
INI malam kedua untuk Indra tidur di kamar yang sama setelah memutuskan berlibur. Lampu yang menyala terang belum dimatikan meskipun ia sudah menggeledag di atas bantal. Kantuknya belum hadir. Akhirnya pemuda ini menatap langit-langit kamar sambil mengganjal kepalanya dengan kedua tangan
Pada saat yang bersamaan, Kamal justru memadamkan lampu yang menyala terang. Untuk penerangan di kamar yang berukuran 4x4 m2 di nyalakannya yang remang-remang. Naik ke tempat tidur sangat hati-hati karena takut mengganggu yang berbalut selimbut. Tapi ternyata yang dikira sudah pulas itu seperti sudah lama menunggu karena ada kabar yang mau di sampaikan
“Jangan dekat-dekat ya? Aku lagi datang bulan” Kamal akhirnya tidak jadi menggeledag ke bantal. Dan karena menyesal, akhirnya ia melambung
“Istri kamu sudah hamil Mal?”
“Belum bu”
“Kok, setiap ibu nanya masih belum terus? Kalian itu menikah sudah hampir dua tahun”
“Ya kalau belum bisa hamil, ya belum bu. Lalu harus bagaimana?”
“Tapi ibu sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Kalian program dong. Dan kamu jangan sibuk terus urusan bisnis”
“Tapi itu juga kan untuk masa depan kita bu”
“Kamal benar bu. Kalau mereka belum dikasih kepercayaan oleh Alloh, kita tidak boleh mencari kesalahan orang lain”
“Kalau ngomong dengan laki-laki memang tidak pernah nyambung “ desis bu Arum. Ketika itu ia langsung pergi meningalkan anak dan suaminya
“Dari kapan kali ini datangnya?” Tanya Kamal setelah lamunannya berakhir
“Baru saja malam ini…Memangnya kenapa kali ini akang kelihatan seperti kecewa banget ? Padahal datang bulan itu bagi setiap wanita adalah suatu hal yang ruthin dan alami “
“Tadinya aku pikir kamu itu sedang hamil…Maksudku...Kamu pasti akan kelihatan lebih anggun kalau sedang hamil mengandung anak kita”
“Cukup kang…! Kata-kata itu menyakitkan sekali buat aku ! Menurut akang mungkin sangat indah dan romantis! Tapi buat aku kata-kata itu seperti pisau tajam yang melukai !”
__ADS_1
“Sekarang mau kemana ? Kenapa turun dari tempat tidur ?”
“Alasannya tanyakan saja pada diri sendiri ! Sekarang aku mau tidur di kamar tamu!”
Dari tempat tidur, Kamal pun akhirnya turun. “Tanpa kamu di sisiku, aku tidak akan bisa tidur Win…Sekarang balik lagi yuk ?” rayu Kamal sambil memeluk orang yang sangat dicintainya ini dari belakang.
“Lepas…! Akang berkata seperti itu bukan hanya sekali…! Sekarang kesabaranku sudah habis!”
“Jadi kamu serius marah sama aku Win…? Dan sekarang kamu benar-benar ingin tidur pisah ranjang dengan aku?”
“Iya ! Habis akang itu sudah keterlaluan…! Akang itu sekarang sudah berubah…! Hingga saat ini kita itu memang belum dikaruniai anak! Sebagai perempuan aku belum sempurna ! Selama ini aku memang menyadari itu kang !”
“Neng Wiwin dan dek Kamal kenapa ya ?” pikir bi Ijah ketika mendengar ada keributan. Mungkin supaya lebih jelas lagi, kemudian telinganya dirapatkan ke pintu kamar majikannya.
“Ayo pada ngomong lagi, neng, den…? Barusan sedang pada apa eneng dan aden itu?” gumam bi Ijah selama telinganya sedang ditempelkan kepintu kamar majikannya. Tiba-tiba dari dalam Wiwin yang sedang marah, membukanya sekaligus. Tentu saja tubuh bi Ijah sampai ikut kedalam dan istri mang Kardi ini akhirnya tersungkur di lantai
“Bi Ijah…!?” Kamal dan Wiwin hingga sama-sama terkejut.
“Di kamar bibi itu banyak nyamuk den…Tapi mau ngambil obat anti nyamuk semprot ke gudang, kan lampunya mati…Barusan bibi itu mau pinjam senter tadinya den”
“Bi Ijah itu pasti bohong “ pikir Kamal.Tapi terlibatnya bi Ijah memang jadi menguntungkanku. Sekarang Wiwin pasti tidak akan egois lagi. Ya,. Sebaiknya situasi ini kumanfatkan.
“Jadi bibi mau pinjam lampu senter ?” Kamal pura-pura memastikan
“Iya den, karena setahu bibi dua hari lalu lampu senter itu dipakai sama aden dan dibawa ke kamar”
“Ini bi…Sekarang bibi cepat ambil obat anti nyamuknya. Kasihan si mamang. Kalau banyak nyamuk, pasti tidurnya tidak akan nyenyak”
“Terimakasih neng…Maaf ya bibi itu jadi merepotkan eneng dan aden…Sekarang permisi dulu…Selamat malam”
__ADS_1
“Malam…Malam bi…” jawab Kamal dan Wiwin hampir bersamaan. Setelah itu keduanya mau menutupkan pintu sama-sama juga. Tapi untuk yang satu ini Kamal jauh lebih siap karena lebih dekat ke pintunya
“Sama aku aja Win” kata Kamal sambil tersenyum. Ternyata Wiwin tidak menjawab. Sehingga setelah menutupkan pintu, Kamal buru-buru menghampirinya lagi.
“Besok mang Kardi pasti akan mendengar dongeng yang seru. Aku yakin sebenarnya tadi bi Ijah tahu semuanya” kata Kamal tersenyum senang.
Pada saat yang bersamaan kamar Indra di sambagi neneknya. “Kamu belum tidur In?”
“Belum ngantuk Oma”
“Belum ngantuk, atau ada yang di pikirkan?”
“Ya udah, kalau begitu sekarang kita ngobrol aja Oma” Dari tempat tidurnya Indra akhirnya bangkit, tapi tetap di tempat.
“Jujur ya Oma. Sampai saat ini Indra itu sebetulnya masih belum bisa melupakan Wiwin”
“Jangan begitu, itu tidak baik untuk masa depan kamu “ Bu Sarah yang duduk di pinggir tempat tidur Indra, mengusap-ngusap punggung cucunya
“Papa dan mama juga sudah sering menyuruh Indra supaya cepat mencari untuk calon Istri. Tapi Indra masih ingin menyendiri Oma”
“Kalau begitu Oma akan coba kenalkan kamu kepada seseorang”
“Maksud Oma ?” Indra menatap neneknya.
“Disini ada gadis. Kalau menurut Oma, gadis itu cocok sekali buat kamu”
“Siapa namanya Oma?”
“Kalau nama lengkapnya Mia Mardiana. Tapi kalau Oma suka memanggilanya, Dian. Kalau hari Minggu dia suka lari pagi dengan kakaknya. Menuju jalan rayanya suka lewat sini In. Makanya Oma jadi kenal mereka” Kata bu Sarah panjang lebar. Ini nyambung dengan cerita Mamat pikir Indra. Itulah yang membuatnya jadi penasaran
__ADS_1
“Ya udah Oma. Karena sekarang kantuknya sudah datang, ngobrolnya di teruskan lain kali aja ya?’ kata Indra sambil benah-benah lagi selimbut. Bu Sarah akhirnya keluar dari kamar cucunya. Setelah neneknya keluar, Indra pun kali ini mematikan lampu yang ada di kamarnya. Setelah itu lalu ia memejamkan matanya.