Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Undangan Resepsi


__ADS_3

INDRA yang sedang weekend di rumah menerima telpon dari


mertua.


“HALO mah ? Ada apa…?”


“In…? Barusan mama itu mau video call ke Syafira, tapi tidak


diangkat-angkat…Makanya sekarang mama nelpon ke kamu”


“Mau video call, ada apa ya mah…?”


“Itu In…Mama sudah kengen banget sama Raihan…Soalnya


mingu-minggu ini mama sibuk, jadi ngak bisa cideo callan untuk melihat perkembangan


cucu mama”


“Ini sekarang Raihannya sedang dijaga sama aku mah…”   Sambil nelpon Indra melihat ke Raihan yang


sedang di atas Kasur.


“Lho…? Memangnya Syafira lagi kemana Raihannya dijaga sama


kamu?”  Indra mau menjaga Raihan,


ternyata Ibu mertuanya juga kaget.


“Itu mah, mungpung libur…Katanya Syafira mau pasakin makanan


untuk aku…Maksudnya mau pasakin makanan kesukaan aku”


Mendengar kata-kata Indra disana, bu Sherli termenung


sejelak. “Jadi selama ini mereka sudah rukun ya…? Indra tidak masa bodoh lagi


terhadap Syafira dan anaknya…? Bagus lah, kalau begitu ? Berarti harapanku


selama ini benar-benar bisa terwujud ”


“Mah…? Bukankah mama mau melihat Raihan…?”


“O…Yaya In…Maaf barusan ada yang membuka pintu


depan…Ternyata itu Iqbal baru pulang kuliah…Ayo sekarang HP nya rubah In ke


video call…”  Bu Syerli berbohong. Tapi


anaknya yang laki-laki ini memang baru saja datang dan terus menghampiri


mamanya yang sedang nelpon Indra.


“Mah…? Langsung video call aja sekarang…Iqbal mungkin mau


melihat kemenakannya juga”  Indra disana


usul.


“Iya In…Sekarang mama akan pindahkan HP nya ke saluran video


call…HP kamu juga ya? Cepat rubah salurannya”


Bu Sherli dan Indra akhirnya sama-sama mengganti sambungan


HP nya. Tidak lama kemudian di HP mereka tersambung video call nya. Indra lalu


mengarahkan kameranya ke Raihan yang sedang tengkurap di atas Kasur.


“Halo Oma apa kabar…?”  Indra berbicara se olah-olah itu Raihan.

__ADS_1


Disana bu Syerli benar-benar senang. “Raihan…? Kamu sudah


bisa tengkurap ternyata ?”


“Iya Oma, kan sekarang usiaku sudah enam bulan lebih…” jawab


Indra masih tujuan yang sama.


“In ? Suruh senyum Raihannya…?”


“Baik mah…”  Indra


yang asalnya berdiri, kali ini duduk di pinggir terpat tidur.


“Raihan, kata Oma tersenyum…Ayo tersenyum sayang…”Indra


menyuruh anaknya tersenyum. Tapi Raihan masih terlalu kecil untuk mengerti


permintaan papanya.


“Mah ? Raihannya ternyata tidak mau tersenyum”


“Ya udah In…Sudah bisa melihatnya saja buat mama udah


senang…Berat badannya berapa kilo ya? Selain sudah bisa tengkurap, ternyata badannya


Raihan montok ?”


“Terakhir ke bidan waktu mau imunisasi, delapan kilo mah…Itu


tiga minggu yang lalu”  Syafira yang


menjawab. Ia memasaknya sudah selesai. Setelah ada Syafira, Indra pun bangkit


lagi dari duduknya.


“Iya mas…? Makanan kesukaan kamunya sudah jadi…Kalau mau


dimakan sekarang, silahkan langsung ke meja makan…Video callan nya Raihan sama


mama, biar dilanjutkan sama aku “


“Mah…? Aku pamit dulu ya…? Pesanannya ternyata sudah jadi…”


“Iya In…Selamat makan enak…Mama masih kangen sama Raihan”


Dari kamar anaknya Indra lalu keluar. Sikap baiknya barusan


didepan mertua, bagi Bu Sherli masih teka-teki. Apa benar sekarang Indra sudah


berubah ? Enam bulan bukankah wantu yang lama untuk bisa melupakan kenangan dari


seseorang apa bila orang itu mencintai orang lain yang lebih cantik dari


pasangan sendiri. Pikir bu Sherli. Tapi saat ini ibunya Syafira bukan mau


membahas hal itu. Jadi setelah mantunya tidak ada, ia pun tetap komitmen atas


kangen terhadap cucunya.


Dari kamar Raihan, Indra langsung ke meja makan. Tapi ketika


hampir menyatap makanan pesanannya yang dimasak sang istri, tiba-tiba HPnya


berbunyi


“Dari siapa lagi ini…?” Gumam Indra sambil membuka layar HP.


”Undangan resepsi dari Mia…?” belum sepuluh menit Indra

__ADS_1


baik-baikin keluarga. Begitu ada hal yang berkaitan dengan Mia, hatinya


berontak lagi.


“Kalau aku ada terus dirumah, bakal butek kepala...!


Mendingan sekarang aku keluar supaya otaknya longsong “


Setelah meninggalkan meja makan dan makanannya, Indra langsung


kekamar dan mengganti baju. Syafira menemuinya setelah Indra hampir pergi.


“Mas kok pesanannya tidak dimakan ?”


“Tidak…Nanti saja makannya diluar”


“Memangnya mas mau kemana…? Ada teman yang tiba-tiba ngajak


reunian?”


“AKu berangkat dulu…Jangan ditunggu…Aku tidak tahu pulangnya


bakal jam berapa…Itu HP ku kan…?” Indra melhat HP nya di tangan Syafira.


“Iya mas, ini HP kamu…”  Syafira menyodorkan HP Indra kepemiliknya. Setelah HP nya diambil, Indra


keluar dari rumah. Tidak lama setelah mobilnya pergi, ke HP Syapira ada yang


mau nelpon.


“Papa mertua…?” Syafira melihat yang menghubungi. Setelah


itu yang nelpon di sapa. “Asalamualaikum pah…”


“Wa’alaikumussalam…Syafira…Nanti ke resepsinya Mia itu kamu


dan Indra harus datang ya…? Papa juga nanti akan pergi bersama mama dan Santi


kesananya”  kata pak Suherman di telpon,


thudepoin.


“Oh…Berarti mas Indra yang sikapnya kembali seperti dulu itu


karena ada undangan dari mantannya… ?” guman Syafira sambil termenung.


“Syafira…?”


“Ya pah…”


“Tadi yang dikatakan papa sudah cukup jelas kan?”


“Iya pah…Pada waktunya insyaalloh kita akan usahakan datang”


“Ya sudah…Kalau begitu sekarang telponnya akan papa tutup


lagi. Karena sekarang papa dan mama mau ke undangan tetangga. Asalamualaikum”


“Wa’alakumussalam…”


“Ternyata mas Indra belum bisa melupakan mantannya seratus


persen…Seandainya aku lebih cantik dari mantan-mantannya...? Mungkin aku tidak


akan makan hati seperti ini…? Baru saja sekejap aku merasakan kasih sayang dan


perhatian dari mas Indra…Sekarang orangnya sudah pergi…Kebahagian aku pun sudah


lenyap lagi…” pikir Syafira sambil duduk lesu di kursi makan.

__ADS_1


__ADS_2