Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Kebersamaan Sebelum Perjalanan Haji


__ADS_3

SETELAH sebelumnya mengadakan walimatusafar dan di isi


dengan ceramahan/ tausyiah, malam ini di rumah pak Kosim berkumpul lagi anak


mantu dan cucunya. Orangtua yang akan melaksanakan kewajiban rukun islam kelima


itu berangkatnya besok. Jadi berkumpulnya keluarga ini, sekarang lebih ke


kangen-kangenan sebelum berpisah.


Dua kopor besar dan dua kopor tentengan yang sudah di isi


bawaan, sedang di berer-beres oleh bi Ijah dan mang Kardi. Pak Kosim dan bu Arum,


mengajak bercengkrama cucunya yang menggemaskan di ruang tengah. Anaknya yang


tidak berheti di ajak bercanda gurau oleh kakek dan neneknya, Kamal dan Wiwin


hanya tersenyum senang sambil sekali-kali jadi labuhan anaknya yang tidak diam.


“Kakek ? Kakek ? Nanti oleh-olehnya dari Arab bawa


unta-untaan untuk Dani ya ?” Dani yang umurnya dua tahun lebih beberapa bulan,


sekarang lengket kepada kakeknya yang akan pergi berhaji itu.


“Sama nenek tidak pesan Dan ? Nenek juga mau di puluk-peluk


gitu sama kamu?”


Dani yang ada maunya, memang memintanya itu sambil naik ke


atas lahunan kakeknya.


Setelah nenennya menawarkan juga, ternyata anak itu langsung


turun dari lahunan kakeknya.


“Mau nek…” Kata Dani setelah pindah tenpat.


“Kan tadi ke kakek pesannya unta-untaan ?Kalau sama nenek


pesannya apa ?”


“Apa ya…?” Dani mengetuk-ngetuk kepalanya dengan telunjuk


sambil mengerjit. Setelah yang di inginkannya tergambar.


“Oya nek. Pedang-pedangan aja”  kata Dani. Gerr, semuanya pada tertawa.


“Dan ? Kamu pesan pedang-pedangan lagi sama nenek? Kan sudah


punya dapat beli waktu kita jalan-jalan ke plasa?”  Tanya Kamal disisa tawanya.


“Yang dibelikan ayah itu sekarang sudah tumpul. Kan Dani mau


pedang-pedangan yang masih tajam”


“Pedang-pedangannya untuk apa Dan? Kalau untuk tarung-tarungan


kan kamu belum punya adik? ”

__ADS_1


“Pedang-pedangan itu untuk menghadang ayah kalau pulang


kerja kek”


“Mal ? Apa benar kalau pulang kerja kamu suka dihadang


anakmu ini di depan pintu?”  Pak Kosim


bertanya kepada Kamal.


“Kalau pas datangnya dia sedang tidak tidur, memang begitu


yah. Katanya kalau belum mandi, saya jangan menghampiri bunda”


Gerr !  Semuanya pada


tertawa lagi


“Ih, cucu nenek menggemaskan sekali…”  Bu Arum mencubit pipi cucunya. Setelah itu


Dani turun dari lahunan neneknya. Terus pindah lagi ke lahuman kakeknya.


“Win ? Mal ? Kalau kita sedang tidak ada, kalian harus


benar-benar jaga dia. Soalnya anak kalian ini lagi aktif banget nih…” Selain


mendekap erat cucunya, pak Kosim kali ini memberi petuah kepada anak dan mantunya.


Yang diberi petuah, tentu saja menjunjung tinggi.


“Iya pak. Kalau kita di rumah hanya berdua, saya malah suka


Alhamdulillah selama ini kita baik-baik saja”


Ketika itu mungkin yang bernama lengkap Wiwin Winarti ini


sedang ada pada kondisi seharusnya. Tapi kali ini saking asyiknya melihat album


foto keluarga yang didalamnya banyak momen-momen mengesankan, sehingga ibu satu


anak ini jadi lengah. Sekarang pintu rumah yang biasa di kunci itu, tidak di


kunci. Sehingga Kamal yang pulang kerja awal dari biasanya, sedikit kaget.


“Ternyata pintunya kali ini tidak di kunci?”   Kamal yang tadinya mau mengetuk pintu, kali


ini langsung masuk diam-diam. Setelah di dalam Kamal lalu melongok ke kamar


Dani.  Ternyata anaknya ada disana sedang


bermain mobil-mobilan.


Kamal yang kali ini selamat kepulangannya tidak di hadang oleh


anaknya pakai pedang-pedangan, mencoba melongok ke kamar utama sekarang. Nyah !


Atas yang ditemukan disana, ayah satu anak ini langsung tersenyum. Untuk


menggoda orang di dalam, mantan playboy ini lalu ber aksi.


“Ada yang lagi mau ngasih Dani adik kayaknya ?”  Satu umpan dilemparkan Kamal. Tapi yang

__ADS_1


sedang asyik melihat album foto tidak bereaksi sama sekali.


“Hihi…Foto yang paling lucu ini ?  Masuk yah. Kok jam segini sudah pulang ?”


Rupanya Wiwin itu tahu kalau kamal sudah pulang. Ketika


Kamal sudah masuk, tiba-tiba HP Wiwin berbunyi suara panggilan. Ketika yang


nelpon Fajar, selain langsung mengambil HPnya wanita yang tetap cantik ini


langsung bangkit.


“Dari siapa bun ?”


“Dari dik Fajar. Sekarang ayah keluar dulu. Aku mau


menerimanya”


“Tetap disini juga nggak akan brisik”  Jawab Kamal agak marah. Mungkin cemburu


istrinya lebih mengutamakan orang lain di banding suami sendiri.


“Asalamualaikum…” Wiwin yang tidak perduli perasaan suami,


uluk salam.


“Wa,alaikumussalam…Mbak Win apa kabar ?” Fajar yang disana,


menanyakan kabar Wiwin.


“Alhamdulillah baik dik Fajar. Kabar dik Fajar sendiri


bagaimana ?”


“Baik juga mbak. Kang Kamal nya ada nggak ?”


Ketika Fajar menanyakan suaminya, Wiwin menatap Kamal.


“Lanjutkan…!”  Kamal


memberi isyarat


“Ada dik baru pulang kerja. Dik Fajar ada perlu sama suami


mbak?”


“Kangen aja ingin ketemu mbak”


“Kalau begitu main kesini. Kalau ada dik Fajar kemari, Dani


pasti akan senang”


“Kalau dokter muda itu kemari, ibunya kali yang senang “


kerutu dalam hati Kamal. Tapi setelah itu ternyata Fajar langsung mengakhiri


nelponnya. Mungkin disana ada orang lain yang berkepentingan kepadanya. Setelah


Wiwin menyimpan Hpnya, Kamal pun jadi berani mendekati istrinya itu dan


menunjukkan kemesraan seperti kebiasaannya.

__ADS_1


__ADS_2