
SETELAH beberapa hari di rawat, hari ini Kamal sudah
diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Setibanya dirumah ternyata banyak
tetangganya yang sedang membantu memasak. Karena hari ini ayah dan ibunya akan datang pula. Rencananya nanti malam akan
langsung tasyakuran.
“Kalau aku menjembut bapak dan ibu, ayah jangan ikut ya? Tunggu
aja dirumah dengan Dani”
“Tapi momen ini kan hanya satu kali seumur hidup. Nyesel
bangat kalau aku tidak ikut menjemput orangtua
yang sudah jadi tamu Alloh”
“Ya udah…Tapi nanti tunggu aja di dalam mobil bersama Dani.
Yang berbaur di kerumunan biar aku saja dan mang Kardi”
Setelah ada kesepakatan soal penjemputan yang pulang dari
tanah suci, Wiwin mengantar Kamal ke ruang tengah. “Sekarang ayah istirahat
dulu disini ya? Nanti setelah solat duhur kita siap-siap untuk berangkat ke
pendopo”
Kamal yang baru pulang dari rumah sakit, akhirnya rebahan di
kursi. Tidak lama kemudian ceu Mimin menghampiri di ikuti ibu-ibu lainnya.
“Den, syukur Alhamdulillah…Ceu Min ikut senang sekarang den
Kamal sudah bisa pulang kerumah “ kata ceu Min. Terus menyalami Kamal. Yang
lain juga begitu.
“Semoga setelah ini sehat seterusnya ya den? Dan berkumpul
dengan keluarga tidak ada lagi cobaan”
“Amiin…” Kamal dan
Wiwin mengamini tetangganya yang mendo’akan. Sambil sibuk itu ini, azan duhur akhirnya
berkumandang di masjid-masjid. Pasangan yang mulai hari niat membuka lembaran
baru dalam rumah tangganya ini, buru-buru pada kejamban untuk mengambil air
wudlu. Setelah solat mereka siap-siap untuk berangkat. Dan karena tadinya sudah
janjian, tidak lama kemudian orang yang mau nyetir mobil Kamal pun datang.
Setelah segala sesuatunya beres, mobil yang di kemudikan orang lain itu
bergerak meninggalkan halaman rumah.
“Yah? Di alun-alunnya ternyata sudah penuh. Meluahnya dari
keluarga yang sama-sama mau menjemput, ternyata sampai ke depan pendopo ?” Sesampainya di tujuan, Wiwin langsung
nyeloteh.
“Bunda hati-hati kalau nanti berbaur kedalam kerumunan.
Menurut yang sudah pengalaman, copet suka memanfaatkan situasi katanya”
“Jangan khawatir den. Karena mamang akan selalu mengawal
neng Wiwin”
Wiwin Dan mang Kardi akhirnya turun dari mobil. Setelah di
luar, keduanya lalu mendekati tempat panitia perwakilan KBIH yang membimbing manasik
mertuanya selama ini. Tidak lama kemudian salah satu dari yang ditugaskan itu
menyampaikan pengumuman. “Hadirin yang berada di jalan di harap segera
mengosongkan jalan karena bus rombongan sudah mulai masuk ke gerbang
alun-alun!”
Tidak lama setelah pengumuman, sebelas bus rombongan kloter
__ADS_1
52 perlahan-lahan memasuki jalan yang masuk pendopo. Kamal yang menunggu di
mobil dengan Dani, pandangannya tertuju ke bus nomor 6. Begitu juga Wiwin dan
mang Kardi yang menunggu di pendopo. Begitu kesebelas bus rombongan berhenti
dan penumpangnya pada turun, Wiwin langsung memburu mertuanya yang keluar dari
bus nomor 6. Dengan mertua perempuan, Wiwin berpelukan disertai tangis haru.
Kamal yang menyaksikan momen itu dari dalam mobilnya, mengeluarkan air mata
juga. Tapi ia menahan dulu emosinya mengingat situasi dan kondisi yang tidak
memungkinkannya keluar sambil membawa anak kecil.
“Ayah…? Itu kakek dan nenek sedang berpelukan dengan bunda?”
“Iya Dan. Sekarang kita sabar aja tunggu disini ya?”
“Ayah nangis ?”
“Ayah itu sedih sayang…Karena mulai hari ini kita sekeluarga
akan berkumpul lagi seperti dulu”
“Nanti ayah juga tidurnya dengan bunda lagi ?”
“Sudah ach anak kecil jangan ngomong soal itu. Sekarang kita
fokus aja melihat nenek dan kakek. Tuh sekarang kakek dan nenek nya sudah
menuju kemari dengan bunda”
Ketika Kamal mau mengalihkan pembicaraan anaknya yang lebih
ke orang dewasa, memang kedua orangtuanya sudah di bimbing Wiwin menuju mobil.
Pas sampai, bu Arum dan pak Kosim langsung memeluk Kamal yang sebetulnya belum
seratus persen sehat.
“Mal ? Ketika mendapat kabar kalian disini mendapat musibah
bertubi-tubi, kita cemas banget. Bagaimana keadaanmu sekarang ?”
“Ya. Kalau hanya tinggal satu macam, lebih ringan
nanganinya. Kamu terus jaga saja pola makan. Itu riwayat penyakit lama yang
kamu punya kan?” Bu Arum ngelus kepala
Kamal.
“Kakek…? Nenek…? Kok aku di biarin ? Ngngng…” Ketika kakek neneknya terus bergantian
menanyai keadaan Kamal, Dani tiba-tiba menangis karena merasa tidak dihiraukan.
Bu Arum dan pak Kosim yang sedang melepas rindu dengan anaknya, akhirnya langsung
mengalihkan perhatian ke cucunya.
“Dan…? Kakek sebenannya lebih khawatir dan rindu sama kamu
sayang?”
“Iya Dan…Sekarang nenek juga mau tahu bekas kecelakaanmu itu
? Dimana dulu yang banyak darahnya itu?”
“Disini nek ? Ini bekasnya masih ada “ Dani menunjukan bekas luka yang ada di bagian
dahinya. Oleh bu Arum kini bekas luka cucunya itu di cium sambil anaknya
dipangku. Pak Kosim untuk sementara hanya mengusapnya saja.
“Oya kek. Unta-untanya pesanan aku mana?”
“Ada di dalam kopor. Sekarang kopornya sedang di ambil dulu
oleh kakek Kardi”
“Pedang-pedangan pesanan kamu dari nenek juga ada disana
Dan. Pedang-pedangannya menyala lho. Ada lampunya. Tapi kamu harus sabar ya ?
Karena ngambil kopornya kakek Kardi harus ngantri karena yang mau ngambil
__ADS_1
kopor, ratusan”
Yang mengambil kopor jamaah yang di pendopo memang ngantri.
Tapi beberapalama kemudian mang Kardi akhirnya muncul sambil membawa dua kopor.
Setelah semuanya beres, mobil jemputan lalu meninggalkan alun-alun. Setibanya
di rumah keharuan pecah lagi karena tetangga yang menyambut, lebih berpariasi
dalam penyambutannya. Terutama bi Ijah yang dirumah sudah dianggap seperti
keluarga sendiri.
“Ibu…? Juragan…? Alhamdulillah bisa pulang lagi dengan
selamat. Akhirnya kita semua bisa berkumpul lagi?”
“Iya Jah…Mulai hari ini kita juga mau ikrar membuka lembaran
baru nanti malam”
“Oya ? Masakannya untuk para tamu undangan nanti, masih pada
dikerjakan ya?” Tanya pak Kosim setelah
melepas kangen dengan semua orang yang ada dirumahnya.
“Sudah hampir beres pak Haji.”
“Iya pak Haji. Tinggal nunggu daging matang dan nasi ya ceu Okom?” Jawab orang
dapur. Kepada pak Kosim kini mereka jadi pak haji nyebutnya. Padahal tadinya suka
manggil juragan.
Malam harinya soal ini di garis bawahi oleh pribumi. “Sebelum
ke acara inti yang nanti akan di pimpin langsung oleh pak Ustadz. Pertama-tama
saya dan anak saya akan menyampaikan dulu sesuatu dengan harapan semua yang
hadir bisa mengambil hikmah. Hadirin pasti tahu bahwa dulu saya ini bukanlah
orang yang baik. Salah satu contoh, ketika dulu anak saya mau menikah dengan
orang miskin, saya waktu itu menolak mentah-mentah karena yang ada dipikiran
saya saat itu hanya martabat dan kewibawaan nomor satu. Selanjutnya mungkin
anak kami mau melanjutkannya lebih detail“ Pak Kosim memberi kesempatan kepada Kamal untuk mengisahkan masa lalunya
yang tidak lebih baik dari sekarang.
“Betul bapak-bapak…Ketika dulu saya mau menikahi istri saya
ini, ayah saya itu menolak mentah-mentah dengan alasan seperti yang telah
diakuinya tadi. Tapi karena sudah jodoh, akhirnya kami menikah juga. Padahal
sebelum bertemu dengan saya, oleh tante yang merawatnya dari kecil istri saya
ini sudah di jodohkan dengan orang lain…Setelah dalam rumah tangga kami banyak cobaan,
malam ini kita sekeluarga ikrar mau membuka lembaran baru untuk kehidupan yang
diharapkan lebih baik dari sebelumnya... Untuk itu malam ini bapak-bapak
sekalian kita undang untuk diminta dorongan do,anya untuk kami sekeluarga.
Hanya sekian dari saya. Sekarang silahkan ustadz memimpin do’anya” kata Kamal
panjang lebar. Pak kiayi pun jadi tidak harus bertausiah lagi karena inti dari
maksud dan tujuannya sudah di jelaskan pribumi. Tapi kepada yang duduk disampingnya
pak kiayi berbisik.
“Cep Dani ? Nanti kalau pak ustadz sedang membacakan do’a,
tangannya di angkat untuk mengamini ya?”
“Baik pak ustadz “ Dani anak yang cerdas, begitu lantang menjawab pesan udtasz. Keluarga
yang mau dido’akan semuanya memakai baju putih. Mereka duduk hidmat menunjukkan
bahwa tekadnya mau menjadi orang yang lebih baik sudah bulat.
__ADS_1