Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Prahara Rumah Tangga


__ADS_3

DARI dua masalah yang dihadapi Syafira sebagai ibu muda,


satu sudah dapat diselesaikan atas kebijakan orang tua dan mertua. Tapi yang


satunya lagi sekarang masih menghimpit pikirannya. Aqhiqah anaknya akan dilangsungkan


nanti malam. Tapi Indra yang menjadi ayah anak itu, sampai saat ini masih belum


ada kabarnya. Apa lagi menanpakkan batang hidungnya. Itulah penyebab


kegelisahan Syafira menjelang acara. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul


setengah lima sore.


“Syafira kamu itu kenapa…? Mama lihat dari tadi


mondar-mandir terus di depan kamar…?”


“Chat aku belum dibuka juga sama mas Indra mah…Sedangkan


acara aqhiqahnya tinggal beberapa jam lagi”


“Sekarang ayo duduk dulu…Setelah solat asar, ibu dan mertua


kamu juga mau ikut gabung…Katanya mau ngomong sama kamu”


Tidak lama setelah Syafira duduk dan mamanya, orang-orang


yang dibicarakannya muncul.


“Syafira anakmu masih tidur…?” Tanya pak Suherman sambil


duduk.


“Iya pah..”


“Memang tadi tidurnya pukul berapa sampai sekarang masih tidur…?”


bu Ranti duduk di samping suaminya.


“Dari setengah tiga mah…Papa dan mama katanya mau ngomong


sama aku…? Soal apa itu?”


“Begini Syafira…Kalau sampai pada waktunya Indra tidak


datang, anak kalian itu beri nama saja sama kamu ya…? Kan sebelum acara dimulai


biasanya pak Ustadz suka menanyakan dulu nama yang mau aqhiqahnya ?”


Setelah pak Suherman selesai berbicara, air mata Syafira


tiba-tiba memenuhi seputar kelopak matanya. Makin lama semakin banyak. Ketika


berkedip semuanya berlomba-lomba mau keluar lebih dulu. Tapi ternyata Syafira


mengatur nafasnya dulu. Akhirnya ketika sudah tidak tertampung, air matanya itu


beraturan pula keluarnya.


“Kalau sudah waktunya ternyata mas Indra tidak ada, iya pah


akan kuberi nama…”


“Maafkan anak mama ya Syafira…Indra jadi seperti itu memang


salah kami…Tapi kamu tidak sendirian. Karena selama konflik dalam rumah


tanggamu masih ada, kita juga akan selalu ada buat kamu dan cucu kami…”


“Terimakasih mah…” Didalam pelukan mertuanya, Syafira


berusaha tegar. Dalam balutan kasih itu bu Sherli pun ambil bagian.


“Terimakasih ya mbak sudah membuat Syafira seperti kepada


ibu kandungnya sendiri terhadap mbak…Kalau balik lagi ke Malaisya setelah acara


selesai, akupun jadi bisa tenang”


“Iya Sherli…Kalau nanti kamu pulang, tidak usyah khawatir


dengan Syafira. Karena kita juga sekarang sudah menganggap seperti anak kandung


sendiri”


Sambil saling curahkan isi hati dan angan-angan, tanpa

__ADS_1


terasa sekarang sudah masuk magrib. Setelah solat magrib, para perempuan lalu


menggelarkan karpet karena acara aqhiqahan itu akan dilaksanakannya ba’da Isya.


Pengerjaan inipun membuat waktu tidak terasa. Setelah melaksanakan solat Isya,


kini pribumi duduk bersama di tempat khusus. Untuk pak ustadz di sebelahnya


sudah diberi alas duduk tambahan. Tidak lama kemudian, para tamu undangan


berdatangan. Terakhir yang datang itu sesepuh masjid terdekat. Dan benar di


persilahkan duduknya itu disamping tuan rumah inti.


“Putramu yang di aqhiqah itu siapa namanya…?”  Tanya pak ustadz sebelum acara dimuai.


“Ayo Syafira ? Berinama sekarang anakmu…”  Pak Suherman menagih janjinya Syafira. Begitu


juga bu Ranti dan bu Sherli.


“Iya Syafira…Berinama sekarang anakmu. Kan tadi janji kamu


kalau ayahnya belum datang, kamu sendiri yang akan memberi nama anakmu ?”


“Ayo sekarang sebutkan kepada pak Ustadz”


“Namanya…Ee..,a…”


“Ayo Syafira sebutkan…” Bu Ranti dan bu Syerli sama-sama menyemangati


Syafira.


“Namanya…A, a…”   Syafira tetap gagu seperti tadi.


Pak Ustad memaklumi. “Kalau begitu saya ulangi pertanyaannya


ya…? Putramu yang di aqhiqah itu siapa namanya neng?”


“Raihan, ustadz…Lengkapnya. Raihan Zaky Indrawan…”


Pandangan semua orang tertuju kepada yang memberi nama itu.


Ternyata yang menjawab pertanyaan pak Ustadz itu Indra. Orang yang sedang di


tunggu-tunggu oleh seluruh anggota keluarga yang sedang punya hajat.


“Indra…? Mama seperti sedang dalam mimpi ini…? Cepetan sekarang


masuk nak…? Acaranya mau dimulai nih…?” kedua tangan Bu ranti nyelodor mau


menyambut anaknya.


“Pak ustadz…? Karena sekarang anaknya sudah punya nama…Dan


kebetulan ayahnya juga sudah ada…Bagaimana kalau acaranya langsung dimulai


saja..”  Pak Suherman usul sekaligus


mewakili keluarga. Ternyata setelah itu sesepuh masjid setempat langsung bermukoddimah,


lalu tawasul dan diteruskan ke acara inti.


Setelah acara aqiqah selesai dan tamunya pada pulanng, bu


Syerli menghampiri Indra. “Nanti ke ruang tamu…Ada yang mau di omongin. Tapi


harus empat mata”


Setelah itu bu Sherli mengantarkan dulu Syafira dan anannya


ke kamar. Ketika keruang tamu setelah anak cucunya masuk kekamar, ternyata


Indra sudah ada disitu.


“Ada apa ya tan…? Kok bicaranya mesti harus empat mata…?”


“Indra…! Ternyata kamu jauh berbeda dengan Syafira…! Kalau


Syafira, dia begitu mantap menganggil kepada mertua itu papa dan mama…!


Sedangkan kamu sampai saat ini masih memanggil tante kepada mertua…! Apakah itu


karena dari kamu belum ada rasa cinta untuk Syafira… ?! Terus segalanya juga


tidak mau dirubah dan tetap seperti dulu…?! Sedangkan kalau ternyata Syafira


tidak bahagia dengan pernikahannnya ini, tante tidak akan segan-segan untuk

__ADS_1


membawa istri mu pergi untuk tinggal bersama tante di Malaysia…! Itu artinya


kamu juga akan pisah dari anak kamu yang baru kamu berinama itu…!”


“Jangan ta.., eh mah…Jangan pisahkan aku dari Raihan…”


“Kalau kamu tidak mau pisah dari Raihan, otomatis Syafira


juga harus tetap ada disini. Apa memang kamu sudah siap berubah…?!”


“Insyaallloh aku akan berubah mah…Mulai sekarang aku hanya


akan fukus mengurus keluarga…”


Hm…Kalau sudah dikerasi, ternyata anaknya jadi mau panggil


aku mama dan bersimpuh. “Bangun In.., kamu nggak harus memohon sambil bersujud


di pangkuan mama kali…?”


“Tapi aku takut kalau mama benar-banar membawa Raihan dan


Syafira ke Malaiysia…Dan nanti yang merasa kehilangan bukan hanya aku, tapi


papa dan mama dan juga Santi…”


“Syukurlah kalau kamu sudah sadar akan hal itu…Sekarang


silahkan temui anak dan istrimu…Mungkin  dari


Syafira ada yang mau di omongin juga sama kamu…”


Setelah di suruh pergi oleh mertua, Indra langsung mengetuk


pintu kamar. “Syafira buka. Tok,tok…”


“Langsung masuk saja pintunya tidak dikunci…”


“Kenapa kamu menangis ?”  Sesampainya didalam Indra langsung mengintrogasi. Dari tempat duduknya


Syafira pun langsung bangkit.


“Aku kecewa sama kamu mas…Selama ini aku berjuang sendirian di


rumah bersalin antara hidup dan mati karena darah daging kamu yang ada di rahim


aku sudah mau keluar…Melahirkan itu sakit mas…Tapi kalau ada suami yang


perhatian, mungkin rasa sakit itu tidak akan terasa…Untung waktu itu ada


seorang perawat yang bernama Mia…Selain cantik dia sangat baik kepada aku dan


Raihan…Ketika kemarin kamu menelpon papa, kamu menyebut nama itu..? Apakah itu


orang yang sama, yang menyebabkan kamu jadi lupa terhadap anak istri…? Karena


kebetulan hari itu dia juga tidak masuk kerja…?”


“Hanya itu unek-uneknya?”


“Aku sadar aku tidak cantik mas…Tapi aku punya rasa cinta


yang besar buat kamu…Jadi permintaanku ke kamu kini hanya satu…Mulai sekarang


tolong bantu perhatikan tumbuh kembangnya Raihan…Karena walau bagaimanapun, dia


itu darah daging kamu…Penerus kita dan harapan masa depan kita…Selebihnya


terserah kamu…Aku hanya akan jadi istri yang penurut saja...”


Setelah oleh Syafira di sentil, ternyata Indra langsung


menengok kepada anaknya yang sedang tidur. Tidak hanya ditatap. Indra kemudian


mengambilnya dari dalam bok.


“Kamu tidak usyah khawatir…Aku pasti akan memperhatikan


tumbuh kembangnya Raihan…Tapi sekarang mohon pengertiannya…Setelah apa yang


kuhadapi, hatiku masih belum tenang”


Setelah menggendong anaknya sebentar, ternyata Indra


langsung keluar lagi dari kamar. Tapi sebelum keluar, berbicara seperti itu


kepada Syafira.

__ADS_1


__ADS_2