
SETELAH di rumahnya ada kejadian yang tidak diduga, tante
Wati sudah agak tenang sekarang. Karena ngepel lantinya sudah selesai, HP nya
di atas meja diambil. Maksudnya sebelum memasak mau menanyakan kabar terntang
Mia dulu kepada Wiwin. Dan setelah sebentar nomornya dilacak, ternyata langsung
nyambung.
“Assalamualaikum…Win….?”
“Wa’alaikumussalam…Tan…Ada apa pagi-pagi sudah nelpon?”
“Win…? Kenapa kamu tidak bilang kalau tujuan Mia ke Medan
itu mau mencari Indra…”
“Terus yang membuat penyesalan tante apa?”
“Mereka itu bertemu di rumah tante…Sedangkan Indra disini
kan sudah menikah…Bahkan sekarang sudah punya anak”
“Allohurobbi…” Wiwin
yang sedang di telpon tante Wati tiba-tiba menyebut AsmaNYA. Itu karena ia
merasa kurang percaya. Terus merasa kasihan juga kepada Mia yang begitu
bersemangat ingin menemui Indra dengan segala pengorbanannya yang begitu
banyak. Tiba-tiba gadis itu harus mendapat kenyataan bahwa orang yang selalu di
setiainya itu ditemukan sudah tidak sendiri.
“Win…? Kamu masih siap dengar suara tante kan?”
“Iya tan..,saya siap…Barusan hanya kaget saja ketika tante
menyampaikan kabar itu”
“Selama ini tante juga tidak memberi tahu kamu soal Indra yang
sudah menikah itu”
“Iya tan…? Kenapa itu memang?”
“Pak Suherman yang minta Win…Waktu itu pernikahannya juga
tidak terlalu mewah meskipun kedua belah pihak sama-sama orang kaya…Tapi dua
hari lalu semuanya sudah terjawab…Hari ini tante menghubungi kamu itu
sebenarnya mau menanyakan kabar Mia setelah dia pergi diam-diam…Tapi ternyata
soal ini kamu tidak tahu apa-apa…?”
“Ya udah tan…Mengenai Mia nanti saya akan langsung mencari
tahu kepada orang-orang terdekatnya…Sekarang saya minta tante sudahi dulu
ngobrolnya…Nanti kalau saya sudah mendapat kabar baru tentang Mia, saya akan
menghubungi tante”
“Kalau begitu sekarang tante mau tutup HP nya…Sebenarnya
disini tante juga belum masak.…Asalamualaikum…”
“Wa’alaikumussalam…”
“Indra sudah menikah…?” Setelah sambungan HP dengan tantenya putus, Wiwin mengucapkan tiga
kalimat yang membuatnya masih kurang percaya itu. Disaat hatinya masih gundah
__ADS_1
atas nasib orang lain, tiba-tiba Kamal muncul.
“Bunda kenapa tinjrag-tinjrag ubin sambil pegang HP ?”
“Indra ternyata sudah menikah yah…Bahkan sekarang sudah
punya anak”
“Kalau bercanda, yang masuk akal donk…Aku tidak percaya”
“Awalnya aku juga tidak percaya…Tapi barusan tante
menceritakan semuanya…Nih, aku juga masih pegang HP nya…Baru banget aku tahu
nya yah”
“Ternyata petualangan mantan bunda itu selalu membuat orang
kaget…Padahal belum begitu lama, kita itu mendapat kabar bahwa dia
stress…Rupanya dia sudah sembuh, terus setelah itu memutuskan untuk menikah
dengan orang lain…Kasihan Mia…Demi seorang pembohong itu, dia sudah
mengorbankan pekerjaan dan lain sebagainya…Tapi ternyata yang selalu
diperjungkannya membalas dengan air tuba”
“Sudahlah yah…Nggak harus se emosi itu kali ? Mendingan
sekarang kita coba telepon dik Fajar aja…Mungkin dia juga belum tahu soal ini?”
“Bunda benar…Fajar harus dibeti tahu soal ini”
Hari ini Fajar ada dirumah. Libur minggu nya tidak
dihabiskan diluar. Jadi ketika Kamal menghubungi, langsung diterima tidak ada
alasan sibuk atau sedang bekerja.
“Asalamualaikum kang…?”
“Iya kang…Memangnya ada apa ?”
“Sudah tahu soal Mia belum?”
“Memangnya kenapa dengan Mia kang?”
“Dari Medan nya dia sudah kembali…”
“Setelah baru lima hari kang…?”
Kepada Fajar Kamal akhirnya menceritakan apa yang iya tahu.
Tapi meskipun hanya garis besarnya, kabar itu cukup membuat nakes muda itu ikut
prihatin dan sedih.
“Kalau begitu sekarang saya mau mencoba datang kerumahnya
kang…Siapa tahu mungkin ayah dan ibunya sedang butuh bantuan…” Setelah Kamal selesai bercerita, yang
dibayangkan Fajar Bu Sumiati dan pak Panji itu shock. Apalagi Mia pikirnya.
“Ya, sudah…Kalau Fajar mau ke rumah Mia, sebaiknya
buru-buru…Soalnya permasalahan ini bukan sepele, melainkan bisa mengganggu mental dan
kejiwaan Mia sendiri”
Pukul sepuluhan akhirnya Fajar pergi ke rumah pak Panji.
Setibanya ditujuan, seperti biasa bu Sumiati ber basa-basi. Tapi setelah itu,
problem nya lalu berbagi dengan Fajar. Dan memberi tahu bahwa Mia sekarang
__ADS_1
menangis terus dan tidak keluar-keluar dari kamarnya.
“Kalau sekarang suruh keluar dulu sebentar, kira-kira bakal
berhasil tidak bu…? Bilang saja kalau disini ada saya yang mau bertemu ?”
Bu Sumiati tiba-tiba bangkit dari duduknya. Sebelum pergi.
“Kalau begitu sekarang akan ibu coba nak…” “Iya bu…Silahkan coba panggil “
Sesampainya di depan kamar Mia, bu Sumiati mengetuk
pintunya. “Tok tok…MI…?”
“Ada apa bu…?” Ternyata Mia menjawab.
“Sekarang keluar dulu sebentar…Di depan ada nak Fajar”
“Aku tidak mau menemuinya bu”
“Sebentar aja nak…”
“Mau lama mau sebentar…! Aku tetap tidak mau menemuinya
bu…!” Suara Mia mulai terdengar tinggi.
Dari ruang tamu, Fajarpun mendengarnya.
“Kamu harus menghargai nak Fajar yang sudah mau peduli dengan
permasalahanmu Mi…! Ayo sekarang kamu keluar jangan mengurung diri terus di kamar
!”
“Ibu ini tidak mengerti banget isi hati anak muda sih…!
Sedangkan aku sudah bisa menebak…! Bahwa kak Fajar kesini itu pasti hanya untuk
menertawakanku bu ! Karena aku sudah tidak menuruti nasehatnya ketika mau pergi…!”
“Asagfirulloh…Mia…? Mia…?” Dari tempat duduknya Fajar langsung bangkit. Setelah maju lima langkah
ke ruang tengah. “Bu sudah, jangan di panggil lagi “
“Tapi ibu tidak mau punya anak perempuan seperti ini nak…?” Air mata bu Sumiati mengalir deras. Fajar
kali ini mengajaknya duduk kembali. Tapi tanpa suara supaya Mia tidak
mendengar.
“Ibu jangan lagi seperti tadi kepada Mia ya…?” pesan Fajar setelah dengan bu Sumiati
sama-sama sudah duduk kembali di ruang
tamu. “Ibu harus faham…Bahwa putri ibu saat ini mentalnya sedang terganggu…“
“Tapi ibu malu sama nak Fajar…”
“Ya, saya faham bu…Tapi jiwa putri ibu sekarang sedang
mendapat guncangan…Jadi tolong resep ini nanti berikan kepada Mia…Sekarang saya
pamit, karena di rumah masih banyak pekerjaan”
Kepada bu Sumiati Fajar memberikan kertas yang dilipat dua. “Terimalah
cintaku…Semoga ini akan jadi obat luka hatimu…Kalau kamu menerima, datanglah ke
dangau tempat kita dulu bermain…Hari dan waktunya silahkan tentukan
sendiri…Mungkin yang sudah ada kamu buang demi laki-laki lain…Ini nomorku…Masih
yang dulu sebenarnya…” Demikian resep yang ditulis Fajar untuk pasien special. Setelah
oleh bu Sumiati di diterima Fajar langsung keluar. Setelah di jalan lalu masuk
__ADS_1
ke mobilnya yang terparkin. Tidak lama kemudian mobilnya bergerak. Lama-lama
menjauh meninggalkan tempat tinggal pak Panji sekeluarga.