik, hati kecilku tetap saja tidak bisa melupakan Wiwin…Selamanya dan sampai kapanpun, sepertinya aku tidak akan bisa melupakan orang yang menjadi cinta pertamaku itu” Gumam dalam hati Indra setelah datang bayangan orang yang menjadi masa lalunya.


Entah apa yang jadi pertimbangan Indra ketika akhirnya ia memutuskan untuk  mengenal lebih dekat dengan Mia. Padahal selama ini, hati kecilnya itu masih tetap kepada Wiwin, Wiwin dan Wiwin. Itu sebabnya hingga saat ini Indra masih tetap menyendiri. Karena dari hatinya memang tidak ada niat dan keinginan untuk mengakhiri masa lajang.

__ADS_1


“Cucunya nenek Sarah itu ternyata kakinya pincang ?”  pikir Mia ketika Idra mau menghampirinya. Untuk Indra yang sedang liburan, ini hari yang ketiga. Tapi meskipun ingin berkenalan dengan gadis ini, batasannya masih digaris bawahi


“Biar nggak canggung kalau ketemu. Nama saya Indra”  Kata Indra sambil mengulurkan tangan.


“Mia Mardiana” Mia menyebutkan namanya sambil menjabat tangan Indra


“Tapi kalau manggil Mia aja, boleh?”


“Orang lain juga begitu…Pagi ini kak Indra sudah berpakaian olah raga ? Jangan-jangan kali ini mau ikut lari pagi dengan aku?”


“Yah…Kalau Mia nggak keberatan, memang rencananya begitu”


“Kak Indra diam-diam pandai menggoda orang juga rupanya? Mau ikut bareng lari pagi aja, sampai membelibir. Padahal tinggal ikuti aja langkahku. Cuma mungkin kita nya kayak orang bisu. Selama kebersamaannya, pada diam?” gumam dalam hati Mia


“Kalau begitu kita berangkat sekarang aja ya ? Soalnya kak Indra jalannya nggak bisa cepat-cepat seperti orang normal”


“Kak Indra ternyata agak minder dengan kekurangannya…Padahal  seandainya dia menyatakan cinta padaku, saat itu juga aku pasti akan langsung menerimanya. Karena hingga saat ini kak Fajar belum juga memberi harapan”  pikir Mia selama kebersamaannya dengan Indra.


“Siapa orang yang barusan dengan Mia ya? Padahal setelah tahu siapa kang Kamal, tadinya aku akan segera nembak dia. Tapi kalau ternyata dia sedang dekat dengan orang lain lagi, mau tidak mau niat itu harus ku urungkan lagi” gumam Fajar ketika berpapasan dengan Mia yang sedang bersama Indra


                  “Kenapa barusan kak Fajar tidak menyapaku ? Sama adik sahabat dekatnya sendiri  kak Fajar tidak mau berbaik hati dan ramah ? Terus terang hatiku tidak enak atas sikap kak Fajar barusan ? Padahal dia orang yang selama ini sangat kuharapkan bisa mengisi ke kosongan hati ini” gumam dalam hati Mia sambil terus menoleh ke belakang


“Dengan orang yang barusan berpapasan itu kamu kenal ya?” Indra bertanya kepada Mia yang terus menoleh kebelakang, meski pun Fajar sudah jauh


“Kenal banget kak”


“Tapi kenapa barusan orangnya nggak menyapa kamu ?”


“Mungkin karena aku sedang bersama kakak. Jadi kak Fajar nggak menyapa aku  kak”

__ADS_1


“Jadi laki-laki tampan itu namanya Fajar?”


“Iya kak. Dia itu teman kuliah kakak aku di kedokteran…Mulanya aku kenal dia, karena kak Fajar pernah main ke rumah. Udahlah sekarang buat apa mikirin dia terus. Mendingan sekarang kita istirahat dulu yuk”


“Boleh. Kebetulan kak Indra sudah capek”


Mia dan Indra akhirnya menuju pohon kenari yang ada di pinggir jalan. Keduanya lalu duduk di atas akar pohon itu berdampingan.


“Mi, kamu mau nggak kalau dengar cerita kak Indra “  kata Indra setelah mereka istirahat beberapa lama. Setelah gadis itu mengangguk, baru Indra menceritakan masa lalunya dengan Wiwin dari mulai ia dikenalkan oleh ayahnya sampai akhirnya hubungan mereka kandas karena Wiwin dijodohkan dengan lelaki pilihan orangtua kandungnya.


“Jadi kekasih kak Indra itu dulu di rawat oleh tantenya di kota ? Tapi setelah dewasa, ayahnya di desa kemudian menjodohkan putrinya dengan laki-laki lain?”


“Kalau bukan tujuan untuk menghibur kamu yang kecewa oleh laki-laki yang bernama Fajar barusan, sebetulnya kak Indra tidak mau mengingat lagi semua itu…Yang pasti hingga saat ini kak Indra belum bisa melupakan sosok gadis yang menjadi cinta pertama itu. Tapi setelah bertemu kamu, rasanya ada yang berubah”


“Maksud kak Indra...?”


“Mi, apa kamu bersedia kalau oleh kak Indra di jadikan untuk penggantinya ?”


“Seharusnya aku yang nanya sama kak Indra ? Apakah yang di ucapkan kakak itu serius dan  tulus keluar dari lubuk hati yang paling dalam ?”


“Tidak…! Hati kecilku yang paling dalam sebenarnya tetap cinta sama Wiwin…Selama aku belum pernah bertemu dengannya, rasa penasaran ini pasti akan tetap ada…Dan aku yakin, suatu saat aku pasti akan bertemu dengannya”  gumam dalam hati Indra sambil menerawang jauh.


“Kak Indra ternyata tidak mau menjawab…Seharusnya aku mengerti perasaannya. Caranya adalah dengan harus buru-buru mengajaknya pulang. Lagian hatiku juga sebetulnya masih terkait sama kak Fajar”  kata Mia untuk diri sendiri. Sedangkan yang keluar.


“Sekarang kita pulang yuk kak ? Mataharinya sudah mulai panas nih?”


“Iya Mi. Sebetulnya selain capek, perut kak Indra juga sudah mau di isi”


“Di isinya oleh goreng ayam kampung yang tadi baru di sembelih itu ya kak ?” canda Mia.

__ADS_1


Ternyata Indra langsung tersenyum lebar “Kalau kamu mau, bisa mampir dulu nanti” kata Indra. Langkah Fajar yang mau pulang juga, tampak lesu karena niatnya menembak Mia mendapat kendala lagi.


__ADS_2