
KAMAL yang akhirnya melewatkan malam pertama dengan segala keindahannya, membelah malam menelusuri jalan setapak. Sebuah rumah yang akan disambanginya sendiri, lampunya masih menyala terang. Ternyata itu karena ayah dan ibunya masih ngobrol diruang tengah sambil membicarakan salah satu bisnis yang dijalaninya selama ini.
“Pintunya tidak dikunci ternyata ? Langsung masuk aja ach….Ya, yang mau di ajak komprominya ternyata belum pada tidur. Alangkah baiknya kalau obrolan mereka sekarang kudengarkan dulu. Ya, disini sebaiknya aku bersembunyi. Disudut sekonan ruangan.”
Itulah Kamal dari mulai sampai ditujuan. Mencoba membuka pintu, kemudian ter endap-endap dan berhasil bersembunyi dengan nyaman tanpa diketahui siapa-siapa.
Kedua orang tuanya yang mau didengarkan obrolannya, melanjutkan membuka lembaran berikutnya, atas sebuah buku tagihan yang sedang mereka periksa.
“Jumlah nasabah baru, ada berapa orang pak ?”
“Lumayan banyak ternyata bu. Ada sekitar tiga puluh orang”
“Wah itu bukan lumayan lagi pak. Tapi benar-benar bisa membuat kita tambah kaya raya “
Rey, Kamal yang sedang bersembunyi dibalik sekonan tiba-tiba aliran darahnya naik. “Rupanya mereka sedang membicarakan bisnis belum pada tidur itu” itulah alasannya.
Dari tempat persembunyiannya, Kamal mengepalkan tangannya saking emosi. “Tunggu ayah ! Sekali ayah tidak mau mengentikan yang riba itu, mulai saat ini juga aku akan jadi orang yang nekad !”
Seandainya sesuatu terjadi, ternyata Kamal sudah tidak berpikir jauh kedepan. Sedangkan kedua orang tuanya semakin tambah tekun memeriksa buku tagihan yang banyak menyimpan nilai rupiah dan keuntungan itu.
“Pak ? Ini bukan jumlah yang sedikit ternyata ?” Bu Arum yang mencoba melihat sendiri mengenai catatan uang diluar, menatap suaminya.
“Hehe… Memang bu. Tapi akan hal ini tentunya harus diberitahukan kepada Kamal. Setelah menikah dia pun sekarang harus sudah jelas pekerjaannya.”
“Saya tidak mau ayah….!” Ketika kesabarannya sudah habis, dari tempat persembunyiannya Kamal akhirnya menampakkan diri. Tentu saja kedua orangtuanya kaget bukan kepalang.
“Ayah dan ibu itu pasti kaget. Kapan saya masuk ke rumah ! Dan lewat pintu mana masuknya ? Saya rasa ini merupakan kecerobohan kalian akibat terlalu memikirkan bisnis !”
“Kamal …!” Pak Kosim mendelik. Ternyata sejauh ini Kamal masih bisa mengendalikan emosinya.
“Duduk kamu !”
“Tapi saya tidak akan lama disini ! Terimakasih !”
“Duduk kataku ! Kamu malam-malam datang kesini itu sebetulnya mau apa ?!”
“Saya mau minta supaya ayah menghentikan bisnis kotor ini !”
“Plak…!” Atas kelancangannya, Kalamal langsung diberi hadiah. Pak Kosim menyarangkan tamparannya tepat di pipi kiri orang yang dimanjanya selama ini.
“Ayo ulangi…! Ulangi perkataanmu yang barusan itu karena ayah mau mendengarnya lagi !”
“Bu.., mohon jadi saksi saya mau berdebat tentang kebenaran dengan ayah…! Menurut ibu sendiri, siapa yang benar diantara kami?!”
“Tidak Mal, kamu jangan bertengkar dengan ayah meskipun itu untuk kebaikan…Lebih baik sekarang kamu duduk dulu. Apa sebetulnya yang telah terjadi sehingga kamu malam-malam datang kesini ?”
“Wiwin ternyata tidak mau dinafkahi dengan uang yang tidak halal bu…Sedangkan saya belum punya pekerjaan.”
“Sudah kuduga, pasti dia yang sudah memprengaruhi kamu itu !Sampai-sampai kamu mau menerkam ayah sendiri !”
“Jangan bawa-bawa Wiwin ayah ! Tidak sepantasnya ayah meng kambing hitamkan istri saya dalam masalah ini ! Sekarang saya sudah dewasa ! Jadi saya pasti bisa menafkahi keluarga walau tanpa bantuan ayah !”
“Hehe..,jangan SO kamu ! Emangnya cari duit itu gampang ! Apalagi kamu yang selama ini hanya bisa menamprakkan tangan ke orangtua ! Segala keinginan dipenuhi ! Baju dibelikan yang bagus-bagus ! Dompet tidak pernah kosong ! Kita jadi nggak habis pikir sekarang kamu tiba-tiba sesumbar bisa menafkahi keluargamu sendiri tanpa bantuan kami !”
“Cukup ayah…! Hotbah ayah tidak akan bisa merubah apapun ! Karena kalau ayah tetap tidak menghentikan pekerjaan itu, mulai saat ini saya akan pergi dari kehidupan kalian !”
“Kalau begitu cepat pergi ! Ayo pergi !”
“Pak, jangan usir anak kita pak…Kalau anak kita pergi, ibu akan ikut dia saja..? Mohon pak, sekarang turuti saja permintaannya “
“Bapak akan tetap mengusir anak yang pembangkang ini bu ! Jadi sekarang tinggal pilih saja, ibu mau tetap tinggal bersama bapak ? Atau pergi bersama anak yang tidak tahu terima kasih ini ?!”
__ADS_1
“Aduh ibu…? Juragan…? Apa yang terjadi ini ? Ternyata ada cep Kamal juga ?”
Buyar semua rencana dan kekecutan begitu mang Kardi muncul.
“Kardi… ! Selama ini kamu itu kemana saja heh …?! Pintu tidak dikunci !”
“Maaf bu. Tadi dikolan ada yang kekecebukan…Kirain berang-berang yang mau nangkap ikan… Eh ternyata yang kekecebukan dikolam itu kodok ijo bu”
“Sudah, sudah Kardi…! Aku lagi marah nih, jangan ngebual …!Sekarang bujuk tuh anakku supaya tidak pergi !“
“Tidak perlu mang, mamang jangan turuti perintah ayah ! Saya tidak akan membatalkan niat untuk pergi dari rumah mang !”
“Kamal ! Keras kepala sekali kamu ! Dengar..! Sebagai anak yang sudah di urusi penuh kasih sayang serta bergelimangan harta, sebelum pergi kamu harus balas dulu semua itu ! Jadi kamu tidak boleh pergi sebelum ada izinku !”
“Kalau begitu cepat sekarang saya beri izinnya ayah ! Karena saya sudah nggak tahan berada disini !”
“Mal, kenapa kamu itu demikian benci sama ayah…? Kenapa Mal ?”
“Karena ayah sudah tidak menyayangi saya lagi sekarang ! Dulu saja ayah menyayangi, sampai-sampai tidak pernah berani menampar ! Tapi sekarang, dimata saya ayah itu tak ubahnya seperti monster !”
“Plak ! Plak !” Kalau tadi satu kali, kali ini dua kali Kamal diberi hadiahnya itu. Memang bukan main marahnya pak Kosim begitu mendapat penghinaan dari seorang anak yang dimanjanya sendiri.
“Pergi ! Sekarang kamu silahkan angkat kaki dari rumah ini ! Cepat !”
Sudah disuruh pergi, pergi Kamal. Jangankan mang Kardi, ibunya sendiri tidak diliriknya lagi. Berjalan seperti orang yang kemasukan setan. Tidak heran kalau selama orang-orang masih terkesima, Kamal sudah tidak tampak. Setelah anaknya itu tidak ada, baru bu Arum sadar. Kepada mang Kardi, mendorong-dorong.
“Kardi cepat susul anakku Kardi “
“Jangan Kardi, jangan disusul !”
“Bapak ini gimana sih ? Anak kita pergi hatinya gelap, tidak terlihat cemas sama sekali ? Kenapa sih pak?”
“Ibu ini seperti tidak tahu anak kita saja ? Anak kita kan tidak biasa hidup susah…Jadi mana mungkin kalau dia nekad pergi jauh dari rumah kita ?“
“Nah, begitu kalau berprasangka. Daripada berfikir yang tidak-tidak, mendingan positif. Sekarang mari kita tidur. Tuh si Kardi juga sudah mengunci pintu. Sekarang kan dia mau tidur dirumah kita”
Di ajak tidur oleh suaminya, bu Arum tidak menjawab. Tapi kedua kakinya sendiri melangkah pasti mengikuti suaminya. Dan begitu tiba dikamar, langsung berbaring. Pak Kosim sama, mau tidur itu bungkam seperti istrinya. Tapi untuk pak Kosim setelah kepalanya disamdarkan ke atas bantal itu tidak lama kemudian lelap. Sedangkan bu Arum mesti membolak balik bantal dulu. Tapi lama kelamaan, bu Arum pun menguak. Dan selama belum tidur, wajah anaknya terus tercipta. Saat ini masih dijalan menelusuri jalan setapak dalam keadaan gelap gulita.
***
“BIASANYA disini suka ada mobil sayuran yang mau ke pasar induk ” Alasan Kamal kali ini menuju ke suatu tempat. Berarti pirasat ibunya benar.
Sesampainya ditempat tujuan, ternyata disana ada mobil sayuran yang sudah mau berangkat. Kamal pun sejenak terlibat percakapan dengan supirnya. Tidak lama kemudian Kamal disuruh masuk. Setelah itu baru truk penganggkut sayuran yang akan menuju ke Jakarta melaju perlahan-lahan.
Kamal yang akhirnya naik truk sayuran itu, diperjalanana mengisahkan sebagian cerita dalam keluarganya. “Saya nekad pergi itu sebenarnya saking sudah tidak kuat menahan sakit hati pak…Se umur hidup, baru kali ini saya ditampar oleh ayah saya…Itulah yang membuat saya nekad “
“E.., nama ayah adik itu sebenarnya siapa ? Dan berasal darimana ?”
“Saya dari Kampung babakan Pak… Kalau nama ayah saya, Kosim “
“Juragan Kosim maksud adik ? Yang tadi siang menikahkan putra tunggalnya dengan pesta besar-besaran ?”
“Itu saya pak…Tapi ngomong-ngomong.., kok bapak bisa tahu mengenai semuanya itu ?”
“Aduh den…Kalau ada yang hajatan mengelar ceramahan yang yang Ustadznya suka tampil ti TV, pasti kabarnya nyebar kemana-mana. Tapi kalau memang itu hari bahagianya den, mengapa den malah pergi dimalam pertama ? Maksud bapak, kasihan dengan istrinya?”
“Dia baik-baik saja pak”
“Kalau begitu kasihan istrinya den. Malam ini pasti dia tetap menunggu den” kata supir. Sayangnya perjalanan sudah dua pertiga yang ditempuh. Kalau masih dekat, aku pasti akan menasehatinya supaya dia pulang pikirnya.
“Pak…? Kalau sudah sampai dipasar induk sayuran ini diturunkannya oleh para kuli ya ?” Kamal sekarang mengalihkan pembicaraan. Dan ternyata supir yang baik hati itu langsung menjawab.
__ADS_1
“Jangan bilang, kalau aden juga di Jakarta itu mau jadi kuli “
“Memangnya kenapa pak? Kan saya perlu makan ?”
“Kita sudah sampai. Mengenai pertanyaan den, untuk sementara jadi PR saja ya…? Alhamdulillah.., perjalanan kita selamat”
“Subhanalloh… Hasil bumi ternyata disini menggunung ya pak ? Padahal ini berasal dari pelosok-pelosok tertunya. Tapi karena jasa truk-truk itu, sekarang segalanya seakan ladangnya disini “ Kamal takjub melihat berbagai jenis sayuran dilapak pasar induk.
“Sambil menunggu orang-orang suruhan boss kesini, kita duduk-duduk dulu disini ya den”
“Baik pak”
“Oya, ada tukang goreng pisang tuh…Kesini mbak !” Tukang jualan goreng-gorengan dipanggil supir truk sayuran. Karena ada Kamal, ternyata dibelinya tidak hanya satu macam.
“Ayo den, sekarang hangatkan dulu perutnya”
“Terimakasih pak…Jadi seperti ini kebiasaan bapak dilapak ?”
“Setelah menempuh perjalanan malam, perut kita kan kedinginana selain lapar. Iya, sebelum makan nasi “
“Sebentar pak. Salah seorang kuli kesulitan menaikan pikulan keatas pundaknya tuh. Saya mau bantu dulu ya pak ?“ Kamal tidak menunggu jawaban. Setelah yang dikasihaninya itu dihampiri, ternyata ia langsung menawarkan jasa. “Saya bantu ya ?”
“Sau.., saudara siapa ?”
“Nama saya Kamal “
“Saya Andi… Kas yang ini beratnya 45 kilo… Selain belum pernah memikul seberat ini, semua teman-teman sudah tidak ada”
“Tidak ada yang menaikkan ke atas pundakmu ya ? Ayo sekarang saya bantu “
“Terimakasih…Setelah ini ada waktu kan kalau kita ngobrol ?”
“Ya, kalau begitu saya akan menunggumu disini”
Kamal dan orang itu akhirnya berpanca kaki. Beberapa lama kemudian supir truk menghampiri mereka. Ternyata dia mau mengajak Kamal pulang.
“Sekarang bapak mau pulang den… Aden itu harus ikut pulang lagi dengan bapak ya ?”
“Maaf pak, sepertinya tekad saya mau merantau di Jakarta, sudah bulat. Sekarang saya sudah punya teman baru, pak”
“Mau jadi kuli den ?”
“Tidak apa-apa pak…Yang penting uang yang dihasilkannya halal”
Supir truk geleng-geleng kepala. Rupanya ia tidak menyangka dengan kenekadan Kamal. Tapi kalau itu sudah menjadi keputusannya, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Pikirnya. Terus ia mengodok saku celananya. Setelah itu dari dompetnya, mengambil satu lembar yang berwarna merah.
“Terimalah den”
“Apa-apaan ini pak ?”
“Atas keputusan aden, bapak tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi mohon yang tidak seberapa ini harus diterima “
“Tapi pak.. Kalau untuk makan, saya juga punya “
“Jumlahnya tidak banyak den…Sudahlah..,aden itu kan tidak biasa hidup susah. Anggap saja pemberian dari papak ini hanya untuk menyambung kebutuhan sehari-hari aden. Nih terimalah.”
“Kalau begitu terimakasih pak. Mudah-mudahan segala kebaikan bapak mendapat balasan yang berlipat-lipat”
“Amiin….Sekarang bapak pamit dulu den…Mudah-mudahan suatu ketika kita bisa bertemu lagi.”
“Mudah-mudahan pak “
__ADS_1
Supir truk dan Kamal bersalaman. Setelah supir itu pergi, Kamal pun menunggu Andi. Maksudnya kalau sudah kembali, ia mau mengajaknya ngobrol.