
BEKERJA di tempat baru, Mia terus beradaptasi dengan
lingkungan serta orang-orang yang ada di sekelilingnya. Tujuannya supaya ia
betah dan tidak merasa sedang berada di perantauan. Hari ini pun setelah semua
pekerjaan selesai, Mia dengan teman-teman itu ngobrol di lobi belakang sambil
makan cemilan. Ternyata yang di ajak ngobrolnya sehati dan seperasaan. Itulah
poin positif untuk yang bernama lengkap Mia Mardiana ini.
“Yul ? Kamu sudah berapa lama kerja disini?”
“Baru setahun…Kalau Hana, sejak rumah bersalin ini berdiri
dia langsung kerja. Ya kan Han?”
“Iya Mi…Dulu waktu klinik ini dibuka, ketika itu aku
langsung melamar kerja…Eh, ternyata langsung diterima. Padahal waktu itu aku
baru lulus banget”
“Kayaknya kelulusan kamu dari kebidanan, seangkatan dengan
aku lulus dari STIkes ? Soalnya waktu aku bekerja di puskesmas juga, ketika itu
aku baru lulus banget…Dan seperti kamu juga, waktu itu aku langsung diterima”
“Mi…? Tadi sebelum dibawa berjemur ditaman, anak itu
dimandikannya sama kamu?” Yang bernama
Yuli mengganti topik.
“Iya, tapi didampingi ibunya juga sambil ngobrol…Ternyata
anaknya belum dikasih nama karena menunggu dulu papanya yang lagi ke luar kota.
Memang tadi kamu kenapa datang kesiangan ?” Mia balik bertanya sambil mengambil cemilannya.
“Biasa…Malamnya cattingan dengan gebetan sampai larut…Jadinya
bangun kesiangan “
“Eh Yul…? Tadi waktu sedang ditaman, aku baru melihat papan
nama tempat praktek ini deh…? Ternyata berbau-bau Sunda?”
“Memang bidan Leni asli sunda Mi, asal dari Bandung…Makanya
tempat praktek bersalin yang didirikannya diberi nama “Rumah Bersalin
Babarayaan”…Suaminya yang asli orang sini, nggak berani ngusik karena ini
mutlak gagasan istrinya sendiri” Yuli
menjelaskan panjang lebar mengenai tempat bekerjanya ini.
“Oya Mi…? Kamu juga sebaiknya mencari jodohnya orang sini
aja biar nanti kerja bareng aku terus…?” Yang bernama Hana kali ini membuka topik baru.
“Kalau soal yang satu ini, tergantung jodoh aja Han…Aku
nggak bisa tentukan”
“Mia benar Han…Kalau soal jodoh nggak usyah mau orang sini…?
Orang situ…? Gimana Yang Maha ngatur aja ya Mi…?” Yang namanya Yuli nimbrung untuk soal yang
satu ini.
Mia langsung termenung. “Seandainya mereka tahu bahwa aku
__ADS_1
datang kekota ini karena sedang mencari Indra, pasti mereka tidak akan segencar
ini sampai menyuruh aku mencari jodoh orang sini segala…? Pikirnya. “Tapi
mengenai hal ini aku tidak akan memberitahu siapapun. Termasuk kepada tante
Wati yang sejak kedatanganku orangnya sudah baik benget…Mudah-mudahan mengenai
laratan Indra dan keluarganya cepat mendapat titik terang. Sehingga aku bica
cepat berencana lagi untuk kedepan”
“Mi ? Ayo krispinya dimakan lagi…? Setelah topic pembicaraan
habis ? Kok kamu malah termenung ?”
“Mm…Barusan aku itu tiba-tiba ingat keluargaku di kampung
halaman…Setelah adzan duhur, kita sama-sama solat dulu ya..?” Mia mengalihkan
perhatian temannya.
“Kalau kita biasanya suka giliran Mi…Kan jaga-jaga apabila
tiba-tiba ada psien datang…Kalau yang mau melahirkan, kan tidak bisa di ajak
kompromi?”
“O, iya ya…? Dasar biasanya aku bekerja di puskesmas…?
Jadinya tidak kepikiran ke situ…?”
“Ya sudah…Sekarang siapa nih yang mau solat duluan…? Di
masjid sudah ada yang azan tuh?”
Memang di masjid kali ini sudah ada yang mengumandangkan
azan. Dan yang memutuskan mau solat duluan, ternyata Mia.
Setelah solat duhur yang melaksanakannya gentian, ketiga
“Mi ? Sengah dua kita siap-siap lagi untuk meriksa pasyen”
“Kok ? Sering amat meriksanya ?”
“Bayarnya juga mahal Mi…Jadi pelayanannya juga harus
bagus…Begitu pesan bu Leni ke kita”
“Iya juga…Mungkin aku karena sudah terbiasa bekerja di
puskesmas…Tidak sebaik pelayanan disini wajar…Yang berobatnya juga setiap hari
lebih dari seratus…Belum lagi yang rawat inap…Paling sedikit ada dua puluh
orang”
Sambil ngobrol tidak terasa, kali ini sudah waktunya untuk memeriksa
pasien.
“Yul ? Kerjanya masing-masing atau bareng-bareng?”
“Pasiennya satu ruangan ini…? Bareng-bareng aja”
“Oh, iya…”
Mereka bertiga akhirnya masuk ke ruangan pasien bersama-sama.
“Asalamualaikum…?” Mia yang jalan paling depan uluk salam.
“Wa’alaikumusalam…” Ketiga ibu yang ada di salnya
masing-masing, menjawab.
__ADS_1
“Bu…? Di lihat lagi tensinya ya ?”
“Baik sus…”
“Ada keluhan apa ?”
“Masih suka pusing “
“Ya sudah…Sekarang mau dilihat dulu tensinya ya?”
Mia memasangkan alat di lengan ibu itu. Setelah alatnya di
pompa. “Tensinya rendah bu…Terakhir di cek berapa ?”
“Hasil tensi bu Laras tadi pagi, seratus per sepuluh
sus…” Jawab Hana setelah melihat buku
cacatan yang dibawanya.
“Ibu kalau makan bagaimana?”
“Masih belum ada nafsu sus”
“Itu dia penyebab keluhan ibu. Mulai hari ini makannya harus
banyak ya…? Tambah sayur bayam pula”
“Terimakasih sus “
“Sekarang saya mau lanjut meriksa yang lain”
“Silahkan..”
Setelah selesai meriksa pasien yang satu, Mia lanjut ke ibu
yang tadi anaknya dibawa berjemur di taman.
“Bagaimana nyusu asinya kali ini bu?”
“Alhamdulillah sus…Sekarang tidak ada masalah.
Kalau kenyang, tuh tidurnya juga sekarang
pulas “
“Kalau ibu sendiri punya keluhan tidak ?”
“Kalau keluhan saya masih sakit di bagian pinggul karena
salah neden waktu melahirkan…Tapi setelah terus dirawat dinisi, jadi berkurang
rasa sakitnya karena bu bidan terus memantau”
“Kalau begitu semoga ibu cepat sembuh supaya bisa buru-buru
pulang ke rumah”
“Besok juga insyaalloh kami pulang, karena tadi suami saya
sudah menelpon katanya urusannya di luar kota sudah selesai”
“Alhamdulillah…Kalau begitu saya ikut senang bu…Sekarang
saya mau lanjut meriksa yang lain ya?”
“Iya-iya sus…Termakasih…Tapi besok jangan lupa anak saya
bawa berjemur lagi. Karena suami saya menjemputnya akan sore hari “
“Insyaalloh bu…Eh si dede…? Berjemur di tamannya bersama
tante hanya satu kali lagi…” Sebelum
pergi, Mia mengelus dulu bayi yang sedang tidur pulas itu. Ibunya tersenyum
__ADS_1
karena senang bayinya di senengi perawat. Setelah itu Miapun melanjutkan lagi
tugasnya.