
WAKTU yang diminta oleh pak Suherman dari sahabatnya kini
sudah tersedia. Acaranya ternyata dibuka dan dipandu langsung oleh yang
mempunyai tujuan. Karena momen ini sudah di impi-impikannya lumayan lama, wajah
yang mendapat kesempatan memegang mikropon bersri-seri. Sehingga seorang
pengusaha sukses asal desa itu jadi tampak lebih muda sepuluh tahun dari usinya
yang sebenarnya.
“Ketika saya sedang bertutur, diantara hadirin dimohon
supaya tidak ada yang tersinggung. Karena saya berbicara disini yang diberi
judul “ketulusan” itu tujuannya hanya untuk mengeratkan tali persaudaraan kita
semua, khususnya semua yang ada disini…”
Setelah mengawali maksud tujuannya dengan meminta supaya
yang hadir jangan ada yang tersinggung atau sakit hati, pak Suherman kali ini
menghampiri pak Panji.
“Panji…? Ayo sekarang kedepan bersama aku ”
“Baik Her…” Pak Panji mengikuti pak
Suherman. Setelah dua sahabat ini sama-sama berdiri didepan para tamu,
“Hadirin semuanya…Saudara panji ini adalah sahabat saya
waktu kecil…Dulu saya dan dia punya hobi berburu pipit di sawah…Kalau kita
berburu pipit, tidak hanya berdua. Tapi ditemani oleh seorang perempuan cantik
..“
“Sum ? Kesini…?” pak
Suherman kali ini memanggil bu Suamiati. Setelah orangnya menghampiri dan
berdiri disamping pak Panji suaminya, pak Suherman menyapa lagi tamu-tamu.
“Hadirin yang berbahagia…Dulu ibunya Mia ini gadis paling
cantik didesa kami…Bersama beliau, dulu saya itu menjalin kasih…Tapi rupanya
sahabat saya Panji, diam-diam suka juga
terhadap beliau…Tapi waktu itu Sumiati memilihnya kepada saya. Mungkin karena saya
waktu muda lebih tampan dari Panji ”
“Sekarang juga kamu itu masih kelihatan tampan Her…” pak Panji membalas candaan pak Suherman. Gerrr.
Semua yang ada disini tertawa. Termasuk bu Ranti yang menjadi istri pak
Suherman. Kalau bu Suamiati, hanya tersenyum malu-malu.
“Mah…? Sekarang mama juga kesini…” Pak Suherman kali ini memanggil bu Ranti. Ibu
dari Indra dan Santi itu lalu memenuhi permintaan sang suami. Setelah berada di
panggung, bu Ranti lalu mengambil tempat di samping bu Sumiati.
“Nah hadirin…Jujur…Dua wanita yang berdampinya ini sangat
berarti dalam hidup saya…Yang satu, sangat berarti itu ketika saya mulai puber, kalau
yang satunya berarti buat saya itu langgeng sampai sekarang…Jadi poinnya atas acara
saya ini adalah: Jangan bermusuhan kalau kita tidak berjodoh dengan kekasih…Dan
jangan dendam kalau pacar direbut orang…Contohnya seperti saya dan ibunya Mia
ini…Meskipun dulunya kita saling mencintai, tapi sekarang kita sudah hidup
bahagia dengan pasangan masing-masing”
Sebelum lanjut ke tujuan berikut, pak Suherman melihat dulu
__ADS_1
kesekitar. Ketika yang dicarinya tidakada, pak Suherman lalu menghampiri
istrinya.
“Mah…? Indra masih belum datang?”
“Belum pah…Mama juga ini lagi cemas…Mau pergi kemana tadi dia
hingga sekarang belum kesini?”
“Ya sudah biarin saja jangan dibuat pusing…”
Pak Suherman menghampiri lagi pak Panji.
“Panji…Seperti yang sudah kamu ketahui bahwa kesalahan aku
terhadap anak kamu itu sangat besar dan banyak…Jadi untuk menebusnya mohon
izinkan kalau aku ingin menjadikannya sebagai anak angkat…Tapi meskipun
demikian, aku bukan mau mengambil hak-hak kamu dan istri kamu kepada Mia…Disini
aku hanya ingin memberikan kasih sayang yang sama seperti kepada anak-anakku
sendiri saja…Bagaimana panji…?”
“Herman…Semua pernyataanmu sungguh membuatku terharu…Sebagai
sahabat, ternyata hatimu tetap tulus kepada aku…Tapi soal yang kamu minta, aku
tidak bisa memberi keputusan…Mau atau tidak, harus anak aku sendiri yang
memutuskannya…”
Wajah-wajah dari orang yang hadir kini sudah mulai bersedih.
Dengan yakinnya Pak Suherman mulai melangkahkan kaki menuju pelaminan. Tujuan
laki-laki satu ini sekarang semua yang hadir sudah mengerti. Pengorbanannya ini
ternyata hanya untuk menebus kesalahan yang pernah dilakukannya.
“Mia…? Tadi kamu sudah mendengar sendiri kan apa yang
diminta Oom dari ayah kamu…? Sekarang Oom sudah ada didepan kamu dengan segala
“Jangan Oom…” Mia
memburu pak Suherman yang mau berlulut. “Oom jangan melakukan itu…”
Dengan orang yang sering didolimimya kini pak Suherman sudah
berhadap-hadapan. Kesedihan pak Panji dan bu Sumiati tidak dapat dibendung.
Begitu juga hadirin yang sama-sama menyaksikan pemandangan yang dramatis ini.
“Kenapa kamu membangkitkan Oom yang mau minta maaf ?”
“Karena sebesar-besarnya kesalahan orangtua..,seorang anak
tetaplah seorang anak…Dia tidak boleh membiarkan orangtuanya berada dibawahnya…Baik
fisik, maupun derajatnya”
“Apa itu berarti kamu tidak keberatan kalau dijadikan
sebagai anak angkat oleh Oom nak…? Dengan Indra dan Santi, sekarang kamu jadi
saudara angkat…?”
“Iya Oom…Karena tujuan Oom baik, saya tidak keberatan…”
“Terimakasih nak…Sekarang hati Oom lega kerena kesalahan
kepada kamu sudah dimaafkan..” air mata kebahagian pak Suherman menitik
diwajahnya.
Langkah pak Suherman rupanya bertolak belakang dengan
pemikiran Syafira menantunya. “ Ini tidak etis…Mantan pacarnya bahkan masih
dicintai oleh mas Indra, sekarang diangkat anak oleh papa mertua…? Aku pasti
__ADS_1
akan selalu kepikiran karena takut mas Indra tergoda lagi…” gumam Syafira.
“Aduuh…Kepalaku jadi pusing sekarang…”
“Mbak Syapira kenapa…?” Santi melihat kakak iparnya yang memegang kepala.
“Mbak tiba-tiba pusing San…Mual juga…Tolong Raihan pegang
dulu sama kamu ya..? Soalnya takut mbak pingsan nih…”
“Aduh gimana ini…? Papa dan mama lagi panggung pelaminan…Kak
Indra belum datang…?”
“Ada apa San…?” ketika Santi sedang kebingungan, Indra tiba-tiba muncul. Santi langsung
lapor.
“Kak ? Mbak Syafira tiba-tiba pusing katanya…Bawa kerumah sakit terdekat dulu jug
kak…Takut kenapa-napa soal…Raihan biar dijaga dulu sama aku ”
Setelah ada kesepakatan dengan Santi, Indra akhirnya membawa
Syafira untuk diperiksa. Sedangkan pak Suherman, lalu melanjutkan lagi maksud
dan tujuannya.
“Dokter…Tolong jaga dan selalu cintai anak Oom ya...?” Kepada Fajar pak Suherman berpesan. Yang
diminta langsung sigap.
“Siap Oom…Karena saya sangat mencintai istri saya, pasti
saya akan selalu berusha untuk membuatnya bahagia…”
‘Terimakasih…” Pak
Suherman menepuk-nepuk bahu Fajar. Setelah itu tangannya mengodok saku bajunya
lalu mengeluarkan sebuah kunci. “ Ini hadiah pernikahan dari Oom untuk kalian
berdua”
“Itu seperti kunci mobil Oom…?” Sebelum menerimanya Mia menatap ayah
angkatnya.
“Memang ini kunci mobil…Kalau mobilnya, tadi pihak showroom
menyimpannya didepan gerbang komplek…Apa kamu senang diberi fasilitas yang sama
dengan anak-anak Oom yang lain?”
“Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata Oom…Hanya
satu…Ternyata Oom mengangkat aku sebagai anak itu benar-benar tulus…” Setelah reda, Mia akhirnya menangis lagi.
Semua hadirin kali ini sama-sama mengeluarkan air mata. Lebih-lebih pak Panji
dan bu Suamiati.
“Herman…Harga mobil yang diberikan kepada anakku itu pasti
harganya ratusan juta…Aku sungguh tidak akan bisa membalasnya Her…?”
“Panji…Dibanding kesalahanku kepada kalian selama ini, itu
tidak seberapa…Aku malah ingin ngajak kamu pergi umroh…Soal biaya dan lain
sebagaiknya, tidak usyah kamu pikirkan…Semuanya ditanggung oleh aku…Kamu dan
istri kamu nanti tinggal pergi dan membawa sesuatu yang kalian punya saja…Nanti
kita pergi bersama-sama…Kali ini kita berpanas-panasannya jangan di tengah
sawah berburu pipit…Tapi di Mekah Arab Saudi…”
Setelah cukup lama berwawancara dan menyampaikan tujuannya,
ternyata pak Suherman menyuruh para tamu khusus ini ramah tamah dulu. Dan
setelah semuanya kembali ketempat asal sambil membawa alas, disinilah pak
__ADS_1
Suherman baru tahu. Bahwa saat menyerahkan kunci mobil kepada Mia barusan, tidak
disaksikan oleh Indra dan Syafira.