Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Di Uji Kesetiaan


__ADS_3

SEORANG kiai pemilik pondok pesantren yang murud-muridnya pernah menolong Kamal, kedatangan pak Kosim. Beliau sedikit kaget karena dengan orang yang menjadi ayah Kamal ini, belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi sebagai seorang Ustad yang ilmunya dibidang agama selalu diamalkan, tentu saja tidak sampai mengurangi citra kewibaannya didepan tamu. Perangainya untuk orang yang baru dikenal, justru luar biasa ramahnya. Pada saat mau tahu tujuan tamu, tutur bahasa pun keluar demikian lemah lembut.


“Maaf, saya terpaksa menanyakan dulu nama kisanak. Setelah itu baru mau menanyakan maksud dan tujuan ?”


“Kalau nama, saya itu Kosim biasa dipanggil. Sedangkan maksud dan tujuan, kemarin saya itu mendapat kabar dari orang tidak dikenal, katanya anak saya yang bernama Kamal ada disini ?”


“Jadi orang yang ditemukan murid-murid saya dalam keadaan pingsang dikebun sayuran itu anak Pak Kosim ? Namanya memang Kamal ?”


“Alhamdulillah.., akhirnya anak saya yang selama ini sedang dicari-cari itu ditemukan.”


“Akan saya panggil  sekarang ya pak Kosim ?”


“Jangan kiai…Kalau harus bertemu dengan orangnya, sebenarnya saya belum sanggup. Dan kalau memang dia disini sedang belajar ilmu agama, biarlah jangan merasa terganggu. Tapi suatu ketika kiai harus menyuruhnya pulang dulu kerumah untuk menentramkan orang-orang dirumah. Sekarang saya akan pulang kiai. Assalamualaikum “


“Kisanak tunggu kisanak…Tidak apa-apa kalau kisanak tidak mau bertemu dengan putranya. Tapi ki sanak sebaiknya jangan pergi dulu walau takut untuk bertemu”


“Abi ? Abi…? Yang takut untuk bertemu itu siapa ?”  Istri kiai  mengguncang-guncang tubuh suaminya.


“Astagfirullohalazim  umi, ternyata bapak bermimpi. Sudah pukul berapa ini ?”


“Sudah pukul dua malam abi”


“Kalau begitu abi mau langsung ngambil air wudlu umi, mau tahajud.”


Pak kiai akhirnya tidak tidur lagi. Pada saat yang bersamaan, Kamal pun keluar dari kobongnya. Didepan pintu ke WC, Kamal dikejutkan oleh munculnya sebuah bayangan. Supaya mendapat kepastian bayangan siapa itu, Kamal diam dulu dibalik pintu kobongnya yang menghubungkan jalan untuk ke WC.


“Ustadz…?”  sahut Kamal ketiha bahunya tiba-tiba ditepuk oleh gurunya.


“Kamal ya ?”   Kiai juga sama,  ketika mereka akhirnya berhadap-hadapan.


“Mal, barusan ustdz bermimpi kedatangan ayahmu. Sebelum wudlu, bagaiman kalau kita ngobrol dulu. Dimana ya ?”


“Ditempat paniisan Ustadz saja.”


Gurunya menuju kesuatu tempat, Kamal mengikuti. Tidak lama kemudian mereka sampai  disuatu tempat yang disebut oleh Kamal paniisan.


“Kita mulai ya Mal ?”   kata ustasz setelah dengan Kamal sama-sama duduk disebuah kursi.


“Mimpi ustdz barusan itu sepertinya petunjuk, kamu harus pulang temui kedua orang tuamu.”


“Memangnya mimpi Ustadz itu seperti apa ?”


“Sekarang ayahmu sudah berubah. Dalam mimpi itu ayahmu sudah menjadi orang yang husnul hotimah…Sekarang keluargamu sangat mengharapkan kedatanganmu. Apalagi yang ditunggu ?”


“Iya ustadz…Betul sekali…”


“Lho ? Kenapa menangis Mal ?”


“Terimakasih ustadz, saya sudah ditanya… Saya itu sebetulnya sudah menikah…Tapi sejak dinikahi lima bulan yang lalu, istri saya itu ditinggalkan sampai sekarang.”


“Untung masih ada waktu Mal. Sebab kalau kamu sudah enam bulan meninggalkannya tanpa menafkahinya, lahir dan bathin, itu berarti ikatan pernikahan kalian sudah putus atau sudah jatuh talak menurut Agama. Untuk itu kepulanganmu jangan ditunda-tunda lagi sekarang. Besok juga nak Kamal harus segera pulang”


“Kalau begitu sekarang saya permisi dulu ustadz… Saya mau berangkatnya itu subuh…Selain kabar ini harus diberi tahukan kepada teman-teman, saya juga  harus mengemasi barang-barang saya dulu.”


“Pergilah…”   Ustadz menepuk bahu Kamal. Hatinya sendiri  teriris. “Fifah.., ayah dapat bayangkan hati kamu kalau mengetahui semua ini… Ayah tahu nak, selama ini kamu menyukai nak Kamal. Ternyata orang yang kamu cintai itu sudah menikah dan punya istri … Dan mulai besok, orangnya dipastikan sudah tidak ada disini.”


Kamal yang sudah memutuskan untuk kembali ke orangtuanya, melangkahkan kaki pertama ketika keadaan masih gelap. “Maafkan aku Fifah…Aku terpaksa pergi diam-diam karena takut hati kamu jadi terluka…Tapi suatu saat kamu pasti akan tahu semuanya…Dan harapanku, mudah-mudahan, meskipun sekarang perpisahan kita menyakitkan, tapi silaturahmi kita harus tetap berjalan baik”


“Bandung…! Bandung…”  Sesampainya diterminal, para calo menawarkan. Kamal pun lalu naik kesalah satu bus yang jurusan menuju kota Propinsi dari kampung halamannya itu. Tidak lama kemudian bus tersebut melaju, meski pun penumpangnya belum penuh.


“Cileunyi, Nagreg, Garut…!” Setelah sampai di kota Bandung, kenek masih mencoba menawarkan kursi yang masih kosong. Ada yang dilihatnya seperti akan naik kali ini. “Stop pir.!” Kata kenek. ”Mau kemana ?” tanyanya ke calon penumpang.


“Garut…Masih ada yang kosong tempatnya ?”

__ADS_1


“Ada, ada… Kebelakang tuh.”


Orang  yang baru naik menuju ke kursi yang masih kosong dengan anaknya. Kursi itu terhalang satu baris dengan kursi yang diduduki Kamal.


“Pak…?”  anaknya,  tiba-tiba.


Dan bapaknya. “Naon Fik, Ofik teh mau jajan ?”   anak itu ditanya ayahnya dengan bahasa Sunda.


“Bukan pak… Tidak.”


“Diam atuh kalau tidak mah ! Sebentar lagi kamu  akan segera bertemu dengan emak kan “


Bus kembali melaju. Anak itu untuk sementara diam menikmati dulu tubuhnya yang seperti diayun-ayun. Makin lama bus itu semakin kencang melajunya. Bocah itu pun jadi tidak asyik lagi naik busnya itu.


“Pak….”   Kali ini ia merengek lagi seperti tadi. Ketika ayahnya sedang ditarik perhatiannya, kedua matanya sendiri tak lepas terus memandangi wajah Kamal yang duduk dibelakangnya. “Itu seperti Kang Kamal ?” pikirnya. Ternyata kepada ayahnya, bocah itu mau memberitahukan hal tersebut terus memanggi-manggil itu. Tapi kali ini Ofik tidak mau ayahnya lolos lagi seperti tadi tentu, mengingat bus itu kali ini berhenti karena supirnya mau makan siang dulu.


Setelah bus berhenti didepan rumah makan, penumpang pun sebagian ada yang turun. Didalam bus, tentunya jadi agak kosong.


“Sekarang bapak pasti tidak akan lolos “ pikir Ofik ketika kesabarannya habis.


“Pak ?”


“Iya Fik, dari tadi kamu pa, paan terus ! Ada apa sebetulnya ?”


“Disana ada orang pak. Tapi wajahnya seperti kang Den Kamal… Sekarang bapak bisa lihat sendiri,  orangnya ada dibelakang kita”


“Bicara apa si Ofik…?”  alasan orang itu kemudian menoleh kebelakang.


“Astagfirullohalazim….Lailahailalloh….Allohuakbar…! Fik, ternyata kamu benar orang itu seperti anaknya juragan Kosim yang sudah meninggal…Maafkan bapak  ya Fik, bapak sudah membentak-bentak kamu gara-gara ini…Kamu mau memafkan bapak  kan Fik ?“


“Me, memaafkan pak. Ta, tapi sekarang orangnya menghampiri kita tuh. Su, sudah semakin dekat pak”


Ofik melihat Kamal meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri kearahnya.


“Iya pak… Bapak sebaiknya pura-pura tidak tahu…Dia marah karena dari tadi Ofik menatapnya terus mungkin ?”


Apa yang disarankan anaknya yang berusia sepuluh tahun, tiadalain mang Jaja tetangga Kamal, berpura-pura melongok keluar. Tapi apa yang terjadi setelah ia berpaling.


“Mang Jaja kok ke saya nggak menyapa ?  Sudah lupa ya bahwa kita tetanggan ?”


Wajar-wajar saja sebetulnya Kamal bicara.


“Saya tidak kenal… Sungguh…Saya tidak kenal dengan…..”


“Kamal anaknya pak Kosim ? Begitu maksud mang Jaja…? Dan ini Taufik ? Kenapa kamu juga tidak menyapa kang Kamal ? Kan dulu Ofik sering dikasih layangan oleh kang Kamal?”


“Sudah sejak suka nonton film Dhe Mask padahal Ofik menginginkannya. Tapi yang sakti ternyata kang Den Kamal… Orangnya bisa jadi dua.”


“Fik, kang Kamal yang Ofik kenal cuma satu yaitu yang ada dihadapan Ofik sekarang…Ditempat lain, tidak ada lagi kang Kamal “


“Lalu yang waktu itu dibawa pak polisi dalam peti mati, siapa ? Katanya itu kang den Kamal sudah meninggal”


“Mang Jaja ? Apa benar yang di katakana si Opik ?”


“Anak mamang benar den. Waktu itu beberapa oramg polisi dari Jakarta memang mengantarkan peti jenazah kerumah aden…Kalau kisahnya diceritakan lagi memang panjang den. Yang pasti sejak peristiwa itu  Neng wiwin dan mertua aden …”


“Mertua dan istri saya kenapa mang ? Cepat katakan ?”  Kamal tidak sabar.


“Mertua aden waktu itu langsung kena serangan jantung…”


“Maksud mamang, sekarang mertua saya sudah meninggal ?”


“Iya den… Waktu itu membuat kuburan pun jadi dua ”  kata mang Jaja. Terbayang oleh Kamal. Betapa gempar di desanya waktu itu.

__ADS_1


***


KEHEBOHAN hari ini, mulanya anak mang Jaja yang membawa berita. “Mak, barusan Opik pulang satu bus dengan kang den Kamal. Kang den Kamal anak juragan Kosim itu ternyata masih hidup mak “. Katanya. Ibunya lalu menceritakan ke tetangganya. Tetangganya terus menceritakan lagi kepada yang lain. Terus seperti itu. Akhirnya orang-orang yang penasaran, berdatangan ke rumah pak Kosim. Membludaknya sama seperti empat bulan lalu ketika kesini ada polisi mengantarkan peti jenazah.


“Pak, diluar banyak orang? Yang dikatakan mereka sama, katanya anak kita masih hidup ?”


“Bapak sendiri masih tidak percaya bu…Tapi kalau memang anak kita masih hidup, ini seperti dalam minpi”


“Sekarang keluar aja pak, samperin mereka yuk ?“


Pak Kosim dan bu Arum akhirnya keluar. “Maaf saudara-saudara, sebenarnya siapa yang membawa berita ini “  Tanya pak Kosim setelah di luar.


Anak laki-laki berusia 10 tahun kedepan. “Saya juragan. Barusan saya dari Bandung dengan bapak, benar satu bus dengan kang den Kamal”


“Terus, mana sekarang kang den Kamal dan bapakmu ?”


“Kang den Kamal dan bapak sedang ke pemakaman dulu juragan. Kata kang den Kamal, mayat dalam peti jenazah yang dulu di antarkan polisi itu adalah temannya waktu jadi kuli di pasar induk“


“Jadi kuli ?” celoteh warga, seragam. Bagi pak Kosim hal ini merupakan suatu tamparan keras.


Warga dan kedua orangtua akhirnya menunggu. Tidak malama kemudian dari jalan Desa turun orang yang sedang mereka tunggu. Semua yang melihat pemuda ini menuruni anak tangga yang didamping mang Jaja, berderai air mata. Kalau bu Arum dan pak Kosim, tidak menunggunya sampai dulu. Sebelum masuk pagar rumah, anaknya itu lalu diburu terus dipeluk erat dan di hujani air mata


“Kamal anakku, kami minta maaf nak? Alloh ternyata telah memberi kesempatan kepada ayah untuk bertobat. Ayah masih ingat betul penyebab kepergian kamu waktu itu nak “ Air mata pak Kosim untuk pertamakalinya, deras


“Ayah, ibu…? Dimana istri saya? Kata mang Jaja, setelah ayah mertuaku meninggal, dia tinggal disini?”  Kamal ternyata tidak menghiraukan perkataan ayahnya


“Dia ada di kamar nak “


Dari pendampingan ayah dan ibunya Kamal melepaskan diri karena sudah tidak sabar. Tapi setelah sampai di kamarnya, betapa menyesalnya pemuda ini. Melihat anaknya seperti kecewa, bu Arum dan pak Kosim lalu mendampinginya lagi


“Beginilah keadan istri kamu sekarang Mal…Sejak ditinggal kamu dan ayahnya, dia seperti tidak bersemangat lagi untuk hidup...Dalam seminggu ini, yang masuk keperutnya hanya kuah bubur…Makin hari kondisinya semakin lemah dan kurus…Tapi tadi pagi, saat ibu kamu dan bi Ijah memandikannya, istri kamu mendadak minta dipakaikan baju pengantin yang warna putih ini…Rupanya istri kamu itu sudah mendapat firasat bahwa hari ini kamu akan datang”


“Sekarang ibu dan ayah, tolong tinggalkan kami berdua “


Kan ku abaikan bintang


Biar kau tenang dengannya….


Lagu Anima yang berjudul “ Bintang “ mengiringi pak Kosim dan bu Arum yang keluar dari kamar anaknya tanpa kata. Setelah orang tuanya tidak ada, Kamal dengan penuh kehati-hatian mulai mengusap-ngusap pipi Wiwin yang pucat. Tangannya yang tinggal kulit membalut tulang di ambil dan terus di genggam


“Win bangun…”  Kamal membisikan. Wiwin yang selama ini memejamkan mata, perlhan-lahan membuka mata cekungnya


“Siapa ini…?”  tanya Wiwin hampir tidak kedengaran


“Ini aku suamimu yang ketika itu telah menunda malam pertama kita “


Wiwin mengatupkan lagi kedua matanya. Tidak lama kemudian, air matanya mengalir ke wajahnya yang berkotak


“Aku ikhlas…”  Wiwin mengucap


“Ikhlas apa maksud kamu Win ?”  Kamal mau tahu maksudnya


“Kalau kamu mau…Hek, hek…” Nafas dan detak jantung Wiwin tiba-tiba mulai tidak seimbang


“Jangan memaksakan diri kalau kamu tidak kuat Win “  Kamal melarang Wiwin supaya jangan banyak bicara. Tapi rupanya Wiwin tetap mau melanjutkan perkataannya mengingat kondisinya sekarang


“Mencari wanita lain .” kata Wiwin. Kalau disambung. Aku ikhlas kalau kamu mau mencari wanita lain. Setelah itu, les. Gadis ini langsung terkulai


“Win, bangun Win…” Kamal yang panik, menguyah guyah tangan Wiwin.


“Wiwin bangun…”  Kali ini Kamal mengguyah-guyah dadanya. Ketika yang disuruhnya bangun tetap diam. “Wiwiiiin…!” Kamal akhirnya histeris. Panggilannya terhadap orang yang sangat dicintai menggema di angkasa. Penomena ini sekaligus menjadi bukti kesetiaannya.


Apakah Wiwin bisa sembuh lagi atau tidak? Jawabanya di : GADIS DALAM IKATAN 2 yang berjudul “PESAN “

__ADS_1


__ADS_2