
DARI dua masalah yang dihadapi Syafira sebagai ibu muda,
satu sudah dapat diselesaikan atas kebijakan orang tua dan mertua. Tapi yang
satunya lagi sekarang masih menghimpit pikirannya. Aqhiqah anaknya akan dilangsungkan
nanti malam. Tapi Indra yang menjadi ayah anak itu, sampai saat ini masih belum
ada kabarnya. Apa lagi menanpakkan batang hidungnya. Itulah penyebab
kegelisahan Syafira menjelang acara. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul
setengah lima sore.
“Syafira kamu itu kenapa…? Mama lihat dari tadi
mondar-mandir terus di depan kamar…?”
“Chat aku belum dibuka juga sama mas Indra mah…Sedangkan
acara aqhiqahnya tinggal beberapa jam lagi”
“Sekarang ayo duduk dulu…Setelah solat asar, ibu dan mertua
kamu juga mau ikut gabung…Katanya mau ngomong sama kamu”
Tidak lama setelah Syafira duduk dan mamanya, orang-orang
yang dibicarakannya muncul.
“Syafira anakmu masih tidur…?” Tanya pak Suherman sambil
duduk.
“Iya pah..”
“Memang tadi tidurnya pukul berapa sampai sekarang masih tidur…?”
bu Ranti duduk di samping suaminya.
“Dari setengah tiga mah…Papa dan mama katanya mau ngomong
sama aku…? Soal apa itu?”
“Begini Syafira…Kalau sampai pada waktunya Indra tidak
datang, anak kalian itu beri nama saja sama kamu ya…? Kan sebelum acara dimulai
biasanya pak Ustadz suka menanyakan dulu nama yang mau aqhiqahnya ?”
Setelah pak Suherman selesai berbicara, air mata Syafira
tiba-tiba memenuhi seputar kelopak matanya. Makin lama semakin banyak. Ketika
berkedip semuanya berlomba-lomba mau keluar lebih dulu. Tapi ternyata Syafira
mengatur nafasnya dulu. Akhirnya ketika sudah tidak tertampung, air matanya itu
beraturan pula keluarnya.
“Kalau sudah waktunya ternyata mas Indra tidak ada, iya pah
akan kuberi nama…”
“Maafkan anak mama ya Syafira…Indra jadi seperti itu memang
salah kami…Tapi kamu tidak sendirian. Karena selama konflik dalam rumah
tanggamu masih ada, kita juga akan selalu ada buat kamu dan cucu kami…”
“Terimakasih mah…” Didalam pelukan mertuanya, Syafira
berusaha tegar. Dalam balutan kasih itu bu Sherli pun ambil bagian.
“Terimakasih ya mbak sudah membuat Syafira seperti kepada
ibu kandungnya sendiri terhadap mbak…Kalau balik lagi ke Malaisya setelah acara
selesai, akupun jadi bisa tenang”
“Iya Sherli…Kalau nanti kamu pulang, tidak usyah khawatir
dengan Syafira. Karena kita juga sekarang sudah menganggap seperti anak kandung
sendiri”
Sambil saling curahkan isi hati dan angan-angan, tanpa
__ADS_1
terasa sekarang sudah masuk magrib. Setelah solat magrib, para perempuan lalu
menggelarkan karpet karena acara aqhiqahan itu akan dilaksanakannya ba’da Isya.
Pengerjaan inipun membuat waktu tidak terasa. Setelah melaksanakan solat Isya,
kini pribumi duduk bersama di tempat khusus. Untuk pak ustadz di sebelahnya
sudah diberi alas duduk tambahan. Tidak lama kemudian, para tamu undangan
berdatangan. Terakhir yang datang itu sesepuh masjid terdekat. Dan benar di
persilahkan duduknya itu disamping tuan rumah inti.
“Putramu yang di aqhiqah itu siapa namanya…?” Tanya pak ustadz sebelum acara dimuai.
“Ayo Syafira ? Berinama sekarang anakmu…” Pak Suherman menagih janjinya Syafira. Begitu
juga bu Ranti dan bu Sherli.
“Iya Syafira…Berinama sekarang anakmu. Kan tadi janji kamu
kalau ayahnya belum datang, kamu sendiri yang akan memberi nama anakmu ?”
“Ayo sekarang sebutkan kepada pak Ustadz”
“Namanya…Ee..,a…”
“Ayo Syafira sebutkan…” Bu Ranti dan bu Syerli sama-sama menyemangati
Syafira.
“Namanya…A, a…” Syafira tetap gagu seperti tadi.
Pak Ustad memaklumi. “Kalau begitu saya ulangi pertanyaannya
ya…? Putramu yang di aqhiqah itu siapa namanya neng?”
“Raihan, ustadz…Lengkapnya. Raihan Zaky Indrawan…”
Pandangan semua orang tertuju kepada yang memberi nama itu.
Ternyata yang menjawab pertanyaan pak Ustadz itu Indra. Orang yang sedang di
tunggu-tunggu oleh seluruh anggota keluarga yang sedang punya hajat.
“Indra…? Mama seperti sedang dalam mimpi ini…? Cepetan sekarang
masuk nak…? Acaranya mau dimulai nih…?” kedua tangan Bu ranti nyelodor mau
menyambut anaknya.
“Pak ustadz…? Karena sekarang anaknya sudah punya nama…Dan
kebetulan ayahnya juga sudah ada…Bagaimana kalau acaranya langsung dimulai
saja..” Pak Suherman usul sekaligus
mewakili keluarga. Ternyata setelah itu sesepuh masjid setempat langsung bermukoddimah,
lalu tawasul dan diteruskan ke acara inti.
Setelah acara aqiqah selesai dan tamunya pada pulanng, bu
Syerli menghampiri Indra. “Nanti ke ruang tamu…Ada yang mau di omongin. Tapi
harus empat mata”
Setelah itu bu Sherli mengantarkan dulu Syafira dan anannya
ke kamar. Ketika keruang tamu setelah anak cucunya masuk kekamar, ternyata
Indra sudah ada disitu.
“Ada apa ya tan…? Kok bicaranya mesti harus empat mata…?”
“Indra…! Ternyata kamu jauh berbeda dengan Syafira…! Kalau
Syafira, dia begitu mantap menganggil kepada mertua itu papa dan mama…!
Sedangkan kamu sampai saat ini masih memanggil tante kepada mertua…! Apakah itu
karena dari kamu belum ada rasa cinta untuk Syafira… ?! Terus segalanya juga
tidak mau dirubah dan tetap seperti dulu…?! Sedangkan kalau ternyata Syafira
tidak bahagia dengan pernikahannnya ini, tante tidak akan segan-segan untuk
__ADS_1
membawa istri mu pergi untuk tinggal bersama tante di Malaysia…! Itu artinya
kamu juga akan pisah dari anak kamu yang baru kamu berinama itu…!”
“Jangan ta.., eh mah…Jangan pisahkan aku dari Raihan…”
“Kalau kamu tidak mau pisah dari Raihan, otomatis Syafira
juga harus tetap ada disini. Apa memang kamu sudah siap berubah…?!”
“Insyaallloh aku akan berubah mah…Mulai sekarang aku hanya
akan fukus mengurus keluarga…”
Hm…Kalau sudah dikerasi, ternyata anaknya jadi mau panggil
aku mama dan bersimpuh. “Bangun In.., kamu nggak harus memohon sambil bersujud
di pangkuan mama kali…?”
“Tapi aku takut kalau mama benar-banar membawa Raihan dan
Syafira ke Malaiysia…Dan nanti yang merasa kehilangan bukan hanya aku, tapi
papa dan mama dan juga Santi…”
“Syukurlah kalau kamu sudah sadar akan hal itu…Sekarang
silahkan temui anak dan istrimu…Mungkin dari
Syafira ada yang mau di omongin juga sama kamu…”
Setelah di suruh pergi oleh mertua, Indra langsung mengetuk
pintu kamar. “Syafira buka. Tok,tok…”
“Langsung masuk saja pintunya tidak dikunci…”
“Kenapa kamu menangis ?” Sesampainya didalam Indra langsung mengintrogasi. Dari tempat duduknya
Syafira pun langsung bangkit.
“Aku kecewa sama kamu mas…Selama ini aku berjuang sendirian di
rumah bersalin antara hidup dan mati karena darah daging kamu yang ada di rahim
aku sudah mau keluar…Melahirkan itu sakit mas…Tapi kalau ada suami yang
perhatian, mungkin rasa sakit itu tidak akan terasa…Untung waktu itu ada
seorang perawat yang bernama Mia…Selain cantik dia sangat baik kepada aku dan
Raihan…Ketika kemarin kamu menelpon papa, kamu menyebut nama itu..? Apakah itu
orang yang sama, yang menyebabkan kamu jadi lupa terhadap anak istri…? Karena
kebetulan hari itu dia juga tidak masuk kerja…?”
“Hanya itu unek-uneknya?”
“Aku sadar aku tidak cantik mas…Tapi aku punya rasa cinta
yang besar buat kamu…Jadi permintaanku ke kamu kini hanya satu…Mulai sekarang
tolong bantu perhatikan tumbuh kembangnya Raihan…Karena walau bagaimanapun, dia
itu darah daging kamu…Penerus kita dan harapan masa depan kita…Selebihnya
terserah kamu…Aku hanya akan jadi istri yang penurut saja...”
Setelah oleh Syafira di sentil, ternyata Indra langsung
menengok kepada anaknya yang sedang tidur. Tidak hanya ditatap. Indra kemudian
mengambilnya dari dalam bok.
“Kamu tidak usyah khawatir…Aku pasti akan memperhatikan
tumbuh kembangnya Raihan…Tapi sekarang mohon pengertiannya…Setelah apa yang
kuhadapi, hatiku masih belum tenang”
Setelah menggendong anaknya sebentar, ternyata Indra
langsung keluar lagi dari kamar. Tapi sebelum keluar, berbicara seperti itu
kepada Syafira.
__ADS_1