Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Orang Tua Berhaji Anak Diuji. Bagian 1


__ADS_3

DANI yang sedang main mobil-mobilan di kamarnya tiba-tiba


berdiri. Tangan kanannya membawa badan mainannya itu. Sedangkan tangan kirinya


memegang rodanya yang copot. Setelah termenung beberapa lama. “Sekarang mau


minta di perbaiki kepada ayah ach “  Alasan


kemudian ia menuju kamar utama. Tapi ketika melongok dari pintunya yang terbuka


sedikit, ia melihat ayah dan bundanya itu sedang saling pegang sambil tiduran.


Sambil balik Dani bergumam” Ternyata ayahnya juga sedang bersama bunda…”


“O, iya. Minta diperbaikinya ke nenek Ijah aja ach”  bocah dua tahun lebih beberapa bulan itu


akhirnya lari kedapur. Tapi sesampainya di tujuan, ternyata bi Ijah sedang mencuci


baju. “Ternyata nek Ijah juga sedang sibuk” gumam bocah itu kali ini.


Dani yang mau mobil-mobilannya bisa dimainkan lagi, tambah


bingung. Sedangkan orang tuanya di kamar, terus memanfaatkan situasi yang


lengang seperti orang yang sedang berpacaran.


“Jadi bunda siap memberi adik untuk Dani itu, kapan?”


“Nanti aja kalau Dani nya sudah genap tiga tahun”


“Kalau begitu, sekarang minta satu ciumanmu aja”


Kamal merubah posisi jadi membalik kearah sang istri. Tapi oleh


yang dimintanya mengabulkan permohonan, Kamal di tantang dulu beradu pandang.


Maka melintaslah dalam benak keduanya mengenai perjalanan cinta mereka yang


penuh pengorbanan dan berliku. Semakin jauh mereka melambung, semakin dekat


wajah keduanya. Pas bibir Kamal hampir kena ke batas yang di inginkannya,


tiba-tiba dari luar terdengar rebut-ribut. Malah ada yang memanggilnya dengan


suara keras lantaran panik.


“Den Kamal…! Neng Wiwin…!”


“Bun? Diluar ada yang manggil kita? Dan seperti banyak


orang?”


“Iya yah. Ayo cepetan kita keluar…?Ternyata ada yang


memanggil kita seperti panik juga?”


Kamal dan Wiwin akhirnya keluar. Setibanya di luar bukan


main shoknya pasangan ini. Ternyata warga itu mengantarkan anaknya yang


berlumuran darah.


“Daniii…!” Malah Wiwin. Setelah itu . Les, ia tidak sadarkan


diri. Karena selain berlumuran darah, anaknya itu tidak sadarkan diri juga.


“Pak ? Dimana bapak menemukan anak kami ini?”   Kalau Kamal masih bisa kuat karena


laki-laki.

__ADS_1


“Di jalan raya den. Kata saksi mata, putra aden ini


terserempet motor terus terlempar. Sekarang cepat bawa kerumah sakit den.


Mudah-mudahan masih bisa tertolong”


Dengan di temani beberapa warga, akhirnya Kamal membawa Dani


kerumah sakit. Wiwin yang pingsan, di urus oleh ibu-ibu tetangganya. Atas


peristiwa ini, pasangan muda ini benar-benar merasa terpukul. Apalagi


sebelumnya mereka abai karena ego berdua.


Dari kecelakaan itu ternyata Dani masih bisa diselamatkan.


Tapi belum juga kepanikannya reda, Kamal dan Wiwin lagi-lagi mendapat kabar


yang membuatnya tambah sedih.


“Pak Kamal ? Bu Wiwin ? Apa bapak dan ibu tahu bahwa selama


ini putnyanya punya penyakit bawaan yang sangat serius?”


Ketika dokter berkata seperti itu, Kamal dan Wiwin saling


tatap dulu sebelum menjawab. Tapi setelah itu Wiwin lalu memberi penjelasan.


“Tidak dok. Malah selama ini saya melihat anak kami itu


baik-baik saja”


“Iya dok. Meskipun waktu saya bersamanya lebih sedikit dari


ibunya, tapi anak kami memang kesehariannya itu ceria dan aktif. Tidak pernah


mengeluh apapun”


hasil penumuan tambahan dari hasil pemeriksaan yang sudah keluar”


“Ayah…? Rasanya aku tidak akan sanggup kalau harus


kehilangan Dani lebih cepat…” Ucap Wiwin setelah dokter tidak ada.


“Sama aku juga bun…Kita menunggu kehadirannya itu butuh


waktu bertahun-tahun. Kalau kini dia harus pergi cepat, aku juga pasti akan


selalu sedih”


“Kita harus melakukan sesuatu yah? Tanyakan lagi ke dokter


yang tadi apa yang harus kita lakukan?”


“Iya bun. Nanti aku akan konsultasi kepada dokter yang tadi.


Kalau aku lama kembali, mungkin terus menjalankan yang disarankannya.


Sebelum pergi, ternyata Kamal ngemong dulu buah hatinya.


Dani yang masih tidur karena pengaruh obat, oleh Kamal kepalanya di usap-usap.


“Sayang…? Sekarang ayah mau pergi dulu ya ? Kalau bangun,


kamu jangan nangis. Kamu harus kasihan sama bunda… Sekarang ayah mau berihtiar


supaya kita bisa berkumpul lagi.


“Cup…”   Sebelum pergi

__ADS_1


Kamal menyarangkan kecupun di kening anaknya itu. Kepada Wiwin sama. Setelah


suaminya pergi Wiwin kembali duduk. Anaknya yang pulas terus ia tunggui dengan


setulus hati tanpa aral melintang.


Kembalinya lagi Kamal ke sall ternyata ketika jarum jam yang


ada di ruangan itu sudah menunjukan pukul tiga sore. Wiwin yang selama ini


harap-harap cemas, tentu saja langsung memburunya.


“Ayah ? Bagaimana hasilnya…?”  Wiwin yang selama ini menunggu dalam keadaan


cemas, langsung memburu Kamal yang datang. Tapi untuk waktu yang lumayan lama,


yang diburunya malah hanya terdiam untuk sesuatu yang belum pasti. Dalam


ilustrasinya itu mobil Indra yang membawa Wiwin berhenti di depan sebuah hotel.


Indra kemudian keluar dari mobilnya itu. Setelah Wiwin keluar, lalu mereka berjalan


sambil gandengan menuju ke meja resepsionis


“Ada yang bisa saya bantu ?”  Setiap tamu yang datang, pasti ditanya. Begitu juga dalam pikiran Kamal


yang sedang ber ilustrasi


“Kita mau cek in mbak”


“Untuk nginap berapa hari dan atas nama siapa ?”


“Atas nama Indra. Nginapnya untuk satu hari saja”


“Tunggu sebentar ya pak ?”


Resepsionis ngecek kamar yang kosong dari buku tamu. Setelah


mencatat pemesan terkini, baru ia mengambil kunci.


“Ini kuncinya pak. Kamar yang bapak pesan ada di lantai


bawah”


Kamal yang sedang berhayal jauh langsung bergumam. “


Perempuan ini memang cantik. Dulu aku mati-matian memperjuangkan supaya bisa


memilikinya. Tapi setelah bertemu mantannya, ternyata dia berani khianati aku.


Dan selama ini pandai sekali dia menyimpan kebusukannya itu! “   Demikian makna tatapan Kamal kepada wiwin


dari unjung rambut sampai unjung kakinya


“Yah, kenapa malah diam ? Aku tadi nanya, bagaimana


hasilnya?”


   “Kurasa tidak perlu


nanya ! Karena untuk jawabannya, kamu pasti lebih tahu!”   Kamal menepis tangan Wiwin yang selama ini


memegangnya. Setelah itu jakketnya yang tadi di simpan di atas Kasur Dani, di


sambar.


“Sekarang kamu mau kemana ? Ke ingintahuanku juga, kamu


tidak memberi penjelasan ?”  Wiwin yang

__ADS_1


tidak mengerti apa-apa, berusaha mengejar. Tapi oleh Kamal tidak di hiraukan.


Setelah masuk ke mobilnya, Kamal lalu pergi.


__ADS_2