Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Membuka Lembaran Baru


__ADS_3

SETELAH beberapa hari di rawat, hari ini Kamal sudah


diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Setibanya dirumah ternyata banyak


tetangganya yang sedang membantu memasak. Karena hari ini ayah dan ibunya  akan datang pula. Rencananya nanti malam akan


langsung tasyakuran.


“Kalau aku menjembut bapak dan ibu, ayah jangan ikut ya? Tunggu


aja dirumah dengan Dani”


“Tapi momen ini kan hanya satu kali seumur hidup. Nyesel


bangat kalau aku tidak ikut  menjemput orangtua


yang sudah jadi tamu Alloh”


“Ya udah…Tapi nanti tunggu aja di dalam mobil bersama Dani.


Yang berbaur di kerumunan biar aku saja dan mang Kardi”


Setelah ada kesepakatan soal penjemputan yang pulang dari


tanah suci, Wiwin mengantar Kamal ke ruang tengah. “Sekarang ayah istirahat


dulu disini ya? Nanti setelah solat duhur kita siap-siap untuk berangkat ke


pendopo”


Kamal yang baru pulang dari rumah sakit, akhirnya rebahan di


kursi. Tidak lama kemudian ceu Mimin menghampiri di ikuti ibu-ibu lainnya.


“Den, syukur Alhamdulillah…Ceu Min ikut senang sekarang den


Kamal sudah bisa pulang kerumah “ kata ceu Min. Terus menyalami Kamal. Yang


lain juga begitu.


“Semoga setelah ini sehat seterusnya ya den? Dan berkumpul


dengan keluarga tidak ada lagi cobaan”


“Amiin…”  Kamal dan


Wiwin mengamini tetangganya yang mendo’akan. Sambil sibuk itu ini, azan duhur akhirnya


berkumandang di masjid-masjid. Pasangan yang mulai hari niat membuka lembaran


baru dalam rumah tangganya ini, buru-buru pada kejamban untuk mengambil air


wudlu. Setelah solat mereka siap-siap untuk berangkat. Dan karena tadinya sudah


janjian, tidak lama kemudian orang yang mau nyetir mobil Kamal pun datang.


Setelah segala sesuatunya beres, mobil yang di kemudikan orang lain itu


bergerak meninggalkan halaman rumah.


“Yah? Di alun-alunnya ternyata sudah penuh. Meluahnya dari


keluarga yang sama-sama mau menjemput, ternyata sampai ke depan pendopo ?”  Sesampainya di tujuan, Wiwin langsung


nyeloteh.


“Bunda hati-hati kalau nanti berbaur kedalam kerumunan.


Menurut yang sudah pengalaman, copet suka memanfaatkan situasi katanya”


“Jangan khawatir den. Karena mamang akan selalu mengawal


neng Wiwin”


Wiwin Dan mang Kardi akhirnya turun dari mobil. Setelah di


luar, keduanya lalu mendekati tempat panitia perwakilan KBIH yang membimbing manasik


mertuanya selama ini. Tidak lama kemudian salah satu dari yang ditugaskan itu


menyampaikan pengumuman. “Hadirin yang berada di jalan di harap segera


mengosongkan jalan karena bus rombongan sudah mulai masuk ke gerbang


alun-alun!”


Tidak lama setelah pengumuman, sebelas bus rombongan kloter

__ADS_1


52 perlahan-lahan memasuki jalan yang masuk pendopo. Kamal yang menunggu di


mobil dengan Dani, pandangannya tertuju ke bus nomor 6. Begitu juga Wiwin dan


mang Kardi yang menunggu di pendopo. Begitu kesebelas bus rombongan berhenti


dan penumpangnya pada turun, Wiwin langsung memburu mertuanya yang keluar dari


bus nomor 6. Dengan mertua perempuan, Wiwin berpelukan disertai tangis haru.


Kamal yang menyaksikan momen itu dari dalam mobilnya, mengeluarkan air mata


juga. Tapi ia menahan dulu emosinya mengingat situasi dan kondisi yang tidak


memungkinkannya keluar sambil membawa anak kecil.


“Ayah…? Itu kakek dan nenek sedang berpelukan dengan bunda?”


“Iya Dan. Sekarang kita sabar aja tunggu disini ya?”


“Ayah nangis ?”


“Ayah itu sedih sayang…Karena mulai hari ini kita sekeluarga


akan berkumpul lagi seperti dulu”


“Nanti ayah juga tidurnya dengan bunda lagi ?”


“Sudah ach anak kecil jangan ngomong soal itu. Sekarang kita


fokus aja melihat nenek dan kakek. Tuh sekarang kakek dan nenek nya sudah


menuju kemari dengan bunda”


Ketika Kamal mau mengalihkan pembicaraan anaknya yang lebih


ke orang dewasa, memang kedua orangtuanya sudah di bimbing Wiwin menuju mobil.


Pas sampai, bu Arum dan pak Kosim langsung memeluk Kamal yang sebetulnya belum


seratus persen sehat.


“Mal ? Ketika mendapat kabar kalian disini mendapat musibah


bertubi-tubi, kita cemas banget. Bagaimana keadaanmu sekarang ?”


“Ya. Kalau hanya tinggal satu macam, lebih ringan


nanganinya. Kamu terus jaga saja pola makan. Itu riwayat penyakit lama yang


kamu punya kan?”   Bu Arum ngelus kepala


Kamal.


“Kakek…? Nenek…? Kok aku di biarin ? Ngngng…”  Ketika kakek neneknya terus bergantian


menanyai keadaan Kamal, Dani tiba-tiba menangis karena merasa tidak dihiraukan.


Bu Arum dan pak Kosim yang sedang melepas rindu dengan anaknya, akhirnya langsung


mengalihkan perhatian ke cucunya.


“Dan…? Kakek sebenannya lebih khawatir dan rindu sama kamu


sayang?”


“Iya Dan…Sekarang nenek juga mau tahu bekas kecelakaanmu itu


? Dimana dulu yang banyak darahnya itu?”


“Disini nek ? Ini bekasnya masih ada “  Dani menunjukan bekas luka yang ada di bagian


dahinya. Oleh bu Arum kini bekas luka cucunya itu di cium sambil anaknya


dipangku. Pak Kosim untuk sementara hanya mengusapnya saja.


“Oya kek. Unta-untanya pesanan aku mana?”


“Ada di dalam kopor. Sekarang kopornya sedang di ambil dulu


oleh kakek Kardi”


“Pedang-pedangan pesanan kamu dari nenek juga ada disana


Dan. Pedang-pedangannya menyala lho. Ada lampunya. Tapi kamu harus sabar ya ?


Karena ngambil kopornya kakek Kardi harus ngantri karena yang mau ngambil

__ADS_1


kopor, ratusan”


Yang mengambil kopor jamaah yang di pendopo memang ngantri.


Tapi beberapalama kemudian mang Kardi akhirnya muncul sambil membawa dua kopor.


Setelah semuanya beres, mobil jemputan lalu meninggalkan alun-alun. Setibanya


di rumah keharuan pecah lagi karena tetangga yang menyambut, lebih berpariasi


dalam penyambutannya. Terutama bi Ijah yang dirumah sudah dianggap seperti


keluarga sendiri.


“Ibu…? Juragan…? Alhamdulillah bisa pulang lagi dengan


selamat. Akhirnya kita semua bisa berkumpul lagi?”


“Iya Jah…Mulai hari ini kita juga mau ikrar membuka lembaran


baru nanti malam”


“Oya ? Masakannya untuk para tamu undangan nanti, masih pada


dikerjakan ya?”  Tanya pak Kosim setelah


melepas kangen dengan semua orang yang ada dirumahnya.


“Sudah hampir beres pak Haji.”


“Iya pak Haji. Tinggal nunggu daging matang dan nasi ya ceu Okom?” Jawab orang


dapur. Kepada pak Kosim kini mereka jadi pak haji nyebutnya. Padahal tadinya suka


manggil juragan.


Malam harinya soal ini di garis bawahi oleh pribumi. “Sebelum


ke acara inti yang nanti akan di pimpin langsung oleh pak Ustadz. Pertama-tama


saya dan anak saya akan menyampaikan dulu sesuatu dengan harapan semua yang


hadir bisa mengambil hikmah. Hadirin pasti tahu bahwa dulu saya ini bukanlah


orang yang baik. Salah satu contoh, ketika dulu anak saya mau menikah dengan


orang miskin, saya waktu itu menolak mentah-mentah karena yang ada dipikiran


saya saat itu hanya martabat dan kewibawaan nomor satu. Selanjutnya mungkin


anak kami mau melanjutkannya lebih detail“  Pak Kosim memberi kesempatan kepada Kamal untuk mengisahkan masa lalunya


yang tidak lebih baik dari sekarang.


“Betul bapak-bapak…Ketika dulu saya mau menikahi istri saya


ini, ayah saya itu menolak mentah-mentah dengan alasan seperti yang telah


diakuinya tadi. Tapi karena sudah jodoh, akhirnya kami menikah juga. Padahal


sebelum bertemu dengan saya, oleh tante yang merawatnya dari kecil istri saya


ini sudah di jodohkan dengan orang lain…Setelah dalam rumah tangga kami banyak cobaan,


malam ini kita sekeluarga ikrar mau membuka lembaran baru untuk kehidupan yang


diharapkan lebih baik dari sebelumnya... Untuk itu malam ini bapak-bapak


sekalian kita undang untuk diminta dorongan do,anya untuk kami sekeluarga.


Hanya sekian dari saya. Sekarang silahkan ustadz memimpin do’anya” kata Kamal


panjang lebar. Pak kiayi pun jadi tidak harus bertausiah lagi karena inti dari


maksud dan tujuannya sudah di jelaskan pribumi. Tapi kepada yang duduk disampingnya


pak kiayi berbisik.


“Cep Dani ? Nanti kalau pak ustadz sedang membacakan do’a,


tangannya di angkat untuk mengamini ya?”


“Baik pak ustadz “  Dani anak yang cerdas, begitu lantang menjawab pesan udtasz. Keluarga


yang mau dido’akan semuanya memakai baju putih. Mereka duduk hidmat menunjukkan


bahwa tekadnya mau menjadi orang yang lebih baik sudah bulat.

__ADS_1


__ADS_2