
DANI yang sedang main mobil-mobilan di kamarnya tiba-tiba
berdiri. Tangan kanannya membawa badan mainannya itu. Sedangkan tangan kirinya
memegang rodanya yang copot. Setelah termenung beberapa lama. “Sekarang mau
minta di perbaiki kepada ayah ach “ Alasan
kemudian ia menuju kamar utama. Tapi ketika melongok dari pintunya yang terbuka
sedikit, ia melihat ayah dan bundanya itu sedang saling pegang sambil tiduran.
Sambil balik Dani bergumam” Ternyata ayahnya juga sedang bersama bunda…”
“O, iya. Minta diperbaikinya ke nenek Ijah aja ach” bocah dua tahun lebih beberapa bulan itu
akhirnya lari kedapur. Tapi sesampainya di tujuan, ternyata bi Ijah sedang mencuci
baju. “Ternyata nek Ijah juga sedang sibuk” gumam bocah itu kali ini.
Dani yang mau mobil-mobilannya bisa dimainkan lagi, tambah
bingung. Sedangkan orang tuanya di kamar, terus memanfaatkan situasi yang
lengang seperti orang yang sedang berpacaran.
“Jadi bunda siap memberi adik untuk Dani itu, kapan?”
“Nanti aja kalau Dani nya sudah genap tiga tahun”
“Kalau begitu, sekarang minta satu ciumanmu aja”
Kamal merubah posisi jadi membalik kearah sang istri. Tapi oleh
yang dimintanya mengabulkan permohonan, Kamal di tantang dulu beradu pandang.
Maka melintaslah dalam benak keduanya mengenai perjalanan cinta mereka yang
penuh pengorbanan dan berliku. Semakin jauh mereka melambung, semakin dekat
wajah keduanya. Pas bibir Kamal hampir kena ke batas yang di inginkannya,
tiba-tiba dari luar terdengar rebut-ribut. Malah ada yang memanggilnya dengan
suara keras lantaran panik.
“Den Kamal…! Neng Wiwin…!”
“Bun? Diluar ada yang manggil kita? Dan seperti banyak
orang?”
“Iya yah. Ayo cepetan kita keluar…?Ternyata ada yang
memanggil kita seperti panik juga?”
Kamal dan Wiwin akhirnya keluar. Setibanya di luar bukan
main shoknya pasangan ini. Ternyata warga itu mengantarkan anaknya yang
berlumuran darah.
“Daniii…!” Malah Wiwin. Setelah itu . Les, ia tidak sadarkan
diri. Karena selain berlumuran darah, anaknya itu tidak sadarkan diri juga.
“Pak ? Dimana bapak menemukan anak kami ini?” Kalau Kamal masih bisa kuat karena
laki-laki.
__ADS_1
“Di jalan raya den. Kata saksi mata, putra aden ini
terserempet motor terus terlempar. Sekarang cepat bawa kerumah sakit den.
Mudah-mudahan masih bisa tertolong”
Dengan di temani beberapa warga, akhirnya Kamal membawa Dani
kerumah sakit. Wiwin yang pingsan, di urus oleh ibu-ibu tetangganya. Atas
peristiwa ini, pasangan muda ini benar-benar merasa terpukul. Apalagi
sebelumnya mereka abai karena ego berdua.
Dari kecelakaan itu ternyata Dani masih bisa diselamatkan.
Tapi belum juga kepanikannya reda, Kamal dan Wiwin lagi-lagi mendapat kabar
yang membuatnya tambah sedih.
“Pak Kamal ? Bu Wiwin ? Apa bapak dan ibu tahu bahwa selama
ini putnyanya punya penyakit bawaan yang sangat serius?”
Ketika dokter berkata seperti itu, Kamal dan Wiwin saling
tatap dulu sebelum menjawab. Tapi setelah itu Wiwin lalu memberi penjelasan.
“Tidak dok. Malah selama ini saya melihat anak kami itu
baik-baik saja”
“Iya dok. Meskipun waktu saya bersamanya lebih sedikit dari
ibunya, tapi anak kami memang kesehariannya itu ceria dan aktif. Tidak pernah
mengeluh apapun”
hasil penumuan tambahan dari hasil pemeriksaan yang sudah keluar”
“Ayah…? Rasanya aku tidak akan sanggup kalau harus
kehilangan Dani lebih cepat…” Ucap Wiwin setelah dokter tidak ada.
“Sama aku juga bun…Kita menunggu kehadirannya itu butuh
waktu bertahun-tahun. Kalau kini dia harus pergi cepat, aku juga pasti akan
selalu sedih”
“Kita harus melakukan sesuatu yah? Tanyakan lagi ke dokter
yang tadi apa yang harus kita lakukan?”
“Iya bun. Nanti aku akan konsultasi kepada dokter yang tadi.
Kalau aku lama kembali, mungkin terus menjalankan yang disarankannya.
Sebelum pergi, ternyata Kamal ngemong dulu buah hatinya.
Dani yang masih tidur karena pengaruh obat, oleh Kamal kepalanya di usap-usap.
“Sayang…? Sekarang ayah mau pergi dulu ya ? Kalau bangun,
kamu jangan nangis. Kamu harus kasihan sama bunda… Sekarang ayah mau berihtiar
supaya kita bisa berkumpul lagi.
“Cup…” Sebelum pergi
__ADS_1
Kamal menyarangkan kecupun di kening anaknya itu. Kepada Wiwin sama. Setelah
suaminya pergi Wiwin kembali duduk. Anaknya yang pulas terus ia tunggui dengan
setulus hati tanpa aral melintang.
Kembalinya lagi Kamal ke sall ternyata ketika jarum jam yang
ada di ruangan itu sudah menunjukan pukul tiga sore. Wiwin yang selama ini
harap-harap cemas, tentu saja langsung memburunya.
“Ayah ? Bagaimana hasilnya…?” Wiwin yang selama ini menunggu dalam keadaan
cemas, langsung memburu Kamal yang datang. Tapi untuk waktu yang lumayan lama,
yang diburunya malah hanya terdiam untuk sesuatu yang belum pasti. Dalam
ilustrasinya itu mobil Indra yang membawa Wiwin berhenti di depan sebuah hotel.
Indra kemudian keluar dari mobilnya itu. Setelah Wiwin keluar, lalu mereka berjalan
sambil gandengan menuju ke meja resepsionis
“Ada yang bisa saya bantu ?” Setiap tamu yang datang, pasti ditanya. Begitu juga dalam pikiran Kamal
yang sedang ber ilustrasi
“Kita mau cek in mbak”
“Untuk nginap berapa hari dan atas nama siapa ?”
“Atas nama Indra. Nginapnya untuk satu hari saja”
“Tunggu sebentar ya pak ?”
Resepsionis ngecek kamar yang kosong dari buku tamu. Setelah
mencatat pemesan terkini, baru ia mengambil kunci.
“Ini kuncinya pak. Kamar yang bapak pesan ada di lantai
bawah”
Kamal yang sedang berhayal jauh langsung bergumam. “
Perempuan ini memang cantik. Dulu aku mati-matian memperjuangkan supaya bisa
memilikinya. Tapi setelah bertemu mantannya, ternyata dia berani khianati aku.
Dan selama ini pandai sekali dia menyimpan kebusukannya itu! “ Demikian makna tatapan Kamal kepada wiwin
dari unjung rambut sampai unjung kakinya
“Yah, kenapa malah diam ? Aku tadi nanya, bagaimana
hasilnya?”
“Kurasa tidak perlu
nanya ! Karena untuk jawabannya, kamu pasti lebih tahu!” Kamal menepis tangan Wiwin yang selama ini
memegangnya. Setelah itu jakketnya yang tadi di simpan di atas Kasur Dani, di
sambar.
“Sekarang kamu mau kemana ? Ke ingintahuanku juga, kamu
tidak memberi penjelasan ?” Wiwin yang
__ADS_1
tidak mengerti apa-apa, berusaha mengejar. Tapi oleh Kamal tidak di hiraukan.
Setelah masuk ke mobilnya, Kamal lalu pergi.