
SETELAH kemarin jajan-jalan, hari ini Kamal tidak pergi ke
pabrik karena kurang enak badan. Sambil baringan di kursi yang ada di ruang tv,
calon ayah yang sudah tidak sabar menunggu kelahiran buah hatinya itu terus
mengembangkan penyebab semalam ia sukar tidur.
“Kenapa setelah Indra jadian dengan Mia, kini yang menghatui
fikiranku itu jadi Fajar? Apakah karena anak ini pernah memerankan orang ketiga
dalam scenario ulang tahun pernikahan beberapa waktu lalu? Karena terus
memikirkan anak ini, semalam aku jadi sukar tidur ? Untung Wiwin tetap pulas?
Apapun yang terjadi, aku memang selalu berharap dia tetap sehat. Karena dengan ibunya
selalu sehat, buah hati kami juga insyaalloh akan baik-baik saja...?”
“Yah…? Harus banyak minum supaya cepat sembuh”
Disaat Kamal sedang bertanya pada diri sendiri, Wiwin
menghampiri sang suami sambil membawa hp. Setelah duduk di kursi yang satunya,
tiba-tiba Kamal memegang tangan istrinya itu
“Jangan suka nonton film kartun bun. Kan bunda lagi hamil”
“Tidak. Barusan aku sedang baca novel. Maksudnya mau
dilanjutkan lagi bacanya disini sambil menemani ayah”
“Sekarang simpan dulu hp nya. Aku lagi ingin di manja. Hehe…”
“Idih…? Lagi masuk angin aja manjanya setengah mati?”
“Bunda harus tahu penyebabnya” Kamal yang sudah bangkit tidak baringan lagi,
memberi ruang supaya Wiwin duduknya pindah
“Memang penyebabnya apa ?” Tanya Wiwin setelah duduk di samping sang suami
“Semalam aku kurang itu tidur karena ingat terus Fajar.
Maksud aku, kasihan dia bun “
“Merasa kasihannya ujug-ujug begitu saja tanpa penyebeb apa
apa?”
“Sebenarnya dari kemarin. Tepatnya begitu tahu Mia dan Indra
jadian. Selama ini kan Fajar itu suka sama Mia”
“Jadi selama ini dik Fajar itu suka sama Mia?”
“Iya. Tapi selama ini anak itu sepertinya banyak
menimbang-nimbang. Mungkin karena dia masih kuliah, dan belum punya pekerjaan
tetap”
“Kasihan sekali dik Fajar. Sekarang mau coba telpon dia ach
“
”Eh, jangan bun. Sekarang kan masih jam kuliah. Kalau mau
coba nelpon, nanti malam aja”
“Sebenarnya kalau kamu perhatian terhadap pemuda itu, aku
cemburu Win. Habis dulu kamu pernah menjadikannya actor utama yang berpasangan
dengan kamu sendiri ? Ketika itu bahkan aku sudah mengepalkan tangan. Tapi
sebelum kusarangkan tinjuan ke wajah tampannya dia, kalian berdua kompak
ucapkan parti ultah. Tapi sampai saat ini aku masih beranggapan bahwa kamu suka
beneran sama dia”
Tangan Wiwin yang di larang menelpon Fajar masih dipegangi
Kamal. Dari hp Wiwin yang sudah di letakkan di atas meja, tiba-tiba berbunyi
suara panggilan. Ketika yang muncul nama Fajar, pasangan suami istri ini
__ADS_1
kembali saling pandang
“Tuh ! Yang nelpon ternyata dik Fajar. Berarti anak itu saat
ini sedang tidak belajar”
“Kalau begitu sekarang cepat angkat bun. Ternyata di anak
itu ada sambungan bathin dengan kita”
Setelah mendapat izin dari sang suami, Wiwin akhirnya
mengambil lagi hpnya. Panggilan Fajar diterima. “Assalamualaikum dik Fajar?”
“Wa’alaikumussalam mbak ? Mbak Win apa kabar ?”
“Alhamdulilllah baik…Kabar dik Fajar sendiri bagaimana ?”
“E, agak kurang baik mbak”
“Kurang baik ? Atau tidak baik ? Jujur saja dik, mbak sudah
tahu semuanya kok”
“Mm..,maksud mbak?”
“Selama ini dik Fajar suka kan sama yang namanya Mia? Tapi
sekarang gadis itu sudah jadian dengan anak seorang pengusaha dari kota?”
“Kok mbak tahu semuanya ? Padahal mereka jadian baru
beberapa hari mbak?”
“Kan kemarin mbak bertemu mereka di mall. Dan ternyata
mereka sudah resmi jadian”
“Iya mbak. Selama ini saya memang suka sama dia”
“Tuh kan sekarang blak-blakan ? Memangnya kenapa dik sampai
keduluan nembak sama orang lain ? Padahal selama ini dik Fajar sangat mencintai
dia kan ?”
terdiam, tiba-tiba Umar muncul.
“Ternyata nt disini Jar?”
”Eh Mar ? Nt lagi mencari-cari ana rupanya?”
“Siapa itu dik Fajar…?” Wiwin yang mendengar suara Umar disana, bertanya. Dan itu sekaligus
menyadarkan Fajar dari ketermenungannya
“Mbak ? Hpnya mau saya tutup dulu ya? Disini ada teman yang
mencari. Ngobrolnya sama mbak, kapan-kapan aja di sambung lagi ya ?”
“O, yaya dik silahkan. Kehadiran orang itu pasti lebih
penting buat dik Fajar. Sampai ketemu lagi ya dik? Assalamualaikum”
“Walaikumussalam”
“Siapa yang barusan di telpon Jar? Kedengarannya suara
perempuan ?” setelah Fajar mematikan
hpnya, Umar bertanya
“Itu mbak Win istrinya kang Kamal?”
“Maksud nt? Kang Kamal Bandar beras itu?”
“Iya. Nt rupanya ada penting Mar ?” Fajar balik bertanya
“Memang iya Jar. Barusan ana tanya ke beberapa teman.
Akhirnya Ela dan Susi yang sedang di kantin memberitahukan bahwa nt masuk ke
ruang labolaturium. Memangnya nt mau neliti apa ?”
“Ini Mar. Binatang kecil yang jadi masalah di tempat kumuh.
Tapi sekarang sudah selesai” Fajar
memperlihatkan se ekor lalat yang barusan habis di telitinya
__ADS_1
“Kalau kita ngobrolnya di kantin bagaimana ?” Umar usul
“Iya, boleh. Ayo sekarang kita sama-sama kesana “
Dua sahabat Umar dan Fajar akhirnya sama-sama keluar dari
ruang laboraturium. Setelah di kantin, Umar memesan dulu minuman. Setelah itu
langsung menyampaikan angan-angannya
“Sebelumnya ana minta maaf ja Jar. Mengenai adik ana yang
sekarang sudah menjalin hubungan dengan pemuda kota itu, ana tidak ikut campur.
Maksud ana, persahabatan kita jangan sampai putus gegara itu…Tapi ana yakin, nt
tidak sepicik itu?”
“Terimakasih atas kepeduliannya Mar. Ana mengerti. Atas
kejadian ini nt pasti baper. Ana juga minta maaf kalau beberapa hari ini ana
memang menghindar dari nt. Bukan apa-apa? Sebenarnya karena merasa bingung aja
“
“Ana mengerti Jar…Tapi sebagai teman dekat, setelah adik ana
memutuskan menerima cinta pemuda itu, di antara kita seperti ada yang hilang…
Selama ini ana yakin banget, bahwa nt itu akan jadi adik ipar ana? Tapi
kenyataannya, sebelum nt menyampaikan isi hati, adik ana malah terima lamaran
orang lain. Mungkin itu alasannya”
Setelah Mia memutuskan menerima cinta Indra, ternyata bukan
hanya Fajar yang merasa sedih. Dalam benak Umar malah terbayang lagi ketika
adiknya itu dan Fajar bertemu untuk pertamakali
“Silahkan diminum” Mia yang di suruh menyuguhi Fajar oleh Umar, menyimpan air minum di atas
meja. Ketika itu Fajar langsung terpesona oleh kecantikan Mia
“Terimakasih…Kamu adiknya Umar?” Jawab Fajar agak telat
“Iya”
“Bisa kenalan?” susul Fajar
“Boleh. Saya Mia. Lengkapnya Mia Mardiana “
“Nama saya Fajar Lembayung. Sama seperti Mia, kalau manggil,
cukup Fajar aja”
Ketika itu Umar melihat adiknya dan Fajar berjabatan sambil
menyebutkan nama masing-masing. Tapi setelah itu tidak ada tindak lanjut dari
Fajar. Padahal Umar tahu, sikap adiknya setelah itu jadi berubah. Bahkan Umar
pernah memergoki adiknya mengambil fhoto Fajar yang ada di kamarnya.
“Sebenarnya cuma untuk menyampaikan itu tujuan ana mencari
nt Jar. Maksud ana, nt jangan sungkan kalau mau ke rumah ana yang di Ciloa
maupun ke kontrakan MELISA HAPPY. Selama ini kalau kita mudik suka singgah dulu
disana kan ? Nginap semalam disana? Tapi karena kesibukan di kampus, memang
sekarang rumah kontrakan itu jadi Mia yang kelola. Tapi sekali lagi, nt jangan
sungkan kalau mau ke MELISA HAPPY meskipun disana ada adik ana ”
“Iya Mar. Sekali lagi terimakasih atas perhatiannya…” Fajar mengiyakan perkataan Umar. Menyusul
dalam hatinya langsung menandaskan. “ Kebetulan kakaknya tetap care! Sebenarnya
aku ingin bertemu denganmu Mia dan bicara empat mata. Kamu harus tahu bahwa aku
menyesal tidak menembak mu dari dudu-dulu. Dan kamu juga harus tahu, bahwa aku akan
tetap cinta kepadamu untuk selamanya” gumam dalam hati Fajar. Setelah itu
pesanan datang. Kedua sahabat itu akhirnya ngobrolnya sambil makan-makan.
__ADS_1