
MIA yang suarat pengunduran dirinya di tolak karena alasan
masih terikat perjanjian kontrak, ternyata sudah mengurungkan dulu niatnya dan
kembali masuk bekerja. Bagi Fajar yang cintanya untuk gadis itu tidak pernah
padam, hal ini ibarat tambahan nafasnya. Apalagi enam bulan kedepan, ia
tugasnya kembali di pasangkan dengan perawat satu ini.
“Suster? Sebelum mulai menjalankan tugas, silahkan lapor
dulu”
“Baik dok…Hari ini pasien rawat inap ada sebanyak dua puluh
tiga orang, berkurang lima orang dari jumlah kemarin karena yang lima orang itu
sudah sembuh dan di perbolehkan pulang. Dua puluh tiga orang yang masih ada itu
terdiri: Pasien demam berdarah tujuh orang. Pasien sesak nafas dan demam rendah
sebanyak delapan orang…Yang gangguan lambung ada tiga orang…Pasien diare dan
demam, mereka anak-anak. Ada sebanyak lima orang. Jadi total pasien rawat inap
yang masih ada itu berjumlah dua puluh tiga orang”
“Kalau begitu, ayo sekarang kita mulai memeriksa yang ada di
sal satu dulu sesuai draf yang ada”
“Baik dok…Di sal satu, adalah pasien yang riwayat sesak
nafas…Semuanya lansia”
Fajar dan Mia sama-sama keluar dari satu ruangan, lalu
menuju keruangan pasien rawat inap yang mau di peiksa. Keduanya benar-benar kompak
dan professional. Itu sebabnya kedua nakes ini mendapat julukan dokter dan
perawat teladan dari kepala dan rekan-rekannya.
Kalau teman-temannya yang sesama perawat, lain lagi ketika Mia
memutuskan kembali masuk bekerja itu. Kalau waktu istirahat, lebih cair
bersenda guraunya. Seperti yang kali ini sedang mereka lakukan.
“Mi ? Aku senang alhirnya kamu kembali lagi bekerja bareng
kita”
“Iya Mi…Setelah enam bulan kamu harus terus bekerja disini
ya? Jangan jadi pergi ke Medan nya”
“Iya Mi…Lagian ngapain kamu mencari cinta yang belum jelas
disana…Mendingan tetap disini aja…Kalau yang disini, cintanya juga sudah jelas.
Ya nggak teman-teman ?”
Gerrr ! Di mes tempat
istirahat, mereka tertawa. Senyuman Mia pun lama tersungging meskipun hatinya
kurang senang.
Tapi setelah enam bulan, harapan mereka semua pupus. Karena
setelah tidak terikat surat perjanjian, ternyata gadis itu kembali mengajukan
__ADS_1
surat pengundururan dirinya. Dan kali ini dokter kepalnya sedang tidak sibuk.
Malah di kantornya sedang ada Fajar.
“Suster ? Untuk keputusannya ini tolong di pertimbangkan
lagi…Setiap yang mengabdi di lembaga kepemerintahan, biasanya ada harapan suatu
saat yang bersangkutan bisa di angkat sebagai PNS…Pengabdian suster disini
sudah satu tahun setengah lebih…Apa tidak nyesel tiba-tiba di putus begitu
saja?”
“Keputusan saya sudah bulat dok…Masalah yang saya hadapi
lebih berarti dari segala yang dokter utarakan buat…Jadi sekarang saya hanya
minta surat bukti pengabdian yang sudah di legalisir saja “
Meskipun oleh dokter kepala Mia sudah di beri penjelasan panjang
lebar, ternyata Mia tetap pada pendiriannya. Fajar yang ada disana hanya bisa
menghela nafas tidak bisa berbuat apa-apa.
“Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu yang
matang…Sebentar…Berkasnya akan saya legalisir dulu”
Selama menunggu dokter kepala menandatangani berkas-berkas
yang Mia minta, Fajar melirik kepada Mia. Kebetulan orang yang selalu
dicintainya itu melirik juga. Setelah beradu pandang sejenak, keduanya lalu
menunduk.
bulat…Dan itu bukan semata-mata kerena cinta, tapi ada janji kami berdua di
atas sumpah…Jadi sebelum tahu alasan kak Indra kenapa tidak menepati janjinya,
akupun tidak akan berheti mencarinya sampai mengetahui sendiri alasannya” gumam Mia selama nerunduk.
Fajar pun sama selama merunduk itu mengeluarkan
angan-angannya. “Sekarang aku hanya bisa mendo’akanmu Mi…Suatu keputusan sudah
kamu ambil…Semoga nanti kamu bisa kembali lagi dengan selamat…Dan akan kupastikan,
bahwa cintaku akan selalu ada untukmu…Tapi bisa berlabuh atau tidak? tergantung
jodoh pasti…”
“Dokter Fajar? Tolong beri setempel semua berkas ini…?
Setelah itu langsung serahkan kepada suster Mia”
“Baik dok…” Fajar yang sedang termenung langsung bangkit dan
melaksanakan perintah. Setelah semuanya beres dan semua berkasnya dimasukkan ke
dalam amlpop, lalu Fajar menyerahkanna kepada Mia. Lagi-lagi dua orang ini
bertemu pandang dalam jarak yang dekat.
“Mau terbang ke Medan itu kamu sudah membeli tiket
pesawatnya?”
“Sudah”
“Kapan berangkatnya?”
__ADS_1
“Tiga hari lagi”
“Jam berapa berangkatnya?”
“Jam enam pagi”
“Ke bandaranya nanti aku antarkan ya?”
“Aku sedah pesan taksi online”
“Kalau begitu ketika mau berangkat aku akan menunggu di
jalan cagak…Kuharat nanti kamu menghentikan dulu taksi nya sejenak…Dan memberi
kesempatan aku berbicara untuk yang terakhir kalinya…” kata Fajar hanya bisa di dengar oleh Mia.
Setelah itu Fajar lalu keluar melewati Mia yang masih tertegun di depan pintu
sambil memegang amplop.
“Kuharap nanti dia menghentikan dulu taksi nya sejenak, dan
memberi kesempatan ku bicara untuk yang terakhir kalinya sebelum dia bertemu
Indra…” Gumam dalam hati Fajar selama
dalam perjalanan menuju ke ruangannya. Ia mengulang kata-kata yang sudah di
sampaikan kepada Mia.
Tapi sungguh ironis. Ketika Fajar menuggu di jalan cagak ketika
Mia mau berangkat, ternyata taksi yang di tumpangi Mia tidak berhenti dan lewat
berlalu begitu saja. Dari dalam mobilnya Fajar termangu. Taksi yang di tumpangi
Mia terus ditatapnya sambil berucap. “Kau sungguh tega…Padahal aku sudah
korbankan waktu…Pikiran dan perasaan semuanya untuk mu…Malam sampai tidak bisa
tidur…Takut kau sudah pergi…Tapi mengapa… Setelah semuanya kulakukan…Kau malah
pergi begitu saja…Seperti cintaku…Hingga saat ini belum bersambut…Dan kau
terlanjur pergi…Cintaku kembali tak bertepi”
Demikianlah curahan Fajar ketika usahanya mengambil hati Mia
kembali tidak behasil.
Lain dengan yang di pikirkan Mia. Selama dalam taksi. Nakes
lulusan STIkes yang ada di kotanya ini justru membayangkan lagi kata-kata
dokter kepala setelah dirinya mengajukan surat pengunduran diri ulang itu.
“Suster…? Harus kehilangan rekan kerja secekatan dan sesigap
suster, jujur di hati saya ada rasa sesal…Kenapa suster Mia memutuskan untuk
berhenti…? Sedangkan apabila suatu saat suster kembali kesini, mungkin saya
sudah tidak tugas di puskesmas ini lagi. Karena tugas saya di rumah sakit ini
sudah lama…Hanya itu yang mau saya sampaikan…Sekarang pergilah, karena mulai
hari ini suster bukan lagi bagian dari kru kami…” Kata dokter kepala. Singkat tapi cukup
menyakitkan. Sehingga ketika mengingat lagi semua itu, air mata Mia yang sedang
didalam taksi menitik. Tapi yang awalnya hanya menitik itu lama-lama kerap dan
akhirnya menjadi aliran air mata yang deras.
__ADS_1