
SETELAH solat isa pak Panji dan bu Suamiati sama-sama menuju
ke ruang TV dengan berpakaian agak sopan. Tidak lama setelah mereka duduk di
kursi yang sama, Mia putrinya muncul. Ini bukan kebetulan. Tapi sebelumnya
mereka sudah membuat kesepakatan. Bahwa ada yang mau ditanyakan, tapi nanti
saja waktunya ba’da isa. Kata Mia tadi siang.
“Sekarang kita sudah sama-sama ada disini Mi? Laku mengenai apa
sebenarnya yang mau kamu tanyakan ketika itu sehingga kamu minta waktunya disaat
semua orang sudah mau istirahat?”
“Seperti apa kesalahan ayah dulu kepada pak Suherman
sehingga sekarang ayahnya Indra itu begitu membenci aku?” Tanya Mia tuthepoin.
Pak Panji dan bu Sumiati langsung saling tatap. Didalam benak keduanya lalu
melintas.
“Kita menikah itu sudah enam bulan ya Sum. Tapi selama ini
kita tidur terpish seperti bukan suami istri. Kalau malam ini aku tidur disini
boleh tidak?”
“Tapi aku masih belum siap tidur sebagai suami istri”
“Ya udah kalau kamu masih belum siap. Tapi mana bajumu yang
kotor? Besok aku nyucinya mau pagian. Soalnya baju yang mau disetrika sudah
numpuk. Terus kalau makan lauknya mau apa? Yang kamu mau besok aku pasakin ya?”
Ketika mengingat lagi masa lalu, air mata bu Sumiati
tiba-tiba berjatuhan. Pertanyaan Mia tadi lalu ia coba jawab mewakili suaminya.
“Kesalahan ayahmu kepada pak Suherman bisa dibilang cukup
besar Mi…Dulu ibu itu kekasihnya pak Suherman, tapi oleh ayahmu direbut dengan cara
minta bantuaan ayahnya yang sekarang jadi kakek kamu…Sebagai anak yatim yang di
urus hanya oleh seorang ibu dengan harta pas-pasan, pak Suherman mungkin sakit
hati oleh ayahmu anak kuwu jeneng yang waktu itu termasuk keluarga berada…Tapi
selama ini ayahmu sudah mendapat balasannya. Karena setelah ayah dan ibu
menikah, tiap hari ayahmu itu mencucikan baju ibu dan menyetrikanya…Kalau pagi
dan sore lalu masak. Setelah makanannya matang lalu diantar ke ibu yang terus
mengurung diri di kamar setelah menikah…Bukan cuma itu…Setelah berbulan-bulan
__ADS_1
menikah, ayahmu juga belum mendapatkan apa-apa dari ibu sebagai istrinya…Jadi
mohon Mi, kepada ayah jangan menuntut apa-apa…Dulu ibu juga menyesal karena
selama ini sudah mengabaikannya…Tapi ayahmu tetap sabar, dia tidak mengadukan
hal ini kepada orangtuanya…Padahal orangtuanya yang kini menjadi kakekmu itu
seorang kepala desa yang sangat disegani saat itu…Kakekmu itu dulu memberi kami
rumah…Rumahnya itu yang sekarang jadi rumah kontrakan MELISA HAPPY…Dulu ayahmu
dan pak Suherman itu dua sahabat. Waktu abg ibu dan mereka suka berburu pipit
di sawah…Rupanya waktu itu dua-duanya suka sama ibu… Sampai akhirnya terjadi
peristiwa yang membuat pak Suherman jadi dendam terhadap ayah kamu…”
“Sekarang kalau kamu mau menyalahkan ayah, silahkan Mi…Dulu
ayah memang bersalah kepada ayahnya Indra itu…Sebenarnya sudah lama ayah juga
mau minta maaf kepada Herman. Tapi setelah dia tinggal di kota, sampai sekarang
kita belum pernah bertemu...” Pak Panji
melengkapi penuturan bu Sumiati. Setelah mendengar cerita dari kedua orangtua,
ternyata Mia bukannya marah. Ia malah ikut menangis dan merangkul ibunya yang sedang
berderai air mata.
“Bu ? Terimakasil dulu sudah memberikan cintanya kepada
akhirya bisa lahir kedunia ini. Tapi kak Indra…”
“Kenapa dengan Indra ?” Tanya pak panji dan bu Sumiati
bersamaan. Mia akhirnya menceritakan yang di pendamnya selama ini. Semua cerita
dari Galang, kini diceritakannya lagi dari awal sampai akhir.
“Ternyata gesekan yang terjadi dulu, kini berdampak kepada
keturunannya…Jadi sekarang Indra sedang tidak baik-baik saja kerena kena
bumerang yang mau dilakukan ayahnya untuk balas dendam kepada ayah…? Dia
stress?”
“Iya ayah. Kata mas Galang seterti itu…Untuk itu saya minta
izin kepada ayah dan ibu…Dalam waktu dekat saya mau pergi ke Medan untuk
menemui Indra”
“Tapi alamatnya kan kamu belum tahu ? Selain itu, terus
pekerjaanmu bagaimana ? Kamu mau mencari Indra di kota itu yang belum tahu
__ADS_1
alamatnya, pasti tidak akan sebentar. Jadi lebih baik kamu tidak harus sejauh
itu kalau pertatian kepada Indra…? Tunggu saja perkembangan berikutnya. Mungkin
nanti akan ada kabar lagi “
“Tidak ayah…Kalau hanya menunggu kabar yang belum tentu ada,
saya tetap akan teguh pendirian…Kalau soal pekerjaan, mungkin saya akan
mengundurkan diri saja supaya tidak menjadi beban”
Mendengar pendirian putrinya yang keukeuh mau pergi, air
mata bu Sumiati tambah deras. Meskipun laki-laki, pak Panji juga sama. Mia
sendiri kemudian mengambil HP nya. Terus melacak satu nomor. Mungkin orang ini
akan bisa jadi perantara atas maksud dan tujuannya. Pikr Mia.
“Assalamualaikum…” Setelah tersambung, orang disana uluk
salam.
“Wa’alaikumussalam…Mbak maaf mengganggu ya?”
“Tidak…Dik Mia itu memangnya ada perlu apa nelpon
malam-malam?”
“Kalau dibicarakan lewat telpon sebenarnya bakal lama.
Bagaimana kalau besok saya ke rumah mbak saja. Mbaknya tidak akan pergi
kemana-mana kan?”
“Oh tidak…Mbak selalu ada dirumah dik Mia”
“Kalau begitu besok insya Alloh saya mau kerumah mbak.
Sekarang HP nya mau saya tutupdulu ya? Selamat malam mbak. Assalamualaikum…”
“Wa’alaikumussalam…”
“Mau bicara apa sebenarnya Mia ya?” setelah HP nya mati Wiwin bertanya pada diri
sendiri. Ketika masih dalam bingung sambil memegang HP, tiba-tiba Kamal
menghampiri.
“Siapa yang barusan nelpon bun?”
“Mia yah…Tapi entah mau apa…? Katanya besok dia mau kemari”
“Ya udah, ngak usah dibikin pusing. Mendingan sekarang
persiapan untuk tidur. Dani belum di pipisin dulu kan? Sekarang ayo kita suruh
berhenti dulu main game nya” Maksud
__ADS_1
Kamal kalau sebelum tidur anaknya itu suka di suruh pipis dulu ke kamar kecil.
Itu bagian dari ihtiar supaya anak itu tidak pipis di tempat tidur.