Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Pendiriannya Masih Goyang


__ADS_3

INDRA yang pergi dari rumah dengan tujuan untuk menenangkan


diri, masuk ke sebuah resto yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Sebelum


Indra tiba, di restoran itu sudah memutar lagu Selindion yang menjadi


saundtrack filem titanic. Sambil duduk dimeja yang kosong, ayah dari Raihan ini


langsung melambung. Bukan kepada anak istrinya. Bukan pula kepada Mia yang


sudah mengirim undangan resepsi. Tapi yang di ingatnya, mengenai kebersamaan


dan perpisahannya dengan Wiwin yang menjadi cinta pertamanya.


Dulu ketika tante Wati mau melunasi utang ayahnya Wiwin di


Desa, Indra menemani sang kekasih yang sendirian di rumah. Waktu itu Indra dan


Wiwin sama-sama menghallau keluar melalui jendela. Kebahagiaannya waktu itu,


kali ini melintas lagi dalam ingatan ayahnya Raihan itu.


“Kapan-kapan aku mau liburan kedesa kamu ach…Kalau didesa,


pasti banyak pemandangan yang bisa aku lihat dan nikmati…” kata Indra waktu itu


sambil memundak kepada sang kekasih.


Wiwin yang sedang menabur pandang keluar, ketika itu


langsung membalik. “Sebelum yang jauh, gimana kalau sekarang pandang dulu yang


dekat…Di aku mungkin ada yang kamu suka…” canda Wiwin sambil tersenyum.


“Kalau yang kusuka dari kamu pasti banyak…Tapi masalahnya,


kamu bakal marah nggak kalau sekarang aku mencuri salah satu dari milik


berhargamu ?”  balas Indra sambil


tersenyum pula.


Sebelum memberi komentar ternyata Wiwin menyentuh dada Indra


dengan kedua telapak tangannya. Ketika sang kekasih seperti memberinya harapan,


Indrapun sampai tidak kuat menahan gejolak hatinya. Tapi ketika wajahnya coba


didekatkan, ternyata Wiwin buru-buru menghindar.


“Kamu jangan macam-macam ya In…Karena kalau kamu berani


mencuri, akan langsung mendapat tampolan dari aku”


“Yang mau kucuri barusan kan yang tidak begitu berarti…Dan


itu tidak akan melunturkan cinta aku kekamu…”  Indra yang menyesal karena tujuannya tidak


berhasil, berkomentar. Tapi itu hanya ingin membuat kekasihnya merasa senang.


“Haaa…Senangnya hari ini…Udah semua utang mau dilunasi


tante…? Dari sekolah pulang setengah pelajaran karena gurunya mau rapat…? Eh


disini ada sang pangeran yang tidak henti-henti meluncurkan rayuan juga”


Didepan jendela ketika itu Wiwin merentangkan tangannya.


Waktu itu Indra lalu menirukan Leonardo DiCaprio yang memerankan Jaky dalam


filem titanic. Kala itu Wiwin terus bermanja-manja kepada Indra. Ketika kini


Indra membayanginya lagi dengan di iringi lagu yang sama, kepalanya yang berat ternyata


jadi longsong. Ayah dari Raihan ini malah jadi lupa kepada anannya. Apalagi


kepada istrinya yang dari awal nikah tidak dicintai.


Indra yang sedang sendirian di sebuah resto, kini berkhayal

__ADS_1


lagi ke hal lain.


“Oleh orang tua lelaki yang sudah di jodohkan denganku,


selama ini ayahku sudah difasilitasi rumah dan dicukupi kebutuhan sehari-hari…Jadi


setelah lulus sekolah, aku pun akan langsung pulang ke desa karena walau bagaimanapun


aku tetap berhutang budi terhadap mereka…Kamu harus bisa melupakannya kalau aku


sudah mudik…Dan carilah wanita lain untuk pengganti aku”


“Tidak Win…Aku tidak akan menggantikan kamu dengan wanita


manapun…Kamu itu cinta pertama aku…Dan aku akan menjadikanmu cinta yang pertama


dan terakhir dalam hidup aku…Jadi meskipun kamu sudah mudik kampung, aku ingin


hubungan kita tetap berjalan…”


Harapan Indra ternyata tidak kesampaian. Karena sebagai anak


juragan tanah yang sudah di jodohkan dengan Wiwin, Kamal juga sangat mencintai


gadis ini. Perpisahannya dengan Wiwin sebenarnya lebih menyakitkan bagi Indra.


Putus cintanya yang sulit dilupakan menyebabkankannya frustasi. Tapi setelah


bertemu dengan Mia, rasa frustasinya perlahan-lahan bisa menipis dan akhirnya


hilang.


“Foto weddingnya yang lain, tadi belum aku lihat…”  Setelah sejenak mengenang kebersamaannya


dengan Wiwin yang selalu indah, Indra kali ini mengeluarkan HP nya dan membuka


laman pengirim terakhir. “Ini dia yang belum aku lihat…”  Indra menggeserkan layar HP nya.


Di foto wedding yang kini Indra lihat, Mia dan Fajar tampak


bahagia keduanya sama-sama tersenyum. Dengan nuansa alam, pasangan ini


seolah-olah sedang rehat setelah menaiki jalanan yang penuh dengan bebatuan. Di


memegang tangan sang suami yang membelit di perutnya. Baju keduanya seragam


kaus warna putih tangan pendek. Sepatu gunung yang mereka kenakan, seragam pula


warna hitam. Kalau celananya, Fajar mengenakan sontog levis. Sedangkan Mia


mengenakan belini tiga perempat kaki warna putih sama dengan atasan. Kulit


keduanya yang sama-sama putih, makin serasi ketika keduanya sama-sama


mengenakan sal warna pink cerah. Dan ketika gambarnya mau diambil Galang,


tiba-tiba datang angin yang semilir. Sal yang dikenakan Mia bergerak mengikuti


arus angin. Seperti itulah foto wedding kedua yang ada di kartu undangan


resepsi pasangan ini.


“Ini sungguh menyakitkan…Cinta pertama dan kedua tidak ada


yang memberiku kebahagiaan di akhir…” Gumam Indra sambil menutup HPnya.


Ternyata ia tidal mau lanjut ke foto wedding berkutnya. Setelah menyakui lagi HP


nya Indra lalu memanggil pelayan. Setelah yang dipanggilnya menghampiri, Indra lalu


membayar minuman yang dipesannya tadi. Setelah itu Indra pergi dari sana.


Sepeninggal Indra tadi, Syafira dirumah Seperti biasa menikmati


sebagai ibu rumah tangga. Menjaga anak, beres-beres dan yang lainnya. Sekarang


dirumahnya tidak ada pembantu maupun babysitter. Keputusan ini besenannya sudah


komitmen  dengan suami. Tujuannya supaya

__ADS_1


pahit manisnya dalam berumah tangga bisa dinikmati bersama-sama seperti kata


ayah mertuanya dulu. Tapi hari ini Indra mendadak kambuh lagi kebiasaan


buruknya. Komitmen weekend di rumah, dilanggar. Sehingga Syafira hari ini hatinya


kembali mendapat pedih.


“Sudah asar, tapi mas Indra belum pulang juga…”  Ketika di masjid ada yang mengumandangkan


adzan, Syafira melihat jam yang ada didinding. Ternyata sudah jam tiga lebih


lima belas menit.


“Raihan…? Sekarang bunda mau solat asar. Kamu tinggal sendirian


dulu ya sayang…?” Ucap Srafira ketika mau menidurkan anaknya. Setelah itu


Syafira buru-buru ngambil air dudlu. Terus solat. Tapi mungkin solatnya kurang


husu karena ingat kepada anaknya yang ditinggal sendiri dalam keadan tidak tidur.


Setelah kembali kekamar sehabis solat, Syafira lalu mengambil lagi anaknya yang


sebentar ditinggal solat itu.


“Sayang…? Sekarang kita tinggalnya di ruang tamu ya, sambil


nunggu papa…”  Syafira kali ini membawa


anaknya ke ruang tamu. Diluar matahati sudah hampir terbenam. Cahayanya


berkibar kemerah-merahan disekitar gunung yang dilewatinya. Syafira yang


tinggal berdua dengan Raihan, duduk di ruang tamu sambil sesekali melihat jam


yang ada didinding.


Tepat setengah enam, mobil Indra datang masuk halaman. Syafira


yang sedang membawa Raihan langsung bangkit lalu membuka pintu. Setelah Indra


masuk, Syafira yang dari tadi sedang menunggu langsung mengintrogasi suaminya.


“Mas ? Kamu itu darimana saja, hampir magrib baru datang ?”


“Atas urusan suami, istri itu ada yang perlu tahu ada yang


tidak…! Sekarang kamu tidak perlu tahu aku habis darimana…! Mendingan sekarang


sediakan baju ganti...! Aku mau mandi !”


“Mas…? Mas…? Kapan kamu itu akan berhenti melukai perasaanku…?


Aku baik-baik nanya karena khawatir...? Eh, jawaban kamu malah banyak durinya dan


keras…Tapi meskipun begitu, aku akan terus berusaha sabar mas…Apalagi sekarang


kita sudah punya anak…Aku semakin yakin tidak mau berpisah dari kamu…Tapi kita


harus tetap komitmen untuk sama-sama menjaga dan berbesarkan Raihan…”  gumam Syafira sambil menuju kamar. Setelah


sampai dikamar, piama suaminya lalu dikeluarkan dari dalam lemari. Tidak hanya


itu berbaktinya Syafira kepada suami. Yang mau mandi, handuknya diambilkan dari


gantungan. Air untuk mandinya diperksa dulu. Apa sambungan showernya jalan atau


tidak? Setelah benar-benar jalan, baru Syafira menghampiri yang mau mandi.


“Segala perlengkapannya sudah disimpan di tempat biasa


mas…Sekarang silahkan mas mandi dulu supaya nanti bisa jaga Raihan kalau aku


mau solat magrib”


Ternyata itu salah satu tujuan Syafira dengan segala


baktinya. Dibalik hatinya yang sering dilukai oleh pasangan, yang dimintanya hanya

__ADS_1


sedikit. Dan ternyata ketika Syafira mau solat, Raihannya gantian jadi dijaga


oleh ayahnya.


__ADS_2