
INDRA yang dua hari lalu terbang ke Jakarta, ternyata
sekarang sedang berada di sebuah rumah sakit swasta. Ketika dari rumah sakit
sebelumnya sudah di perbolehkan pulang, rupanya kesehatannya belum seratus persen fit. Ditambah perjalanan udara
malam hari, pas turun dari pesawat kepalanya agak leng-lengan. Setelah keluar
dari bandara Indra akhirnya mencari dokter yang buka praktek.Ternyata karta
dokter yang memeriksanya Indra harus dirawat satu hari supaya masuk cairan
invus.
Barusan kesehatan Indra habis di cek lagi. “Gimana hasilnya
sekarang dok…? Apa saya bisa melanjutkan perjalanan?”
“Bisa-bisa…” Dokter
langsung menjawab pertanyaan Indra.
“Jadi sekarang kondisi saya sudah memunkinkan untuk
perjalanan jauh?” Rupanya Indra masih kurang yakin.
“Kalau melihat dari hasil pemeriksan barusan, memang
begitu…Tapi supaya lebih percaya diri buat pak Indra, saya akan beri obat untuk
jaga-jaga”
“Kalau begitu segera siapkan dok…Karena perjalanannya jauh, jadi
saya akan langsung berangkat sekarang juga”
“Baik…Kalau begitu tunggu sebentar…”
Dokter yang sudah memeriksa kesehatan Indra masuk ke satu
ruangan. Tidak lama kemudia beliau keluar lagi sambil membawa satu bungkusan.
“Ini obatnya…Dosis makannya sudah ada didalam…Tapi karena
ternyata pak Indra punya riwayat sakit maag, jadi khusus yang itu obatnya
habiskan…Kalau yang lainnya, kalau sudah tidak ada keluhan stop saja”
“Baik dok…Jadi dengan rawat inap satu hari, berapa yang
harus dibayar ?”
“Karena ini swasta…Fasilitas ruangan juga ada TV dan lain
sebagainya, jadi totalnya segini pak…” dokter memperlihatkan nominal biaya.
Indra lalu mengeluarkan uang sebanyak itu dari dompetnya. Setelah segala
sesuatunya beres, Indra lalu keluar dari balai pengobatan itu.
Setelah didepan, sebuah taksi yang lewat di stop Indra. Kepada
supir taksi Indra minta diantar ketempat rental mobil. Setelah mendapt mobil
rentalan warna putih, baru Indra mulai perjalanan menuju ke kampung halaman
almarhum Omanya.
Karena jarak tempuh lumayan jauh, pukul lima sore Indra baru
sampai ditujuan. Kali ini tujuannya langsung ke rumah kontrakan MELISA HAPPY. Karena
Indra pikir Mia mungkin ada disana. Antara ada dan tidak, fifti-fifti
sebenarnya. Dan ternyata setelah sampai disana, Indra hanya mendapat keterangan
dari seseorang yang dipercayakannya selama ini.
“Memangnya kontrakan ini dipercayakan kepada bapak untuk
mengelolanya, dari kapan?”
“Lumayan lama den…Tapi kalau pastinya bapak lupa lagi…Selama
ini neng Mia juga hanya sekali-sekali kalau kesini…Kalau yang sering kesini, sekarang
ibunya atau ayahnya den”
__ADS_1
“Ternyata Mia tidak ada disini…? Berarti aku harus langsung
ke rumahnya yang di Ciloa…Tapi sekarang sudah mau Magrib…Terus kalau perjalanan
malam kesana, kan kondisiku belum pit...Besok saja ach kesananya pagi-pagi…Dan
kalau disini ada kamar yang kosong, aku nginap saja semalam disini…Tapi kalau
tidak ada, terpaksa aku tidur di rumah peninggalan Oma meskipun itu akan
membuatku jadi kepikiran almahumah”
“Pak..? Disini masih ada kamar yang kosong tidak?” Setelah termenung beberapa lama, Indra
akhirnya bertanya.
“Oh ada den…Kebetulan kamarnya itu yang selama ini suka
ditempati neng Mia…Tapi waktu neng Mia terakhir kali kesini, katanya kalau mau
ada yang ngotrak berikan saja karena neng Mia tidak akan menempatinya lagi”
Rencana Indra tidak menemui kendala. Karena kata yang
mengelolanya ini bekas kamar Mia, sebelum tidur Indra melihat-lihat dulu
kesekelilingnya. Tapi ternyata tidak menemukan yang begitu berarti. Kecuali
bekas dekoran yang sudah bercampur debu melumbuk pinggir kamar mandi.
Pagi-paginya Indra langsung ke kampung Ciloa, tapi tidak ke
rumah melainkan menuju kedangau yang dulu sering dijadikan tempat berkencan
dengan Mia sebagai cinta keduanya itu. Tiba disana disekitar masih berkabut
karena tadi Indra juga berangkatnya setelah solat subuh. Tapi meskipun masih
pagi buta, ternyata di dangau itu sudah ada suara beletak-beletek sepeti suara
ranting yang sedang di potong-potong.
“Ternyata disini sudah ada orang…?” pikir Indra sambl terus berjalan menuju
dangau.
“Pak…? Yang pagi-pagi sudah ada disini itu, ternyata bapak…?” celoteh Indra setelah sampai ditujuan.
kayu bakar sambil menangis, langsung menoleh kearah yang menyapa. Setelah tahu
itu Indra, kesedihannya tambah kuat, “Iya nak Indra…Hek…Hek…” Jawab pak panji
sambil mengisak.
“Bapak itu kenapa nangis…?” Indra lalu duduk dihadapan pak Panji.
“Mia nak Indra…”
“Kenapa dengan Mia pak…?”
“Bapak kesini sebenarnya mangpalerkeun…” Mangpalerkeun itu Bahasa sunda. Artinya
kurang lebih, supaya bisa melupakan permasalahan yang membuatnya sedih.
“Mangpalerkeun dari apa maksud bapak…?” Ternyata Indrapun
mengerti.
“Tadi malam nak Fajar menikahi Mia…Dan tadi subuh dia
langsung dibawa pergi oleh suaminya itu…Bapak benar-banar sedih nak…”
“Daarr…!” Indra
seperti mendengar petir di tengah hari. Telinganya langsung ketulian. Sedangkan
tubuhnya sendiri terasa panas seperti terbakar. Air mata pak Panji semakin
deras melihat Indra seperti ini. Pundak Indra lalu di usap-usap pak Panji.
Karena kali ini air mata Indra juga mulai membasahi pipinya.
“Jadi Mia sudah memutuskan menikah dengan orang yang selalu
ku cemburui itu…?” Indra mengembangkan
air mata penyesalannya.
__ADS_1
Pak Panji memegang bahu Indra. “Menangislah sepuasmu
nak…Karena kesedihan dan menangis itu bukan hanya milik perempuan saja…Ibunya
Mia dirumah, mungkin sekarang masih menangis pula…Atas keputusan Mia menerima
nak Fajar untuk menjadi suaminya, kami juga tidak bisa menghalangi…” ucap pak Panji, kemudian memerat air matanya
sendiri.
“Saya menyesal sekali pak…Dengan Mia sudah tidak ada disini,
berarti buat saya sudah tidak punya kesempatan untuk menyampaikan semua
angan-angan saya yang begitu banyak…Dan kalau semua isi nya dikeluarkan didepan
bapak, pasti rasa mandegnya tidak akan hilang. Karena semua ini benar-benar harus
Mia sendiri yang mendengarkannya…” Airmata penyesalan Indra tambah lebat.
“Tapi bapak tidak akan melupakan kebaikan nak Indra selama
ini…Ibu juga pasti demikian…Baju pemberian nak Indra dulu, selama ini kami suka
memakainya karena sangat pas sekali di bapak dan juga di ibu…Jadi nak Indra
jangan sedih lagi…Karena meskipun dengan Mia tidak berjodoh, kita pasti tidak
akan melupakan semua kebaikan nak Indra sampai kapanpun...”
“Selama ini memang aku ingin membahagiakan Mia beserta
keluarganya…Itu sebabnya sebelum berengkat keluar negri, waktu itu aku pergi berbelanja
dulu dengan Mia…Salah satunya ketika itu kita membeli baju-baju untuk ibu dan
bapaknya…” Disaat kesedihannya sedang muncak, Indra mencoba mengingat
kebersaman terakhirnya dengam Mia. Dan ternyata itu membuat air matanya semakin
mengalir tidak terbendung.
“Nak Indra sudah makan belum…? Kalau belum, tadi bapa bawa
makanan yang tidak habis waktu menjamu para tamu undangan saat Mia dan nak
Fajar mau akad nikah…Kalau belum…? Sekarang kita makan sama-sama yuk…?”
“Calon besan tidak jadi ini gimana…? Malah memanas-manasi
aku dengan detil menceritakan orang yang kucintai menyongsong kebahagiannya dengan
orang lain…? Daripada harus mendengar
lagi lebih banyak tentang mereka, mendingan sekarang aku pergi dari sini…Meskipun
itu tidak akan bisa menyembuhkan lukaku…” Indra yang ditawari makan oleh pak Panji tiba-tiba bangkit.
“Nak Indra mau kemana…?” Pak Panji melihat Indra seperti mau pergi.
“Saya memang belum sarapan pak. Tapi nanti makannya di
restoran supaya bisa pilih makanan yang yang tidak pedas”
“Lambungnya nak Indra sedang bermasalah ya…?”
“Iya pak…Maagnya kumat…Sebelum kesini saya juga berobat dulu...”
“Kalau begitu hati-hati di jalannya nak…Mulai sekarang,
lupakanlah Mia…Tapi silaturahmi kita jangan sampai putus meskipun nak Indra
tidak jadi mantu bapak…”
“Insyaalloh pak…Sekarang saya pamit dulu. Asalamualaikum…”
“Wa’alaikumussalam…”
Pak Panji dan Indra bersalaman. Keduanya kali ini nampak
tegar. Bagi pak Panji mungkin iya. Tapi bagi Indra setelah di jalan, ternyata
ia lalu mengemukakan sebagian yang selama ini dipendamnya.
“Semua ini gara-gara papa…! Setelah semua yang terjadi hari
ini, aku harus buat perhitungan dengannya meskipun dia ayahku sendiri…! Lihat
__ADS_1
saja…! Sebentar lagi di rumah pasti bakal ada keributan !” tegas Indra. Dan ancamannya sepertinya bukan
main-main.