
SETELAH sebelumnya mengadakan walimatusafar dan di isi
dengan ceramahan/ tausyiah, malam ini di rumah pak Kosim berkumpul lagi anak
mantu dan cucunya. Orangtua yang akan melaksanakan kewajiban rukun islam kelima
itu berangkatnya besok. Jadi berkumpulnya keluarga ini, sekarang lebih ke
kangen-kangenan sebelum berpisah.
Dua kopor besar dan dua kopor tentengan yang sudah di isi
bawaan, sedang di berer-beres oleh bi Ijah dan mang Kardi. Pak Kosim dan bu Arum,
mengajak bercengkrama cucunya yang menggemaskan di ruang tengah. Anaknya yang
tidak berheti di ajak bercanda gurau oleh kakek dan neneknya, Kamal dan Wiwin
hanya tersenyum senang sambil sekali-kali jadi labuhan anaknya yang tidak diam.
“Kakek ? Kakek ? Nanti oleh-olehnya dari Arab bawa
unta-untaan untuk Dani ya ?” Dani yang umurnya dua tahun lebih beberapa bulan,
sekarang lengket kepada kakeknya yang akan pergi berhaji itu.
“Sama nenek tidak pesan Dan ? Nenek juga mau di puluk-peluk
gitu sama kamu?”
Dani yang ada maunya, memang memintanya itu sambil naik ke
atas lahunan kakeknya.
Setelah nenennya menawarkan juga, ternyata anak itu langsung
turun dari lahunan kakeknya.
“Mau nek…” Kata Dani setelah pindah tenpat.
“Kan tadi ke kakek pesannya unta-untaan ?Kalau sama nenek
pesannya apa ?”
“Apa ya…?” Dani mengetuk-ngetuk kepalanya dengan telunjuk
sambil mengerjit. Setelah yang di inginkannya tergambar.
“Oya nek. Pedang-pedangan aja” kata Dani. Gerr, semuanya pada tertawa.
“Dan ? Kamu pesan pedang-pedangan lagi sama nenek? Kan sudah
punya dapat beli waktu kita jalan-jalan ke plasa?” Tanya Kamal disisa tawanya.
“Yang dibelikan ayah itu sekarang sudah tumpul. Kan Dani mau
pedang-pedangan yang masih tajam”
“Pedang-pedangannya untuk apa Dan? Kalau untuk tarung-tarungan
kan kamu belum punya adik? ”
__ADS_1
“Pedang-pedangan itu untuk menghadang ayah kalau pulang
kerja kek”
“Mal ? Apa benar kalau pulang kerja kamu suka dihadang
anakmu ini di depan pintu?” Pak Kosim
bertanya kepada Kamal.
“Kalau pas datangnya dia sedang tidak tidur, memang begitu
yah. Katanya kalau belum mandi, saya jangan menghampiri bunda”
Gerr ! Semuanya pada
tertawa lagi
“Ih, cucu nenek menggemaskan sekali…” Bu Arum mencubit pipi cucunya. Setelah itu
Dani turun dari lahunan neneknya. Terus pindah lagi ke lahuman kakeknya.
“Win ? Mal ? Kalau kita sedang tidak ada, kalian harus
benar-benar jaga dia. Soalnya anak kalian ini lagi aktif banget nih…” Selain
mendekap erat cucunya, pak Kosim kali ini memberi petuah kepada anak dan mantunya.
Yang diberi petuah, tentu saja menjunjung tinggi.
“Iya pak. Kalau kita di rumah hanya berdua, saya malah suka
Alhamdulillah selama ini kita baik-baik saja”
Ketika itu mungkin yang bernama lengkap Wiwin Winarti ini
sedang ada pada kondisi seharusnya. Tapi kali ini saking asyiknya melihat album
foto keluarga yang didalamnya banyak momen-momen mengesankan, sehingga ibu satu
anak ini jadi lengah. Sekarang pintu rumah yang biasa di kunci itu, tidak di
kunci. Sehingga Kamal yang pulang kerja awal dari biasanya, sedikit kaget.
“Ternyata pintunya kali ini tidak di kunci?” Kamal yang tadinya mau mengetuk pintu, kali
ini langsung masuk diam-diam. Setelah di dalam Kamal lalu melongok ke kamar
Dani. Ternyata anaknya ada disana sedang
bermain mobil-mobilan.
Kamal yang kali ini selamat kepulangannya tidak di hadang oleh
anaknya pakai pedang-pedangan, mencoba melongok ke kamar utama sekarang. Nyah !
Atas yang ditemukan disana, ayah satu anak ini langsung tersenyum. Untuk
menggoda orang di dalam, mantan playboy ini lalu ber aksi.
“Ada yang lagi mau ngasih Dani adik kayaknya ?” Satu umpan dilemparkan Kamal. Tapi yang
__ADS_1
sedang asyik melihat album foto tidak bereaksi sama sekali.
“Hihi…Foto yang paling lucu ini ? Masuk yah. Kok jam segini sudah pulang ?”
Rupanya Wiwin itu tahu kalau kamal sudah pulang. Ketika
Kamal sudah masuk, tiba-tiba HP Wiwin berbunyi suara panggilan. Ketika yang
nelpon Fajar, selain langsung mengambil HPnya wanita yang tetap cantik ini
langsung bangkit.
“Dari siapa bun ?”
“Dari dik Fajar. Sekarang ayah keluar dulu. Aku mau
menerimanya”
“Tetap disini juga nggak akan brisik” Jawab Kamal agak marah. Mungkin cemburu
istrinya lebih mengutamakan orang lain di banding suami sendiri.
“Asalamualaikum…” Wiwin yang tidak perduli perasaan suami,
uluk salam.
“Wa,alaikumussalam…Mbak Win apa kabar ?” Fajar yang disana,
menanyakan kabar Wiwin.
“Alhamdulillah baik dik Fajar. Kabar dik Fajar sendiri
bagaimana ?”
“Baik juga mbak. Kang Kamal nya ada nggak ?”
Ketika Fajar menanyakan suaminya, Wiwin menatap Kamal.
“Lanjutkan…!” Kamal
memberi isyarat
“Ada dik baru pulang kerja. Dik Fajar ada perlu sama suami
mbak?”
“Kangen aja ingin ketemu mbak”
“Kalau begitu main kesini. Kalau ada dik Fajar kemari, Dani
pasti akan senang”
“Kalau dokter muda itu kemari, ibunya kali yang senang “
kerutu dalam hati Kamal. Tapi setelah itu ternyata Fajar langsung mengakhiri
nelponnya. Mungkin disana ada orang lain yang berkepentingan kepadanya. Setelah
Wiwin menyimpan Hpnya, Kamal pun jadi berani mendekati istrinya itu dan
menunjukkan kemesraan seperti kebiasaannya.
__ADS_1