Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Akhir Cinta Kedua


__ADS_3

INDRA yang dua hari lalu terbang ke Jakarta, ternyata


sekarang sedang berada di sebuah rumah sakit swasta. Ketika dari rumah sakit


sebelumnya sudah di perbolehkan pulang, rupanya kesehatannya belum  seratus persen fit. Ditambah perjalanan udara


malam hari, pas turun dari pesawat kepalanya agak leng-lengan. Setelah keluar


dari bandara Indra akhirnya mencari dokter yang buka praktek.Ternyata karta


dokter yang memeriksanya Indra harus dirawat satu hari supaya masuk cairan


invus.


Barusan kesehatan Indra habis di cek lagi. “Gimana hasilnya


sekarang dok…? Apa saya bisa melanjutkan perjalanan?”


“Bisa-bisa…”  Dokter


langsung menjawab pertanyaan Indra.


“Jadi sekarang kondisi saya sudah memunkinkan untuk


perjalanan jauh?” Rupanya Indra masih kurang yakin.


“Kalau melihat dari hasil pemeriksan barusan, memang


begitu…Tapi supaya lebih percaya diri buat pak Indra, saya akan beri obat untuk


jaga-jaga”


“Kalau begitu segera siapkan dok…Karena perjalanannya jauh, jadi


saya akan langsung berangkat sekarang juga”


“Baik…Kalau begitu tunggu sebentar…”


Dokter yang sudah memeriksa kesehatan Indra masuk ke satu


ruangan. Tidak lama kemudia beliau keluar lagi sambil membawa satu bungkusan.


“Ini obatnya…Dosis makannya sudah ada didalam…Tapi karena


ternyata pak Indra punya riwayat sakit maag, jadi khusus yang itu obatnya


habiskan…Kalau yang lainnya, kalau sudah tidak ada keluhan stop saja”


“Baik dok…Jadi dengan rawat inap satu hari, berapa yang


harus dibayar ?”


“Karena ini swasta…Fasilitas ruangan juga ada TV dan lain


sebagainya, jadi totalnya segini pak…” dokter memperlihatkan nominal biaya.


Indra lalu mengeluarkan uang sebanyak itu dari dompetnya. Setelah segala


sesuatunya beres, Indra lalu keluar dari balai pengobatan itu.


Setelah didepan, sebuah taksi yang lewat di stop Indra. Kepada


supir taksi Indra minta diantar ketempat rental mobil. Setelah mendapt mobil


rentalan warna putih, baru Indra mulai perjalanan menuju ke kampung halaman


almarhum Omanya.


Karena jarak tempuh lumayan jauh, pukul lima sore Indra baru


sampai ditujuan. Kali ini tujuannya langsung ke rumah kontrakan MELISA HAPPY. Karena


Indra pikir Mia mungkin ada disana. Antara ada dan tidak, fifti-fifti


sebenarnya. Dan ternyata setelah sampai disana, Indra hanya mendapat keterangan


dari seseorang yang dipercayakannya selama ini.


“Memangnya kontrakan ini dipercayakan kepada bapak untuk


mengelolanya, dari kapan?”


“Lumayan lama den…Tapi kalau pastinya bapak lupa lagi…Selama


ini neng Mia juga hanya sekali-sekali kalau kesini…Kalau yang sering kesini, sekarang


ibunya atau ayahnya den”

__ADS_1


“Ternyata Mia tidak ada disini…? Berarti aku harus langsung


ke rumahnya yang di Ciloa…Tapi sekarang sudah mau Magrib…Terus kalau perjalanan


malam kesana, kan kondisiku belum pit...Besok saja ach kesananya pagi-pagi…Dan


kalau disini ada kamar yang kosong, aku nginap saja semalam disini…Tapi kalau


tidak ada, terpaksa aku tidur di rumah peninggalan Oma meskipun itu akan


membuatku jadi kepikiran almahumah”


“Pak..? Disini masih ada kamar yang kosong tidak?”  Setelah termenung beberapa lama, Indra


akhirnya bertanya.


“Oh ada den…Kebetulan kamarnya itu yang selama ini suka


ditempati neng Mia…Tapi waktu neng Mia terakhir kali kesini, katanya kalau mau


ada yang ngotrak berikan saja karena neng Mia tidak akan menempatinya lagi”


Rencana Indra tidak menemui kendala. Karena kata yang


mengelolanya ini bekas kamar Mia, sebelum tidur Indra melihat-lihat dulu


kesekelilingnya. Tapi ternyata tidak menemukan yang begitu berarti. Kecuali


bekas dekoran yang sudah bercampur debu melumbuk pinggir kamar mandi.


Pagi-paginya Indra langsung ke kampung Ciloa, tapi tidak ke


rumah melainkan menuju kedangau yang dulu sering dijadikan tempat berkencan


dengan Mia sebagai cinta keduanya itu. Tiba disana disekitar masih berkabut


karena tadi Indra juga berangkatnya setelah solat subuh. Tapi meskipun masih


pagi buta, ternyata di dangau itu sudah ada suara beletak-beletek sepeti suara


ranting yang sedang di potong-potong.


“Ternyata disini sudah ada orang…?”  pikir Indra sambl terus berjalan menuju


dangau.


“Pak…? Yang pagi-pagi sudah ada disini itu, ternyata bapak…?”  celoteh Indra setelah sampai ditujuan.


kayu bakar sambil menangis, langsung menoleh kearah yang menyapa. Setelah tahu


itu Indra, kesedihannya tambah kuat, “Iya nak Indra…Hek…Hek…” Jawab pak panji


sambil mengisak.


“Bapak itu kenapa nangis…?”  Indra lalu duduk dihadapan pak Panji.


“Mia nak Indra…”


“Kenapa dengan Mia pak…?”


“Bapak kesini sebenarnya mangpalerkeun…”  Mangpalerkeun itu Bahasa sunda. Artinya


kurang lebih, supaya bisa melupakan permasalahan yang membuatnya sedih.


“Mangpalerkeun dari apa maksud bapak…?” Ternyata Indrapun


mengerti.


“Tadi malam nak Fajar menikahi Mia…Dan tadi subuh dia


langsung dibawa pergi oleh suaminya itu…Bapak benar-banar sedih nak…”


“Daarr…!”  Indra


seperti mendengar petir di tengah hari. Telinganya langsung ketulian. Sedangkan


tubuhnya sendiri terasa panas seperti terbakar. Air mata pak Panji semakin


deras melihat Indra seperti ini. Pundak Indra lalu di usap-usap pak Panji.


Karena kali ini air mata Indra juga mulai membasahi pipinya.


“Jadi Mia sudah memutuskan menikah dengan orang yang selalu


ku cemburui itu…?”   Indra mengembangkan


air mata penyesalannya.

__ADS_1


Pak Panji memegang bahu Indra. “Menangislah sepuasmu


nak…Karena kesedihan dan menangis itu bukan hanya milik perempuan saja…Ibunya


Mia dirumah, mungkin sekarang masih menangis pula…Atas keputusan Mia menerima


nak Fajar untuk menjadi suaminya, kami juga tidak bisa menghalangi…”  ucap pak Panji, kemudian memerat air matanya


sendiri.


“Saya menyesal sekali pak…Dengan Mia sudah tidak ada disini,


berarti buat saya sudah tidak punya kesempatan untuk menyampaikan semua


angan-angan saya yang begitu banyak…Dan kalau semua isi nya dikeluarkan didepan


bapak, pasti rasa mandegnya tidak akan hilang. Karena semua ini benar-benar harus


Mia sendiri yang mendengarkannya…”  Airmata penyesalan Indra tambah lebat.


“Tapi bapak tidak akan melupakan kebaikan nak Indra selama


ini…Ibu juga pasti demikian…Baju pemberian nak Indra dulu, selama ini kami suka


memakainya karena sangat pas sekali di bapak dan juga di ibu…Jadi nak Indra


jangan sedih lagi…Karena meskipun dengan Mia tidak berjodoh, kita pasti tidak


akan melupakan semua kebaikan nak Indra sampai kapanpun...”


“Selama ini memang aku ingin membahagiakan Mia beserta


keluarganya…Itu sebabnya sebelum berengkat keluar negri, waktu itu aku pergi berbelanja


dulu dengan Mia…Salah satunya ketika itu kita membeli baju-baju untuk ibu dan


bapaknya…” Disaat kesedihannya sedang muncak, Indra mencoba mengingat


kebersaman terakhirnya dengam Mia. Dan ternyata itu membuat air matanya semakin


mengalir tidak terbendung.


“Nak Indra sudah makan belum…? Kalau belum, tadi bapa bawa


makanan yang tidak habis waktu menjamu para tamu undangan saat Mia dan nak


Fajar mau akad nikah…Kalau belum…? Sekarang kita makan sama-sama yuk…?”


“Calon besan tidak jadi ini gimana…? Malah memanas-manasi


aku dengan detil menceritakan orang yang kucintai menyongsong kebahagiannya dengan


orang  lain…? Daripada harus mendengar


lagi lebih banyak tentang mereka, mendingan sekarang aku pergi dari sini…Meskipun


itu tidak akan bisa menyembuhkan lukaku…”  Indra yang ditawari makan oleh pak Panji tiba-tiba bangkit.


“Nak Indra mau kemana…?”  Pak Panji melihat Indra seperti mau pergi.


“Saya memang belum sarapan pak. Tapi nanti makannya di


restoran supaya bisa pilih makanan yang yang tidak pedas”


“Lambungnya nak Indra sedang bermasalah ya…?”


“Iya pak…Maagnya kumat…Sebelum kesini saya juga berobat dulu...”


“Kalau begitu hati-hati di jalannya nak…Mulai sekarang,


lupakanlah Mia…Tapi silaturahmi kita jangan sampai putus meskipun nak Indra


tidak jadi mantu bapak…”


“Insyaalloh pak…Sekarang saya pamit dulu. Asalamualaikum…”


“Wa’alaikumussalam…”


Pak Panji dan Indra bersalaman. Keduanya kali ini nampak


tegar. Bagi pak Panji mungkin iya. Tapi bagi Indra setelah di jalan, ternyata


ia lalu mengemukakan sebagian yang selama ini dipendamnya.


“Semua ini gara-gara papa…! Setelah semua yang terjadi hari


ini, aku harus buat perhitungan dengannya meskipun dia ayahku sendiri…! Lihat

__ADS_1


saja…! Sebentar lagi di rumah pasti bakal ada keributan !”  tegas Indra. Dan ancamannya sepertinya bukan


main-main.


__ADS_2