Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Kerasnya Hidup Di Luar


__ADS_3

TIGA hari sudah berlalu. “Kamal itu masih belum  kesini juga ya….?’     Kata pak Kosim sambil menerawang jauh. Didepannya ada segelas susu hangat. Ketika butuh orang tempat mengadu, tiba-tiba  bu Arum muncul membawa  pisang goreng.


“Bu, hari ini kita menemui Kamal yuk ?”


“Mau di usir sama dia …?! Kalau bukan mau mengabulkan permintaannya, ibu tidak mau !”


“Justru itu bu….Sekarang bapak sudah sadar…Banyaknya harta ternyata tidak membuat hati bapak tentram…Jadi setelah ini ibu harus buru-buru mandi dan ganti baju. Soalnya bapak sudah tidak sabar ingin segera bertemu Kamal.”


“Coba kalau malam itu  keinginannya dituruti… Pasti kita tidak harus  repot-repot pergi kesana… ! Pastinya juga Kamal dan Wiwin yang datang silaturahmi kekita!”


“Ya udah bu, namanya juga nasi sudah menjadi bubur… Sambil nunggu ibu dandan, sekarang bapak mau jalan-jalan dulu kedepan. Motornya Kamal sudah lama tidak keluar dari rumah.”


Didekat motor Kamal, pak Kosim  mengembangkan kerinduannya  lagi. “Kamu yang sabar ya ? Hari ini aku akan menemui  tuan kamu…Setelah orangnya mau datang kesini, nanti kamu dipakainya lagi jalan-jalan dengan istrinya “


Terhadap Wiwin pun ternyata sekarang pak Kosim  sama sayangnya seperti terhadap Kamal.


Mantu kesayangannya itu pada saat yang bersamaan. “ Win sudah…Suami kamu yang belum datang, sebaiknya jangan dipikirkan terus.”  Pak Sukma membujuknya. Karena sudah tiga hari ini, Wiwin menangis terus.


“Maafkan saya ya ayah…Karena saya egois, akhirnya ayah jadi ikut menanggung derita ini”


“Kalau mikirnya demi keakhiratan, kamu sebetulnya tidak salah Win…Tapi mungkin sebuah karunia belum waktunya diterima suami kamu. Dan akhirnya dia memilih tinggal dengan orangtuanya lagi “


Ternyata dua pihak ini sama-sama salah faham


“Kalau begitu sekarang saya mau mandi dulu ayah…Baju ayah yang sedang direndam juga belum dicuci kan ?”


“Belum…Tapi kalau kamu malas, biar saja nanti dicucinya sama ayah setelah pulang dari sawah.”


“Nggak ayah, nggak malas…Mendingan sekarang ayah buru-buru berangkat. Karena kalau sudah siang, pasti kerjanya akan malas.”


Wiwin dan ayahnya akhirnya  sama-sama bangkit dari tempat duduk. Disini pak Kosim dan bu Arum pun sudah menunggu delman dijalan. Kebetulan dari kejauhan sudah ada delman yang nekeh membawa penumpang yang habis belanja dari pasar.


“Bapak dan ibu itu mau kemana ?’   tanya kusir setelah pak Kosim dan bu Arum naik ke delmannya.


“Antarkan kami  ke BBC  ya Jang?”


“Mau menyembelih kerbau dan kambing yang dibawa waktu serahan putranya itu rupanya ya pak ?”


“Jadi  Ujang tahu kalau kami  yang empat hari lalu menantuan  sama orang BBC ?”


“Pasti tahu bu. Kan pestanya yang super heboh. Jadi hari itu masyarakat disini benar-benar sangat terhibur.”

__ADS_1


“Ya syukurlah kalau begitu Jang…Sekarang kami juga sudah sampai ditempat tujuan. Terimakasih ya jang ? Nih Ongkosnya.”


“Terimakasih pak. Hati-hati turunnya.”


Kusir delman dan pak Kosim serta bu Arum, ternyata sama-sama senang. Selama dalam perjalanan sambil ngobrol. Tapi bukan karena pujiannya kalau mereka memberi ongkos lebih dari tarip biasa. Melainkan sekarang pak Kosim sudah luluh hatinya.


“Kamal dan Wiwin lagi pada ada dirumah nggak ya Pak ? Takutnya ibu mereka sedang bepergian ?”


“Sekarang buktikan saja bu . Ayo ketuk pintu rumahnya sama ibu”.


“Tok ! Tok ! Tok… !  Assalamualaikum…”


“Waalaikumsalam… Eh ibu dan bapak ternyata ?”  kata Wiwin setelah membuka pintu. Dan setelah itu pikirannya sendiri langsung melambung.


“Mau apa ya ibu dan bapak mertua datang kemari ? Sedangkan kang Kamalnya sendiri tidak terlihat ?”


“Kami boleh masuk Win”  Bu Arum menyadarkan lamunan menantunya. Wiwin  ternyata langsung membuang jauh segala pikiran buruknya.


“Pak ? Bu ? Silahkan masuk…? Maaf, barusan  saya itu kaget sebetulnya ?”


“Sebentar ya bu, pak. Sekarang saya mau mengambil air dulu.”    Kata Wiwin setelah didalam. Selama menantunya sedang kebelakang, ternyata bu Arum memanfaatkannya.


“Kamal mungkin masih tidur bu … Kalau pak Sukma  pastinya sedang pergi kesawah.”


“Wiwin sudah kembali tuh. Sebaiknya kita langsung aja suruh membangunkan Kamal.”


“Maaf ya saya agak lama dibelakangnya .”


“Kamal masih tidur ya Win ?”


“Lho, bukankah selama ini kang Kamal ada dirumah ibu ?”


“TIdak, tidak ada… Sekarang kami kemari, justru ada perlu sama Kamal”


Prak !  Baki yang sedang dipegang Wiwin terjatuh. Gelasnya  yang berisi air, langsung pecah seketika.


“Jadi  selama ini kang Kamal tidak ada disana bu ?’   kata Wiwin setelah tubuhnya mulai lemas tak berdaya.


“Disini juga benar-benar tidak ada Win ?”  pak Kosim pun seperti masih kurang percaya dengan kenyataan ini.


“Tidak ada pak.”

__ADS_1


“Jadi selama ini anakku pergi kemana…?” kata bu Arum Bu Arum, sambil menangis.


Kamal yang jadi kuli dipasar induk pada saat yang bersamaan.


“Bu, belum bisa dibawa semua “  kata Kamal kepada orang yang barangnya di angkut.


“Kalau begitu  yang sudah dibawa aja tolong masukkan dulu ke bagasi ya?”


“Udah bu oleh supir ibu. Jadi sekarang saya mau mengambil sisanya.”


“Yaya.., silahkan kalau begitu…”


“Pak Ali, apa pak Ali melihat kalau orang itu seperti tidak biasa kerja ?”


Ternyata yang belanjaannya sedang di angkut oleh Kamal itu bu Ranti. Sekarang dia bertanya kepada supirnya itu tentang Kamal.


“Iya bu, saya juga melihat tangan pemuda itu begitu halus seperti tidak biasa kerja. Tenaganya juga lemah. Belanjaan ibu segitu sampai tidak kuat ia bawa semuanya “


“Orangnya sudah kembali lagi pak Ali .”


“Besok ibu kepasar lagi ?”   tanya Kamal setelah semua pekerjaannya selesai.


“Adik mau menjemput belanjaan ibu lagi ?”


“Insya Alloh bu “


“Setiap hari kepasar dik. Maksud ibu, di Jakarta itu kami baru tinggal bebrapa hari. Jadi supaya cepat betah, ibu pasti akan selalu membuat  kesibukan.  O iya,  ini  untuk upah adik hari ini. Tidak kurang ?”


“Segini cukup nggak Mal ? Satu juta nih ?’      Ketika itu Kamal mau rekreasi ke Borobudur dengan pihak sekolah. Kali ini hal itu terbayang lagi dalam benaknya ketika ia menerima upah dari bu Ranti yang hanya cukup untuk sekali makan.


“Kalau masih kurang, tinggal ngomong aja “


“Tidak bu. Cukup…Sekarang saya permisi dulu.”


“Sampai seperti ini aku demi cinta sama Wiwin” pikir Kamal sambil berjalan. Uang hasil keringatnya itu masih dipegang belum dimasukkan ke dalam saku bajunya. Rupanya bu Ranti pun kasihan dan takut besok Kamal ingkar janji.


“Dik…! Besok jangan lupa ya jemput belanjaan ibu lagi pada jam yang sama !”


“Insyaalloh bu…! Semoga sekarang ibu juga selamat sampai ditujuan!”


“Terimakasih…! Sekarang ibu permisi !”   kata bu Ranti. Setelah itu ibunya Indra ini masuk kedalam mobilnya. Setelah mobilnya pergi, Kamal pun akhirnya menyakui uang hasil keringatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2