
INDRA yang sedang weekend di rumah menerima telpon dari
mertua.
“HALO mah ? Ada apa…?”
“In…? Barusan mama itu mau video call ke Syafira, tapi tidak
diangkat-angkat…Makanya sekarang mama nelpon ke kamu”
“Mau video call, ada apa ya mah…?”
“Itu In…Mama sudah kengen banget sama Raihan…Soalnya
mingu-minggu ini mama sibuk, jadi ngak bisa cideo callan untuk melihat perkembangan
cucu mama”
“Ini sekarang Raihannya sedang dijaga sama aku mah…” Sambil nelpon Indra melihat ke Raihan yang
sedang di atas Kasur.
“Lho…? Memangnya Syafira lagi kemana Raihannya dijaga sama
kamu?” Indra mau menjaga Raihan,
ternyata Ibu mertuanya juga kaget.
“Itu mah, mungpung libur…Katanya Syafira mau pasakin makanan
untuk aku…Maksudnya mau pasakin makanan kesukaan aku”
Mendengar kata-kata Indra disana, bu Sherli termenung
sejelak. “Jadi selama ini mereka sudah rukun ya…? Indra tidak masa bodoh lagi
terhadap Syafira dan anaknya…? Bagus lah, kalau begitu ? Berarti harapanku
selama ini benar-benar bisa terwujud ”
“Mah…? Bukankah mama mau melihat Raihan…?”
“O…Yaya In…Maaf barusan ada yang membuka pintu
depan…Ternyata itu Iqbal baru pulang kuliah…Ayo sekarang HP nya rubah In ke
video call…” Bu Syerli berbohong. Tapi
anaknya yang laki-laki ini memang baru saja datang dan terus menghampiri
mamanya yang sedang nelpon Indra.
“Mah…? Langsung video call aja sekarang…Iqbal mungkin mau
melihat kemenakannya juga” Indra disana
usul.
“Iya In…Sekarang mama akan pindahkan HP nya ke saluran video
call…HP kamu juga ya? Cepat rubah salurannya”
Bu Sherli dan Indra akhirnya sama-sama mengganti sambungan
HP nya. Tidak lama kemudian di HP mereka tersambung video call nya. Indra lalu
mengarahkan kameranya ke Raihan yang sedang tengkurap di atas Kasur.
“Halo Oma apa kabar…?” Indra berbicara se olah-olah itu Raihan.
__ADS_1
Disana bu Syerli benar-benar senang. “Raihan…? Kamu sudah
bisa tengkurap ternyata ?”
“Iya Oma, kan sekarang usiaku sudah enam bulan lebih…” jawab
Indra masih tujuan yang sama.
“In ? Suruh senyum Raihannya…?”
“Baik mah…” Indra
yang asalnya berdiri, kali ini duduk di pinggir terpat tidur.
“Raihan, kata Oma tersenyum…Ayo tersenyum sayang…”Indra
menyuruh anaknya tersenyum. Tapi Raihan masih terlalu kecil untuk mengerti
permintaan papanya.
“Mah ? Raihannya ternyata tidak mau tersenyum”
“Ya udah In…Sudah bisa melihatnya saja buat mama udah
senang…Berat badannya berapa kilo ya? Selain sudah bisa tengkurap, ternyata badannya
Raihan montok ?”
“Terakhir ke bidan waktu mau imunisasi, delapan kilo mah…Itu
tiga minggu yang lalu” Syafira yang
menjawab. Ia memasaknya sudah selesai. Setelah ada Syafira, Indra pun bangkit
lagi dari duduknya.
“Iya mas…? Makanan kesukaan kamunya sudah jadi…Kalau mau
dimakan sekarang, silahkan langsung ke meja makan…Video callan nya Raihan sama
mama, biar dilanjutkan sama aku “
“Mah…? Aku pamit dulu ya…? Pesanannya ternyata sudah jadi…”
“Iya In…Selamat makan enak…Mama masih kangen sama Raihan”
Dari kamar anaknya Indra lalu keluar. Sikap baiknya barusan
didepan mertua, bagi Bu Sherli masih teka-teki. Apa benar sekarang Indra sudah
berubah ? Enam bulan bukankah wantu yang lama untuk bisa melupakan kenangan dari
seseorang apa bila orang itu mencintai orang lain yang lebih cantik dari
pasangan sendiri. Pikir bu Sherli. Tapi saat ini ibunya Syafira bukan mau
membahas hal itu. Jadi setelah mantunya tidak ada, ia pun tetap komitmen atas
kangen terhadap cucunya.
Dari kamar Raihan, Indra langsung ke meja makan. Tapi ketika
hampir menyatap makanan pesanannya yang dimasak sang istri, tiba-tiba HPnya
berbunyi
“Dari siapa lagi ini…?” Gumam Indra sambil membuka layar HP.
”Undangan resepsi dari Mia…?” belum sepuluh menit Indra
__ADS_1
baik-baikin keluarga. Begitu ada hal yang berkaitan dengan Mia, hatinya
berontak lagi.
“Kalau aku ada terus dirumah, bakal butek kepala...!
Mendingan sekarang aku keluar supaya otaknya longsong “
Setelah meninggalkan meja makan dan makanannya, Indra langsung
kekamar dan mengganti baju. Syafira menemuinya setelah Indra hampir pergi.
“Mas kok pesanannya tidak dimakan ?”
“Tidak…Nanti saja makannya diluar”
“Memangnya mas mau kemana…? Ada teman yang tiba-tiba ngajak
reunian?”
“AKu berangkat dulu…Jangan ditunggu…Aku tidak tahu pulangnya
bakal jam berapa…Itu HP ku kan…?” Indra melhat HP nya di tangan Syafira.
“Iya mas, ini HP kamu…” Syafira menyodorkan HP Indra kepemiliknya. Setelah HP nya diambil, Indra
keluar dari rumah. Tidak lama setelah mobilnya pergi, ke HP Syapira ada yang
mau nelpon.
“Papa mertua…?” Syafira melihat yang menghubungi. Setelah
itu yang nelpon di sapa. “Asalamualaikum pah…”
“Wa’alaikumussalam…Syafira…Nanti ke resepsinya Mia itu kamu
dan Indra harus datang ya…? Papa juga nanti akan pergi bersama mama dan Santi
kesananya” kata pak Suherman di telpon,
thudepoin.
“Oh…Berarti mas Indra yang sikapnya kembali seperti dulu itu
karena ada undangan dari mantannya… ?” guman Syafira sambil termenung.
“Syafira…?”
“Ya pah…”
“Tadi yang dikatakan papa sudah cukup jelas kan?”
“Iya pah…Pada waktunya insyaalloh kita akan usahakan datang”
“Ya sudah…Kalau begitu sekarang telponnya akan papa tutup
lagi. Karena sekarang papa dan mama mau ke undangan tetangga. Asalamualaikum”
“Wa’alakumussalam…”
“Ternyata mas Indra belum bisa melupakan mantannya seratus
persen…Seandainya aku lebih cantik dari mantan-mantannya...? Mungkin aku tidak
akan makan hati seperti ini…? Baru saja sekejap aku merasakan kasih sayang dan
perhatian dari mas Indra…Sekarang orangnya sudah pergi…Kebahagian aku pun sudah
lenyap lagi…” pikir Syafira sambil duduk lesu di kursi makan.
__ADS_1