Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Perginya Orang Yang Berprestasi


__ADS_3

MIA yang suarat pengunduran dirinya di tolak karena alasan


masih terikat perjanjian kontrak, ternyata sudah mengurungkan dulu niatnya dan


kembali masuk bekerja. Bagi Fajar yang cintanya untuk gadis itu tidak pernah


padam, hal ini ibarat tambahan nafasnya. Apalagi enam bulan kedepan, ia


tugasnya kembali di pasangkan dengan perawat satu ini.


“Suster? Sebelum mulai menjalankan tugas, silahkan lapor


dulu”


“Baik dok…Hari ini pasien rawat inap ada sebanyak dua puluh


tiga orang, berkurang lima orang dari jumlah kemarin karena yang lima orang itu


sudah sembuh dan di perbolehkan pulang. Dua puluh tiga orang yang masih ada itu


terdiri: Pasien demam berdarah tujuh orang. Pasien sesak nafas dan demam rendah


sebanyak delapan orang…Yang gangguan lambung ada tiga orang…Pasien diare dan


demam, mereka anak-anak. Ada sebanyak lima orang. Jadi total pasien rawat inap


yang masih ada itu berjumlah dua puluh tiga orang”


“Kalau begitu, ayo sekarang kita mulai memeriksa yang ada di


sal satu dulu sesuai draf yang ada”


“Baik dok…Di sal satu, adalah pasien yang riwayat sesak


nafas…Semuanya lansia”


Fajar dan Mia sama-sama keluar dari satu ruangan, lalu


menuju keruangan pasien rawat inap yang mau di peiksa. Keduanya benar-benar kompak


dan professional. Itu sebabnya kedua nakes ini mendapat julukan dokter dan


perawat teladan dari kepala dan rekan-rekannya.


Kalau teman-temannya yang sesama perawat, lain lagi ketika Mia


memutuskan kembali masuk bekerja itu. Kalau waktu istirahat, lebih cair


bersenda guraunya. Seperti yang kali ini sedang mereka lakukan.


“Mi ? Aku senang alhirnya kamu kembali lagi bekerja bareng


kita”


“Iya Mi…Setelah enam bulan kamu harus terus bekerja disini


ya? Jangan jadi pergi ke Medan nya”


“Iya Mi…Lagian ngapain kamu mencari cinta yang belum jelas


disana…Mendingan tetap disini aja…Kalau yang disini, cintanya juga sudah jelas.


Ya nggak teman-teman ?”


Gerrr !  Di mes tempat


istirahat, mereka tertawa. Senyuman Mia pun lama tersungging meskipun hatinya


kurang senang.


Tapi setelah enam bulan, harapan mereka semua pupus. Karena


setelah tidak terikat surat perjanjian, ternyata gadis itu kembali mengajukan

__ADS_1


surat pengundururan dirinya. Dan kali ini dokter kepalnya sedang tidak sibuk.


Malah di kantornya sedang ada Fajar.


“Suster ? Untuk keputusannya ini tolong di pertimbangkan


lagi…Setiap yang mengabdi di lembaga kepemerintahan, biasanya ada harapan suatu


saat yang bersangkutan bisa di angkat sebagai PNS…Pengabdian suster disini


sudah satu tahun setengah lebih…Apa tidak nyesel tiba-tiba di putus begitu


saja?”


“Keputusan saya sudah bulat dok…Masalah yang saya hadapi


lebih berarti dari segala yang dokter utarakan buat…Jadi sekarang saya hanya


minta surat bukti pengabdian yang sudah di legalisir saja “


Meskipun oleh dokter kepala Mia sudah di beri penjelasan panjang


lebar, ternyata Mia tetap pada pendiriannya. Fajar yang ada disana hanya bisa


menghela nafas tidak bisa berbuat apa-apa.


“Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu yang


matang…Sebentar…Berkasnya akan saya legalisir dulu”


Selama menunggu dokter kepala menandatangani berkas-berkas


yang Mia minta, Fajar melirik kepada Mia. Kebetulan orang yang selalu


dicintainya itu melirik juga. Setelah beradu pandang sejenak, keduanya lalu


menunduk.


bulat…Dan itu bukan semata-mata kerena cinta, tapi ada janji kami berdua di


atas sumpah…Jadi sebelum tahu alasan kak Indra kenapa tidak menepati janjinya,


akupun tidak akan berheti mencarinya sampai mengetahui sendiri alasannya”  gumam Mia selama nerunduk.


Fajar pun sama selama merunduk itu mengeluarkan


angan-angannya. “Sekarang aku hanya bisa mendo’akanmu Mi…Suatu keputusan sudah


kamu ambil…Semoga nanti kamu bisa kembali lagi dengan selamat…Dan akan kupastikan,


bahwa cintaku akan selalu ada untukmu…Tapi bisa berlabuh atau tidak? tergantung


jodoh pasti…”


“Dokter Fajar? Tolong beri setempel semua berkas ini…?


Setelah itu langsung serahkan kepada suster Mia”


“Baik dok…” Fajar yang sedang termenung langsung bangkit dan


melaksanakan perintah. Setelah semuanya beres dan semua berkasnya dimasukkan ke


dalam amlpop, lalu Fajar menyerahkanna kepada Mia. Lagi-lagi dua orang ini


bertemu pandang dalam jarak yang dekat.


“Mau terbang ke Medan itu kamu sudah membeli tiket


pesawatnya?”


“Sudah”


“Kapan berangkatnya?”

__ADS_1


“Tiga hari lagi”


“Jam berapa berangkatnya?”


“Jam enam pagi”


“Ke bandaranya nanti aku antarkan ya?”


“Aku sedah pesan taksi online”


“Kalau begitu ketika mau berangkat aku akan menunggu di


jalan cagak…Kuharat nanti kamu menghentikan dulu taksi nya sejenak…Dan memberi


kesempatan aku berbicara untuk yang terakhir kalinya…”  kata Fajar hanya bisa di dengar oleh Mia.


Setelah itu Fajar lalu keluar melewati Mia yang masih tertegun di depan pintu


sambil memegang amplop.


“Kuharap nanti dia menghentikan dulu taksi nya sejenak, dan


memberi kesempatan ku bicara untuk yang terakhir kalinya sebelum dia bertemu


Indra…”  Gumam dalam hati Fajar selama


dalam perjalanan menuju ke ruangannya. Ia mengulang kata-kata yang sudah di


sampaikan kepada Mia.


Tapi sungguh ironis. Ketika Fajar menuggu di jalan cagak ketika


Mia mau berangkat, ternyata taksi yang di tumpangi Mia tidak berhenti dan lewat


berlalu begitu saja. Dari dalam mobilnya Fajar termangu. Taksi yang di tumpangi


Mia terus ditatapnya sambil berucap. “Kau sungguh tega…Padahal aku sudah


korbankan waktu…Pikiran dan perasaan semuanya untuk mu…Malam sampai tidak bisa


tidur…Takut kau sudah pergi…Tapi mengapa… Setelah semuanya kulakukan…Kau malah


pergi begitu saja…Seperti cintaku…Hingga saat ini belum bersambut…Dan kau


terlanjur pergi…Cintaku kembali tak bertepi”


Demikianlah curahan Fajar ketika usahanya mengambil hati Mia


kembali tidak behasil.


Lain dengan yang di pikirkan Mia. Selama dalam taksi. Nakes


lulusan STIkes yang ada di kotanya ini justru membayangkan lagi kata-kata


dokter kepala setelah dirinya mengajukan surat pengunduran diri ulang itu.


“Suster…? Harus kehilangan rekan kerja secekatan dan sesigap


suster, jujur di hati saya ada rasa sesal…Kenapa suster Mia memutuskan untuk


berhenti…? Sedangkan apabila suatu saat suster kembali kesini, mungkin saya


sudah tidak tugas di puskesmas ini lagi. Karena tugas saya di rumah sakit ini


sudah lama…Hanya itu yang mau saya sampaikan…Sekarang pergilah, karena mulai


hari ini suster bukan lagi bagian dari kru kami…”  Kata dokter kepala. Singkat tapi cukup


menyakitkan. Sehingga ketika mengingat lagi semua itu, air mata Mia yang sedang


didalam taksi menitik. Tapi yang awalnya hanya menitik itu lama-lama kerap dan


akhirnya menjadi aliran air mata yang deras.

__ADS_1


__ADS_2