Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Ketulusan


__ADS_3

WAKTU yang diminta oleh pak Suherman dari sahabatnya kini


sudah tersedia. Acaranya ternyata dibuka dan dipandu langsung oleh yang


mempunyai tujuan. Karena momen ini sudah di impi-impikannya lumayan lama, wajah


yang mendapat kesempatan memegang mikropon bersri-seri. Sehingga seorang


pengusaha sukses asal desa itu jadi tampak lebih muda sepuluh tahun dari usinya


yang sebenarnya.


“Ketika saya sedang bertutur, diantara hadirin dimohon


supaya tidak ada yang tersinggung. Karena saya berbicara disini yang diberi


judul “ketulusan” itu tujuannya hanya untuk mengeratkan tali persaudaraan kita


semua, khususnya semua yang ada disini…”


Setelah mengawali maksud tujuannya dengan meminta supaya


yang hadir jangan ada yang tersinggung atau sakit hati, pak Suherman kali ini


menghampiri pak Panji.


“Panji…? Ayo sekarang kedepan bersama aku ”


“Baik Her…”  Pak Panji mengikuti pak


Suherman. Setelah dua sahabat ini sama-sama berdiri didepan para tamu,


“Hadirin semuanya…Saudara panji ini adalah sahabat saya


waktu kecil…Dulu saya dan dia punya hobi berburu pipit di sawah…Kalau kita


berburu pipit, tidak hanya berdua. Tapi ditemani oleh seorang perempuan cantik


..“


“Sum ? Kesini…?”  pak


Suherman kali ini memanggil bu Suamiati. Setelah orangnya menghampiri dan


berdiri disamping pak Panji suaminya, pak Suherman menyapa lagi tamu-tamu.


“Hadirin yang berbahagia…Dulu ibunya Mia ini gadis paling


cantik didesa kami…Bersama beliau, dulu saya itu menjalin kasih…Tapi rupanya


sahabat saya  Panji, diam-diam suka juga


terhadap beliau…Tapi waktu itu Sumiati memilihnya kepada saya. Mungkin karena saya


waktu muda lebih tampan dari Panji ”


“Sekarang juga kamu itu masih kelihatan tampan Her…”  pak Panji membalas candaan pak Suherman. Gerrr.


Semua yang ada disini tertawa. Termasuk bu Ranti yang menjadi istri pak


Suherman. Kalau bu Suamiati, hanya tersenyum malu-malu.


“Mah…? Sekarang mama juga kesini…”  Pak Suherman kali ini memanggil bu Ranti. Ibu


dari Indra dan Santi itu lalu memenuhi permintaan sang suami. Setelah berada di


panggung, bu Ranti lalu mengambil tempat di samping bu Sumiati.


“Nah hadirin…Jujur…Dua wanita yang berdampinya ini sangat


berarti dalam hidup saya…Yang satu,  sangat berarti itu ketika saya mulai puber, kalau


yang satunya berarti buat saya itu langgeng sampai sekarang…Jadi poinnya atas acara


saya ini adalah: Jangan bermusuhan kalau kita tidak berjodoh dengan kekasih…Dan


jangan dendam kalau pacar direbut orang…Contohnya seperti saya dan ibunya Mia


ini…Meskipun dulunya kita saling mencintai, tapi sekarang kita sudah hidup


bahagia dengan pasangan masing-masing”


Sebelum lanjut ke tujuan berikut, pak Suherman melihat dulu

__ADS_1


kesekitar. Ketika yang dicarinya tidakada, pak Suherman lalu menghampiri


istrinya.


“Mah…? Indra masih belum datang?”


“Belum pah…Mama juga ini lagi cemas…Mau pergi kemana tadi dia


hingga sekarang belum kesini?”


“Ya sudah biarin saja jangan dibuat pusing…”


Pak Suherman menghampiri lagi pak Panji.


“Panji…Seperti yang sudah kamu ketahui bahwa kesalahan aku


terhadap anak kamu itu sangat besar dan banyak…Jadi untuk menebusnya mohon


izinkan kalau aku ingin menjadikannya sebagai anak angkat…Tapi meskipun


demikian, aku bukan mau mengambil hak-hak kamu dan istri kamu kepada Mia…Disini


aku hanya ingin memberikan kasih sayang yang sama seperti kepada anak-anakku


sendiri saja…Bagaimana panji…?”


“Herman…Semua pernyataanmu sungguh membuatku terharu…Sebagai


sahabat, ternyata hatimu tetap tulus kepada aku…Tapi soal yang kamu minta, aku


tidak bisa memberi keputusan…Mau atau tidak, harus anak aku sendiri yang


memutuskannya…”


Wajah-wajah dari orang yang hadir kini sudah mulai bersedih.


Dengan yakinnya Pak Suherman mulai melangkahkan kaki menuju pelaminan. Tujuan


laki-laki satu ini sekarang semua yang hadir sudah mengerti. Pengorbanannya ini


ternyata hanya untuk menebus kesalahan yang pernah dilakukannya.


“Mia…? Tadi kamu sudah mendengar sendiri kan apa yang


diminta Oom dari ayah kamu…? Sekarang Oom sudah ada didepan kamu dengan segala


“Jangan Oom…”   Mia


memburu pak Suherman yang mau berlulut. “Oom jangan melakukan itu…”


Dengan orang yang sering didolimimya kini pak Suherman sudah


berhadap-hadapan. Kesedihan pak Panji dan bu Sumiati tidak dapat dibendung.


Begitu juga hadirin yang sama-sama menyaksikan pemandangan yang dramatis ini.


“Kenapa kamu membangkitkan Oom yang mau minta maaf ?”


“Karena sebesar-besarnya kesalahan orangtua..,seorang anak


tetaplah seorang anak…Dia tidak boleh membiarkan orangtuanya berada dibawahnya…Baik


fisik, maupun derajatnya”


“Apa itu berarti kamu tidak keberatan kalau dijadikan


sebagai anak angkat oleh Oom nak…? Dengan Indra dan Santi, sekarang kamu jadi


saudara angkat…?”


“Iya Oom…Karena tujuan Oom baik, saya tidak keberatan…”


“Terimakasih nak…Sekarang hati Oom lega kerena kesalahan


kepada kamu sudah dimaafkan..” air mata kebahagian pak Suherman menitik


diwajahnya.


Langkah pak Suherman rupanya bertolak belakang dengan


pemikiran Syafira menantunya. “ Ini tidak etis…Mantan pacarnya bahkan masih


dicintai oleh mas Indra, sekarang diangkat anak oleh papa mertua…? Aku pasti

__ADS_1


akan selalu kepikiran karena takut mas Indra tergoda lagi…” gumam Syafira.


“Aduuh…Kepalaku jadi pusing sekarang…”


“Mbak Syapira kenapa…?”  Santi melihat kakak iparnya yang memegang kepala.


“Mbak tiba-tiba pusing San…Mual juga…Tolong Raihan pegang


dulu sama kamu ya..? Soalnya takut mbak pingsan nih…”


“Aduh gimana ini…? Papa dan mama lagi panggung pelaminan…Kak


Indra belum datang…?”


“Ada apa San…?”  ketika Santi sedang kebingungan, Indra tiba-tiba muncul. Santi langsung


lapor.


“Kak ? Mbak Syafira tiba-tiba pusing  katanya…Bawa kerumah sakit terdekat dulu jug


kak…Takut kenapa-napa soal…Raihan biar dijaga dulu sama aku ”


Setelah ada kesepakatan dengan Santi, Indra akhirnya membawa


Syafira untuk diperiksa. Sedangkan pak Suherman, lalu melanjutkan lagi maksud


dan tujuannya.


“Dokter…Tolong jaga dan selalu cintai anak Oom ya...?”  Kepada Fajar pak Suherman berpesan. Yang


diminta langsung sigap.


“Siap Oom…Karena saya sangat mencintai istri saya, pasti


saya akan selalu berusha untuk membuatnya bahagia…”


‘Terimakasih…”  Pak


Suherman menepuk-nepuk bahu Fajar. Setelah itu tangannya mengodok saku bajunya


lalu mengeluarkan sebuah kunci. “ Ini hadiah pernikahan dari Oom untuk kalian


berdua”


“Itu seperti kunci mobil Oom…?”   Sebelum menerimanya Mia menatap ayah


angkatnya.


“Memang ini kunci mobil…Kalau mobilnya, tadi pihak showroom


menyimpannya didepan gerbang komplek…Apa kamu senang diberi fasilitas yang sama


dengan anak-anak Oom yang lain?”


“Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata Oom…Hanya


satu…Ternyata Oom mengangkat aku sebagai anak itu benar-benar tulus…”  Setelah reda, Mia akhirnya menangis lagi.


Semua hadirin kali ini sama-sama mengeluarkan air mata. Lebih-lebih pak Panji


dan bu Suamiati.


“Herman…Harga mobil yang diberikan kepada anakku itu pasti


harganya ratusan juta…Aku sungguh tidak akan bisa membalasnya Her…?”


“Panji…Dibanding kesalahanku kepada kalian selama ini, itu


tidak seberapa…Aku malah ingin ngajak kamu pergi umroh…Soal biaya dan lain


sebagaiknya, tidak usyah kamu pikirkan…Semuanya ditanggung oleh aku…Kamu dan


istri kamu nanti tinggal pergi dan membawa sesuatu yang kalian punya saja…Nanti


kita pergi bersama-sama…Kali ini kita berpanas-panasannya jangan di tengah


sawah berburu pipit…Tapi di Mekah Arab Saudi…”


Setelah cukup lama berwawancara dan menyampaikan tujuannya,


ternyata pak Suherman menyuruh para tamu khusus ini ramah tamah dulu. Dan


setelah semuanya kembali ketempat asal sambil membawa alas, disinilah pak

__ADS_1


Suherman baru tahu. Bahwa saat menyerahkan kunci mobil kepada Mia barusan, tidak


disaksikan oleh Indra dan Syafira.


__ADS_2