
SELAMA masih hidup dan bernyawa, ke inginan manusia pasti tidak akan berkesudahan. Kalau sudah punya satu, pasti jadi mau punya dua. Kenyatan ini untuk manusia normal yang hidup di alam fana, memang wajar dan manusiawi. Kamal juga sekarang sedang dihinggapi rasa itu. Sebagai istri, Wiwin juga malam ini sedang menunggu suaminya yang belum pulang karena kesibukannya itu. Padahal jam yang ada didinding ruang makan sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malan.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum’salam”
Dari tempat penantiannya, kali ini Wiwin bangkit. Kamal yang datang ternyata langsung menghampirinya.
“Maaf ya Win aku pulang telat lagi. Soalnya tadi pak Bram ngajak aku melihat peternakan…Sudah gitu tiba-tiba mang Kardi ngasih kabar ada yang mau menjual gabah. Terpaksa ba’da Asar aku dan mang Kardi kesana dulu. Eh ternyata pekerjaan hari ini selesainya itu pukul delapan malam”
“Sekarang langsung makan ya ?”
“Nggak Win, kebetulan barusan aku sudah makan di rumahnya pak Jaya. Dengan lalab daun singkong. Nikmat deh. Mungkin karena habis capek“
“Kalau akang nggak akan makan, sekarang aku juga nggak makan aja”
“Jadi sekarang kamu belum makan lagi ? Kan kemarin sudah aku bilang, kalau kamu itu makannya jangan suka nunggu aku dulu? Aku suka pulang telat, soal?”
“Udahlah kang, kalau begitu sekarang aku mau tidur duluan aja…Sekarang kamu pasti mau mandi dulu kan ?”
“Maksud kamu perutmu sendiri dibiarkan kosong lagi ?”
“Habis kalau akang nggak makan, aku juga jadi nggak ada selera…!Jadi mau gimana lagi?” kata Wiwin sambil berlalu. Kamal pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dan ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
Ke esokan harinya datangnya Kamal itu lebih telat lagi. Orang yang pertama dijumpainya, bi Ijah.
“Den kok pulangnya itu makin telat dan larut aja ?”
“Kali ini datang bibit bi. Yah.., mau tidak mau terpaksa saya ikut mengawasi dulu para pekerja yang sedang memindahkannya kedalam kandang “
“Sekarang neng Wiwin mungkin sudah menunggu diruang makan den”
“Maksud bibi hari ini istri saya makannya menunggu saya lagi ?”
“Sepertinya begitu den. Soalnya dari tadi bibi belum disuruh neng Wiwin untuk ngambil piring”
“Cari penyakit aja tuh orang!” pikir Kamal sambil meninggalkan bi Ijah. Sesampainya diruang tengah, Kamal langsung mengeluarkan unek-uneknya.
. “Win ! Aku kan sudah bilang berkali-kali ! Kalau kamu mau makan itu jangan suka menunggu aku dulu !”
__ADS_1
“Habis kalau tidak ada akang, aku juga nggak ada selera…! Ngantuk juga nggak, kalau akang belum datang !”
“Ah jangan beralasan ! Massa kalau tidak bersamaku kamu tidak bisa tidur ! Yang ada mungkin senang karena jadi bebas berhayal tentang masa lalumu yang indah !”
“Jangan membentakku kang ! Suaraku sebetulnya bisa lebih keras dari itu kalau benar-benar marah!”
“Ta, tapi aku marah itu sebetulnya hanya kasihan sama kamu…Bisnis yang kulakukan itu demi masa depan kita…Maksudku, kamu jangan sampai jadi korban”
“Kalau kamu mau makan, semuanya sudah tersedia di meja!”
“Lalu kamu sendiri tidak makan ?”
‘Seleraku jadi hilang !”
“Kalau belum, yang mesti makan dulu sekarang Win. Kalau tidak, maagmu nanti kambuh lagi malah?”
“Dalam seminggu belakangan, maagku memang udah kambuh!”
“Terus kenapa kamu tidak ke dokter ?”
“Ke Dokter sama siapa ? Sebelum orang lain, seharusnya suami sendiri dulu yang memperhatikan istrinya ! Itu sebenarnya yang aku mau!”
Meskipun semalan tidurnya larut karena ia dengan suaminya cek-cok, bangunnya Wiwin ternyata tidak kesiangan. Ketika Wiwin sedang solat subuh itu, Kamal sendiri masih pulas dan sengaja oleh Wiwin tidak dibangunkan dulu. Setelah selasai solat juga, Wiwin belum membangunkan Kamal. Maksudnya, ia mau buang air kecil dulu.
Tapi hal yang tidak diduga, tiba-tiba melandanya. Sekarang Wiwin pun sudah memegang kepalanya yang tiba- tiba pusing didepan kamar mandi. Ditambah bau api ketika bi Ijah menyalakan kompor, lambungnya jadi meronta-ronta. Karena mualnya berlebih, Wiwin jadi mau muntah
“O….O….” Dikamar mandi, Wiwin akhirnya muntah. Tapi karena keperutnya tidak ada makanan yang masuk, akhirnya yang keluar itu hanya lendir.
“Bi Ijah tolong…” Suara Wiwin dari kamar mandi lemah sekali. Oleh bi Ijah yang sedang menyalakan kompor sampai tidak terdengan.
“Bibi tolong…” Wiwin yang dikamar mandi sudah tidak kuat menahan segala rasa sakit, mencoba minta pertolongan lagi. Kali ini suaranya itu oleh bi Ijah terdengar samar-samar. Tapi pas bi Ijah menghampiri, ternyata majikannya sudah didapati terkapar dan tidak sadarkan diri.
“Tolong...! Tolong....!”
Dari kamar mandi, bi Ijah berteriak-teriak. Dari kepulasannya Kamal pun sampai terbangun
“Barusan seperti ada yang berteriak minta tolong ? Tapi siapa dan dimana ya ? Wiwin juga sudah nggak ada ternyata ?” pikir Kamal sambil melirik kesampingnya.
“Den Kamal tolong...l Neng Wiwin pingsan di kamar mandi!”
__ADS_1
“Aduh ! Ternyata itu suara bi Ijah!”
Selain buru-buru melepaskan selimbutnya, dari atas tempat tidur sekarang Kamal loncat. Sesampainya di kamar mandi, langsung memburu Wiwin yang terkapar.
“Win, kamu kenapa sayang ?” Kamal yang troma atas sakit parah istrinya dulu, langsung mengangkat tubuh Wiwin yang masih pingsan. Setelah di baringkan di atas kasur, Kamal lalu nelpon orangtuanya
“Ibu…?”
“Ada apa Mal? Kamu seperti nangis ?”
“Wiwin sakit bu. Sekarang dia masih pingsan “
“Pak..! Pak…!” Mendengar kabar menantunya sakit, bu Arum ternyata lebih panik dan langsung memanggil suaminya
Pak Kosim yang baru selesai solat subuh, menghampiri. “Ada apa bu?”
“Pak ? Ayo sekarang kita ke rumah Kamal. Wiwin katanya sakit dan sekarang masih pingsan”
“Innalillahi…Kalau begitu cepat bu. Kamal pasti butuh orang yang bisa menenangkan traumanya”
Karena Antara Babakan dan BBC tidak jauh, kedua orangtua Kamal tidak lama kemudian sampai di rumah anaknya
“Gimana mulanya Mal hingga istri kamu akhirnya kayak gini ?” pak Kosim melihat kondisi menantunya masih tak sadarkan diri
“Iya Mal, istri kamu itu kenapa ? Ibu jadi takut dia sakit parah seperti dulu lagi?”
“Kalau soal itu, sebaiknya ibu menanyakan langsung nanti ke orangnya. Dia jaga sama ibu dulu sekarang...Saya belum subuh”
“Kalau begitu cepat sekarang ambil air wudlu dulu Mal. Waktu subuh sudah hampir habis kayaknya tuh...Sekarang Wiwin biar kami dulu yang jaga”
Kamal yang belum melaksanakan kewajiban subuh, akhirnya keluar dari kamar. Karena baju yang dipakainya kotor, sebelum solat ia menggantinya dulu dengan koko yang ada diruang musolla. Karena hatinya sedang sedih, waktu sedang menghadap Sang Holik kedua mata Kamal berkaca-kaca. Berjatuhannya mutiara-mutiara itu tepat pada saat ia memanjatkan doa ba’da solat.
“Ya Alloh...Mohon sembuhkan istri hamba...Akhir-akhir ini hamba itu sering melukai perasaannya...Maafkan juga hamba...Jangan kami beri cobaan dengan yang tidak mampu menerimanya ya Alloh...Sekali lagi mohon sembuhkan kembali istri hamba dan sehatkan kami semua....Amiin”
“Buru-buru Mal istri kamu itu bawa ke Dokter...” Usul pak Kosim setelah Kamal kembali. “Kalau perlu, dirawat Mal...Betul kata ibu tadi. Ayah juga sekarang khawatir istri kamu itu sakit parah seperti dulu lagi”
“Iya ayah, sebentar lagi...Karena Dokter paktek yang biasa kita berobat itu bukanya pukul tujuh”
“Sekarang Wiwinnya dijaga lagi sama kamu Mal, ibu mau keluar dulu sebentar...Tapi kami tidak akan pulang sebelum kalian pulang dari klinik nanti”
__ADS_1
“Terimakasih bu “ kata Kamal setelah ibunya bangkit. Dan setelah pukul tujuh pagi, Wiwin yang lambungnya bermasalah itu akhirnya dibawa Kamal ke Dokter yang dulu menangani ibunya.