
WEEKEND di rumah tengah di jalankan keluarga pak Suherman. Indra keluar dari kamarnya sambil membawa senapan angina yang dibelinya beberapa hari lalu. Di ruang tengan pak Suherman dan bu Ranti sedang nyantai sambil menghadapi cemilan beberapa keler. Ketika Indra muncul sambil membawa senapan, pak Suherman menahan tangannya.
“In, duduk dulu sebentar “
Indra lalu duduk di samping mamanya. Selama ini tidak berkata apa-apa
“Begini In. Sekarang kamu itu kan sudah dewasa…Maksud papa, cepatlah kamu mencari untuk calon istri”
“Idnra masih ingin menyendiri pah…” Indra langsung bangkit
“In, kamu jangan pergi dulu ! Papamu masih mau bicara !” bu Ranti berusaha supaya Indra mau balik
“Indra mau latihan menembak mah…!” jawab Indra sambil menghambur. Pak Suherman geleng-geleng kepala. Sedangkan bu Ranti cukup sedih saja
Sesampainya di taman, Indra langsung memasang alat bantu untuk latihannya. Sasaran tembak Indra pasang di pinggir tembok benteng rumah. Talinya untuk ngecek hasil, ia bentangkan dari arah sasaran tembak itu ketempat ia nanti menembakkan senapan. Setelah semuanya sudah terpasang sesuai dengan buku panduan, baru senapannya diberi peluru
“Ter..! Ter..! Ter…!” Indra membekaskan senapannya tiga kali. Setelah itu hasilnya ia lihat. Ternyata ketiga tembakannya jauh melenceng dari arah sasaran
Benang yang membentang, di ulur Indra lagi ketempat asal. “Ter…! Ter…! Ter…!” Indra mencoba menembak lagi sebanyak tiga kali. Ketika di lihat lagi hasilnya, ternyata hasil tembakannya tidak jauh dari yang pertama
Ketika Indra sedang kebingungan, Santi adiknya tiba-tiba muncul.
__ADS_1
“Eh San, kebetulan ada kamu. Kesini San”
“Mau apa kak?” Santi menghampiri
“Sekarang kamu memunggung”
Santi lalu memunggung. Setelah Santi memunggung, ternyata Indra langsung meletakkan senapannya di atas pundak adiknya itu
“Apa-apaan ini kak?”
“Sekarang kakak menembaknya mau mencoba dengan posisi seperti ini”
“Santi…! Kok kamu malah lari ? Awas ! Kemanapun kamu larinya, kakak akan terus kejar kamu!”
“Sok aja terus aku kejar ! Uu “ Santi manyunin kakaknya
Melihat kedua anaknya sedang berbahagia di taman halaman rumah, bu Ranti dan pak Suherman yang kini ada di teras merasa bahagia. Tapi setelah itu muka ke duanya jadi redup.
“Seharusnya kita bersyukur karena sudah diberi kepercayan mempunyai dua anak “ Bu Ranti mengeluarkan isi hatinya
Pak Suherman melirik“Maksud mama, tapi sayang sekarang Indra kakinya menjadi cacat?”
__ADS_1
“Kalau salah satu dari anggauta keluarga kita ada yang mempunyai problem berat untuk dipikul, kita memiliki harta berlimpah pun rasanya tidak berrarti…Seandainya dulu Wiwin tidak di jodohkan dengan orang lain oleh ayahnya, mungkin sekarang Indra sudah bahagia “
“Mah udah…Yang sudah menjadi qodo-qodar dari yang Maha kuasa, tidak usyah di ingat-ingat lagi, Tuh Indra sepertinya kontak bathin. Sekarang dia melihat kea rah kita”
Memang Indra kini melihat ke arah teras. Ketika melihat kedua orangtuanya ada di sana “Pah..?! Mah…?! Papa dan mama sudah lama ada disitu ?!” dari tempat latihan, Indra menanyakan
Sebelum menjawab, ternyata pak Suherman dan bu Ranti saling lirik dulu sambil tersenyum. Setelah itu bu Ranti mengedip. “Buat suasana tambah suka cita pah“ Pak Suherman mengangguk
“ In…!Papa dan mama disini dari tembakanmu melenceng terus !” kata Pak Suherman. Setelah itu ia tertawa lepas
“Kalau begitu ajarin Indra menembak pah ! Mungkin papa punya pengalaman waktu di desa dulu!” pinta Indra akhirnya
Sebelum samperi anak-anaknya, ternyata pak Suherman nanya dulu bu Ranti. “Mah…? Kalau sekarang papa nyamperin mereka, mama mau ikut atau tetap disini ?”
“Mama mau ke dalam aja pah. Tadi keler cemilan lupa belum di tutup “
Pak Suherman akhirnya menghampiri anak-anaknya tanpa bu Ranti. Di depan anak-anaknya pak Suherman lalu bercerita tentang masa lalunya. “Kalau dulu papa latihannya itu langsung praktek dilapangan In. Papa dan teman papa, hampir setiap hari berburu pipit di sawah. Padi di sawah yang hampir menguning, burung pipit paling menyukai. Dulu papa dan teman papa pulang berburu itu sore hari. Hasih tangkapan di pasak oleh siapa yang mau saja, tidak di pasak bareng-bareng”
“Pah..? Teman papa dulu ada perempuannya tidak ?” Santi iseng-iseng nanya. Dan ternyata pak Suherman langsung menjawab untuk dirinya sendiri
“Teman papa dulu memang ada perempaunnya San. Orangnya sangat cantik. Rambutnya panjan selalu di kepang. Dulu papa dan dia saling mencintai. Tapi sekarang papa tidak akan menceritakannya masa lalu papa yang pahit itu karena takut kalian baper. Yang kalian perlu tahu sekarang adalah kalian itu anak papa dari papa yang sekarang. Hanya itu yang harus kalian tahu sekarang “ kata pak Suherman untuk dirinya sendiri itu, ternyata membuat kedua matanya jadi berkaca-kaca.
__ADS_1