Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Resep Spesial Untuk Orang Spesial


__ADS_3

SETELAH di rumahnya ada kejadian yang tidak diduga, tante


Wati sudah agak tenang sekarang. Karena ngepel lantinya sudah selesai, HP nya


di atas meja diambil. Maksudnya sebelum memasak mau menanyakan kabar terntang


Mia dulu kepada Wiwin. Dan setelah sebentar nomornya dilacak, ternyata langsung


nyambung.


“Assalamualaikum…Win….?”


“Wa’alaikumussalam…Tan…Ada apa pagi-pagi sudah nelpon?”


“Win…? Kenapa kamu tidak bilang kalau tujuan Mia ke Medan


itu mau mencari Indra…”


“Terus yang membuat penyesalan tante apa?”


“Mereka itu bertemu di rumah tante…Sedangkan Indra disini


kan sudah menikah…Bahkan sekarang sudah punya anak”


“Allohurobbi…”   Wiwin


yang sedang di telpon tante Wati tiba-tiba menyebut AsmaNYA. Itu karena ia


merasa kurang percaya. Terus merasa kasihan juga kepada Mia yang begitu


bersemangat ingin menemui Indra dengan segala pengorbanannya yang begitu


banyak. Tiba-tiba gadis itu harus mendapat kenyataan bahwa orang yang selalu di


setiainya itu ditemukan sudah tidak sendiri.


“Win…? Kamu masih siap dengar suara tante kan?”


“Iya tan..,saya siap…Barusan hanya kaget saja ketika tante


menyampaikan kabar itu”


“Selama ini tante juga tidak memberi tahu kamu soal Indra yang


sudah menikah itu”


“Iya tan…? Kenapa itu memang?”


“Pak Suherman yang minta Win…Waktu itu pernikahannya juga


tidak terlalu mewah meskipun kedua belah pihak sama-sama orang kaya…Tapi dua


hari lalu semuanya sudah terjawab…Hari ini tante menghubungi kamu itu


sebenarnya mau menanyakan kabar Mia setelah dia pergi diam-diam…Tapi ternyata


soal ini kamu tidak tahu apa-apa…?”


“Ya udah tan…Mengenai Mia nanti saya akan langsung mencari


tahu kepada orang-orang terdekatnya…Sekarang saya minta tante sudahi dulu


ngobrolnya…Nanti kalau saya sudah mendapat kabar baru tentang Mia, saya akan


menghubungi tante”


“Kalau begitu sekarang tante mau tutup HP nya…Sebenarnya


disini tante juga belum masak.…Asalamualaikum…”


“Wa’alaikumussalam…”


“Indra sudah menikah…?”  Setelah sambungan HP dengan tantenya putus, Wiwin mengucapkan tiga


kalimat yang membuatnya masih kurang percaya itu. Disaat hatinya masih gundah

__ADS_1


atas nasib orang lain, tiba-tiba Kamal muncul.


“Bunda kenapa tinjrag-tinjrag ubin sambil pegang HP ?”


“Indra ternyata sudah menikah yah…Bahkan sekarang sudah


punya anak”


“Kalau bercanda, yang masuk akal donk…Aku tidak percaya”


“Awalnya aku juga tidak percaya…Tapi barusan tante


menceritakan semuanya…Nih, aku juga masih pegang HP nya…Baru banget aku tahu


nya yah”


“Ternyata petualangan mantan bunda itu selalu membuat orang


kaget…Padahal belum begitu lama, kita itu mendapat kabar bahwa dia


stress…Rupanya dia sudah sembuh, terus setelah itu memutuskan untuk menikah


dengan orang lain…Kasihan Mia…Demi seorang pembohong itu, dia sudah


mengorbankan pekerjaan dan lain sebagainya…Tapi ternyata yang selalu


diperjungkannya membalas dengan air tuba”


“Sudahlah yah…Nggak harus se emosi itu kali ? Mendingan


sekarang kita coba telepon dik Fajar aja…Mungkin dia juga belum tahu soal ini?”


“Bunda benar…Fajar harus dibeti tahu soal ini”


Hari ini Fajar ada dirumah. Libur minggu nya tidak


dihabiskan diluar. Jadi ketika Kamal menghubungi, langsung diterima tidak ada


alasan sibuk atau sedang bekerja.


“Asalamualaikum kang…?”


“Iya kang…Memangnya ada apa ?”


“Sudah tahu soal Mia belum?”


“Memangnya kenapa dengan Mia kang?”


“Dari Medan nya dia sudah kembali…”


“Setelah baru lima hari kang…?”


Kepada Fajar Kamal akhirnya menceritakan apa yang iya tahu.


Tapi meskipun hanya garis besarnya, kabar itu cukup membuat nakes muda itu ikut


prihatin dan sedih.


“Kalau begitu sekarang saya mau mencoba datang kerumahnya


kang…Siapa tahu mungkin ayah dan ibunya sedang butuh bantuan…”   Setelah Kamal selesai bercerita, yang


dibayangkan Fajar Bu Sumiati dan pak Panji itu shock. Apalagi Mia pikirnya.


“Ya, sudah…Kalau Fajar mau ke rumah Mia, sebaiknya


buru-buru…Soalnya permasalahan ini bukan  sepele, melainkan bisa mengganggu mental dan


kejiwaan Mia sendiri”


Pukul sepuluhan akhirnya Fajar pergi ke rumah pak Panji.


Setibanya ditujuan, seperti biasa bu Sumiati ber basa-basi. Tapi setelah itu,


problem nya lalu berbagi dengan Fajar. Dan memberi tahu bahwa Mia sekarang

__ADS_1


menangis terus dan tidak keluar-keluar dari kamarnya.


“Kalau sekarang suruh keluar dulu sebentar, kira-kira bakal


berhasil tidak bu…? Bilang saja kalau disini ada saya yang mau bertemu ?”


Bu Sumiati tiba-tiba bangkit dari duduknya. Sebelum pergi.


“Kalau begitu sekarang akan ibu coba nak…” “Iya bu…Silahkan coba panggil “


Sesampainya di depan kamar Mia, bu Sumiati mengetuk


pintunya. “Tok tok…MI…?”


“Ada apa bu…?”  Ternyata Mia menjawab.


“Sekarang keluar dulu sebentar…Di depan ada nak Fajar”


“Aku tidak mau menemuinya bu”


“Sebentar aja nak…”


“Mau lama mau sebentar…! Aku tetap tidak mau menemuinya


bu…!”  Suara Mia mulai terdengar tinggi.


Dari ruang tamu, Fajarpun mendengarnya.


“Kamu harus menghargai nak Fajar yang sudah mau peduli dengan


permasalahanmu Mi…! Ayo sekarang kamu keluar jangan mengurung diri terus di kamar


!”


“Ibu ini tidak mengerti banget isi hati anak muda sih…!


Sedangkan aku sudah bisa menebak…! Bahwa kak Fajar kesini itu pasti hanya untuk


menertawakanku bu ! Karena aku sudah tidak menuruti nasehatnya ketika mau pergi…!”


“Asagfirulloh…Mia…? Mia…?”  Dari tempat duduknya Fajar langsung bangkit. Setelah maju lima langkah


ke ruang tengah. “Bu sudah, jangan di panggil lagi “


“Tapi ibu tidak mau punya anak perempuan seperti ini nak…?”   Air mata bu Sumiati mengalir deras. Fajar


kali ini mengajaknya duduk kembali. Tapi tanpa suara supaya Mia tidak


mendengar.


“Ibu jangan lagi seperti tadi kepada Mia ya…?”  pesan Fajar setelah dengan bu Sumiati


sama-sama sudah  duduk kembali di ruang


tamu. “Ibu harus faham…Bahwa putri ibu saat ini mentalnya sedang terganggu…“


“Tapi ibu malu sama nak Fajar…”


“Ya, saya faham bu…Tapi jiwa putri ibu sekarang sedang


mendapat guncangan…Jadi tolong resep ini nanti berikan kepada Mia…Sekarang saya


pamit, karena di rumah masih banyak pekerjaan”


Kepada bu Sumiati Fajar memberikan kertas yang dilipat dua. “Terimalah


cintaku…Semoga ini akan jadi obat luka hatimu…Kalau kamu menerima, datanglah ke


dangau tempat kita dulu bermain…Hari dan waktunya silahkan tentukan


sendiri…Mungkin yang sudah ada kamu buang demi laki-laki lain…Ini nomorku…Masih


yang dulu sebenarnya…” Demikian resep yang ditulis Fajar untuk pasien special. Setelah


oleh bu Sumiati di diterima Fajar langsung keluar. Setelah di jalan lalu masuk

__ADS_1


ke mobilnya yang terparkin. Tidak lama kemudian mobilnya bergerak. Lama-lama


menjauh meninggalkan tempat tinggal pak Panji sekeluarga.


__ADS_2